
"Apa ini, kenapa tangan ku penuh darah? Tangan siapa ini, yang memegang kaki ku?"
"Kenapa semua orang tidak ada kepala nya?"
"Itu seperti jaket yang sering di gunakan Novi, dan itu juga kaos Band favorit nya Satria, lalu itu juga postur badan nya, seperti badan Achonk?"
"Dan di kaki ku, ini sweater putih yang di kenakan Riska?"
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa hanya aku saja yang masih hidup? Baju ku, tangan ku, dan seluruh tubuh ku penuh dengan darah, sebenar nya ada apa ini*?"
"Arrgghhhhh... Pisau? Perut ku!"
Pisau tembus dari belakang, sampai perut ku, darah ku mulai keluar dari tusukan itu, dan rasa nya perut ku seperti di bakar.
Aku pun menoleh ke belakang... Lalu aku meliaht golok besar mengarah ke leher ku, dan tidak lama kemudian "aku melihat tubuh ku berdiri tegak, tanpa kepala."
"Dav... Hey Dav, kenapa? Bangun Davie..." Terdengar suara teriakan Riska memanggilku.
"Arghhh.... Uhukkk... Uhhuukk... Uhhuukk"
Aku pun terbangun dan merasakan sakit sampai batuk, dan aku memeriksa perut ku, ternyata tidak apa-apa, itu hanya mimpi buruk saja.
Tapi ada yang aneh dengan mimpi itu, rasa sakit dan perut ku yang terasa seperti di bakar itu, masih terasa sampai aku terbangun.
"Kamu kenapa?" Tanya Riska.
"Cie kamu..." Ledek Novi, memotong pembicaran.
"Whatever ya Nov, ini bukan waktunya bercanda!" Ujar Riska serius.
"Udah... Udah... Gue gak apa-apa kok, cuma bad dreams aja, it's ok!" Jawab ku sambil memegang perut.
"Yakin lo gak apa-apa? Semua orang di pesawat pesawat ngeliatin lo nih, dan mbak-mbak pramugari nya juga udah nyamperin lo semua, yakin gak apa-apa?" Tanya Satria meyakin kan ku.
Aku pun melihat sekeliling dan benar, semua mata tertuju ke pada ku, dan aku pun merasa sangat malu.
"Emang gue kenapa barusan?" Tanya ku berbisik pada Riska.
"Lo tadi teriak-teriak kenceng banget sampe semua orang panik!" Jawab Riska tegas.
"Waduhh jadi malu banget deh, tadi itu cuma mimpi mbak maaf, semua nya maaf ya," Ucap ku pada pramugari dan penumpang yang menatap ku.
Kemudian Riska memeluk ku, dan mengatakan, "Aku khawatir, aku takut, takut kamu kenapa-napa!"
Riska memeluk ku dengan erat dan menangis.
"Ehmm enak banget ya di peluk," Ucap Novi meledek.
"Kalian berdua udah jadian ya?" Tanya Satria.
Aku pun tidak memperdulikan ucapan meraka, dan spontan mengelus kepala Riska.
"Gak apa-apa... Tenang aja, barusan cuma mimpi buruk aja Ris," Ucap ku sambil mengelus kepala Riska.
"Wahhh fix udah jadian nih chong dia," Ucap Satria pada Achong.
"Emang iya Ris udah jadian?" Tanya Novi.
Aku pun tidak memperdulikan ucapan nya, dan kemudian ada suara yang menyampaikan bahwa sebentar lagi kita akan tiba di bandara Syamsudin Noor. Semua pun kembali ke tempat nya masing-masing dan memasang seat belt nya.
Terlihat Riska tersedak-sedak sambil mengusap air mata nya, aku terus mengusap-usap kepalanya dengan tujuan untuk menenangkan nya.
***
Kita sudah sampai di bandara Syamsudin Noor, dan kita segera keluar karena ingin cepat-cepat sampai ke home stay ingin beristirahat, karena semua sudah terlihat lelah sekali.
Aku pun juga merasa lelah sekali hari ini, di tambah lagi perut ku yang masih terasa sakit.
Kemudian ada seseorang yang menghampiri Achonk dan menyapa, ternyata itu adalah orang yang menjemput kita, dan mengantar kita ke home stay.
Syukurlah kita semua tidak perlu menunggu lama.
"Pak Home stay nya jauh dari sini?" Tanya Novi.
"Lumayan 1 jam perjalanan" Jawab pria paruh baya itu.
"Oia kenalin nih paman gue, namanya Freddie, panggil aja Eddie," Ucap Achonk memperkenalkan paman nya.
