
Sore berganti malam, langit jingga yang hangat berganti dengan langit gelap yang dingin. Secangkir kopi hitam pahit cocok untuk situasi ini, lebih dari sekedar cukup untuk melupakan apa yang terjadi siang tadi.
Terlihat Achong, Satria, Novi, dan Riska sedang sibuk untuk persiapan kita berangkat besok malam.
Aku tidak terlalu sibuk seperti mereka, aku hanya mempersiapkan mental ku saja untuk datang kesana, kali ini aku harus benar-benar siap dari waktu itu.
Mungkin saja aku mati di sana, atau teman-teman ku yang mati di sana, tapi semoga tuhan melindungi kami, dan semoga itu semua berjalan lancar.
Tapi yang jelas dari sekian banyak rencana tuhan, tetap ada pilihan untuk ku, benar atau tidak nya pilihan ku itu sudah di takdirkan oleh Nya.
"Guy's ada yang mau ikut keluar gak nyari udara segar?" Tanya Riska ke semua yang sedang sibuk.
Tapi ajakan nya itu boleh juga, malam ini memang harus di rayakan, atau mungkin juga bisa jadi perpisahan, karena kita tidak tahu apa yang terjadi di sana, apakah kita akan tetap lengkap seperti ini.
"Boleh tuh, ngopi yuk. Ada yang mau gue ceritain juga sekalian, gimana?"
Jawab ku sambil diri perlahan dan mematikan rokok
"Tempat biasa, bosen gak?" Tanya Satria.
"Gimana chong?" Tanya ku.
"Gue ikut aja Dav, tapi gak ada traktir-traktiran ya kali ini, khusus nya lu Dav!" Jawab Achong sambil menggerutu.
"Yaudah ayo, Davie nanti biar gue yang bayarin Chong tenang aja," Sahut Riska.
"Kenapa gak semua nya aja lo yang traktir?" Jawab Achong sambil tersenyum.
"Boleh, tapi bisa pake Euro gak bayarnya?" Jawab Riska dengan nada sombong.
"Becanda kok, gue bawa Rupiah kok tenang aja!" Ucap nya lagi.
"Yuk ahh BT nih, di sini udah mulai gak enak suasana nya," Sahut Novi yang perlahan berjalan ke arah pintu.
"Pasti ngelihat yang aneh-aneh tu orang," Cetus Satria sambil menunjuk Novi yang sudah melewatinya.
"Iya, penghuni asli sini ngelihatin gue terus Chong, tatapan nya gak enak, gue tegur gak di jawab malah dahi nya mengkerut sampai berdarah," Jawab Novi yang sedang membuka pintu.
"Cewek atau cowok Nov, bentuk nya manusia atau apa?" Tanya Achong penasaran.
"Cowok, wajahnya normal tapi pucat, kurus, tinggi, dan tangan nya panjang sampai di bawah lutut nya!" Jawab Novi.
"Slinderman?" Sahut Riska.
"Setan bule ga ada disini Ris." Ucap Satria tertawa,
"Yaa siapa tahu aja ada," Balas Riska.
"Terserah lah Ris, yuk jalan nanti peliharaan nya Achong ngamuk-ngamuk!" Sahut ku sambil berjalan cepat menyusul Novi.
"Enak aja, Gue gak pake penglaris ya asal lu tau, gue juga gak percaya sama yang begitu-gituan!" Jawab Achong dengan nada tinggi.
Akhir nya kita meninggalkan restoran Achong dan bergegas ke Coffee Shop yang biasa kita datangi untuk berdiskusi.
***
Setiba nya di sana, seperti biasa tidak begitu ramai pengunjung nya, setelah ku buka pintu nya, aroma kopi yang sedang di roast nikmat sekali, seperti surga, harum nya pekat menusuk dan membawa fikiran negatif keluar dengan sendirinya.
