
Sore ini pukul 16:00 WITA, Riska masih terbaring lemas diranjang rumah sakit. Novi dan Satria sedang mencari informasi mengenai komunitas topeng tanpa ekspresi. Aku, kalau aku masih setia duduk di sebelah Riska yang sedang terbaring dan masih menggenggam tangannya.
Tiba-tiba Achong membuka pintu dan masuk begitu saja, wajahnya terlihat lelah sekali dan sedikit kesal jika dilihat dari raut wajahnya.
"Kasih salam atau ketuk pintu lah kalau masuk," ucap Satria sambil sibuk dengan laptopnya.
"Sorry." Jawab Achong singkat.
"Lo dari mana?" Tanyaku.
"Abis jadi saksi di kantor Polisi," jawab Achong sambil mengehala nafasnya.
"Lama banget," gumam Satria.
"Dav, haus..." Ucap Riska lirih.
Aku menganggukkan kepala dan menuangkan air mineral ke gelas, Riska memaksakan dirinya untuk duduk dan bersandar. Novi yang melihat itu pun langsung berlari mengahampirinya, dan membantu Riska.
Kemudian aku memberikan gelas yang sudah penuh kepada Riska, Riska menerimanya dan langsung meminumnya sampai habis, hanya dengan sekali teguk.
Riska memberikan gelas kosong kepadaku sambil berkata, "Aku mimpi buruk Dav!"
"Kamu mimpi apa sayang?" Tanyaku.
"Aku mimpi kamu mati di pelukanku," sahut Riska yang sudah meneteskan air matanya.
"Aku sangat bahagia jika itu terjadi," ucapku sambil tersenyum.
"Eng--Enggak boleh, kamu gak boleh mati!" Tegas Riska.
Aku tersenyum kemudian menghampiri Riska, lalu memeluknya. Tangan kanan ku mengelus kepalanya yang sudah tersandar di bahuku. Suara isak tangis terdengar di telingaku.
"Sssstttt... Itu hanya mimpi sayang," ucapku yang mencoba menenangkan Riska.
"Tapi--" ucap Riska terpotong.
"Gak ada tapi-tapian, mimpi hanya bunga tidur dan gak akan jadi kenyataan!" Ujarku menyelak ucapan Riska.
"Lo jangan takbur Dav," sambung Novi dengan menatapku sinis.
"Mimpi ada yang terjadi karena otak yang terus memikirkan sesuatu, dan ada juga yang terjadi karena sebuah pertanda." Ucap Novi.
"Tapi, kalau ini jelas karena otaknya yang terus memikirkan sekte itu sampai ketakutan, dan terbawa sampai ke mimpi." Balasku.
"Belum tentu, siapa tahu ini pertanda kalau lo lagi di incar sama mereka!" Tegas Novi.
Masuk akal apa yang dikatakan oleh Novi, aku hanya perlu waspada lagi. Mungkin aku adalah target selanjutnya, atau mungkin Riska.
__ADS_1
"Dav, gue tanya sekarang aja ya sama Riska." Ucap Satria.
Aku melepaskan pelukan Riska dan membasuh air matanya.
"Yaudah, sekarang aja!" Ujarku.
Kemudian Satria bangun dari duduknya dan menghampiri Riska sambil membawa laptopnya. Lalu dia menunjukan website komunitas itu dan meminta tolong Riska mengartikannya.
"Ini apa?" Tanya Riska bingung.
"Tolong baca ini, siapa tau ada informasi penting di dalamnya." Jawab Satria.
Riska mengambil laptopnya, dan mulai melihat-lihat isi dari website itu. Mulutnya bergerak cepat seperti seorang penyihir yang sedang membaca mantra.
"Website ini lebih menceritakan awal mula terbentuknya organasisi ini," ucap Riska sambil terus membaca.
"Di sini di katakan kalau komunitas ini sudah ada sejak tahun 1912."
"Menarik, komunitas itu di bentuk 2 tahun sebelum perang dunia pertama, apakah ada motif politik di dalamnya?" Tanya Satria.
"Sepertinya tidak ada Sat, yang aku baca disini, organisasi terbentuk karena banyaknya orang yang kelaparan." Jawab Riska.
"Make sanse sih, jika orang kelaparan pasti apa saja akan di lakukan," ucap Satria sambil memegang dagunya.
"Tapi ada yang lebih menarik Sat," ucap Riska sambil menunjukan kalimat yang sudah di kutip oleh website itu.
Riska tersnyum dan membetulkan posisi laptopnya yang tadi mengarah ke Satria.
