
"Sat cepat katakan rencananya!" Ujarku yang tak sabar.
Satria hanya tersenyum tanpa membalas perkataanku.
"Gak nunggu sampai Paula pulih?" Tanya Novi.
"Kita keburu pulang ke Jakarta, kalau menunggu Paula sembuh," Jawabku.
"Jangan fikirkan aku, aku akan segera pulih kok," Sahut Paula sambil tersenyum.
"Justru itu dia rencananya, kita buat Paula menjadi umpan..." Ucap Satria.
"Lo gila? Orang lagi sakit di suruh jadi umpan," Balasku dengan nada tinggi.
Satria tertawa sambil melirik ke arah Paula dan menganggukan kepalanya, Paula pun paham dan tersenyum.
"Wait... Kode apa itu barusan?" Tanyaku.
"Orang sepertimu gak akan mengerti Dav," Ledek Paula.
"Lo tinggal tungg aja aba-aba dari gue!" Tegas Satria.
"Sekarang mendingan kamu kerumahku Dav, untuk mengambil benda yang tadi ku bilang," Ucap Paula.
"Memangnya kau taruh mana?" Tanyaku.
"Di sebelah lemari pakaian ku ada Lemari kecil, bendanya aku simpan di situ," Jawab Paula sambil memberikan kunci rumahnya.
"Aku ikut Dav," Sahut Riska.
Aku pun menarik tangan Riska dan segera pergi ke rumah Paula.
"Kamu memang tahu rumahnya?" Tanya Riska.
"Astaga, aku lupa..." Jawabku sambil tersenyum.
Kami berdua akhirnya balik lagi ke kamar Paula, saat aku membuka pintu, semua tertawa. Aku pun ikut tertawa, dan menghampiri Paula.
"Kamu itu benar-benar bodoh ya Dav!" Ledek Paula.
"Kami semua udah gak heran sama sifatnya," Sahut Novi.
"Sssssstttt berisik!" Geramku, "Paula tulis alamatmu di GPS ku."
Paula langsung mengambil handphoneku dan mengetik alamatnya, setelah selesai dia pun memberikan handphoneku sambil berkata, "Jangan sampai tersesat Dav."
Aku langsung merampas handphoneku dan langsung pergi meninggalkan tempat itu, Riska pun mempercepat langkahnya untuk mengimbangiku.
"Sayang kamu itu lucu ya," Ucap Riska yang sudah ada di sampingku.
"Lucu apanya?" Tanyaku.
__ADS_1
"Sifatmu... Terlalu ceroboh tapu kamu menyadari itu, dan menertawakan hal itu," Jawab Riska.
"Yaa kalau gak tertawa, aku harus apa? Pura-pura tak bersalah dan mengelak?" Ucapku.
Riska hanya tersenyum sambil menatapku, aku tahu dalam hatinya pasti sedang mengatakan kalau aku ini bodoh, tapi aku tak perduli. Aku bisa membuatnya lebih cita kepadaku karena kebodohanku.
Kami sudah tiba di parkiran, saat menuju mobil tiba-tiba saja aku merinding tanpa sebab, aku merasa bulu kuduk ini berdiri dengan sendirinya. Anehnya lagi di parkiran yang letaknya di basement itu, tiba-tiba ada angin melewatiku. Firasatku mengatakan ada yang tak beres disini.
Aku mempercepat langkah, dan menuju mobil. Saat sudah dekat, aku melihat mobil putih di sebelahku menyala tanpa ada bayangan orang di dalamnya. Aku penasaran dan menempelkan wajahku ke kaca untuk memastikan apakah di dalam ada orang atau tidak.
"Anjirrrrrr...." Teriakku kaget.
"Ada apa Dav?" Tanya Riska.
"Lihat sendiri!" Jawabku.
Riska melihat ke dalam dan terkejut sambil menutup mulutnya.
Di bangku belakang ada jasad seorang pria tanpa kepala, dan masih banyak darah disana. Kemungkinan kejadian nya baru saja terjadi, terlihat dari darah yang masih segar. Aku pun berlari mencari security yang biasa berjaga di parkiran, aku akhirnya menemukan security yang kebetulan tidak jauh dari lokasi.
"Pak, ada mayat pak!" Ujarku dari kejauhan.
Security itu pun terkejut mendengarnya dan lari menghampiriku, kemudian dia bertanya, "Dimana?"
Aku mengantarknya ke lokasi, dan menyuruh security itu melihat sendiri ke dalam mobil. Dia pun terkujut, dan mundur beberapa langkah. Kemudian dia menginformasikan menggunakan HTnya, bahwa dia menemukan mayat. Lalu dengan gugup dia pun bertanya, "Ini kapan kejadian nya?"
"Mana saya tahu, saya ingin masuk ke mobil saya, terus saya lihat mobil ini menyala dan saya lihat ada orangnya atau tidak, ehh ternyata yang ada malah mayat," Ucapku menjelaskan.
Security itu pun terdiam, dan sambil menggaruk kepalanya.
