
Cerita Riska pun berakhir, jujur aku merinding mendengarnya. Merinding bukan karena komunitas itu, tapi merinding karena Novi. Aku tak menyangka Novi ternyata berbahaya juga, jika sedang mengamuk.
Ekspresi Riska saat bercerita juga aneh, dia seperti ketakutan saat bercerita.
Tidak lama kemudian Achong datang membawa kantong pelastik, yang berisikan 2 porsi bubur ayam. Aku pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih padanya, begitu pun Riska.
"Lo enggak makan Chong?" tanyaku.
"Gue sudah makan di sana Dav," jawab Achong sambil menarik kursi, dan kemudian ia pun duduk berhadapan denganku.
"Satria sama Novi sudah berangkat ya?" tanya Achong.
Aku menganggukkan kepala sambil menyiapkan bubur untuk Riska.
"Keadaan lo gimana Ris?" tanya Achong.
"Sudah jauh lebih baik Chong," jawab Riska sambil tersenyum.
Achong bercerita saat dia di introgasi, dia bilang dalam waktu dekat polisi akan menyerang semua tempat persembunyian komunitas itu.
"Mereka tidak menyebutkan kapan akan menyerangnya, sepertinya mereka tak inging melibatkan kita," ucap Achong.
"Tidak masalah jika polisi tak berpihak pada kita," sahutku.
"Gue gak yakin, kita gak bisa menang tanpa bantuan polisi, Dav!" ujar Achong.
"Tidak semua polisi itu bersih, di antara mereka ada penyusup dan kita juga tak bisa percaya begitu saja pada polisi," balasku.
"Terus apa rencana lo, Dav?"
"Tunggu kepastian dari Satria, gue sudah gak mau gegabah lagi Chong," jawabku.
Achong pun terdiam dan tak menimpali perkataanku lagi, aku pun melanjutkan menyantap bubur ayam yang di bawa oleh Achong.
"Ini enak loh buburnya, Chong." Cetus Riska.
"Enak banget sumpah, gue aja makan di sana sampai nambah Ris," sahut Achong.
"Berapa harga satu porsinya Chong?" tanyaku.
"Murah cuma delapan ribu saja, kalau pakai sate jadi sepuluh ribu," jawab Achong.
"Beda dua ribu sama di Jakarta," ucapku.
Kriiiingggg ... Kringggg....
Suara telponku berdering, dan aku lihat ternyata panggilan dari Satria.
"Halo Sat kenapa?"
Hening tak ada suara sama sekali.
"Halo Sat, dengar suara gue enggak?"
Terdengar suara nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Sat ... Sat ... jawab Sat!"
"Dav, gawat!" Satria menjawab panggilanku, tapi suaranya seperti jauh sekali.
"Gawat kenapa Sat?"
"Novi ... Novi--"
Telpon pun terputus, dan aku mencoba menghubunginya lagi. Panggilanku terhubung, tapi belum di jawab olehnya. Aku pun jadi bertanya-tanya aoa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
Panggilanku tak terjawab olehnya, lalu aku pun bangun dan mengambil kertas yang bergambar peta di kursi Satria.
Aku menyorotnya dengan lampu senter handphoneku, dan menunjukan pada Achong. Saat Achong melihat peta itu, ia pun menyadarinya.
"Tempat ini dekat dari sini," ucap Achong.
"Kamu mau ke sana, Dav?" Tanya Riska.
Sebenarnya aku ingin ke sana, tapi aku tak ingin meninggalkan Riska.
"Biar gue aja yang pergi ke sana," sahut Achong.
"Lo yakin Chong?" tanyaku.
"Gue janji pasti bawa mereka kembali dengan selamat, apa pun yang terjadi," jawab Achong.
Kriiiingggg ... Kriiinggg ....
Handphoneku berdering lagi, dan lagi-lagi Satria menghubungiku.
"Halo Sat ...."
"Novi kenapa Sat?" Aku pun menyelak ucapan Satria via telpon.
"Novi tertangkap!" ujar Satria.
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya, gue lagi sembunyi sama suster Sonya," jawab Satria.
"Oke, lo sembunyi aja di sana ... terus lo kirim lokasi ke Achong!" tegasku.
"Enggak Dav, posisi lo sekarang gak aman ... mereka semua sedang menuju rumah sakit, lo harus pergi dari situ!" ujar Satria.
"Mereka berapa banyak?"
"kurang lebih 30 orang," jawab Satria.
"Terus apa rencana lo, Sat?"
"Home stay ... kita balik ke home stay!"
"Media!" terdengar suara Sonya menyahut.