"De meeste donoren werden gegeven door topfunctionarissen van de Sovjet-Unie om de Nederlanders van binnenuit te vernietigen." Ucap Riska membacakan kalimat itu.
"Artinya?" Tanyaku.
"Jika di artikan, sebagian donatur adalah petinggi uni soviet yang berencana menghancurkan Belanda dari dalam." Jawab Riska.
"Pasti selalu ada politik di dalam suatu organisasi!" Ujar Satria.
Mendengarnya saja sudah membuatku kesal, mereka rela menentang negaranya sendiri, hanya karena urusan perut.
"Tujuan awal mereka memang politik Sat, sampai akhirnya perang dunia pertama terjadi, organisasi ini hilang tanpa jejak." Ucap Riska menyambung perkataan Satria.
"Kenapa, kok bisa?" Tanya Satria.
"Entahlah, disini di katakan mereka muncul secara diam-diam dan anggota mereka menyusup ke pasukan militer Belanda, untuk ikut perang dunia ke dua. Dari situ mereka mulai menyebarkan ajaran-ajaran sesat mereka, ke penjuru dunia." Ucap Riska.
"Bisa di bilang mereka masuk ke Indonesia saat Belanda mulai menjajah negri kita," sahutku.
"Masuk akal Dav, di tambah lagi dengan banyaknya masyarakat kita yang masih percaya hal-hal ghaib." Sambung Satria.
__ADS_1
Semua menjadi jelas sekarang, tapi masih ada yang janggal disini. Tujuan awal mereka politik, kemudian sekarang menyembah iblis, dan ingin membangkitkannya. Apakah menyembah iblis itu hanya kedok semata, agar dia bisa melanjutkan tujuan awal mereka. Atau mereka sudah mengubah tujuan mereka, tapi apa tujuan baru mereka dengan langkah menyembah iblis.
"Disini ada track record penyebaran nya!" Ujar Riska.
"Dimana saja?" Tanya Satria.
"Rusia, Prancis, Italia, Belanda, Sidney, Singapura, dan terakhir Cina." Jawab Riska.
"Indonesia tidak ada?" Tanyaku.
"Disini tidak di tuliskan Dav," jawab Riska sambil menunjukan tulisan itu.
Artikel ini membuat kami bingung, mulai dari latar belakangnya, tujuannya, dan motifnya. Semua terlalu rumit untuk dicerna dan diartikan, bahkan seorang Satria sampai berfikir keras dan terlihat catatannya sudah penuh dengan coret-coretan.
"Wij nodigen u persoonlijk uit om met ons mee te doen en op de goede weg te wandelen." Ucap Riska, "Ini kata penutupnya."
Tak terasa ini sudah di akhir halaman dari website itu, semua gambar yang ada di website itu memang benar mereka menggunakan topeng tanpa ekspresi. Kemudian foto-foto itu tak berwarna, masih hitam putih seperti foto zaman dahulu.
"Artinya apa Ris?" Tanya Satria.
"Jika kalian berkenan, kami mengundang kalian bergabung dengan kami." Jawab Riska.
"Coba itu bisa di klik gak, Ris?" Ucap Satria.
Riska pun langsung mencoba untuk mengeklik tulisan penutup itu, dan ternyata benar. Tab baru terbuka, dan muncul seperti formulir pendaftaran.
"See, mereka merekrut anggota secara terubuka. Itu artinya, mereka sudah benar-benar menentang dunia ini," ucap Satria sambil menunjuk ke arah laptop.
"Kita coba gabung aja Dav, biar selamat." Ledek Achong.
"Najis, gak mau gue. Mending gue mati kelaparan dari pada harus gabung dengan mereka!" Balasku.
Semua tertawa kecuali Satria yang sibuk dengan buku catatannya, berkali-kali dia mencoret kemudian menulis lagi. Seperti sedang mengoreksi sesuatu.
Riska menutup tab pendaftaran itu dan memberikan laptop Satria, lalu Riska yang tadinya bersandar dikasur, mulai merebahkan badannya lagi.
"Aku takut Dav," ucap Riska sambil memegang tanganku.
"Apa yang kamu takutkan?" Tanyaku.
"Aku takut mimpiku jadi kenyataan," jawab Riska yang kemudia mencium tanganku.
"Jika itu jadi kenyataan, akan aku ubah kenyataan itu," sahutku sambil tersenyum.
Riska pun tersenyum dan mulai memejamkan matanya.
......................
__ADS_1