"Ohh iya mas, terima kasih..." Jawabnya yang masih terlihat bingung.
Kami pun masuk ke mobil dan langsung meninggalkan tempat itu, aku pun tertawa saat di dalam mobil.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Riska.
"Security macam apa itu!" Tegasku, "masa orang yang menemukan mayat itu di biarkan pergi begitu saja, tanpa di tanyakan alibinya."
"Mungkin dia panik yang..." Sahut Riska.
"Kalau seandainya aku pelakunya kan, aku jadi bisa lolos... Orang seperti itu di jadikan keamana, gimana mau aman kalau SDM nya seperti itu!" Ujarku sambil tertawa.
"Sayang gak boleh gitu..." Ucap Riska.
"Loh, aku benar dong!" Tegasku.
"Iya... Iya, kamu benar," Ucap Riska yang mencoba menenangkanku.
Ternyata Riska sifatnya seperti itu, tak ingin banyak berdebat dan lebih banyak mengalah. Tapi aku yakin pasti dia punya perspektif sendiri, hanya saja di malas berargumen dan berujung debat. Aku sedikit menyukai sifatnya itu, tapi nanti akan ku coba untuk meminta pendapatnya, untuk memastikan apakah dia bisa berfikir dewasa atau tidak.
Padahal aku pernah ke rumah Paula, tapi kenapa aku sama sekali tak ingat jalannya. Sangat asing bagiku, jalan yang sedang ku lewati ini, aku menoleh ke arah Riska, dia pun sedang menikmati perjalanan dan menatap keluar.
__ADS_1
"Kamu tahu gak, apa yang membuatku suka sama kamu?" Tanyaku.
"Karena aku cantik kan?" Jawab Riska sambil tersenyum.
"Ihhhh ge-er banget..." Ledek ku sambil tertawa.
"Terus apa dong?" Tanya Riska.
"Karena sifatmu mirip dengan almarhum Mama, jadi setiap kali kamu bawel dan menyuruh ku mematikan rokok, aku selalu teringat Mama," Jawabku sambil tersenyum.
"Kira-kira aku pantas gak, menjadi Mamanya anak-anak mu?" Tanya Riska.
"Hmmm... Sebenarnya aku malas mengatakan, tapi kamu pantas untuk menjadi Mamanya anak-anakku." Jawabku.
Riska tertawa dan menggelitik pinggangku, dan aku pun merasa geli dan tertawa di buatnya.
"Semoga anakku nanti tak sebodoh Papanya," Ucap Riska sambil terus menggelitikku.
Sial, aku jadi membayangkan keluarga kecilku bahagia dengannya. Setelah ini semua selesai, aku harus beranikan diri untuk bertemu orang tuanya dan meminta izin untuk meminang anaknya, meskipun status sosialku berbeda dengannya, tapi aku tak punya alasan untuk tak percaya diri.
Kami akhirnya tiba di rumah Paula, aku memarkir mobil di depan dan langsung masuk. Riska pun melihat ke sekeliling dan mulai bertanya, "Dia tinggal sendiri?"
Aku menganggukan kepala, dan terus berjalan masuk kedalam.
"Terus berarti waktu itu, kamu disini hanya berdua saja?" Tanya Riska.
Aku menganggukan kepala lagi sambil membuka kunci pintu rumah Paula.
"Kamu gak macam-macam kan sama dia?" Tanya Riska yang sudah mulai curiga.
"Aku berani sumpah, kalau aku tidur di kamar tamu," Jawabku.
"Hmmm... Kali ini aku percaya, tapi kalau sampai kau berbohong, aku tak akan memafkanmu Dav!" Ujar Riska.
Maafkan aku Ris, aku terpaksa berbohong kepada mu.
Kita pun akhirnya naik ke lantai dua dan menuju ke kamar Paula, aku melihat lemari pakaiannya dan di sebelahnya ada lemari kecil yang sejajar dengan lemari pakaian.
Aku langsung membukanya dan tak ada belati di dalamnya, tapi ada kain putih yang terlihat seperti membungkus sesuatu. Aku penasaran dan mengambilnya, lalu membukanya perlahan, dan ternyata itu adalah belati nya.
Terlalu bagus untuk di jadikan benda pusaka, ini lebih bagus jika di jadikan pajangan. Belstinya sangat mulus dan berkilau, kemudian ada tulisan jawa kuno di belati itu.
"Mamaku berani bayar mahal untuk benda ini," Ucap Riska.
"Ini benda pusaka, bukan pajangan," Sahutku.
Aku pun membukusnya lagi, dan berjalan meninggalkan kamar Paula.
"Kamu dengar kangkah kaki Dav?" Tanya Riska.
"Ssssttt..." Jawabku.
__ADS_1
Suara langkah kaki itu semakin dekat, aku membuka bungkusan berisi belati itu dan memasang kuda-kuda. Aku sudah sangat siap, dan suara langkah kaki itu semankin jelas terdengar.
......................