Kita pun menyapa nya.
"Ini temen gue om dari Jakarta semua, ini Satria, ini Novi, ini Davie, dan ini Riska," Ucap Achonk.
"Oia, salam kenal ya. Semoga liburan nya menyenangkan," Ucap om Eddie sambil tersenyum.
Ternyata Achonk bilang kita semua ini sedang liburan, tapi syukurlah, jadi tidak ada beban dan juga menimbul kan rasa curiga om Eddie.
Kita pun mulai memasuki mobil dan langsung menuju ke home stay.
Jalan nya lumayan seram sekali dan jarang sekali kita temui lampu penerang jalan, membuat gelap jalan ini, lagi pula masih banyak pepohonan di sini, membuat suasana gelap nya jadi lebih mencekam lagi.
"Ibarat nya, tempat ini seperti tempat jin buang anak, kalau orang tua dulu bilang."
Sepanjang perjalanan Novi menutup matanya, kami tahu maksud nya apa, itu artinya dia sedang tidak mau melihat apapun di sekeliling nya yang bisa membuat mood nya jadi rusak dan berantakan.
"Masih jauh ya om?" Tanya Novi gelisah.
"Masih, kenapa emang nya?" Jawab om Eddie
"Aku kebelet om, mau buang air kecil," Ucap Novi.
"Tahan dulu ya, sebentar lagi ada SPBU kok, kalian bisa ke toilet dan istirahat sebentar di sana juga bisa kok," Jawab om Eddie.
"Ohh oke om, terimakasih yaa," Ucap Novi.
"Dav, aku laper..." Ucap Riska.
"Lo sejak kapan aku kamu sama dia si Ris?" Tanya Satria.
"Brisik Satriaaaa!" Tegas Riska.
__ADS_1
"Ihh gue kan cuma nanya Ris," Ucap Satria.
"Iya kalian udah jadian ya?" Sahut Novi.
"Hmmm gak tahu, tanya aja sama Davie!" Jawab Riska.
"Lohh kok jadi gue, kan yang di tanya lo Ris," Jawab ku sambil tertawa.
"Dih lo kenapa Dav, di depan kita lo ga berani aku kamu sama Riska?" Ledek Novi.
"Jangan rese ya Nov!" Ucap ku sewot.
Tapi terlihat Riska tidak risih dengan candaan ini, dan dia malah ikut-ikutan tertawa, dan juga salah tingkah.
"Ehh Ris jawab sejak kapan aku kamu nya sama Davie?" Tanya Satria.
"Mulai tadi sore, puas lo Sat!" Bentak Riska.
"Ohhhh tadi sore ya jadian nya," Sahut Novi.
"Wah Dav bisa-bisa nya lo nyolong start!" Ucap Satria sambil tertawa.
"Hah... Jadian? Emang kita... Jadian?" Tanya ku gugup pada Riska.
Riska pun hanya menjawab dengan senyuman, entah apa maksud nya itu, seperti senyuman yang memiliki arti sangat dalam.
"Nah kan, kamu kok ga cerita-cerita sih Ris sama aku," Ucap Novi.
"Ahh buat apa cerita, pasti kalian pasti lebih cepat tahu, dari pada kabar angin!" Jawab Riska tertawa.
"Wait... Ini kita sedang bahas apa ya maaf?" Tanya ku bingung.
"Stop, jangan alihkan topik Dav!" Ucap Satria.
"Ya bahas kita lah, gimana sih kamu!" Sahut Riska.
"Lohh kok... Lo kenapa Ris, ini pasti Prank ya!" Jawab ku bingung.
"Ada juga lo yang kenapa Dav, gak mau ngaku sama kita!" Ucap Novi.
"Lo ngaku aja Dav, gak usah di rahasiain lagi," Sahut Achonk dari kursi depan.
"Wahhh sumpah, gue gak ngerti nih maksud nya apa!" Ujar ku bingung.
"Iya, mending kamu ngaku deh Dav!" Sahut Riska.
"Loh kok... Ohh gitu, sekarang lo di pihak mereka?" Tanya ku kepada Riska.
"Iya lah di pihak mereka, mau tanya kepastian," Jawab Riska sambil menoleh.
"Kepastian, kepastian apa Ris?" Tanya ku yang semakin bingung.
"Pura-pura gak tahu lo Dav," Sahut Satria sambil tertawa.
"Kepastian hubungan lo sama Riska lah," Sambung Novi.
"Hubungan? Hubungan apa coba?" Tanya ku.
"Nah kan ahirnya si cewe yang nanya gitu, lo gimana sih Dav," Sahut Novi.
