
"Cahaya apa ini, silau sekali..."
Perlahan aku membuka mata, dan melihat ke arah cahaya itu, padahal masih buram pandangan ku, tapi tetap ku paksakan untuk melihat nya.
"Hangat..."
Sialan, ternyata itu cahaya pagi yang tembus dari kaca jendela dan langsung menyorot ke arah ku, aku pun menutup mata dan memaksa untuk tidur lagi. Baru saja ku pejamkan mata, tiba-tiba ada sesuatu jatuh ke dadaku, aku terkejut dan membuka mata dan ternyata itu adalah tangan.
Mataku berjalan memperhatikan dari telapak tangan, kemudian naik ke lengan nya, dan sampai ke bahu nya yang masih tertutup selimut. Dengan rasa penasaran yang terus menghantui, aku pun menyingkap selimut itu dan terkejut melihat Paula tidur di sebelah ku.
Aku juga baru sadar kalau ini bukan kamar di homestay ku, lebih rapih dan nampak seperti kamar seorang wanita. Terlihat dari wallpaper dinding nya yang berwarna pink dan juga banyak boneka yang tersusun rapih di sofa sebelah meja rias, dan itu dia, banyak sekali peralatan make up di meja rias nya.
"Jangan-jangan ini kamar Paula?" Tanya ku dalam hati.
Aku mencoba meyakinkan diri sendiri, kalau ini hanya mimpi. Aku mengusap mata ku, dan beberapa kali aku menchbit lengan ku sendiri, "dan ternyata bukan mimpi."
Tanpa sadar tangan Paula pun bergeser dan memeluk ku, seperti hal nya memeluk guling. Wajah ku panik, dan keringat mulai muncul padahal AC masih terasa dingin.
"Papa, Paula harus apa..." Ucap Paula.
"Dia mengigau?" Tanya ku dalam hati.
"Rasanya Paula ingin mengundurkan diri..." Sambung Paula yang masih mengingau.
Di balik jabatan nya, ternyata dia wanita yang begitu rapuh, semoga saja kedatangan ku dengan teman-teman bisa meringankan beban nya.
"Engghh... Maaf Dav," Ucap Paula yang baru saja terbangun.
Paula pun membetulkan posisi tangan nya, gerakan nya cepat, dan wajah nya memerah, terlihat jelas karena putih kulitnya.
"Gue mau benerin dari tadi, tapi takut lo kebangun gara-gara ada pergerakan," Sahut ku.
Aku pun menyingkap selimut, dan bangun dari kasur itu. Tapi kenapa dada ku terasa dingin sekali, aku pun terkejut melihat bayangan ku di pantulan cermin yang hanya menggunakan celana boxer saja.
Aku pun menoleh ke arah Paula yang masih tertutup selimut, dan hanya terlihat bagian bahu nya sampai kepala nya saja. Aneh nya, bahu nya tak tertutup oleh baju. Paula pun menatap ku dan menarik selimut nya dan hanya terlihat mata nya saja, alis nya bergerak-gerak seperti menutupi sesuatu.
"Paula..." Panggil ku.
"Apa?" Jawab Paula dengan nada pelan.
"Kenapa gue bisa ada disini?" Tanya ku.
"Kamu pingsan semalam," Jawab Paula.
"Oke, tapi kenapa gue cuma pakai boxer aja?" Tanya ku bingung.
Paula pun menurunkan selimut nya, dan duduk bersandar di sanggahan kasur mewah nya, dan menaikan tali tanktop nya ke bahu nya. Aku pun menghembuskan nafas dari mulut, sambil menepuk jidat ku.
"Jadi begini ceritanya," Ucap Paula.
"Semalam, kamu pingsan dan para anggota sekte itu berhasil menjebol barisan bertahan Polisi yang menyelamatkan kita. Anggota mereka pun berhamburan sampai ke depan pasar, dan kami yang berada di depan pun panik, begitu juga aku."
__ADS_1
"Lalu aku meminta bantuan tim medis untuk mengangkat mu naik ke mobil, dan aku memerintahkan pasukan untuk bubar. Tapi terlambat, orang-orang berjubah itu cepat sekali sampai nya dan beberapa Polis dan team medis pun menjadi korban. Lalu bawahan ku, memaksa agar aku meninggalkan tempat itu, dengan berat hati dan kekecewaan aku pun meninggalkan tempat itu dan membawa mu ke rumah ku."
"Setiba nya di rumah dan mobil sudah masuk garasi, tiba-tiba kamu yang tadi nya terbaring di kursi belakang pun turun dan langsung masuk begitu saja ke rumah ku, bahkan masuk ke kemar ku sambil melepas baju dan juga celana mu, dan langsung menjatuhkan diri ke kasur ku yang belum pernah di tiduri laki-laki manapun!" Ujar Paula sambil menundukan kepala nya.
"Tapi gue gak ngapa-ngapain lo kan?" Tanya ku yang sambil memgambil baju dan celana yang masih tergeletak di bawah.
Paula menggelengkan kepala nya dan wajah nya tambah merah.
"Tapi, kenapa pakaian lo ada di bawah juga?" Tanya ku.
"Engghh... Kebiasan buruk ku seperti itu, maaf." Jawab Paula gugup.
Aku pun mengambil Handphone ku dan sudah banyak sekali pesan dan juga panggilan masuk dari Riska.
"Tenang saja, aku sudah bilang dengan Riska!" Ujar Paula sambil menunjukan percakapan nya dengan Riska.
Aku pun mengambil handphone Paula dan membaca percakapan mereka, "syukurlah Riska tidak marah."
