
"Kau bukannya Polisi yang menyamar bersama Paula dan masuk ke gedung tua itu?" Tanya Satria.
"Yaa benar sekali, perkenalkan nama saya Rony, sebenarnya saya ini adalah adik sepupu Paula," Ucap Polisi itu mengenalkan diri.
"Maaf kami tidak bisa menjaga saudaramu," Sahutku.
"Tenang saja, ini bukan salah kalian," Ucap Rony sambil teraenyum.
Muncul lagi orang aneh yang berkaitan dengan Paula, sebenarnya siapa Paula itu, dan kenapa sepupunya terlihat lebih dingin dari Paula.
"Sekarang apa rencanamu?" Tanya Rony.
Satria tersenyum dan menarik Rony, "Apakah kau bisa jamin semua orang mengikuti perintahku?" Tanya Satria.
Rony menganggukan kepalanya dan melepaskan tangan Satria dari lengannya.
"Cepat katakan saja!" Tegas Rony.
"Sebenarnya tak ada rencana, tapi aku membawa peledak yang bisa merobohkan gubuk tua itu," Jawab Satria.
"Menarik..." Sahut Rony.
"Jadi aku butuh Polisi untuk menempelkan peledak itu ke dinding gubuk, karena peledak ini masih menggunakan sumbu, jadi aku butuh mereka menyalakan peledak itu sekalian," Ucap Satria.
"Tapi ada 2 Polisi di dalam!" Sahut salah satu Polisi yang sedari tadi mendemgarkan kami.
"Aku berani jamin peledak itu tak akan melukainya!" Tegas Satria.
"Jadi kalian yang sudah menghancurkan bangunan tua itu?" Tanya Rony.
"Iya itu perbuatan kami, dan Paula," Jawabku.
"Oke, jadi panggil 4 orang polisi yang akan menempelkan peledak ini, kemudian aku butuh perekat, untuk merekatkan peledak ini ke dinding!" Ujar Satria.
"Ambil lakban yang ada di mobil patroliku," Ucap salah satu Polisi.
Kemudian Rony pun mengumpulkan empat orang Polisi yang akan memasang peledak itu, kemudian Satria menyiapkan peledak yang akan di gunakan. Kali ini kami sudah benar-benar muak dengan mereka, komunitas sesat yang kejam.
"Saat peledak ini meledak, mereka semua pasti panik dan akan keluar dari gubuk tua itu, saat itu juga aku minta para Polisi untuk menghadang mereka di depan pintu, dan tembak saja untuk mereka yang melawan!" Ujar Satria.
"Aku mengerti soal itu," Ucap Rony d
sambil tersenyum.
Peledak sudah di siapkan oleh Satria, kemudin masing-masing dari empat Polisi itu membawa 1 peledak. Kemudian Rony memberikan intruksi untuk bersiap pada posisi masing-masing, para Polisi itu pun bergerak cepat dan sekali lagi mereka sudah mengepung gubuk tua itu.
__ADS_1
"1... 2... 3... Nyalakan!" Teriak Rony yang memberi aba-aba.
Para Polisi yang membawa peledak pun menyalakan peledak nya dan mereka semua mundur kira-kira 3 meter dari gubuk tua itu, kecuali Polisi yang memakai tameng. Barisan sudah di sempurnakan para Polisi bertameng sudah siap menghadang orang yang ada di dalam gubuk, keluar begitu saja.
"Duuuuuaaaaarrrrr..."
"Duuuuuaaaaarrrrr..."
Ledakan pun terdengar dan mimbulkan asap yang lumayan tebal.
"Semuanya siap diposisi!" Teriak Rony.
Perlahan asap menghilang dan gubuk itu tak roboh, hanya saja berlubang akibat ledakan itu. Lubang itu menembus ke dalam dan setelah asap menghilang, kondisi di dalam gubuk pun terlihat.
"MAJUUUU..." Teriak Rony.
Kami pun semua menghampiri gubuk itu dan mengepungnya, dengan senjata lengkap Polisi pun sudah bersiap di posisinya.
Kami semua terkejut, saat melihat kondisi di dalam. Tak ada satu pun anggota komunitas itu di dalam, kemudian Polisi menyalakan senter dan menyorot ke dalam. Betapa terkejutnya kami saat melihat, kedua Polisi itu sudah tewas dan mayatnya sudah tak berkepala.
"Kosong?" Tanyaku.
"Sial mereka kabur!" Ujar Rony.
"Tidak mungkin mereka bisa kabur, saat di kepung seperti ini!" Sahut Satria.
