Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Pengkhianat


__ADS_3

“Riskaaaaaaaaaa!” aku teriak sampai habis suaraku.


Aku masih menahan badan Riska yang sudah tidak bernyawa, aku sandarkan dia di bahuku. Aku mencoba menangis tapi tak bisa, aku hanya bisa memegang tangannya dan aku pun melihat tato yang bergambar bintang.


“Bukannya ini pentagram?” Aku pun bertanya-tanya dalam hati.


Tiba-tiba saja Riska membuka matanya dan berkata, “Kalian semua akan mati!”


Aku pun terkejut dan melepaskan Riska, bersamaan dengan itu aku pun membuka mata setelah merasakan pipiku seperti ada yang menepuk-nepuk.


Saat kedua mata ini terbuka, aku sudah melihat Riska, Novi, dan suster Sonya mengelilingiku. Kemudian Riska mengelus wajahku dengan lembut, lalu aku pun menangkap tangannya dan memastikan apakah ada tato pentagram di tangannya, rupanya tidak ada dan itu semua hanya mimpi saja.


“Kenapa sayang, kamu mimpi buruk?” tanya Riska.


“Ini sudah dua kali Dav kamu mimpi heboh seperti itu,” sahut Novi.


Kemudian suster Sonya menyentuh leher dan juga dahiku, kemudian ia berkata, “Suhu badannya normal, sepertinya itu bukan mimpi buruk yang berasal dari demam.”


Aku membangunkan diri dan duduk, aku pun memegang kepalaku yang tiba-tiba saja terasa pusing.


“Kamu mimpi apa, sayang?” tanya Riska.


“Aneh ... A—aku mimpi kamu membunuh semuanya, dan terakhir kamu bunuh diri,” jawabku.


Riska tersenyum dan mengelus punggungku, ia pun berkata “Hanya di dalam mimpimu saja, aku bisa membunuh orang tanpa rasa takut.”


Semua tertawa mendengar ucapan Riska, Novi pun akhirnya kembali masuk ke kamarnya, hanya suster Sonya dan juga Riska yang ada di sampingku sekarang. Aku pun baru sadar kalau Achong tidak ada, aku pun bertanya, “Achong ke mana?”


“Dia bilang sih mau keluar, tapi tidak memberi tahu ke mana,” jawab Riska.


“Satria dan Paula juga belum kembali?” aku bertanya kembali.


Riska dan Sonya kompak menggelengkan kepalanya, lalu Riska bersandar di bahuku. Ia menaikkan kakinya ke sofa dan melipatnya.


Aku penasaran apa yang di rencanakan Satria dan Paula, kenapa mereka lama sekali. Satria pasti aman jika bersama Paula, tapi jika Paula kambuh lagi dan berganti dengan kepribadian lainnya, bagaimana?


Aku mencoba berpikir positif sambil menyalakan sebatang rokok, saat rokok menyala Riska pun bangun dan tak bersandar lagi padaku dan ia malah memukul bahuku.


“Orang lagi nyaman, kamu malah menyalakan rokok!” ucapnya kesal.


Aku tersenyum dan membuang asap ke arahnya, ia pun mengibas-ngibaskan tangannya dan kemudian memukul bahuku berkali-kali. Aku pun hanya tertawa dan tak melawan, Riska pun memukuliku sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kalian berdua so sweet ya,” ucap Sonya.


Riska pun berhenti memukuliku, sedangkan aku hanya melirik saja ke arah Sonya.


“Kenapa berhenti, apa aku mengganggu kalian?” tanya Sonya.


“Tidak ... aku hanya terkejut saja mendengar ucapanmu barusan,” jawab Riska.


Sonya pun tersenyum dan ia berkata, “Aku jadi kangen suamiku.”


Mendengar itu Riska pun langsung bangun dan berpindah tempat duduk di samping Sonya, kemudian Riska menggenggam tangan Sonya sambil berkata, “Jika tiba-tiba kamu rindu seseorang yang sudah meninggal, doakan saja ... Itu berarti dia sedang butuh doamu.”


Mendengar ucapan Riska aku pun tersadar, dan langsung mengirimkan doa untuk Suna dan juga Regina. Mungkin mereka di sana sedang membutuhkan doaku yang tak seberapa ini.