"Please kali ini bercanda nya gak lucu sumpah,"
Ucap ku.
"Yaaa intinya lo mau kaya gimana sama Riska, gitu aja sih simple nya," Sahut Satria.
"Tuhhh di perjelas lagi sama Satria, masih kurang jelas?" Tanya Riska.
"Wahh asli gak lucu nih, ini prank pasti, gue yakin!" Jawab ku.
"Gak Dav, ini beneran... Hubungan kita mau di bawa kemana!" Ujar Riska.
"Kok lo gitu ngomong nya, kita aja baru kenal, dan kita baru jalan beberapa kali aja Ris, kenapa lo gampang banget bilang kaya gitu?" Tanya ku.
"Hmmm seru nih seru, kaya di FTV," Sahut Satria.
"Ya aku nya nyaman sama kamu, gimana dong?" Jawab Riska.
"Siap-siap LDR Dav, Jakarta - Jerman jadi penghalang kalian," Ledek Satria sambil tertawa.
"Itu dia sih Sat, berat gue kalau harus LDR," Jawab ku yang ikut tertawa.
"Wahhh artinya mau tuh Ris!" Sahut Novi.
"Bisa aja kok, aku tinggal pindah ke UI kuliah nya, itu hal yang gampang kok buat ku," Jawab Riska.
"Tuh denger, orang kaya mah bebas Dav," Sahut Novi.
"Yaudah, kita jalanin aja dulu Ris," Ucap ku dengan nada pelan.
"Jalanin apa nih, aku ga mau kalau gak jelas gini!" Tegas Riska.
"Wah jadi ribet banget sumpah!" Ucap ku sewot.
"Bagus Ris, harus minta kepastian dari cowo model kaya Davie," Ledek Novi.
"Gak usah kompor Nov!" Sahut ku.
"Yaudah terus lo mau nya apa?" Tanya ku pada Riska.
"Hmmm... Aku mau nya banyak!" Jawab Riska.
"Ya salah satu nya aja Ris, yang jadi poin penting nya!" Ujar ku.
"Ya aku mau nya kamu ngomong nya jangan lo gue lagi, terus perhatian ke aku, terus sayang sama aku, terus cinta sama aku, terus aku jadi prioritas kamu, terus masih banyak lagi," Jawab Riska sambil tertawa.
"Wahhhh berat Dav," Sahut Satria.
"Yaelah sanggupin lah Dav, hal sepele itu," Ucap Novi.
__ADS_1
"Hmmm oke, sekarang lo prioritas gue!" Ucap ku pada Riska.
"Tuh kan masih lo gue ngomong nya!" Jawab Riska.
"Wah sumpahh yaaa, udah sekalian aja... Kamu mau gak jadi pacar aku saat ini, dan mungkin nanti nya kita bisa lebih dari sekedar pacar," Ucap ku yang sudah menggenggam tangan Riska.
Tanpa pikir panjang aku pun spontan menyatakan perasaan ku pada Riska, dan dia hanya tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya.
Satu mobil pun ramai dengan teriakan mereka, yang turut bahagia dengan ku.
"Ini udah ke tiga kali nya, gue jadi saksi lo nembak cewek Dav," Ucap Novi.
Tawa pun ikut meramai kan isi mobil dan sekaligus menemani perjalan kami.
Sungguh malam yang sulit di lupakan, mungkin ini sudah takdir ku seperti ini, maaf kan aku Suna, tugas ku sudah selesai untuk menjaga mu, dan kali ini ada Riska yang harus ku jaga.
Tidak lama kemudian kita sampai ke SPBU, tempat nya sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang sedang bertugas.
Jam pun sudah menunjukan jam 02:30 pagi waktu setempat, dan wajar lah jika sepi pengunjung menurutku.
Novi ke toliet dengan Achonk dan Satria, aku tetap di mobil bersama Riska dan juga om Eddie, mata ku melihat ke sekeliling untuk mencari penjual makanan dan tidak ada yang berjualan satu pun, bahkan mini market yang biasa nya ada di setiap SPBU pun tidak ada.
"Om gak ada warung pinggir jalan gitu ya om" Tanya ku ke om Eddie.
"Ada nanti di depan, ada warung makan" Jawab om Eddie.
"Jauh om?" Tanya Riska.
"Gak begitu jauh kok nanti juga kita lewat sana," Jawab om Eddie.
"Yaudah nanti mampir dulu ya om, buat beli makan, gak apa-apa kan?" Tanya ku.
"Iya gak apa-apa tapi biasa nya kalau tidak pakai bahasa daerah harga nya sedikit mahal, nanti biar om aja yang turun untuk membeli makanan nya agar harga nya murah," Ucap om Eddie.
