Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Benteng jiwa


__ADS_3

Perjalanan kali ini cukup lama dan tidak lah mudah, beberapa kali kita keluar masuk desa dan juga berhenti di bawah kaki gunung. Perjalanan kita di lanjutkan dengan berjalan kaki dari sini, karena sudah tidak ada jalan untuk mobil lewat.


"Lo yakin ini gak salah Dav?" Tanya Novi.


Aku pun menggelengkan kepala dan menuntun perjalanan.


"Lo sama Suna, bisa sampai ke sini gimana caranya?" Tanya Achonk.


"Gue nyasar waktu itu Chong" Jawab ku.


"Coba tolong ceritakan Dav," Sahut bu Paula.


Perjalanan pun di iringi dengan cerita ku kenapa bisa sampai di sini.


"Jadi waktu itu gue tersesat di dalam hutan ini, terus ga sengaja lihat bangunan yang penuh di kelilingin orang-orang berjubah hitam. Awal nya gue mau menyapa mereka, tapi Suna melarang... Dan gue melihat mereka sedang melakukan ritual, dan menyembah patung yang tinggi nya kira-kira 3m." Ucap ku bercerita sambil menuntun jalan.


"Terus?" Tanya Novi penasaran.


"Terus, gue nikmatin aja ritual mereka yang membosankan itu!" Tegas ku.


"Lo kenapa gak kabur?" Tanya Achong.


"Itu dia masalah nya Chong, pas gue udah ngerasa bosen dan pengen kabur, tiba-tiba di belakang gue ada orang berjubah hitam, tapi gue sama Suna masih bisa lolos, karena dia sendiri. Tapi orang itu tiba-tiba teriak dengan bahasa yang gak gue ngerti, terus orang-orang yang lagi ritual itu mengejar gue," Jawab ku.


"Terus, terus..." Tanya Novi yang semakin penasaran.


"Kamu bisa lolos dari sana?" Tanya Riska.


"Gue akhir nya bisa lolos dan keluar hutan itu dengan selamat, terus gue naik ke mobil dan ngikutin jalan aja, karena gue udah gak tau arah lagi waktu itu." Jawab ku.


"Terus kenapa lo bisa sampai ke pasar dekat bangunan tua itu?" Tanya Novi.


"Gue kahabisan bensin di dekat sana, terus gue lihat pasar, yaudah gue mampir aja kesana!" Tegas ku.


"Terus pas di pasar lo di bius?" Tanya Satria.


Aku menganggukan kepala dan terus memandu jalan mereka.


"Di depan ada air terjun, setelah air terjun itu kita bakal sampai ke altar itu!" Ujar ku.


Kita pun sampai di air terjun, udara sejuk dan suara air yang jatuh membuar perasaan ku menjadi tenang untuk sesaat, mereka juga nampak menikmati pemandangan alam ini.


"Ayo lanjutkan perjalanan Dav!" Ujar bu Paula.


Aku pun berjalan menuntun mereka lagi, dan Riska menggandeng lengan ku dan berkata dengan manja, "Dav setelah ini berlalu, kita berlibur berdua ya."


Aku menganggukan kepala dan memberikan senyuman pada Riska.


"Guy's stop! Ada yang aneh di sini," Ucap Novi.


"Kenapa Nov?" Tanya Satria.


"Ada semacam dinding tak terlihat, yang aura nya kuat sekali, bahkan penunggu hutan ini saja tidak bisa masuk ke dalam sana!" Jawab Novi.


"Dia bisa melihat makhluk halus?" Tanya bu Paula.


"Iya bu, dia indigo." Jawab Satria.


"Coba tanya Nov, apa yang terjadi di sini!" Ucap ku.


Kami berhenti sejenak dan Novi mendekati satu pohon besar, dan menutup mata nya. Tak lama kemudian Novi terjatuh dan menangis, kami pun segera menghampiri Novi, dan saat ku angkat badan nya, badan nya terasa dingin sekali padahal kondisi nya sedang berkeringat.


Riska memberikan air mineral kepada Novi dsn bertanya, "Kenapa Nov?"

__ADS_1


"Benteng ini terbuat dari jiwa-jiwa orang yang di korban kan!" Ucap Novi gemetar.


"Maksud nya?" Tanya bu Paula bingung.


"Benteng itu masih belum sempurna, kita harus menghentikan mereka!" Sahut Novi.


"Aaaaaaaarrrrrrgggghhhhhh..."


"Huuuuuwwaaaaakkhhh..."


Tiba-tiba Novi teriak, dan nampak nya dia kerasukan, biasa nya di saat seperti ini Regina selalu membantu.


"Pergi dari sini!"


"Pergi, dan kembali ke Jakartaaaaa!"


"Huuaaaaarrrgghhh...."


"Ini sosok yang melindungi Novi guy's" Ucap Satria.


"Kenapa kita harus pulang dari sini?" Tanya ku.


"Terlalu beresiko, jika hanya untuk menuruti ego mu!" Jawab Novi yang sedang kerasukan.


"Grrrrhhh... Bangsa jin seperti ku tak pernah merasa ketakutan seperti ini, urungkan saja niat mu!" Sambung Novi yang sedang kerasukan.


"Gak bisa, jangan samakan manusia dengan bangsa kalian," Sahut Satria.


"Jangan sesumbar, atau kalian semua mati!" Tegas Novi yang sedang di rasuki.


"Kami tidak sesumbar, hanya saja percaya diri!" Ujar Satria.


