Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Menyelamatkan Achong


__ADS_3

Aku bingung apa yang di lakukan Achong sebelumnya sampai-sampai ia bisa tertangkap seperti itu. Apakah mungkin ia menyelidiki sekte ini diam-diam tanpa sepengetahuan kami.


Satria mulai gelisah dan ia celingak-celinguk seperti mencari sesuatu sambil berkata, "Pasti ada di sini!"


"Apa yang lo cari, Sat? tanyaku.


"Kau akan terkejut jika aku berhasil menemukannya."


Satria terus mencari sedangkan Paula terus memantau Achong dari sini, ia tampak menunggu sesuatu, seperti menunggu pergerakan dari sekte itu. Paula juga sudah mengeluarkan pistolnya.


"Ketemu!" ucap Satria yang sudah jauh berada di ujung, dan tepat di bawah pohon tua yang besar.


Kami semua pun akhirnya menoleh ke arah Satria dan ia pun menunjukkan kalung yang di temukannya di bawah pohon tua itu. Ia pun lari menghampiri kami dan memberikan kalung itu pada Paula.


"Benar dugaan kita ... di sini tempatnya, Sat!" tegas Paula.


Satria menganggukkan kepalanya dan ia pun berkata, "Kalian tunggu di sini, aku akan memancing keributan supaya ritualnya terganggu."


"Lo mau apa, Sat?" tanyaku dengan nada tinggi.


"Cuma mau beri salam saja, kalau kita sudah datang dan akan mengganggu ritualnya."


"Eng--enggak lucu, Sat!"


"Iya Sat, jangan gegabah," sahut Novi.


Satria menganggukkan kepalanya dan berlari membawa tas ransel. Paula pun menjelaskan kalau ia dan Satria tadi sempat kesini dan merencanakan semuanya. Kalung yang tadi di temukan adalah kalung Andini yang sudah di berikan Paula saat ia bertukar peran. Paula sengaja menaruh kalung itu untuk tanda kalau ia dan Satria akan memulainya dari tempat kalung itu di temukan.


Benar saja, Satria langsung menunduk di bawah pohon besar itu. Kemudian terlihat ia menaruh sesuatu, dan mulai menyalakan api.


"Jangan-jangan ... dinamit?" tanyaku pada Paula.


"Iya, kita ledakan pohon besar itu hingga tumbang dan menimpa kerumunan mereka, setelah dinamit itu meledak kita harus sembunyi di semak-semak sana," jawab Paula sambil menunjuk ke arah semak-semak.


"Lalu Satria?" tanya Novi.

__ADS_1


"Dia akan menyelamatkan Achong kali ini," jawab Paula dengan senyuman misteriusnya.


Aku pun baru ingat dengan apa yang di katakan Paula dan Satria tadi sore, saat Paula berbisik di telingaku, dan secara garis besar aku pun baru sadar rencana Satria kali ini.


Kemudian ledakan besar yang berasal dari pohon itu pun terdengar, tapi anehnya sekte itu tak bergerak sama sekali. Mereka seperti tak menghiraukan ledakan itu sampai akhirnya ledakan susulan pun terdengar dan pohon besar tua itu pun tumbang.


Mereka hanya melirik saja ke arah pohon besar yang tumbang, dan pada akhirnya mereka semua ketiban pohon besar itu. Achong pun masih terikat di tiang dan tak terkena pohon itu.


Kami berlima pun lari ke arah semak-semak yang sudah di arahkan oleh Paula tadi. Ternyata Paula sudah membuat bom molotov, dan ia menyembunyikan di semak-semak.


"Dav pinjam korek," ucapnya.


Aku pun meminjamkannya dan ia langsung mengambilnya lalu ia membawanya. Paula berjalan menunduk menuju pohon yang ada di sebelah kami yang tidak jauh, jaraknya kira-kira 5m dari semak-semak. Saat Paula berada di balik pohon ia pun menyalakan bom molotov itu dan ia langsung berlari ke arah kerumunan yang sudah porak-poranda akibat tertimpa pohon besar.


