
"Mas... Hei mas bangun!" Ujarku sambil menepuk-nepuk pipinya.
Dia masih tak sadarkan diri, aku melihat ke kanan dan ke kiri tak ada satu pun orang. Aku memeriksa denyut nadinya, dan ternyata orang ini masih hidup.
"Toloooonggg..." Teriakku lantang.
Tak lama kemudian seorang suster datang menghampiriku dan langsung memeriksa orang berbadam besar, yang terkapar dilantai.
"Tolong sus, dia masih bernafas!" Ujarku.
Suster itu pun memeriksa luka orang itu, dan kemudian berkata, "Tunggu sebentar, aku mau cari bantuan untuk mengangkatnya."
Aku menganggukan kepala, dan suster itu pergi meninggalkanku bersama pria berbadan besar yang sedang pingsan.
"Sini pak, belok kesini!" Terdengar suara wanita tak jauh dari posisiku.
Kemudian munculah suster yang tadi bersama dengan 2 security yang sudah membawa ranjang transfer.
"Ayo pak, gotong orang itu!" Ujar suster itu.
kedua security itu pun mengangkat pria besar itu dengan sekuat tenaga, dan aku membantunya menaikan pria itu ke ranjang transfer. Security langsung mendorong ranjang itu menuju ruang oprasi, aku pun mengikutinya.
Saat sampai di depan ruang oprasi, terlihat Satria yang sedang panik dan mondar-mandir. Achong yang melihatku, langsung meanggilku. Teriakan Achong membuat Satria berhenti, dan melihat ke arahku.
Aku pun menghampiri teman-temanku dan bertanya, "Bagaimana keadaan Riska?"
"Masih di oprasi," Sahut Novi.
"Telat sedikit saja, Riska bisa meninggal karena kehabisan darah, kata dokter." Sambung Satria.
"Guy's kalian lihat, orang yang barusan itu?" Tanyaku.
"Yang di dorong-dorong itu?" Tanya Novi.
Aku menganggukkan kepala dan berkata, "Orang itu barusan di toilet sama gue, terus dia ngejek gue gitu. Nah terus pas dia keluar tiba-tiba ada suara seperti benda yang menabrak pintu, kemudian gue lihat ke balik pintu, ternyata orang itu udah terkapar!" Ujarku.
"Loh kok bisa?" Tanya Achong.
"Tempat ini gak aman!" Tegas Satria.
"Gak aman gimana Sat?" Tanya Novi.
"Pasti anggota sekte itu, sudah sampai disini," Jawab Satria.
"Kita pindah rumah sakit aja, gimana?" Ucapku.
"Gak bisa dan gak akan dapat izin dari dokter," Sahut Satria.
"Terus gimana, kalau seandainya mereka sudah sampai disini?" Tanya Novi.
__ADS_1
"Kita harus perketat, penjagaan pada Riska." Jawab Satria.
Aku pun duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk menunggu pasien, mencoba berfikir jernih saat kondisi keruh seperti ini. Jujur aku tak pernah membayangkan sampai sebesar ini masalahnya.
"Apa rencana kita selanjutnya Sat?" Tanyaku
"Belum ada Dav, kejadian barusan di gubuk tua membuat gue panik gak habis fikir!' Jawab Satria tegas.
"Intinya kita butuh rencana lo sekarang Sat," Sahut Novi
Satria menganggukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Dia mulai berfikir langkah selanjutnya, karena jujur kita sudah tertinggal dua langkah dari sekte itu.
Aku menyandarkan badanku dikursi, sekedar melepaskan penat dan lelah yang bercampur aduk. Semua terlihat cemas menunggu kabar Riska apakah baik-baik saja, atau tidak.
"Keluarga dari bu Riska?" Ucap suster yang menghampiriku.
"Iya, ada apa sus?" Tanyaku.
"Doketer ingin berbicara,"Jawab suster itu sambil menunjuk ke arah dokter, yang sedang berdiri di depan pintu ruang oprasi.
Aku lantas bediri dan berjalan menghampiri dokter itu, wajahnya masih tertup masker hijau.
"Bagaimana keadaan Riska dok?" Tanyaku yang sudah berhadapan dengan dokter.
"Kamu keluarganya Riska?" Tanya dokter itu.
