
"Sekarang bagaimana?" Tanyaku yang baru saja turun dari atas pohon.
Semua hening tak ada yang menjawab, mereka terpaku melihat mayat Paula.
"Sekarang gimana!" Ucapku menegaskan.
Masih hening dan belum ada jawaban yang keluar dari mulut mereka, hanya suara tangisan dari Novi dan Riska yang terdengar jelas.
Aku pun berjalan meninggalkan mereka, menuju ke gubuk usang itu dengan tangan kiri mengepal dan tangan kanan memegang belati perak.
"Dav, tunggu Dav... Jangan gegabah!" Teriak Satria.
Aku tak menjawab dan tak menoleh, emosiku sudah pada puncaknya. Rasa kesal terus menggerogoti hati ini, seolah ingin menyudahi ini semua. Perasaan sedih dan kesal bercampur aduk mengiringi langkah kaki ini, yang semakin ringan menuju gubuk usang itu.
Satria mengejarku dan menarik tanganku, terpaksa aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
"Ada apa lagi?" Tanyaku.
Satria pun memukul tepat di pipi kananku, tanpa menjawab pertanyaanku. Dia memukul dengan sekuta tenaga, sampai mulutku mengeluarkan darah.
"Lo mau apa!" Ujarku yang sudah menarik kerah baju Satria.
"Gue juga kesal, gue juga marah, gue juga sedih, gue juga ngerasa sakit saat satu persatu teman gue mati..." Jawab Satria.
"Jadi please kali ini dengerin gue Dav, gue gak mau lo cuma nganterin nyawa ke sana... Jelas-jelas ini jebakan!" Sambung Satria.
Aku pun membalas pukulan Satria yang tadi tepat di pipinya, dan tentu saja ku kerahkan semua tenagaku untuk pukulan itu. Satri pun terjatuh, dan tersenyum.
"Sekarang lo juga ngerasain sakitnya pipi gue saat lo tonjok barusan," Ucapku sambil mengulurkan tangan pada Satria, untuk membantunya berdiri.
Satria mengusap menyambut tanganku dan menariknya, kemudian dia pun berdiri.
"Pukulan lo tambah sakit aja Dav," Ucap Satria sambil menepuk-nepuk bajunya.
"Emang lo fikir, pukulan lo gak sakit?" Sahutku.
Satria tertawa dan merangkulku, kemudian dia pun berkata, "Kalau di ingat-ingat lagi, terakhir kali kita berkelahi itu 3 tahun lalu."
"Iya, gue ingat..." Sahutku.
"Gara-gara dulu lo mau ribut sama senior di kampus, tapi gue tahan, ujung-ujungnya lo sama gue yang ribut," Ucap Satria.
"Lucu ya kalau di ingat-ingat lagi," Sahutku sambil tertawa.
"Sekarang kita urus Paula dulu, sambil memikirkan rencana berikutnya," Ucap Satria.
Aku menganggukan kepala dan kembali menghampiri Paula yang sedang di tangisi oleh teman-temanku. Mereka semua tak percaya kalau Paula sudah tak bernyawa, ku lihat Novi beberapa kali mengecek nadi Paula sambil meneteskan air mata.
Riska berdiri, dan kemudian berlari ke arahku, dia menangis dan wajahnya memerah. Riska pun langsung memelukku erat, dan tangisannya semakin kencang.
"Kamu kenapa sayang," Tanyaku sambil mengusap kepalanya.
"Ayo pulang Dav, aku takut..." Jawab Riska sambil menangis.
"Pulang... Pulang kemana sayang?" Tanyaku.
"Jakarta, aku mau pulang ke Jakarta!" Ujar Riska.
__ADS_1
"Aku belum mau pulang sampai masalah ini selesai," Sahutku.
Pelukan Riska semakin erat, membuatku sulit bernafas.
"Sebentar lagi Polisi datang ke sini, dan kami akan masuk ke gubuk itu!" Ujar salah satu Polisi.
"Aku ikut masuk Pak," Sahutku.
"Yang tidak berkepentingan dilarang masuk, untuk meminimalisir jatuhnya korban," Ucap Polisi itu.
"Tapi saya mau membalas semua demi Paula!" Ujarku.
"Serahkan pada kami, dan sebaiknya kalian kembali ke mobil," Ucap Polisi itu.
"Udah Dav, nurut aja!" Tegas Satria sambil mengedipkan matanya.
Aku pun mengerti kode dari Satria, dan menuruti perintah Polisi itu untuk kembali ke mobil. Aku mengajak teman-temanku untuk kembali ke mobil, dan mereka menurutiku.
Benar saja, saat kami sedang menuju mobil, rombongan Polisi pun tiba di lokasi ini. Mereka semua bersenjata lengkap dan sepertinya memang mereka sudah siap untuk menggerebek gubuk itu.
Kami akhirnya sampai dimobil dan langsung masuk, saat di dalam Achong pun bertanya, "Sat apa rencana kita?"
"Gue sudah menjatuhkan HP, di dekat pohon tempat Paula tergantung. Jadi nanti gue, Davie dan juga lo Chong, balik ke sana untuk mencari HP gue." Ucap Satria.