"Tunggu apa lagi? Ayo cepat masuk dan perikasa, pasti ada terowongan di dalam sana!" Jawab Satria.
"Semuanya ayo masuk, dan periksa!" Ujar Rony.
Para Polisi pun akhirnya masuk dengan langkah hati-hati dan tetap waspada. Aku, Satria, dan Achong mengikuti para Polisi itu dari belakang. Air soft gun pun sudah kami keluarkan untuk berjaga-jaga.
Rony melihatku memegang dua hand gun dengan sikap waspada, dia sedikit tersenyum dan berkata, "Apa pistol mainan itu bisa membuag musuh takut?"
"Aku tidak tahu, tapi setidaknya mereka akan merasa nyeri jika terkena peluru ini!" Ujarku kesal.
Rony tertawa terkekeh-kekeh seolah mengejek kami karena membawa air soft gun. Achong tak tinggal diam dan berkata, "Aku bisa saja membawa AUG kesini, tapi teman-temanku tidak menyetujui itu!"
"Jangan sombong dulu, dasar anak orang kaya!" Balas Rony.
"Apa masalahmu?" Tanya Achong.
Rony tak menjawab dan meninggalkan kami, dia masuk lebih dulu ke gubuk itu, dan memeriksa mayat kedua Polisi tanpa kepala itu.
Para Polisi sibuk menyisir gubuk itu, mereka memeriksa setiap sudutnya. Lalu ada yang aneh dengan Satria, dia menginjak-injak lantai beberapa kali, kadang ia juga berhenti dan menginjak lebih keras lagi.
__ADS_1
"Duuukkk... Duuuukkk... Duuukkkk..."
"Disini, periksa disini!" Ujar Satria.
Dua orang Polisi menghampiri Satria dan memeriksa lantai yang tertupi karpet, saat karpet terbuka ada sebuah papan berbentuk kotak dan ada lubang kecil yang hanya muat dua jari saja.
"Buka, ini pasti terowongan!" Ujar Satria.
Salah satu Polisi memasukan jarinya dan mengangkat papan itu, ternyata benar. Ada tangga kayu yang amat curam menuju ke suatu tempat, terowongan itu sangat gelap, ketika Polisi menyenter ke lubang itu, lantainya masih tanah merah dan banyak jejak kaki.
"Mereka pasti kabur lewat sini!" Ujar Polisi yang sedang menyenter ke lubang itu.
"Ron, ayo!" Ajak Satria.
Rony menganggukkan kepalanya dan langsung turun tanpa fikir panjang, aku pun menyusulnya. Satria dan Achong menyusulku, lalu di ikuti para Polisi.
Rony menyalakan senter, dan terlihat dinding-dinding yang masih tanah merah dan bisa runtuh kapan saja. Lorong ini panjang dan kami belum menemukan anggota sekte itu.
"Bau apa ini?" Tanya Achong.
"Astaga, ini bau gas!" Jawab Satria panik.
"Sial padahal sudah sejauh ini, masa kita harus kembali lagi?" Tanyaku.
"Jika kalian ingin kembali, kembali saja!" Sahut Rony.
"Terlalu berbahaya Ron!" Ujar Satria.
"Aku tak bisa diam saja saat sepupuku mati di bunuh oleh mereka!" Tegas Rony.
Rony yang berjalan pun akhirnya berlari dan meninggalkan kami, aku mengejarnya tanpa memikirkan resikonya.
"Ahhh sial... Aku benci situasi ini!" Ucap Satria yang ikut berlari.
Achong juga berlari meninggalkan para Polisi yang ketakutan dan memutar balik arahnya. Polisi itu pun kembali ke atas dan berhenti mengikuti kami, tapi kami berempat tidak memperdulikan itu.
Rony memimpin kali ini, karena dia yang memegang senter. Sorotan cahayanya bergoyang-goyang, karena Rony memegangnya sambil berlari. Akhirnya terlihat tangga kayu yang sama dengan tangga yang kami pakai untuk turun ke sini.
"Akhirnya sampai!" Ujar Rony sambil tersenyum.
Rony mulai menaiki tangga, dan aku menunggu gilirin menaiki tangga itu. Tapi tiba-tiba ada orang yang menggunakan topeng tanpa ekspresi menunggu diatas sambil menodongkan pistol.
"Doooooorrrrr..."
Suara letupan senjata pun terdengar dan sekitika Rony jatuh, dan menimpa ku. "Berat sekali pria ini," Gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Rony..." Teriak Satria.
Kemudian aku melihat pria bertopeng itu menutup papannya dan cahaya mulai menghilang.