"Ohh gitu, yaudah terima kasih banyak ya om," Jawab ku.
BRRRUUAAAKKK...
Terdengar seperti ada suara yang menabrak di bagian belakang, dan serentak mata kami tertuju ke arah belakang, dan tak terlihat apa-apa
BRRUAAAAKKKKK... Kali ini lebih keras suara nya
Om Eddie pun turun untuk mengecek bagian belakang, dan Riska sudah terlihat ketakutan, mataku tetap mengawasi bagian belakang.
Tiba-tiba wajah Novi muncul dari kaca sebelah kiri, dan aku pun terkejut, ternyata mereka bertiga menjahili kita.
"Peluk terus... Mentang-mentang baru jadian!" Ujar Novi yang baru masuk ke mobil.
"Gak lucu Nov kaya gitu, kalau jantung gue copot gimana?" Balas ku.
Novi pun tertawa dan tidak lama kemudian, Satria, Achong, dan Om Eddie masuk ke dalam mobil sambil tertawa.
"Berhasil juga kita Chonk, ngerjain pasangan baru," Ucap Satria sambil tertawa.
"Gak lucu Sat sumpah kaya gitu!" Ujar ku sewot.
"Seru banget Dav, sumpah!" Jawab Satria.
"Oia di depan ada warung nasi gitu, kalian mau pesen makan gak sekalian?" Tanya ku.
"Gue mau Dav," Ucap Satria.
"Gue juga dav, laper gini tiba-tiba," Sahut Novi.
"Lo chonk, mau gak?" Tanya ku.
"Enggak laper gue Dav," Jawab Achonk.
"Ohh yaudah, om Eddie mau om?" Tanya ku.
"Enggak deh terima kasih, om udah makan tadi sebelum berangkat jemput kalian," Jawab om Eddie.
"Ohh yaudah jadi 3 bungkus nih om beli nya, gak apa-apa kan?" Tanya ku.
"Tiga, buat siapa aja Dav?" Tanya Riska.
"Kamu, Satria, Novi." Jawab ku.
"Kamu enggak?" Tanya Riska.
"Enggak, aku gak laper Ris" Jawab ku.
"Kok gitu, yaudah nanti berdua aja ya makan nya!" Ujar Riska.
"Gak, kamu aja yang makan Ris," Jawab ku.
"Pokok nya nanti aku suapin, aku paksa kamu buat makan!" Ucap Riska.
"Hmmm... So sweet ya pasangan baru," Sahut Novi
"Aku juga mau di suapin dong," Ledek Satria.
"Udah gak lucu candaan kaya gitu," Jawab ku sewot.
Kami semua tertawa dan tidak lama kemudian sampai ke tempat warung nasi itu, aku pun memesan untuk 3 bungkus pada om Eddie, dan dia langsung turun dari mobil dan memesan makanan.
warung nya tidak terlalu ramai, hanya ada 2 orang yang sedang makan di sana, dan salah satu dari mereka melihat terus ke arah mobil kami, memang sedikit agak aneh tatapan nya itu, seperti sedang memperhatikan sesuatu, dan nampak ingin tahu ada berapa orang di dalam mobil.
Kemudian om Eddie kembali membawa 3 bungkus Nasi, dan kami melanjut kan perjalan menuju home stay yang katanya sebentar lagi sampai.
Jarang sekali kami melihat mini market di sini, warung-warung sembako juga jarang di temukan di pinggir jalan, tapi untung nya aku sudah bawa stok beberapa rokok dari Jakarta, jadi tidak perlu khawatir lagi kehabisan rokok.
Akhir nya kita sampai ke home stay, perjalanan yang melelahkan, terasa lega ketika sudah sampai, tempat nya lumayan besar dan isi nya juga lengkap, Achonk memang bisa di bilang sangat beruntung karena dari lahir sudah menjadi orang kaya.
Kami menuju kamar masing-masing untuk menaruh barang bawaan kami, Hanya ada 3 kamar, jadi kami putuskan untuk memakai 2 kamar saja, Novi satu kamar dengan Riska, dan Aku, Satria, dan Achonk satu kamar, kami para cowok pilih kamar yang paling besar karena kami bertiga.
Setelah merapihkan barang bawaan, kami pun berkumpul di meja makan untuk membicarakan rencana pagi hari nanti, sebelum tidur dan istirahat.
"Akhir nya rencana pertama pun di mulai, kita akan pergi mencari informasi ke beberapa tempat, esok hari."
__ADS_1
•••