Aku yang sudah selesai membaca chat itu pun, we mengenakan pakaian ku dan pergi ke kamar mandi yang berada di kamar Paula. Aku menatap cermin westafel dan merasa ada ganjil dari cerita Paula, dan tak mempercayai nya 100%. Aku hanya takut, aku berbuat yang tak wajar ke Paula, bukan karena dia seorang Polisi atau apa, tapi aku menghormati nya sebagai wanita. Jadi jika aku melakukan hal-hal bodoh ke Paula, aku merasa gagal menjadi seorang laki-laki dan tak bisa memaafkan diri ku sendiri.
"Semoga saja aku tak segila fikiran ku."
Aku pun membasuh wajah dan rambut ku di westafel.
"Dav masih lama?" Teriak Paula dari luar, "aku ke bawah duluan ya mau buat sarapan."
"Bawah?" Tanya ku dalam hati, "aneh jika rumah sebesar ini di tempatkan seorang diri."
Setiba nya di bawah, aku bingung harus kemana, rumah ini luas dan aku coba berjalan mengikuti perasaan ku. Entah kenapa aku tertarik dengan satu ruangan gelap, yang pintu nya sedikit terbuka. Di atas pintu ada lukisan wanita tua dengan mata sayup dan senyum yang sama sekali tidak tulus, langkah ku semakin ringan tanpa hambatan menuju ruangan itu yang semakin dekat dan sedikit lagi aku sampai ke depan pintu ruangan gelap itu.
Brrrruuuuuaakkkk....
Tiba-tiba pintu itu tertutup sendiri, dan aku sampai lompat karena terkejut.
Waaaaaaarrrrrggghhhhh...
Paula mengagetkan ku dari belakang.
Lagi-lagi aku terkejut, jantung ini hampir saja berhenti 2 detik di buat nya. Pauala tertawa setelah menjahili ku dan aku hanya bisa mengusap-usap dadaku saja.
"Yuk sarapan dulu," Ucap Paula sambil menarik tangan ku.
Aku di bawa ke dapur nya, dan sudah ada roti tawar dengan bermacam-macam selai tersaji di atas meja makan nya. Paula menyuruh ku duduk dan dia mengambil susu kemasan dari lemari es nya, dan menuangkan nya untuk ku.
"Maaf, sarapan seadanya aja ya Dav,' Ucap Paula sambil menuangkan susu ke gelas ku.
"Ini lebih baik daripada tidak sama sekali," Jawab ku sambil mengoleskan selai coklat ke roti ku.
Paula pun tersenyum dan duduk tepat di hadapan ku, masih dengan tank tol abu-abu yang sedikit rendah dan membuat tonjolan nya terlihat jelas. Sesekali ku melirik, dan tak berani jika menatap terlalu lama.
Kami sarapan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami, entah terlalu fokus atau memang tidak ada topik yang menarik pagi ini.
__ADS_1
Aku sudah menghabiskan satu rangkap roti dan juga sudah meminum susu putih dingin itu, tapi Paula masih saja mengunyah makanan nya dan sedikit lagi rotinya habis.
"Lo tinggal sendiri di sini?" Tanya ku.
Paula menganggukan kepalanya sambil mengunyah, dan berkata, "Setelah ini kita pergi ke homstay ya Dav."
"Lo gak dinas?" Tanya ku.
"Kebetulan hari ini libur," Jawab Paula yang sudah menghabiskan roti nya.
Paula menyelesaikan sarapan nya dan langsung bergegas ke kamar mandi, sementara itu aku menyalakan rokok sambil menunggu Paula bersiap-siap.
Krriiiiinnnnggggg... Krriiiiinnnnggggg...
Handphone ku berdering dan ternyata itu panggilan dari Riska.
"Haloo Ris..." Sapa ku via telpon.
"Iya aku baru saja selesai sarapan."
"Apa? Novi kenapa?"
"What, kok bisa?"
"Yaudah iya, sebentar lagi aku kesana,"
"Iya sayang... Gak macam-macam kok sama Puala."
"Bye, love you too."
Baru saja ku menutup telpon, di ekor mata ku seperti ada bayangan yang lewat cepat sekali. Spontan aku langsung menoleh ke arah bayangan itu dan ternyata tidak ada apa-apa, mungkin hanya perasaan ku saja.
Tiba-tiba di dalam ruangan tertutup seperti ini, ada angin berhembus dari arah belakang ku, setelah angin itu berhembus, bulu kuduk ku pun berdiri tanpa alasan. Penasaran aku menoleh ke belakang, dan lagi-lagi tak ada apapun.
Prrraaaannnggggg...
Piring yang ada di hadapan ku pun jatuh tanpa sebab ke lantai, dan pecah berserakan. Paula berlari dengan menggunakan baju handuk ke dapur, dan terkejut melihat piring yang sudah berserakan.
"Ada apa Dav?" Tanya Paula.
Aku yang panik, tak sanggup berkata-kata dan tanpa sadar aku menggelengkan kepala ku. Paula langsung membersihkan pecahan piring itu dengan hati-hati, dia mengambil pecahan kaca yang besar terlebih dahulu, dan sisa nya baru di sapu oleh nya.
"Paula cepat, kita harus segera ke home stay, perasaan gue gak enak!" Ujar ku.
"Memang nya ada apa Dav?" Tanya Paula.
"Novi... Novi baru saja memberikan tanda, kita harus segera kesana!" Jawab ku.
Paula pun langsung bergegas ke kamar nya untuk prepare, sementara aku memanaskan mesin mobil terlebih dahulu. Ada apa sebenar nya ini, kenapa pikiran ku kacau sekali, dan perasaan aneh apa ini.
"Perasaan takut kehilangan lagi tiba-tiba menyerang, aku berusaha menguatkan diri, tapi nampak nya percuma."
__ADS_1