Kita pilih tempat yang di pojok dan mengatur posisi duduk kami, meja nya hanya untuk ber empat. Achong di pojok dekat tembok, sebelah nya di isi dengan Novi. Kemudian aku duduk di depan Novi lalu Riska di sebelah ku, dan Satria mengambil kursi tambahan.
Lalu Riska melihat list menu nya dan bertanya kita semua mau pesan apa, aku pun mencatat nya di handphone, setelah mereka sudah memesan, aku dan Riska ke tempat pemesanan.
Kita berdua langsung akrab, padahal baru bertemu tadi pagi, sebelum nya pernah bertemu tapi tidak sedekat ini, karena waktu itu aku hanya menemani Suna untuk bertemu Riska.
Beda dengan saat ini, kami berdua jauh lebih dekat dan lebih banyak interkasi kali ini.
Kami pun kembali ke meja, sesampai nya di sana Satria langsung membuka percakapan untuk buat grup whatsapp, dan kita semua setuju untuk membuat grup whatsapp.
__ADS_1
Nama grup nya aneh sekali sekali menurut ku "DRANS"
"Wahh Sat, ini apa DRANS, DRANS TV?" Tanyaku sambil tertawa.
"Itu singkatan nama kita berlima bodoh!" Jawab satria.
"Oke, D itu Davi, R itu gua Richard, N Novi, S Satria, Ini A nya siapa Sat, kan dia nama nya Riska, masa di ambil dari huruf belakang nya!" Tanya Achong bingung.
"Bodoh nya maksimal banget dia Sat," Ucap ku sambil menyenggol Satria.
"Lo itu yang huru A nya, kan lo Achong awalan huruf nya A!" Jawab Satria yang sedang tertawa.
"Nama gua bagus loh, lebih bagus dari pada nama kalia semua... Richard, Kurang bagus apa coba?" Ucap Achong kesal.
"Nahhh justru karena nama lo lebih bagus dari kita, makanya gue panggil lo Achong dari dulu, biar kita setara, sejalan, dan sepemahaman Chong!" Jawab ku sambil meledek.
Semua tertawa dan suasana sudah mulai hangat, sehangat kopi yang ku pesan dan senyum manis Riska yang semakin mengganggu kepala ku dan membuat "Candu" baru untuk ku.
Pesanan kami pun tiba, dan ya betul sekali long black pilihan ku tanpa gula karena entah kenapa, lidah ku sudah mulai menolak rasa manis, mungkin karena aku terlalu banyak mengumbar kata-kata manis hingga kini menjadi hambar.
"Lo pesen itu aja Dav, gak mau tambah pesanan lagi kentang atau apa gitu?" Tanya Riska.
Aku hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab.
"Sebentar lagi ada yang jadian nih guys, gue abis menerawang jauh ke masa depan, tapi habis itu mereka LDR an," Cetus Novi meledek aku dan Riska.
"Sok visioner lo Nov!" Jawab ku sewot.
"Ihh apan si Nov, gak lah kita cuma teman aja kok," Jawab Riska.
"Uhhh Friendzone... Pahit seperti kopi yang lo pesan ya Dav?" Ledek Novi.
Aku hanya terdiam dan tidak ingin membalas nya, hanya dengan senyuman saja aku membalas nya. Riska pun mulai terlihat salah tingkah, dan nampak jelas sekali dari gerak-gerik nya, yang hanya menscroll ke atas dan kebawah beranda Instagram nya.
"Ohh iya guys kita belum berteman nih di IG, gue baru berteman sama Davie aja nih di IG" Ucap Riska yang membuka pembahasan.
"Ehemm... Ehemm... Mau minta pertemanan apa mau pamer kalau lu udah follow-follow an?" Ledek Achong yang di akhiri dengan tawa.
Kita pun melanjutkan bahasan untuk persiapan besok, dan saling mengingatkan apa saja yang harus di siapkan, dan aku sambil bercerita tentang teror ku di SMS dan di telfon berkali-kali dengan nomer yang tidak di kenal.
