
Malam tiba, aku dan Satria masih berada di rumah sakit menemani Riska. Achong dan Novi, 1 jam lalu dia pulang ke home stay. Kali ini giliran aku dan Satria yang menginap untuk menjaga Riska.
Riska masih tertidur sejak tadi sore, entah efek obat atau memang kondisinya yang kurang baik.
Satria mulai menyandarkan dirinya ke kursi dan terlihat mulai memijit kepalanya senidiri.
"Kenapa Sat?" Tanyaku.
"Kusut gue," jawabnya sambil memijit kepalanya.
Aku tertawa dan menepuk bahunya, "Udah sih santai dulu, nanti otak lo pecah!"
Satria sudah mulai lelah dengan semua ini, aku paham sekali sifatnya yang tak mudah menyerah, dan akan terbawa larut jika masalah yang di hadapi tak bisa di pecahkannya.
Aku yang membawa mereka semua kesini, dan sekarang aku menyesal karena tidak ku sangka akan terjadi seperti ini. Aku seperti terperangkap di dalam gua yang penuh predator, yang siap menerkamku kapan saja.
Riska akhirnya terbangun, dia membuka matanya perlahan dan tersenyum melihatku, hatiku pun meleleh saat melihat matanya yang terpejam saat tersenyum. Tapi di satu sisi aku merasa kasihan kepadanya, karena sampai menjadi korban seperti ini.
"Novi mana Dav?" Tanya Riska.
"Dia baru saja pulang dengan Achong," jawabku sambil memegang tangannya.
"Ohhh... Kamu jangan pulang ya, temani aku disini..." Ucap Riska lirih.
Aku menganggukan kepala, dan tak lama kemudian suster masuk untuk memeriksa keadaan Riska. Aku melepaskan genggaman tangan Riska dan mengizinkan suster untuk mengecek keadaan Riska.
Suster pun mengukur tensi darah Riska, dan memeriksa kedua matanya dengan senter. Lalu suster itu mencatatnya di secarik kertas yang ada di papan jalan, kemudian suster itu mengambil botol kecil dan
suntikan.
"Mau di suntik ya sus?" Tanya Riska.
Suster menganggukkan kepalanya dan mulai menyuntik tutup botol itu, lalu dia menerawangnya dan memastikan apakah takarannya sudah pas atau belum.
"Jangan di suntik sus, aku takut, beri aku obat yang paling pahit saja!" Ujar Riska.
Aku pun mendekati Riska dan mengusap kepalanya sambil berkata, "Gak sakit kok sayang."
Riska pun menutup matanya dan suster mulai mengangkat lengan baju Riska, kemudian suster itu mengoleskan alkohol yang sudah di tuangkan ke kapas sebelumnya.
__ADS_1
Suster mulai menyuntikan obat, dan wajah Riska terlihat kesakitan dan ia menggigit bibirnya sendiri. Kemudian terdengar suara geraman Riska yang tertahan, dari mulutnya.
Riska mencengkeram tanganku yang sedang mengusap kepalanya, keras sekali cengkeramannya sampai membekas di tanganku.
Suster pun selesai menyuntik Riska, dan suara geraman Riska berhenti. Cengkeramannya juga sudah di lepas olehnya, dan Riska tersenyum kepadaku sambil bilang, "Maaf ya."
"Kenapa kamu gak tusuk aja sekalian tangan ku dengan gunting suster!" Sindirku.
"Maaf sayang... Aku takut jarum suntik dari kecil." Sahut Riska.
Suster pun berpamitan dan meninggalkan kami, belum sampai pintu keluar suster itu bertanya, "Kalian dari Jakarta yang ingin mengungkap komunitas topeng tanpa ekspresi ya?"
Satria yang tadi fokus dengan laptopnya, kini melihat ke arah suster itu. Aku pun tertegun dan bertanya balik kepadanya, "Memangnya kenapa sus?"
Suster itu memutar arahnya dan kembali menghampiri kami, lalu dia berbisik, "Hati-hati mereka berkuasa pulau
ini."