“Kalau waktu bisa di ulang, aku tidak akan menerima lamarannya waktu itu,” ucap Sonya.


“Loh kenapa?” tanya Riska.


“Karena aku tidak mau di tinggal saat sedang mencintainya,” jawab Sonya sambil tersenyum.


“Aku juga sama sepertimu, di tinggal saat lagi sayang-sayangnya ... tapi aku yakin tuhan merencanakan sesuatu yang indah untukku, makanya aku pilih Riska yang juga mencintaiku,” sahutku sambil menghembuskan asap rokok.


Kemudian Riska melihat ke arahku dan berkata, “Memangnya aku cinta denganmu, ge-er banget deh kamu.”


Aku pun menggelitik pinggang Riska sambil berkata, “Jika kamu tidak mencintaiku, akan aku buat kamu tergila-gila denganku.”


Riska pun tertawa sambil menggeliat, kemudian ia menangkap taganku dan berkata, “Aku yang akan membuatmu tergila-gila padaku, sampai kau merasa hanya aku satu-satunya wanita di dunia ini!”


Aku pun tertawa, dan Riska membalas menggelitik pinggangku. Saat kami sedang bercanda, tiba-tiba saja Satria dan Paula pulang.


“Kasihan si Sonya cuma jadi nyamuk,” cetus Satria yang baru saja tiba.


Sonya pun hanya tersenyum mendengar celetukan Satria, kemudian Satria dan Paula ikut bergabung dengan kami dan duduk di sofa.


“Gue pikir kalian berdua sudah tertangkap sama sekte itu,” ledekku.


“Jika kami tertangkap, mereka dalam bahaya!” tegas Paula.


“Jadi bagaimana rencananya?” tanyaku langsung ke poin utamanya.


Paula dan Satria saling menatap dan ia memanggilku, kemudian aku menghampirinya dan mereka mengajak aku ke luar.

__ADS_1


Kami pun berhenti di halaman depan, dan Satria langsung berkata, “Kita harus hati-hati.”


“Ada penghianat di antara kita,” ucap Paula.


Aku pun terkejut mendengar ucapan Paula dan langsung membalasnya, “Benarkah, siapa orangnya?”


“Tenang dulu Dav, kita butuh bukti yang kuat untuk mengatakan pada yang lain ... kalau kita langsung menuduhnya, nanti pasti mereka merasa aneh dan kepercayaan kita terpecah,” jawab Satria.


Kemudian Paula mendekat ke arahku dan membisikan sesuatu di telingaku.


“Eng—enggak gak mungkin!” ujarku terkejut saat mendengar bisikan Paula.


“Gue juga gak percaya Dav, tapi Paula punya bukti-bukti yang membuat gue yakin,” ucap Satria.


“Kamu rahasiakan ini dulu, kita berdua punya rencana untuk membuka kedoknya!” ujar Paula.


“Oke kalau begitu, kapan kita mulai?” tanyaku.


“Malam ini!” tegas Satria.


“Sekarang kita harus bersiap-siap,” sahut Paula.


Kami bertiga pun akhirnya masuk ke dalam, dan Novi ternyata sudah ada di ruang tamu bersama Riska dan juga Sonya.


“Guy’s kita prepare sekarang, nanti malam kita bergerak!” ujarku.


Semua mata menatapku, dan mereka kompak menganggukkan kepalanya. Mereka pun akhirnya bubar untuk melakukan persiapan.


Aku kembali duduk di sofa sambil menyalakan rokok.


“Lo gak siap-siap, Dav?” tanya Satria.


“Gue sudah siap dari tadi, Sat!” jawabku sambil menghembuskan asap rokok.


“Dasar sotoy!” ledek Satria sambil tersenyum.


Ia pun pergi ke kamar untuk bersiap-siap, sedangkan aku melamun sendiri di sofa sambil merokok. Aku masih memikirkan apa yang di katakan Paula barusan, ingin percaya sulit rasanya, tapi tidak mempercayainya mereka mempunyai buktinya.


Aku harus bersikap tenang, dan juga harus bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.


Tiba-tiba saja aku mengingat tentang mimpiku barusan, mimpi yang mengerikan itu. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, “Apa mimpi burukku tadi ada kaitannya dengan semua ini? Apakah mungkin itu sebuah pertanda?”

__ADS_1


......................


__ADS_2