"Ide bagus Dav ... gue sama Sonya akan menyusul nanti setelah tahu informasi tentang Novi." Ucap Satria.
__ADS_1
"Oke kalau gitu, keep contact ya Sat!" jawabku.
Panggilan pun di akhiri oleh Satria, lalu aku pun melempar handphoneku ke kasur.
"Kamu kenapa?" tanya Riska.
"Novi tertangkap ...."
Riska dan Achong pun terkejut mendengar ucapanku, dengan wajah kesal Achong pun bangun dari duduknya dan ingin pergi begitu saja.
"Lo mau kemana Chong?" tanyaku.
"Nyusul mereka," jawab Achong.
"30 orang dari komunitas itu sedang menuju kesini, justru kita yang sedang tidak aman!" ujarku.
"Dav, aku takut ...." Ucap Riska dengan nada pelan.
"Terus apa rencana kita?" tanya Achong.
"Media, kita berlindung pada media!" jawabku.
"Kebetulan temannya om Eddie pamanku, ada yang bekerja sebagai jurnalis," ucap Achong.
"Cepat hubungi orang itu Chong, kita sedang dalam bahaya!" ujarku panik.
"Aku bantu via media sosial," sahut Riska.
"Ide bagus sayang, kita ekspose kekejaman mereka!" ujarku.
Kami pun mulai sibuk, Achong sibuk menghubungi pamannya. Sedangkan aku dan Riska sedang mengangkat topik via media sosial. Respon dari media sosialku tak banyak yang percaya, malah banyak yang mengira kalau itu hanya sekedar lelucon saja.
Tapi respon dari media sosial Riska berbeda, banyak sekali yang ingin tahu aksi dari komunitas itu. Ocehan Riska di twitter tersebar begitu cepat, banyak orang yang tidak jauh dari sini, ingin datang dan membantu kami. Sedangkan respon dari Instagram juga tak kalah menarik, mereka menunggu live yang di janjikan oleh Riska saat komunitas itu beraksi.
Sekedar informasi saja, kalau komunitas topeng tanpa ekspresi sudah di tetapkan oleh kepolisian Indonesia sebagai penjahat dan juga buronan paling di cari. Jadi banyak orang yang penasaran dengan aksi-aksi kejam mereka.
Achong pun sudah mendapatkan kontak jurnalis tersebut, kemudian Achong menghubunginya dan menjelaskan apa yang terjadi. Achong pun meminta tolong kepada jurnalis itu untuk mengumpulkan pers dan secepatnya datang kesini. Jurnalis itu pun mengiyakan ucapan Achong dan ia akan membawa pers yang lebih banyak dari anggota komunitas itu.
Suasana sudah mulai panas, jantung tak bisa memperlambat detaknya. Jujur badanku sudah gemetar sekarng, bukan karena takut.
"Kalau gue mati di sini, gue rela Dav!" ujar Achong.
"Sama Chong, gue juga." Sahutku.
"Kalian berdua kenapa sih, bukannya cari cara, malah pasrah begitu!" bentak Riska.
"Entah kenapa Ris, tiba-tiba gue jadi pesimis," ucap Achong.
Aku juga merasakan hal yang sama, dengan apa yang di rasakan Achong. Tiba-tiba saja rasa percaya dirilu luntur dan pasrah dengan keadaan. Apa ini yang di namakan putus asa, sudah tak bisa melihat secercah harapan, meski hanya bayangan saja.
"Aku yakin, kita bisa melewati ini!" tegas Riska.
Mendengar ucapan Riska barusan, justru membuat aku semakin down, dan menyesal. Menyesal melibatkan semua teman-temanku dalam masalah ini. Aku sungguh tak mengira kalau masalah ini, bisa sampai sejauh ini.
Handphone Achong tiba-tiba berdering, dan ia bilang itu panggilan dari jurnalis kenalannya. Berbarengan dengan itu, batu sebesar kepalan tangan orang dewasa mengenai kaca yang baru saja di ganti tadi malam.
__ADS_1
Aku melihat ke arah jendela, dan terkejut melihat orang berpakaian serba hitam berbondong-bondong mengarah ke jendela kamar ini. Riska yang panik, langsung menekan tombol darurat untuk memanggil suster. Lalu ia memberikan handphonenya yang sudah dalam keadaan live di Instagram.
Aku mengambil handphone milik Riska dan menyorot ke arah jendela, dan mengambil gambar gerombolan orang berpakaian hitam itu. Aku tak sempat membaca komentar, karena waspada serangan dadakan dari gerombolan komunitas itu.