
Hari senin di Kalimantan, aku baru saja membuka mata dan sadar bahwa ini bukan kamar ku. Satria dan Achong tidak ada di kamar, aku pun melihat jam dan sekarang sudah jam 9 pagi.
Aku segera keluar kamar dan menuju ke meja makan, dan mereka semua sudah berkumpul di sana.
"Pagi guys, parah ya gak ada yang bangunin gue!" Ucap ku..
Kemudian semua tertawa, dan menatap ku.
"Aku bukan nya gak mau bangunin kamu, tapi kamu lelap banget tidur nya, terus mereka juga bilang gak usah bangunin kamu," Jawab Riska.
"Ohh gitu... Ide siapa ini?" Tanya ku sambil menghampiri meja makan.
Semua terdiam dan saling menatap, satu sama lain.
"Parah tau gak sih Dav, masa aku di tanya-tanya kenapa mau sama kamu, terus mereka cari-cari informasi gitu ke aku," Jawab Riska sambil tertawa.
"Wahhh gak asik lo Ris, ngadu-ngadu segala!" Ujar Satria.
"Iya nih... Woo dasar tukang ngadu," Sahut Novi.
Semua pun tertawa, dan Riska beranjak untuk mengambilkan ku sarapan.
"Enak yaa, sarapan ada yang ngurusin," Ledek Satria.
Aku pun tersenyum, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Saat pertama masuk ke kamar mandi itu perasaan ku tidak enak, mungkin karena lampu nya tidak menyala, kemudian aku keluar untuk mencari saklar lampunya.
Lalu aku masuk lagi ke kamar mandi itu, entah kenapa, seperti ada sesuatu yang beda, dengan yang pertama aku masuk tadi, rasa nya seperti ada yang memperhatikan ku.
Aku pun tidak memperdulikan itu dan segera cepat-cepat untuk cuci muka dan sikat gigi, lalu setelah selesai aku keluar, sarapan ku sudah tersedia di meja makan, yang saat itu hanya ada Riska saja seorang.
"Yang lain mana?" Tanya ku.
"Mereka lagi prepare, setelah kamu selesai sarapan, kita berangkat!" Jawab Riska.
"Kamu udah sarapan?" Tanya ku.
"Udah kok tadi bareng yang lain," Jawab Riska.
"Kamu mimpi apa semalam, mimpi aku gak?" Tanya ku meledek.
"Enggak lah, kamu kan bukan mimpi ku lagi, kamu kenyataan ku sekarang," Jawab Riska tersenyum.
"Alah, bisa aja, by the way kamu gak prepare juga?" Tanya ku.
"Udah sayang... Barang-barang kamu juga udah aku siapin, pokonya kamu selesai makan, mandi terus kita langsung jalan," Jawab Riska sewot.
"Hmmm terimakasih lohh, kamu baik banget sih," Ucap ku sambil mengelus kepala Riska.
Aku pun lanjut makan dan Riska sedikit bercerita tentang kecemasan nya, untuk ikut eksplor kali ini, dia tidak percaya diri. Aku mendengarkan dan sesekali mengatakan tak perlu khawatir, dan aku pun memastikan tidak akan terjadi apa-apa.
Kemudian aku selesai makan dan menyalakan sebatang rokok.
"Harus banget ya pagi-pagi udah ngerokok?" Ucap Riska sambil membereskan piring dan membawa nya ke dapur.
Aku pun hanya tersenyum, dan Riska pun duduk kembali di hadapan ku, memasang wajah yang masam.
"Selesai ngerokok mandi ya, jangan buang-buang waktu, waktu kita terbatas di sini," Ucap Riska.
"Iya Riska... Kamu yakin semua perlengkapan sudah siap?" Tanya ku.
"Udah sayang, aku ke kamar dulu ya, lihat Novi sudah selesai atau belum," Ucap Riska.
Aku pun menganggukan kepala, dan tidak lama kemudian Achong datang menghampiri ku dan duduk di samping ku.