Setelah berbisik suster itu berjalan lagi dan meninggalkan kami.
"Stop, Anda pasti tahu sesuatu!" Teriak Satria.
Satria menarik tangan suster itu dan berkata, "Tolong beri kami informasi!"
Suster itu melepas paksa genggaman tangannya dan menutup pintu yang tadi sudah di bukanya.
"Suamiku mati karena mengorbankan dirinya untuk komunitas itu," ucap suster itu.
"What, mbak sudah nikah?" Tanyaku kaget.
"Hei, bukan itu yang lagi di bahas Satria!" Bentak Riska.
Aku tersenyum dan meminta maaf pada Riska, jujur saja suster itu terlihat masih muda dan masih cantik. Aku mengira dia masih single atau sedang berpacaran.
"Maksudnya dia mengorbankan diri bagaimana mbak?" Tanya Satria.
"Dia di hasut dengan temannya yang gabung di komunitas itu juga, suamiku di iming-imingi akan masuk surga dan menjamin keluarga yang di tinggal sampai tujuh turunan." Ucap suster itu.
"Terus apakah sekarang mbak merasa terjamin hidupnya?" Tanya Riska.
__ADS_1
Suster itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Apanya yang menjamin, buktinya aku masih bekerja untuk bertahan hidup."
"Aku hampir tak percaya di zaman sekarang masih ada orang yang percaya masuk surga dengan cara mengorbankan dirinya," ucap Riska sambil mengerutkan dahinya.
"Itulah bodohnya suamiku." Sahut suster itu.
"Mbak sudah lapor ke Polisi?" Tanya Satria.
"Sudah, tapi polisi tidak menanggapi dan menganggap suamiku bunuh diri..." Ucap suster itu lirih.
"Jadi sekarang informasi apa yang mbak punya?" Tanya Satria.
"Tak banyak yang aku tahu, hanya satu pesanku--" Ucapnya terpotong, dan tampak ragu untuk mengatakannya, "tak semua polisi di sini berpihak kepada kalian dan mereka adalah anggota komunitas yang menyusup ke dalam kesatuan Polisi,"
"Tepat dugaanku, itulah kenapa aksi kita selalu dapat balasan darinya!" Tegas Satria.
"Astaga, kenapa gue baru sadar ya." Sahutku.
Riska tersenyum dan meledekku. "Tampaknya aku sudah mulai terbiasa dengan kebodohanmu Dav."
"Itulah perbedaan kita Dav, pikiranmu selalu lima langkah di belakangku," sahut Satria yang ikut meledekku.
"Oh gitu, sekarian kalian udah mulai kompak ya!" Ujarku.
Tawa pun pecah dalam ruangan itu, suster itu pun ikut tersenyum dan agak sedikit menahan tawanya.Suasana menjadi cair dan kami sudah mulai dapat pencerahan dari suster itu.
"Satu lagi... Jika kalian berencana untuk pergi salah satu tempat mereka, coba jangan lakukan tanpa Polisi." Ucap suster itu yang kemudian pergi meninggalkan kami.
Betul juga apa yang di katakan suster itu, aku mulai berpikir kenapa aksi kami selalu kacau setiap polisi datang. Pikiranku mulai melayang-layang dan hampir tak percaya seseorang selain teman-temanku.
"Sat, apa pendapat lo?" Tanyaku kepada Satria yang sedang berpikir.
"Gue setuju sama yang dikatakan suster itu barusan, tapi gue sedikit ragu Dav," jawab Satria sambil mengelus dagunya.
"Lo ragu dari mananya, Sat?" Tanyaku.
"Gue ragu sama suster itu, jangan-jangan dia juga salah satu anggota dari komunitas itu." Jawab Satria.
Kami akhirnya hanyut dalam keraguan, argumen Satria barusan membuat kami ragu. Tapi jika suster itu bukan anggota dari komunitas itu, maka informasinya sangat berharga untuk kami.
__ADS_1
"Keadaan menjadi tambah rumit dan Satria masih belum punya rencana selanjutnya."