"Terus saat Polisi yang menjaga area mulai membantu kita, kita terobos masuk ke dalam!" Sambung Satria.
"Kita masuk tangan kosong?" Tanyaku.
"Di bangku belakang ada koper yang berisikan air soft gun," Ucap Achong.
"Bagus! Kita mulai sekarang..." Ucap Satria.
Achong dan Satria masing-masing membawa satu, tiba-tiba Riska mengambil satu hand gun dan berkata, "Aku ikut!"
"Ris gak usah, lo tunggu disini aja siap-siap untuk menjalankan mobilnya," Ucap Satria.
"Gak mau, aku mau ikut kalian!" Sahut Riska.
"Sat, gue ada ide!" Ujarku.
"Ide apa, tumben lo punya ide," Ledek Satria.
"Biar aja Riska ikut, dan dia bisa jadi pengalihan Polisi, supaya kita bisa cepat masuk tanpa harus menunggu Polisi penjaga area ikut membantu," Ucapku.
"Boleh juga ide lo Dav," Sahut Satria, "gimana Ris, lo mau kan?"
Riska menganggukan kepalanya, dan aku mengambil hand gun yang sudah di pegang Riska.
"Kamu gak perlu bawa ini," Ucapku.
"Iya betul kata Davie, nanti panjang urusannya!" Sahut Achong.
Riska pun mengerti dan kami berempat turun dari mobil, kemudian berjalan ke TKP.
Saat sampai disana, garis polisi sudah terbentang di area itu, dan terlihat ada beberapa Polisi menghadang kami.
"Stop, kalian tidak boleh melewati garis polisi!" Tegas salah satu Polisi.
__ADS_1
"Kami temannya Paula, yang tadi kebetulan ada di TKP juga pak," Sahut Satria.
"Hp saya terjatuh di dekat mayat Paula pak," Ucap Riska.
"Kalian tunggu sini, biar saya yang cari!" Ujar Polisi itu.
Kami pun akhirnya menunggu Polisi itu mencari handphone Satria. Kami cemas disini, berharap Polisi itu tidak menemukannya.
Hampir 10 menit berlalu, Polisi itu belum kembali.
"Dorrrrrrr... Dooorrrrr..."
Terdengar suara tembakan dari arah gubuk usang itu.
"Mereka sudah mulai," Bisik Satria.
Aku menganggukan kepala tanda paham, apa yang diucap Satria.
"Pak suara apa itu, saya takut... Saya hanya mau handphone saya saja, setelah itu pergi dari sini," Ucap Riska.
Polisi itu terdiam dan akhirnya mengizinkan kami melewati garis Polisi. Terlihat dari kejauhan gubuk itu sudah di kepung oleh Polisi, dan ada 4 orang Polisi ingin masuk ke dalam. Dengan langkah penuh waspada keempat Polisi itu mulai mendekati pintu gubuk.
Kami sudah sampai di jasadnya Paula yang sedang di masukan ke kantong mayat. Riska pura-pura sibuk mencari handphone, sampai-sampai Polisi yang berjaga risih melihatnya. Polisi itu menghampiri Paula dan membantunya mencari HPnya.
Mataku melihat sekeliling dan mencari celah, tiba-tiba salah satu dari empat Polisi yang masuk ke dalam gubuk, keluar sambil memegang dadanya. Rompi anti pelurunya sudah berlumuran darah, dan dua orang Polisi menghampirinya dan memapahnya dan membawanya kesini.
Mereka akhirnya sampai di tempatku berdiri dan tim medis langsung mengobati lukanya.
"Pak mana yang tiga orang lagi?" Tanyaku.
"Mereka masih di dalam!" Jawab Polisi yang terluka itu.
"Ada apa sebenarnya di dalam Pak?" Tanya Satria.
"Mereka bukan manusia!" Ujar Polisi itu.
"Maksudnya?" Tanyaku.
"Saya menembaknya 2 kali dan dia tidak terluka sama sekali," Jawab Polisi itu.
"Kebal?" Tanya Satria.
"Kebal peluru Sat, keren banget..." Sahutku.
"Bukan waktunya kagum, bodoh!" Ujar Satria.
"Mereka bertiga tertangkap, dan saya dengar ingin di jadikan tumbal, tumbal apa saya gak ngerti," Ucap Polisi itu.
Satria mengedipkan matanya lagi, kemudian aku dan Achong mengikuti Satria.
"Saudara-saudara para Polisi yang terhormat, perkenalkan nama saya Satria, dan saya punya rencana bagus untuk mengeluarkan tikus itu!" Teriak Satria.
Para Polisi itu pun menoleh ke arah Satria, kemudian ada 2 orang Polisi menghampiri Satria dan menangkap nya. Satria berontak dan berteriak, "Kalian gak akan bisa, dan semakin banyak korban!"
Kemudian ada Polisi tak berseragam menghampiri Satria.
"Kau masih ingat aku?" Tanya Polisi itu.
__ADS_1
Satria terdiam dan dia mengerutkan dahinya, kemudian kedua Polisi yang menangkapnya pun melepaskan Satria.
......................