"Memang nya kalian bisa apa?" Tanya Novi yang sedang kerasukan sambil tertawa.


"Grrrrghh... Terserah kalian saja!" Ucap Novi yang kemudian terjatuh.


Kami pun membangun kan Novi, dan memberikan nya minum, dan membopong nya.


"Leluhur ku memaksa masuk untuk meberi peringatan pada kalian," Ucap Novi dengan nada pelan.


Bu Paula hanya terdiam dan tercengang melihat apa yang baru saja terjadi.


"Jadi bagaimana, kita lanjutkan atau tidak?" Tanya Achong.


"Lanjutkan!" Tegas Novi yang berusaha bangun.


"Kamu yakin gak apa-apa Nov?" Tanya Riska sambil membantu Novi untuk bangun.


Kami pun melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi Novi mengajak berhenti sejenak.


"Di sini guy's benteng nya, kita tak tahu apa yang ada di dalam!" Ujar Novi.


"Ya cuma hutan biasa aja Nov, dari sini juga kelihatan kali," Sahut Satria.


Novi tersenyum dan melangkah ke depan, kami pun mengikuti nya, aku pun terkejut setelah melangkah, kita seperti berada di tempat lain.


Tadi yang ku lihat hanya pepohona saja, tapi setelah melangkah kami seperti berpindah tempat dan tiba di suatu pedesaan, dengan rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu. Tapi aneh, tidak ada satu orang pun di sini, aku pun belum berani melanjutkan langkah ku dan masih memperhatikan sekitar.


Tiba-tiba bu Paula memegang kepala nya dan dia pun muntah, Novi langsung menarik nya keluar dan Riska menyusul Novi.


"Gimana?" Tanya Satria.


"Gue gak pernah ngerasa semangat kaya gini!" Jawab ku.

__ADS_1


"Gue masih gak percaya kalo kita di dimensi lain!" Sahut Achong.


Kami pun saling menatap dan tersenyum, saat Satria ingin melangkah, tiba-tiba Novi menahan nya.


"Keluar dulu!" Ujar Novi.


"Ahhh... Ganggu aja lo Nov!" Ucap Satria kesal.


Kami pun meneruti perintah Novi, dan mundur. Saat kami keluar, bu Paula sudah pingsang dan ada Riska di samping nya sedang berusa membangun kan nya.


"Dia kenapa?" Tanya ku.


"Seperti nya dia tidak kuat, tadi kalian lihat dia muntah saat di dalam?" Tanya Novi.


Kami semua menganggukan kepala.


"Dia memuntah akan asap hitam, seperti nya dia juga punya penjaga, tapi penjaga nya lemah," Ucap Novi.


"Terus gimana?" Tanya Achong.


"Kita hentikan sampai sini dulu aja, dan kembali ke home stay, ajak bu Paula," Jawab Novi.


"Kenapa ajak dia?" Tanya ku.


"Ada yang ingin ku lakukan untuk nya!" Jawab Novi.


Kami pun berjalan kembali ke mobil, Achong dan Satria membopong bu Paula, aku menunjukan jalan dan memepercepat langkah ku, karena hari sudah semakin sore dan sudah hampir gelap.


"Nov tadi itu apa, dimensi lain kah?" Tanya Achong.


"Bukan, di situ memang ada pedesaan, hanya saja mereka menutupi dengan benteng agar tidak terlihat dari luar," Jawab Novi.


"Dan semakin banyak tumbal, semakin kuat benteng itu!" Sambung Novi.


"Emang nya kalian gak ngerasa pusing saat masuk ke sana?" Tanya Riska.


Aku, Achong, dan Satria menggelngkan kepala.


"Kalau gue, jujur sedikit pusing di awal nya aja tapi lama kelamaan udah gak terasa lagi pusing nya," Ucap ku.


Seperti nya ada yang aneh dengan benteng itu, kenapa Achong dan Satria tidak merasakan apa-apa saat di dalam sana, sedangkan kami semua merasakan pusing dan bu Paula sampai pingsan karena tidak sanggup menahan nya.


Kami tiba di mobil dan segera berjalan menuju home stay, perjalan ke home stay kurang lebih 3 jam dari sini. Lagi-lagi saat gelap kita di kelilingi hutan, aku sedikit tidak suka akan hal itu, membuat jantung melambat berdetak saat melihat ke kanan dan kiri.


"Hhaaaaakkkhhh..." Bu Paula pun terbangun dari pingsan nya.


Riska dan Novi pun langsng menenangkan bu Paula dan memberi nya air.


"Masih pusing?" Tanya Novi.


"Sedikit..." Jawab bu Paula yang mulai bersandar di kursi mobil.


Novi pun menceritakan apa yang terjadi kepada bu Paula, terlihat wajah bu Paula pucat dan tubuh nya bergetar.


"Sekarang kalian mau kemana?" Tanya bu Paula.


"Kembali ke home stay," Jawab ku.


"Ibu ikut ya, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan pada bu Paula," Ucap Novi.


Bu Paula menganggukan kepala nya, dan kami terus melaju dengan kecepatan 80/kmh. Langit sudah gelap dan jalan semakin sepi, sudah dua desa kami lewati, dan sekarang kami melewati jalan yang di kanan kiri banyak pohon-pohon besar dan minim lampu penerang jalan.


"Survai tempat sudah di lakukan, dan besok rencana A akan kita laksanakan. Semoga saja bu Paula bisa membantu, agar rencana A bisa berjalan dengan lancar."

__ADS_1


......................


__ADS_2