"Dav, nih lo pegang, ini satu lagi kasih Riska," Ucap Achong sambil memberikan ku sesuatu.
"Oke siap bos, tapi ini gimana cara pakai nya?" Jawab ku bingung.
Achong pun memberi tahu cara menggunakan HT (Handy Talky) tersebut.
"Lo jangan coba-coba pindahin frekuensi nya, kalo lu pindahin frekuensi nya, nanti kita lost contact, paham?" Tanya Achong.
__ADS_1
Aku pun menganggukan kepala dan mematikan rokok.
"Gue mandi dulu Chong, abis ini kita berangkat!" Ucap ku.
"Oke, jangan lama-lama ya," Jawab Achong.
Aku pun mulai mandi, dan saat mata ku terpejam di bawah shower, aku merasa seperti ada yang memperhatikan ku dari belakang, entah itu hanya perasaan ku saja, atau memang benar ada sesuatu di belakang ku, dan aku pun menoleh.
Benar sekali, tidak ada apa-apa, jadi itu hanya perasaan ku saja.
Aku pun lanjut mandi, dan mata ku terpejam lagi menikmati air hangat yang membasahi seluruh tubuh ku.
Tapi kali ini aku merasakan tekanan perasaan yang kuat sekali, seakan menahan ku untuk tidak membuka mata, kemudian aku merasa ada yang mendekat ke arah ku dari belakang.
Ada apa ini, kenapa mata ku tidak mau terbuka, dan tekanan perasaan itu semakin gila, membuat dengkul ku bergetar hebat.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menutup mulut dan hidung ku dengan satu tangan, membuat ku sulit bernafas dan juga sulit untuk teriak.
"Hmmmppphh... Hmmmppphhh..."
Berkali-kali aku coba teriak tapi tak bisa, bahkan aku merasa sudah sampai batasan ku, aku sudah tidak bisa menahan lagi nafas lagi. Kepala ku sudah mulai pusing, karena tidak bisa bernafas, tangan ku yang panik bergerak ke segala arah, dan tak sengaja aku pun menyentuh keran, kemudian air yang awal nya hangat berubah jadi dingin.
Tubuh ku pun kaget karena perubahan suhu air, dan mata ku sudah bisa terbuka, aku juga sudah bisa bernafas, ku matikan shower nya dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembus kan nya lewat mulut.
"Ahhh, lega sekali..." Ucap ku sambil mengambil handuk.
Aku pun segera berlari ke luar dari kamar mandi, menuji ke kamar, sambil memikirkan apa sebenar nya yang terjadi tadi.
Pikiran ku masih belum tenang, tapi kali ini aku sudah rapih dan terlihat yang lain juga sudah menunggu ku di ruang tamu, aku pun mulai mengacuh kan kejadian tadi, dan berusaha melupakan nya.
Kemudian aku pun menghampiri mereka.
"Cepetan... Lari dong, lama banget!" Ujar Satria.
Aku pun mempercepat langkah ku dan menghampiri mereka semua.
"Oke guys, sebelum kita berangkat dan beraktifitas alangkah baik nya kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing, semoga hari ini berjalan sesuai rencana dan mendapatkan informasi yang bisa membantu kami, berdoa di mulai!" Ucap Satria memimpin doa.
Kita pun berlima ke luar dan ada mobil jeep hitam terparkir di halaman, dan aku pun terkejut.
"Chong kita naik itu?" Tanya ku kagum.
Achong menganggukan kepala, dan aku pun menepuk pundak nya.
"Sultan mah bebas, Jeep Rubicon ready di Kalimantan!" Ucapku meledek Achong.
Semua tertawa, karena mereka semua tahu (kecuali Riska), bahwa itu adalah mobil impian ku dari dulu.
"Sini chong gue yang bawa, lo duduk manis aja di belakang!" Ujar ku bersemangat.
Achong memberikan kunci nya kepada ku dan kita semua masuk ke dalam mobil, lalu Achong mengeluarkan GPS dari tas nya.
