Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Warisan


__ADS_3

"Dav Riska mana?" Tanya Novi yang menghampiriku.


Sambil menghembuskan asap rokok pun aku menjawab, "Riska lagi mandi."


Novi yang kepalanya masih dililit handuk pun duduk di hadapanku, baru saja duduk Novi mengeluarkan handphonenya dan fokus pada layar. Waktu berjalan sangat cepat hingga tak terasa sudah hampir jam 9, dan Riska masih belum keluar dari kamar mandi.


"Lo gak prepare?" Tanya Novi.


"Udah kok," Jawabku singkat.


"Begitu aja?" Tanya Novi dengan tatapan sinisnya.


"Iya... Ke rumah sakit doang ngapain rapih-rapih sih," Jawabku.


Kemudian Riska pun mengampiri kami yang berada di ruang tamu.


"Yuk berangkat!" Ajak Riska.


"Hah, rambutku aja belum kering Ris!" Sahut Novi.


"Nanti dimobil kering kok Nov," Ucap Riska sambil tersenyum.


Aku pun bangun dan segera mengambil kunci mobil, lalu pergi memanaskan mobil. Sementara Novi kembali ke kamar untuk mengganti pakain dan bersolek sedikit. Riska sudah menunggu di halaman rumah, duduk dibangku depan dengan wajah cemas.


Beberapa kali, aku melihat Riska memperhatikan jam di lengan nya. Tidak lama kemudian Novi keluar dan langsung menutup pintu serta menguncinya. Riska langsung menarik Novi masuk ke dalam mobil, aku hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.


"Kamu kenapa?" Tanyaku.


"Tak apa, aku hanya khawatir dengan Paula," Jawab Riska yang sedang membenarkan duduk nya.


Aku yang mendengar jawaban Riska pun, langsung tancap gas dan menuju rumah sakit. Novi masih merias diri di kursi belakang. Sedangkan Riska melipat tangannya dan memasang wajah cemas. Perjalanan ini pun hening tanpa ada obrolan dan musik.


Setelah tiba di rumah sakit, Novi menuntun kami ke kamar Paula, dengan modal bertanya beberapa kali ke petugas rumah sakit. Saat sedang menuju kamar, aku melihat pria plontos dengan bekas luka di bawah mata kirinya memperhatikan kami sedang berjalan. Aku pun menatap nya dan dia juga menatap balik ke arahku, wajah nya seperti menahan kepedihan yang mendalam, tapi aku agak terganggu melihat bekas lukanya.


Kami akhirnya tiba di ruang VIP dan langsung masuk ke dalam, saat di dalam ku lihat hanya ada Satria yang menemani Paula yang masih belum sadar.


"Achong mana Sat?" Tanyaku.


"Gak tahu, dari gue buka mata dia udah gak ada," Jawab Satria.


Riska menghampiri Paula, dan memegang tangannya. Sedangkan Novi, merangkul Riska sambil berkata, "Sebentar lagi dia sadar."


Riska menganggukan kepalanya dan perlahan melepaskan tangan Paula, dan hal yang mengejutkan pun terjadi. Tiba-tiba Paula membuka matanya dan berkata, "Aku dimana?"


Riska langsung memeluk Paula dan sambil meneteskan air matanya.


"Riska, kamu kenapa?" Tanya Paula.


Riska menggelengkan kepalanya dan pelukannya semakin erat.

__ADS_1


"Sayang, kalau kaya gitu Paula bisa mati kehabisan nafas," Ucapku.


Riska langsung melepaskan pelukannya dan berkata, "Kenapa kamu bodoh sekali Paula, terluka parah seperti itu dan masih saja memikirkan kami!"


"Maaf sudah membuat kalian khawatir," Ucap Paula.


"Ingat Paula, lain kali fikirkan dulu keselamatan mu!" Ujarku.


"Sebenarnya aku kemarin langsung ke tempat kalian, karena ada informasi penting yang ingin ku sampaikan," Ucap Paula.


"Informasi apa?" Tanya Satria.


"Sepertinya, ada yang memata-matai kita!" Jawab Paula.


"Lo tahu dari mana?" Tanyaku.


"Saat aku pergi dari tempat kalian, di depan pagar ada 3 orang sedang berjaga, aku tak melihat jelas wajah ketiga orang itu, tapi salah satu dari mereka ada yang botak, dan memiliki bekas luka di wajah nya," Jawab Paula.


