
Aku masih berdiri kesal melihat tingkah laku para bedebah itu, andai saja aku memegang senjata, pasti aku akan menolong Riska. Aku pun baru ingat, kalau tadi Achong berhasil mendapatkan parang saat dia tarik menarik pintu.
"Chong, bukannya tadi lo megang parang?" tanyaku.
"Gue tinggal di kamar mayat, Dav!" tegas Achong.
"Astaga bodohnya temanku yang satu ini," ucapku dalam hati.
Gerombolan itu tetap melangkah ke arahku, kemudian salah satu orang yang memimpin barisan itu membuka topengnya, dan kemudian dia juga melepas tudungnya.
"Hai anak Jakarta." Dia menyapa kami, sambil tersenyum.
Aku pun terkejut saat melihat orang yang menyapaku itu adalah seorang wanita, hal yangp membuatku terkejut adalah wajah wanita itu sangat mirip dengan Paula.
Aku pun bertanya untuk memastikan, "Lo Paula?"
Ia tertawa sambil memegang perutnya sendiri, kemudian orang-orang yang di belakangnya juga ikut tertawa.
Orang itu tiba-tiba berhenti tertawa dan berkata, "Aku kembarannya!"
"Apa ... Paula tak pernah cerita sebelumnya, kalau ia punya kembaran," ucap Achong.
"Perkenalkan namaku Andini, aku lebih dulu lahir 2 menit sebelum Paula." Dia pun memperkenalkan dirinya sendiri.
"Kau benar-benar gila, rela membunuh saudara kembarmu sendiri tanpa ada rasa penyesalan!" Aku membentaknya sambil menunjuk ke wajahnya.
"Karena dia kafir!" tegas Andini kepadaku.
"Apa maksudmu kafir?" tanyaku bingung.
"Dia itu adalah anggota kami, sama sepertiku ... tapi setelah bertemu dengan kalian, dia membunuh saudara-saudaranya yang se-iman dengannya di bangunan tua dekat pasar," ucap Andini.
Aku pun tertawa mendengar ucapannya dan berkata, "Kalian yang bodoh, dia itu hanya menyamar untuk meringkus kalian semua."
"Tutup mulutmu ... kau tidak tahu apa-apa tentangnya!"
"Siapa bilang?" ucapku dengan nada meledek.
"Dia itu adalah manusia terpilih yang tubuhnya akan di isi dengan jiwa dewa mitchlant," ujar Andini.
"Sudah jelas alasannya, ia tak mau di jadikan wadah ... makanya ia berkhianat pada kalian," sahutku.
"Tapi kami tak membutuhkannya lagi, kami sudah mendapatkan wadah yang cocok!" tegas Andini.
"Selamat jika sudah dapat gantinya, sekarang tolong lepaskan Riska!" ujarku.
__ADS_1
"Kau yakin tidak ingin tahu siapa wadahnya?" tanya Andini sambil tersenyum.
"Aku tak ingin tahu, dan aku tak perduli." Aku membantah ucapannya, sambil memasang senyum yang meledek.
"Novi ... Novi yang akan jadi wadahnya," ucapnya sambil tertawa.
"Kurang ajar!" Aku teriak lalu memukulnh tepat di hidung.
Andini berhenti tertawa dan tersenyum, ia mengelap darah yang keluar dari hidungnya lalu menjilatnya.
"Ternyata pukulan anak Jakarta sakit juga ya!" bentaknya dan memukul balik ke arahku.
Aku berhasil menghindari pukulan Andini, dan langsung melancarkan pukulan kuat tepat di perutnya sampai ia mundur beberapa langkah. Andini pun terlihat kesakitan.
Lalu salah satu orang itu mendorong Riska sampai terjatuh, aku pun berteriak, "Jangan sakiti dia!"
"Ikut denganku, jika kau ingin kekasihmu yang cantik ini selamat," ucap Andini.
"Untuk apa aku ikut denganmu?" tanyaku.
"Untuk menjadi saksi kebangkitan dewa mitchlant." Andini menjawab pertanyaanku.
"Jangan dengarkan dia, Dav!" teriak Riska.
Benar yang di katakan Andini, aku tak punya pilihan lain selain ikut dengannya. Kemudian aku pun menyerah dan ikut dengannya, tapi kenapa aku saja yang di bawa olehnya, kenapa Achong tidak di bawa juga.
Seribu tanya masih ada di kepalaku, tapi aku yakin Satria pasti punya rencana untuk menyelamatkanku. Kemudian salah satu anggota mereka, meraih tanganku dan mengikat tanganku di belekang. Setelah mengikat tanganku, ia pun mendorongku untuk jalan mengikuti Andini yang berjalan menuju mobil pick up.