"Wahh gila, kok lo ga bilang-bilang punya itu Chong," Ucap Satria.
"Sumpah, gak murah tuh Sat harganya," Sahut ku.
"Iya gue tau Dav, tu offline kan chong?" Tanya satria.
"Iya ini offline, gue udah unduh peta Kalimantan, jadi lo orang tenang aja kita gak akan tersesat," Jawab Achong sombong.
"Ini nih Sat, salah satu faktor gue temenin dia dari dulu," Ucap ku meledek.
Semua tertawa, kemudian kita pun akhirnya berangkat, kali ini kita membahas dan meledek Achong selama perjalan, semua terlihat senang dan gembira saat ini, aku juga merasa seperti sedang liburan saja.
"Guy's harus nya ada Regina di sini," Ucap Novi.
Mendadak suasana pun hening.
"Gue paham banget perasaan Regina, ini yang dia kangenin guy's," Sambung Novi.
Semua pun masih terdiam.
__ADS_1
"Kalo aja waktu itu dia bilang ke kita kalau dia ada masalah, bukan nya ngasih kode-kode kaya gitu, harus nya lo bilang Reg, harus nya lo bilang!" Ucap Novi yang mulai meneteskan air matanya.
"Iya Nov, gue paham perasaan lo, tapi kita sampai sejauh ini juga karena support dari Regina, jadi kita harus ngelakuin yang terbaik, agar Regina bisa tersenyum di sana," Jawab Satria yang mencoba menenangkan Novi.
Kemudian suasana terasa hangat karena nostalgia dari cerita-cerita kebaikan dari Regina.
"Kenangan ternyata bisa mencairkan suasana."
"Dav nanti kita lo turunin gue di kantor polisi ya, kalau menurut GPS, kantor polisi dan lokasi terakhir sebelum lo sama Suna di bius gak jauh kok," Ucap Achong.
"Nanti kalo ada apa-apa, lo ke TKP naik apa?" Tanya ku.
"Lo gimana sih, kan gue di kantor polisi, kalau ada apa-apa, gue ke sana sama polisi naik mobil polisi lah Dav," Jawab Achong sewot.
"Bener juga lo, kok gue gak kepikiran ya" Ucap ku.
"Lo kan emang gak punya pikiran Dav," Ledek Satria.
"Jangan gitu dong, Davie punya pikiran kok," Ucap Riska.
"Tau deh tau... Sekarang udah ada yang belain Davie guy's," Sahut Novi meledek.
Semua pun tertawa, kemudian kami tiba di kantor polisi dan Achong turun dan berpesan, agar selalu terhubung menggunakan HT.
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi pertama.
"Guy's gue sama Riska style nya udah kaya orang-orang yang lagi liburan gak?" Tanya ku.
Mereka pun menganggukan kepala.
"Udah cocok kok kalian, tenang aja," Ledek Novi.
Kemudian kita tiba di suatu pasar tradisional, dan ini adalah tempat terakhir ku bersama Suna sebelum di bius. Kami pun parkir mobil dan segera turun, Novi tetap berejaga di Mobil.
Aku dan Riska menjadi umpan kali ini, dan Satria mengikuti kami dari belakang, sambil menjaga jarak di belakang agar tidak ketahuan.
Awal nya tidak ada yang aneh di sini, semua nampak terlihat biasa saja dan sampai akhirnya aku melihat toko souvenir menjual kaos dengan gambar topeng tanpa ekspresi, kemudian aku menghampiri toko itu dan mulai menanyakan baju itu. Kebetulan penjual nya itu wanita muda berkerudung, dan terlihat ramah dengan senyuman nya saat kita mampir ke tokonya.
Tanpa basa-basi aku menanyakan dari mana dia dapat baju itu, kemudian wanita menjawab kalau baju itu dia dapat di dalam baju grosiran, jadi bisa di katakan memang itu pure barang dagangan. Kemudian aku melihat label nya dan tidak ada yang aneh, dan aku kembali bertanya-tanya ke wanita itu, apakah dia tahu arti dari gambar itu.