Dan aku menunjukan bukti SMS nya, dan menanyakan apakah ini real teror atau hanya modus saja, dan mereka semua mengatakan jika itu real hanya Riska saja yang mengatakan bahwa itu modus kejahatan, jadi aku di suruh mengabaikan nya saja.
Lalu aku juga bercerita tengan mimpi buruk ku tadi pagi, mimpi Regina yang membunuh Suna sampai kepalanya terputus.
Novi bilang itu pertanda, dan aku harus berhati-hati, bisa saja itu memang membuktikan bahwa Regina itu anggota dari SEKTE tersebut, tapi lagi-lagi Satria membantah kalau Regina itu belum terbukti sebagai anggota dari SEKTE itu.
"Guy's Regina update Instastory guy's, hitam lagi gambar nya, ini baru 1 menit yang lalu," Cetus Novi.
Aku, Achong, dan Satria mulai melihat nya juga. Dan aku membesar kan volume ku, dan terdengar suara desak tangis. Tapi sekali, aku sampai putar berkali-kali, kemudian aku sampaikan ke mereka ada suara tangisan tapi pelan, dan menyuruh mereka untuk medengarkan nya juga, dan untuk memastikan apa itu tangisan atau bukan.
Achong, Novi, dan Satria setuju bahwa itu adalah suara tangisan, dan Novi menambahkan kalau itu adalah suara tangisan Regina, dia hafal sekali, karena Novi adalah teman curhat nya Regina.
Ini aneh, sungguh aneh kita semua tidak tahu apa maksudnya, Regina kenapa, dan dimana dia, dan juga ada apa dengan nya?
Tiga menit kemudian Regina kembali update, kali ini masih hitam gambar nya tapi ada sedikit cahaya, lalu kali ini terdengar jelas suara tangisan nya, dan tidak lama ada suara orang mengetuk pintu, dan terdengar mengetuk pintu nya menggunaka benda, bukan dengan tangan.
"Guy's see?" Tanya Novi.
"WAHHH GAWAT... INI GAWAT, DIA BUTUH PERTOLONGAN!" Jawab Satria.
"Ini gue lagi DM dia, nanya dia dimana dan ada apa," Jawab Novi sambil mengetik.
Kami pun semua mengirimkan DM ke Ragina, tapi tak ada satu pun DM kami yang di balas oleh Regina, kemudian kita terus blast DM ke Regina, berharap ada jawaban.
"Guy's Regina typing!" Seru Novi.
"Kalau dia kenapa-kenapa langsung tanya lokasi nya dimana kita langsung kesana ya," Sambung Novi yang sedang menunggu balasan dari Regina.
__ADS_1
Kami pun menunggu balasan dari Regina.
"Ahhhh sial, dia gak jadi typing!" Ucap Novi dengan nada kesal.
Kami pun tetap menunggu balasan Regina, dan kita membahas apa yang terjadi kepadanya, asumsi kita beragam, dari serius hingga bercanda, dan kita berlima akhir nya semakin dekat, begitu pekat persahabatan yang baru di bentuk setengah jam lalu.
"Guy's Regina update lagi guy's, masih hitttt--" Novi menajatuh kan Handphone nya dan meneteskan air mata.
"Nov kamu gak apa-apa?" Tanya Riska sambil memegang tangan Novi.
Kami bertiga melihat vidio tersebut dan, air mata kami juga mulai menetes, terlihat Achong merekam instastory itu, mungkin untuk laporan ke kantor polisi nanti.
"Kalian kenapa, coba gue lihat vidio nya!" Ucap Riska sambil mengambil handphone Novi.
"WHAT THE FF--" Ucap Riska terkejut melihat vidio itu.