Aku menganggukkan kepalaku, dan tiba-tiba dokter tersenyum.
"Baik dok, terima kasih sudah menolong Riska," Ucapku.
"Aku hanya menjalankan tugasku saja," Ucap dokter sambil teraenyum, "setelah ini Riska sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap."
Aku menganggukkan kepala dan sekali lagi aku mengucapkan terima kasih pada dokter itu, kemudian aku kembali ke teman-temanku dan menyampaikan apa yang barusan di katakan dokter. Wajah teman-temanku yang cemas akhirnya sudah bisa tersenyum, kemudian mereka bersiap untuk mengantar Riska ke kamar rawat inap.
Tuhan masih baik kepadaku, masih membiarkan Riska hidup. Aku tak henti-henti mengucapkan rasa syukurku dalam hati.
Tidak lama kemudian kami melihat suster yang sedang mendorong ranjang transfer Riska, kemudian kami mengikuti suster itu dan membantu mendorongnya.
"Kamar VIP kan sus?" Tanyaku.
Salah satu suster itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Habis ini, lo sama Satria mending balik dulu deh Dav!" Ujar Novi.
"Memangnya kenapa?" Tanyaku.
"Mandi, terus ganti baju!" Bentak Novi, "penampilan lo mirip pembunuh berantai!"
Semua pun tertawa mendengar perkataan Novi, kedua suster itu pun ikut tersenyum dan terlihat menahan tawanya.
__ADS_1
"Iya Dav, mending nanti kita balik dulu." Ucap Satria.
"Oke deh oke, gue titip Riska ya!" Ujarku.
Kami pun sampai di kamar rawat inap untuk Riska, salahsatu suster itu membuka kedua pintu kamar itu dan kami pun mendorong ranjang transfer Riska. Lalu kami para laki-laki di minta keluar ruangan, karena para suster ingin mengganti pakaian Riska.
"Ayo Dav, sekalian balik aja!" Ajak Satria.
Aku menganggukkan kepala dan berkata, "Chong titip Riska ya!"
"Siap Dav, oh iya sekalian beli makan Dav," Sahut Achong sambil memberikan selembar uang seratus ribu.
Aku pun mengambil uang itu dan meninggalkan Achonh. Satria masih belum banyak bicara, nampak jelas di wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Berapa lama ya Riska dirawat?" Tanya Satria.
"Paling dua hari Sat, kenapa?" Jawabku.
"Kita istirahat dulu, sambil menunggu Riska pulih!" Ujar Satria.
"Gak kelamaan?" Tanyaku.
"Kalau misalkan Riska dirawat dua hari, itu berarti dia pulih kita sudah lima hari disini, dan hanya tersisa 1 hari setengah untuk menyelesaikan kasus ini!" Jawab Satria.
"Menurut gue, kita gak perlu buang-buang waktu!" Tegasku, "lihat dari berapa banyaknya korban, sepertinya dia sudah hampir memiliki cukup tumbal untuk membangkitkan iblis mitchlan!"
"Itu dia yang gue takutin Dav," Sahut Satria.
"*****... Gue paham sekarang!" Ujarku sambil tersenyum.
"Paham apa?" Tanya Satria.
"Gur tahu langkah dia selanjutnya," Jawabku dengan senyum yang tambah lebar.
"Perasaan gue gak enak!" Ledek Satria, "memangnya apa langkah dia selanjutnya?"
"Altar!" Jawabku sambil tersenyum.
"Wahh betul juga, tumeb otak lo berfungsi Dav," Sahut Satria sambil menepuk bahuku.
Entah kenapa aku jadi merasa selangkah di depan sekte itu, padahal belum tentu mereka semua berada di altar.
"Terus apa rencana kita Sat?" Tanyaku.
Satria tersenyum dan berkata, "Gue udah punya rencana!"
"Rencana seperti apa, coba jelasin Sat," Ucapku dengan nada yang sangat antusias.
"Sabar dulu anak muda, gue akan kasih tau kalau rencana ini sudah benar-benar matang dengan sedikit resiko!" Ujar Satria.
__ADS_1
Aku tesenyum dan tiba-tiba saja semangatku pulih kembali, membakar sisi negatifku yang sempat mengganggu fikiranku. Kali ini akan aku pastikan, mereka akan selesai dan menyesal!