Jarak Paula sangat dekat kali ini dan ia langsung melempar bom molotov itu ke arah anggota sekte yang sudah terkapar di tanah tertindih pohon besar. Rupanya Paula tidak hanya membawa satu saja bom molotovnya, ia pun menyalakan lagi bomnya dan menyulutkan ke bom yang satu lagi. Paula kali ini memegang 2 bom di tangannya dan melempar bom itu ke arah pohon besar yang tumbang itu.


Angin yang berhembus membantu menjalarnya api dan segera membakar batang pohon besar yang sudah tua itu. Malam gelap pun berubah menjadi terang karena api yang mulai membesar.


Tapi ada yang aneh, Achong seperti tak sadarkan diri. Ia tak bergerak sama sekali hanya menundukkan kepalanya.


"Seru banget!" ucap Paula sambil terengah-engah.


"Habis ini saran gue, lo pergi ke psikiater!" ujarku.


Paula malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. Kemudian tawanya terhenti saat kami mendengar suara seperti besi di pukul berkali-kali.


"Itu dia tandanya, Dav!" tegas Paula.


"Tanda apa?"


"Tanda untuk memanggil anggota lainnya untuk berkumpul," jawab Paula.


Perkataan Paula benar sekali, tiba-tiba anggota sekte itu sudah mulai ramai di dekat api yang semakin besar itu. Mereka pun bergotong royong menyiram pohon besar yang terbakar itu.


Achong juga masih belum sadarkan diri dan para anggota itu juga tak ada yang mendekat ke arah Achong.

__ADS_1


"Guy's ada yang gak beres," ucap Novi yang sudah mulai gelisah.


Kami semua bingung dengan pernyataan Novi barusan, matanya tampak melirik ke kiri dan ke kanan, dan keringatnya sudah sebesar biji jagung.


"Penunggu sini ... semuanya lari dan pergi dari sini!" sambung Novi yang kali ini nadanya lumayan tinggi.


"Kenapa mereka lari, Nov? tanya Paula.


"Enggak tahu, mereka aku tanya tidak ada yang menjawab."


"Ka--kamu bisa lihat hantu?" tanya Sonya.


Novi menganggukkan kepalanya sambil tetap melirik ke kiri dan ke kanan.


Dhuuuaaaaarrrrrr ....


Suara ledakan keras terdengar.


"Itu tanda dari Satria," ucap Paula.


Paula pun tak menjawab dan ia hanya fokus menatap ke AchongĀ  di ikat. Lalu ada tiga orang anggota sekte itu menghampiri Achong dan melepaskan ikatannya. Setelah ikatannya terlepas, tubuh Achonk jatuh begitu saja. Dugaanku benar kalau dia pingsan, tapi anehnya anggota sekte itu membiarkan Achong begitu saja dan malah meninggalkannya terkapar di tanah.


Gerombolan Sekte itu pun berjalan ke arah suara ledakan dan meninggalkan Achong, kemudian aku melihat Paula yang mulutnya sedang bergerak-gerak dan menunjuk gerombolan itu, seperti sedang menghitung jumlah mereka. Saat mereka sudah lumayan jauh, Paula berkata, "Dav, ayo kita selamatkan Achong."


Aku menganggukkan kepala dan Paula berlari terlebih dahulu, dan aku menyusulnya di belakang. Paula sudah siap dengan pistolnya kali ini, dan aku sudah mengeluarkan belati perak. Langkah kami yang cepat pun membuat kami sampai di tempat Achong terkapar. Paula memeriksa denyut nadinya dan Achong masih hidup.


Kami berdua pun menggotong Achong dan membawanya ke semak-semak, dan di sana Sonya menyambut kami dan langsung memeriksa keadaan Achong.


"Tidak ada luka, tapi kenapa ia pingsan?" tanya Sonya yang sudah selesai memeriksa Achonk.


"Mungkin luka dalam," sahut Paula.


Brrruuuuuuuuukkkkkkk....


Tiba-tiba Novi ambruk begitu saja tanpa sebab dan membuat kami terkejut.

__ADS_1


__ADS_2