Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Paula undercover


__ADS_3

Sesaat Riska berteriak, ia berlari menghampiri Yugo yang sedang menodongkan parang ke leher Novi. Aku sempat terdiam dan akhirnya mengejar Riska, tapi Riska sudah terlalu jauh dariku.


"Riska, jangan kesini!" teriak Novi.


Yugo pun menatap Riska, dan terasenyum. Riska masih terus berlari menghampiri Yugo, saat Riska berdiri tepat di depan Yugo, tiba-tiba saja ada suara tembakan.


Dooooooorrrrrrr ....


Riska pun menjerit ketakutan, dan aku terus berlari dan menghampiri Riska.


Riska menjatuhkan badannya dan ia berlutut di hadapan Yugo, sambil menutup kedua telinganya. Darah pun keluar dari mulut Yugo, dan Novi menyikut Yugo dan melepaskan dirinya. Novi langsung menghampiri Riska dan membantunya berdiri.


Tapi Riska masih tetap berlutut di hadapan Yugo, tampaknya Riska syok karena mendengar suara tembakan.


Kemudian aku pun sampai di hadapan Riska, aku memengang tangannya dan tubuhnya bergetar hebat.


"Mati kau pengacau!" terdengar suara Yugo dari arah belakangku.


Saat aku menoleh ke belakang, yugo sudah mengangkat tinggi parangnya dan ingin menebasku, aku pun terlambat menyadari dan akhirnya Yugo mengayunkan parangnya.


Dooooorrrrr ... Dooooooorrrr ....


Suara tembakan terdengar lagi, dan langkah Yugo tehenti. Ia pun akhirnya tumbang dan tewas seketika, matanya masih melotot padahal ia sudah tewas.


Aku pun melihat Andini, berdiri sambil menodongkan pistol yang masih mengeluarkan asap. Ternyata yang menembak Yugo barusan adalah si Andini, lalu ia tersenyum sambil memegang perutnya.


"Kena kau!" ucapnya.


Sepintas aku melihat Paula, bukan Andini. Terlihat dari posturnya saat menembak, mirip sekali dengan Paula.


"Paula?" tanya Novi.


Andini tersenyum, dan ia menembak kedua pengawal berjubah hitam yang tadi menahan Riska.


"Akhinya kita bertemu lagi, Dav!" tegas Andini.


"Tunggu sebentar, siapa kau sebenarnya?" tanyaku.


"KOMPOL Paula Agustine," ucapnya.


"Tidak mungkin, Paula sudah meninggal dan aku lihat sendiri jasadnya," ujarku.

__ADS_1


Wanita yang mengaku-ngaku sebagai Paula itu tersenyum dan ia membuka jubah hitamnya. Ia mengenakan kaos berwarna cokelat muda, dengan kerah V.


Kemudian ia melepaskan kaosnya, dan menunjukan bekas luka panah di bahunya.


"Aku ini Paula, Dav." Wanita itu berkata sambil menunjuk ke arah bekas lukanya.


Aku pun menegaskan kembali bekas luka itu, dan aku ingat sekali, waktu itu anak panah tertancap di bahunya itu.


"Paula?" Tegur Novi sambil menghampiri wanita itu, dan memeluknya. Air mata wanita itu pun mulai menetes di iringi dengan senyuman.


Aku masih tak percaya kalau dia itu adalah Paula, aku harus menanyakan hal yang hanya aku dan Paula saja yang tahu. Aku pun menghampiri Paula, dan Novi melepaskan pelukannya. Kemudian aku menarik wanita yang mengaku sebagai Paula itu, dan memberikan sedikit jarak pada Novi dan Riska.


Aku pun berbisik, "Kalau kau benar Paula, beritahu aku satu hal yang bisa membuatku percaya ...."


Wanita itu tersenyum dan menatapku, kemudian ia berbisik, "Aku tak akan pernah lupa, apa yang kita lakukan malam itu ... walaupun kau tak sadar, tapi aku menikmatinya."


Aku pun terkejut mendengarnya dan spontan aku pun menutup mulutnya.


"Jangan keras-keras bodoh, ada Riska di sana ...." Aku pun berbisik kepadanya.


Lalu ia menyingkirkan tanganku yang menutup mulutnya, saat tanganku sudah tak di mulutnya ia pun tersenyum.