"AWAL NYA VIDIO HITAM DAN GELAP, KEMUDIAN LAMPU FLASH MENYALA, LALU SUDAH BANYAK DARAH DI SANA. KEMUDIAN KAMERA BERGERAK DAN MENYOROT KE ARAH KEPALA REGINA YANG SUDAH TERPISAH DARI TUBUH NYA, TERLIHAT ADA MEMAR DI MATA NYA DAN MATA NYA TETAP TERBUKA LEBAR, LALU ADA DARAH DARI MULUT NYA, SEBELUM VIDIO NYA BERAKHIR TERDENGAR SUARA TAWA DARI SESEORANG."
Suasana hening dan duka menyelimuti kami malam ini.
Kami pun terdiam, kami hanya meneteskan air mata dan memanjaktan doa untuk Regina agar di terima di sisinya, adik nya Regina pasti terpukul sekali jika mendengar kabar ini, aku bisa merasakan perasaan adiknya.
Regina adalah perantau dari Manado, dia di Jakarta tinggal bersama adik nya yang sedang menuntut ilmu di Jakarta, Regina bekerja di sebuah BAR daerah Pluit Jakarta Utara, padahal dia punya izasah S1 dan nilai nya juga tidak terlalu jelek, seharusnya dia bisa dapat kerjaan di perkantoran, tapi menurut nya lebih enak di BAR karena uang tips nya yang besar.
SEMOGA INI TIDAK ADA KAITAN NYA DENGAN SEKTE ITU, SEMOGA SAJA INI HANYA PEMBUNUHAN DENGAN DASAR PERAMPOKAN.
"GUY'S, REGINA BALES DM GUE!" Ucap ku terkejut.
"Serius, lo ga bohong Dav?" Tanya Satria.
"Bener Sat, ngapain gue bohong!" Jawab ku yang ragu melihat isi DM nya.
"Apa isi nya Dav, cepat buka!" Ucap Novi penasaran.
Aku pun melihat isi DM nya, dan terkejut, karena isi DM itu adalah foto mayat Regina, kemudian aku melihat akun regina sedang typing, dan tidak lama kemudian dia mengirimkan alamat lengkap.
"Guy's dia ngirim foto mayat Regina guys ada 5 dan--"
"Dan apa Dav?" Tanya Novi yang semakin penasaran.
"Dan dia mengirim alamat guy's," Jawab ku dengan nada gemetar.
Semua terkejut, dan bertanya-tanya apa maksud nya ini, apa ini sebuah perangkap dari modus kejahatan?
"Alamat nya di mana Dav?" Tanya Satria penasaran.
Aku pun memberikan handphone ku, dengan tujuan agar mereka bisa melihat sendiri, karena aku sudah tidak bisa berfikir lagi.
"WHAT, INI APARTEMEN GUE DAV, DAN INI MASIH SATU TOWER SAMA GUE!" Ucap Novi terkejut.
"Berarti dia dari tadi pagi, masih di sana!" Ujar Satria.
"Terus vidio gelap tanpa suara tadi pagi itu menandakan dia lagi sembunyi dari kejaran orang itu," Jawab ku.
"Hmmm bisa jadi tuh" Sahut Achong.
"Kenapa dia bodoh banget, kenapa ngasih kode cuma begitu doang, kenapa dia gak bilang atau tulis S.O.S gitu," Ucap ku kesal.
"Udah Dav, udah sabar!" Riska mulai menenangkan ku.
"Sekarang gimana, kita kesana atau gimana?" Tanya satria.
"Ayo kesana, siapa tahu pelaku nya masih ada di sana, lokasi nya juga gak begitu jauh kan dari sini!" Jawab ku singkat.
"Oke, Achong lo ke kantor polisi ya chong buat laporan, Kita berempat langsung ke TKP!" Ucap Satria.
"Oke oke, nanti kalau kalau gua mau berangkat ke TKP gue kabarin yaa, bukti-bukti udah lengkap kok di gue, lo semua tenang aja!" Jawab Achonk.
__ADS_1
Aku pun berempat pergi ke TKP dan Achong pergi ke kantor polisi, aku sangat berharap masih bisa bertemu dengan pelaku nya, dan menghajar pelaku nya.
•••