Suara sirene mobil polisi terdengar, tapi terlambat aku sudah menyerahkan diri dan mereka juga sudah ingin melarikan diri.
Aku pun di bantu naik ke atas mobil pick up itu dan di pisahkan dengan Riska. Riska duduk di kursi depan bersama Andini, sedangkan aku di belakang bersama gerombolan orang-orang berjubah hitam.
Jumlah mereka hanya ada 8 orang yang menjagaku, kemudian Andini bersama orang yang mengemudikan mobil ini total menjadi 10 orang.
Otakku sedang berpikir bagaimana caranya untuk melarikan diri bersama Riska, aku harus bisa kabur sebelum sampai tempat tujuan mereka.
"Tapi bagaimana caranya?" tanyaku dalam hati.
Tampaknya kali ini aku harus percaya pada teman-temanku, percaya kalau dia akan menyelamatiku. Mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan, dan aku harus menunggu saat itu tiba.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di salah satu rumah. Letaknya tak jauh dari rumah sakit tadi, mungkin ini tempat yang di kunjungi Satria tadi. Jika benar, seharusnya mereka masih ada di sini.
Aku di dorong dan di suruh turun dari mobil, begitu juga Riska. Aku masih di pisahkan dengan Riska, aku terus memandang wajahnya yang terlihat ketakutan.
Saat berada di dalam rumah, aku melihat Rony tergantung dengan posisi tangan terikat di atas. Pakaiannya sudah terlepas, dan hanya menyisakan celana dalamnya saja. Rony masih hidup dengan tubuh penuh luka, seperti luka cambuk. Wajahnya juga di penuhi lebam, dan juga banyak darah yang sudah mengering di sektar mulutnya.
__ADS_1
"Rony!" Aku teriak memanggilnya.
Rony kemudian mengangkat kepalanya dan membuka kedua matanya dengan perlahan, ia menggelengkan kepala saat melihatku.
"Kau kenal juga dengannya?" ucap Andini.
"Memangnya kenapa, kalau aku kenal dengan dia!" ucapku tegas.
"Ternyata bukan hanya mengenal kembaranku, kau juga kenal dengan sepupuku," ucap Andini sambil tersenyum.
"Ap--apa ... dia sepupumu?" tanyaku heran.
"Iya, dan ia juga kafir seperti Paula."
Orang ini benar-benar gila, dia bahkan tak mengenal ampun untuk saudaranya sendiri. Wanita ini sepertinya lebih berbahaya, daripada Paula.
"Kenapa kau ke sini, Dav?" tanya Rony.
"Temanku Novi tertangkap, dan kekasihku juga tertangkap ... aku tak punya pilihan lain selain menuruti kemauannya," jawabku.
"Itu sama saja bunuh diri ..." ucap Rony lirih.
"Aku tahu itu, tapi sudah tidak ada cara lain, Ron!"
Rony tertawa dan kemudian di susul oleh batuk, cipratan darah keluar dari mulut Rony setelah batuknya berhenti. Lalu Rony pun berkata, "Hanya luka seperti ini, belum cukup untuk membuatku menderita."
"Kau sudah sekarat Ron, jangan berlagak sok kuat," sahut Andini.
"Kau yang sok kuat, Andini!" Rony teriak di susul dengan tawa.
"Kau pura-pura tegar saat tahu Paula meninggal, sama saat kau mengetahui bahwa papamu mati di bunuh oleh komunitas biadab itu!" sambung Rony.
"Tutup mulutmu Rony, kami adalah ras paling suci di muka bumi ini!" bentak Andini.
"Otakmu sudah di cuci oleh meraka, Andini!" ucap Rony tegas, "Sadarlah Andini!"
Andini terdiam, ia seperti sedang mencerna ucapan Rony. Kemudian Andini melangkah menghampiri Rony, dengan mengangkat kedua tangannya seperti sedang berdoa.
"Hal bodoh apa lagi yang kau lakukan itu?" Rony meledek dan menertawakan Andini.
"Ingat ini Andini, aku dan Paula akan tetap hidup di hatimu ... Paula pernah bilang padaku, kalau ia merindukanmu, ia juga merindukan kita berkumpul lagi bersama seperti saat kecil dulu. Sadar Andini ... sad--"
Ucapan Rony berhenti begitu saja saat anak panah tertancap tepat di lehernya. Rony tewas begitu saja dengan senyum yang mengarah ke Andini.
......................
__ADS_1