Riska pun berdiri dan berlari ke arah Paula, ia memeluknya dan menyuruhnya mengenakan lagi kaosnya.


Setelah Paula mengenakan kaosnya, kami berempat akhirnya keluar dari rumah itu. Entah kenapa, aku sangat senang saat mengetahui ternyata Paula masih hidup.


Saat kami ingin naik ke atas mobil, terdengar suara seseorang memanggilku.


"Dav ... Davie!"


Aku pun menoleh, dan ternyata itu Satria dan suster Sonya. Mereka berlari ke arah kami, wajah Satria terlihat senang saat melihat Novi baik-baik saja.


"Lo gak apa-apa Nov?" tanya Satria yang sudah ada di hadapan kami.


"Gue hampir mati, gara-gara lo berdua ninggalin gue!" bentak Novi.


"Maaf Nov, maaf yaa ... aku takut soalnya," sahut suter Sonya.


"Wajar kalau kau yang takut, tapi tidak wajar kalau Satria yang takut!" ucap Novi kesal.


Kami pun menertawai perdebatan itu, dan sudah lama kami tak bercanda seperti ini.

__ADS_1


"Aku kangen ngumpul bareng lagi sama kalian ..." ucap Paula dengan nada rendah.


Satria pun terkejut dan baru sadar kalau ada Paula bersama kami, ia pun bertanya pada Novi, "Ini Paula asli, atau hantunya Paula?"


Kami pun tertawa lagi saat mendengar pertanyaan bodoh Satria, kemdian Novi menimpalinya, "Ini hantunya, dan dia mau balas dendam sama lo, Sat!"


Kemudian Paula mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pipinya, sambil bersuara "huuuuu ... mana Satria ... hiiii hiiii hiiii ..."


Kami pun terbahak-bahak melihat tingkah konyol Paula, dan Satria pun menghampiri Paula dan memeluknya, sambil berkata, "Kami semua merindukanmu, Paula."


Paula tersenyum dan mengelus-elus pundak Satria.


"Tapi tunggu dulu ... jadi yang meninggal itu?" tanyaku.


"Nanti saja ceritanya, sekarang kita harus pergi dari sini sebelum teman-temanya datang," ucap Paula.


Kami pun akhirnya naik ke mobil pick up yang membawaku ke sini, Paula yang menyetir dan di temani Novi dan Riska yang duduk di kursi depan. Sedangkan aku, Satria, dan suster Sonya naik ke bak terbuka, di belakang.


Paula langsung mencap gasnya, dan sebelum naik ia mengatakan kita sebaiknya kembali ke home stay. Karena di rumah sakit tadi banyak wartawan, dan juga pasti sudah banyak polisi. Aku pun menyuruh Satria menghubungi Achong untuk mengatakan kalau kita semua selamat dan sedang menuju ke home stay.


"Lo kenapa bisa sampai sini, Dav?" tanya Satria.


"Rumah sakit di kepung dan media gak mempan, terus Riska tertangkap dan gue nyerahin diri dan ikut sama gerombolan itu ke sarangnya," ucapku.


"Terus kok lo bisa ketemu sama Novi?" tanya Satria.


Aku pun menceritakan yang barusan terjadi kepada Satria, dan Satria pun tak menyangka kalau ternyata Paula punya saudara kembar.


"Gue sama Sonya tadi sudah meninggalkan temlat itu, dan mau pergi ke rumah sakit ... tapi gue mendengar suara tembakan, dan akhirnya gue balik lagi kesana," ucap Satria.


"Gue takut kalau tembakan itu di tujukan ke Novi, makanya gue balik lagi untuk memastikannya," sambung Satria.


Aku pun menceritakan lagi kejadian penembakan itu, dan Satria menghela nafasnya ketika tahu Novi tak terluka. Suster Sonya hanya diam saja memperhatikan aku menceritakan semua pada Satria.


"Son, lo mau ikut ke home stay atau mau pulang aja?" tanya Satria.


"Aku mau ikut kalian saja, aku takut jika berpisah dengan kalian," jawab Sonya.


Satria menganggukan kepalanya dan perjalanan kami pun berlanjut, entah ini kemenangan atau kekalahan. yang paling penting semua teman-temanku masih hidup dan tidak ada yang terluka.


......................

__ADS_1


__ADS_2