Betul sekali, wanita itu tidak tahu apa-apa, kemudian aku dan Riska pun beranjak pergi meninggal kan toko itu, belum jauh kami beranjak ada pemuda dengan pakaian serba hitam menghampiri toko itu, aku pun berhenti dan memperhatikan nya dengan menjaga jarak.
Aku berikan informasi singkat ke Satria melalui HT, bahwa aku menemukan sesuatu yang aneh.
Satria pun menuju ke sini dan aku melihat pria itu sedang negosiasi baju topeng tanpa ekspresi itu, kemudian dia mendapatkan baju itu dan segera pergi dari toko itu. Satria belum juga muncul, terpaksa aku dan Riska mengikuti pria itu, langkah nya sangat cepat di dalam keramaian, sesekali dia menoleh ke belakang dan sepertinya dia sudah tahu kalau ada yang mengikuti nya.
Aku tetap mengimbangi langkah nya sambil menuntun Riska, kemudian ada persimpangan di depan sana, dan dia menoleh ke belakang melihat ke arah ku lalu tersenyum. Orang itu kemudian belok ke kanan, dan aku berlari mengejar nya, kemudian aku ikut belok ke kanan dan sial sekali, aku kehilangan jejak nya.
Aku dan Riska mencarinya, lalu tidak lama kemudian aku melihat Satria dan dia menanyakan di mana orang itu, aku pun bilang bahwa aku kehilangan jejak nya, lalu kami berpencar lagi mencari orang itu.
Kemudian ada panggilan dari Novi.
"Guy, masuk! Gue lihat ada orang berpakaian serba hitam, ada 4 orang datang dari arah barat guy's" Ucap Novi melalui HT.
Kami segera bergegas ke arah depan pasar untuk melihat 4 orang itu, sampai nya di depan pasar kami tidak melihat nya.
"Novi, masuk... Kemana pergi nya orang itu?" Tanya Satria.
"Guy's, arah jam 12 dia mau masuk ke sebuah bangunan" Jawab Novi.
Kemudian kami mencari dan kami menemukan 4 orang itu, lalu mereka pun masuk ke sebuah bangunan yang terlihat sudah kosong dan terbengkalai. Kami pun mendekati itu dengan hati-hati dan mulai melihat ke sekeliling, kemudian ide gila Satria muncul, dan mengajak masuk meyelinap masuk ke sana.
Aku pun memerintah kan Riska untuk kembali ke mobil, sementara itu aku dan Satria akan masuk ke tempat itu, Riska menurut kali ini dam kembali ke mobil, aku dan Satria bergegas masuk ke dalam mengendap-endap.
Besar juga tempat ini sampai-sampai ada 3 lantai, tapi tempatnya gelap padahal di siang hari, kemudian juga lembab dan tidak ada angin sama sekali, jadi terasa pengap sekali di sini. Semoga saja ini adalah markas nya, jika benar ini markas nya, kami harus pergi dari sini hidup-hidup, meskipun kita pergi meninggalkan tempat ini buka berarti kita pengecut, tap ada hal yang paling penting yaitu, kita sudah mengtahui tempat persembunyian nya.
Kami pun berjalan masuk perlahan melihat ke sekitar dengan hati-hati, dan kami menemukan 2 orang masuk ke suatu ruangan.
Aku pun penasaran dan pergi melihat ke ruangan itu, lalu tiba-tiba ada yang menarik ku dari belakang, kemudian menyeret ku, dan Satria pun ikut di tarik oleh orang yang satu lagi.
Aku memukuli tangan yang menarik ku dan cengkraman nya semakin kuat, kemudian kami berdua di masukan ke suatu ruangan yang gelap, kemudian salah satu dari mereka menyalakan senter dari handphone nya dan kami berdua terkejut.
__ADS_1
•••