"Sialan!" Ucapku.


Aku segera berlari keluar dari kamar itu, dan menuju tempat pria plontos yang tadi memperhatikan kami. Saat aku sampai di tempat tadi, pria itu sudah tak ada, aku pun mulai mencari di sekitar tempat pria itu berada tadi.


"Sialan, orang itu udah pergi!" Ujarku dalam hati.


Aku segera menuju ke kamar Paula, dan saat aku berjalan aku melihat Achong yang sedang menelpon seseorang. Aku menghampirinya dan menepuk pundaknya sampai dia kaget, aku pun menertawainya dan Achong mengakhiri panggilan nya.


"Lo dari mana aja?" Tanyaku.


"Terus lo barusan nelpon siapa?" Tanyaku lagi.


"Karyawan di Jakarta Dav..." Jawabnya.


Kita pun berdua berjalan menuju kamar Paula, dan saat kita masuk, Achong terkejut dan senang saat melihat Paula sudah sadar.


"Lo kenapa Dav?" Tanya Satria.


"Tadi gue ketemu orang yang di katakan Paula!" Jawab ku, "terus pas gue balik lagi kesana, orang itu udah gak ada."


"Halu kali lo!" Sahut Novi.


"Serius, orang gue tatap-tatapan tadi," Ucapku.


"Hati-hati cinta sama pria botak itu Dav!" Ledek Satria.


"Gak lucu Sat!" Ujarku kesal.


"Paula, kartu asuransi lo udah gue kasih buat jaminan administrasi ya," Ucap Achong.


"Iya Chong, terima kasih," Sahut Paula sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sorry yang lain bisa keluar dulu gak, aku ada urusan penting sama Novi," Ucap Paula.


"Masih aja main rahasia-rahasian..." Ledek Satria.


Kami akhirnya meninggalkan mereka berdua, dan membiarkan mereka menyelesaikan urusannya. Tidak lama kemudian, Novi keluar dan memanggilku. Aku menurutinya dan masuk kedalam, dengan rasa penasaran aku pun bertanya, "Ada apa, Paula?"


"Lawan kita berikutnya sepertinya bukan manusia Dav, jujur aku merasakan aura jahat yang menyelimuti orang itu!" Jawab Paula.


"Maksudnya bukan manusia apa, setan?" Tanyaku.


"Susah dijelaskan karena sudah diluar nalar manusia!" Jawab Paula.


"Seperti orang sakti gitu Dav," Sahut Novi membantu menjelaskan.


"Iya, sampai peluru pun tak mempan Dav!" Ujar Paula.


"Astaga, terus gimana?" Tanyaku.


"Aku ada satu benda pusaka peninggalan Ayahku," Jawab Novi.


"Pusaka apa?" Tanya Novi.


"Belati... Belati yang terbuat dari perak murni, dulu Ayahku pernah membunuh kuyang satu kali dengan belati itu!" Jawab Paula.


"Aku jadi penasaran," Sahut Novi, sambil tersenyum.


"Terus pusaka itu dimana?" Tanyaku.


"Ada dirumahku," Jawab Paula.


"Oke, itu bisa jadi senjata rahasia kita," Ucapku.


Hal yang ingin di sampaikan Paula pun selesai, Novi memanggil mereka yang ada di luar untuk masuk kembali. Semua penasaran dengan apa yang barusan di sampaikan Paula. Terutama Satria yang memaksa Paula memberi tahunya, tapi Paula tak membeberkan infonya sambil tersenyum.


Sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba rombongan Polisi datang membawa bingkisan untuk Paula. Kami pun berdiri dan keluar menggilkan kamar Paula.


Aku masih saja memikirkan apa yang di katakan Paula, bahwa ada yang sedang memata-matai kami. Mungkin saja itu hanya fikiran jegatif ku.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Riska.


"Aku hanya sedang memikirkan perkataan Paula, yang bilang kita sedang di mata-matai oleh musuh kita," Jawabku.


"Aku ada rencana bagus!" Sahut Satria.


"Rencana apa Sat?" Tanyaku.


"Rencana untuk memancing mata-mata itu kekuar!" Jawab Satria tegas.


Aku percaya dengan setiap rencana Satria, semoga saja rencana kali ini bisa meringkus mata-mata itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2