Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Pertempuran terakhir II


__ADS_3

“Kali ini aku tidak akan lari lagi, seperti saat aku meninggalkan Suna mati di tangan komunitas sesat itu.”


Aku yang sudah merasa percaya diri pun akhirnya bentrok dengan gerombolan itu, aku bisa menghindari beberapa tebasan orang-orang itu. Aku pun juga berhasil melukai beberapa orang dari mereka, dengan parangku.


Tapi jumlah mereka bukan main, dan aku pun terkepung. Mereka membuat lingkaran agar aku tidak bisa lari ke mana-mana.


“Paula, ajak Riska lari dari sini!” Aku pun berteriak.


“Maaf, kali ini aku menolak permintaanmu, Dav!” balas Paula.


“Jika harus mati, kita akan bersama!” sahut Riska dengan suara yang lantang.


Kata-kata Riska barusan benar-benar mengingatkanku pada Suna. Entah kenapa kali ini aku pasrah dan mulai memejamkan mataku, berharap aku bisa bertemu lagi dengan Suna.


“Dav, tiarap!” teriak Paula.


Aku pun segera membuka mataku dan melihat ke arah Paula. Tapi pandanganku belum sampai kepadanya, aku sudah melihat dinamit yang menyala tepat di bawah kakiku.


“Paula benar-benar tidak waras!” ucapku kesal dalam hati, dan kemudian menendang dinamit itu ke arah anggota sekte itu.


Saat mereka panik melihat sumbu dinamit itu tinggal sedikit lagi, aku pun lari dan menerobos ke luar lingkaran. Dua orang anggota sekte itu mencoba menahanku, tapi aku terus berlari dan mendorong kedua orang itu dengan bahuku sampai kita bertiga pun terjatuh dan tak lama kemudian dinamit itu meledak.


Suaranya keras sekali, dan aku pun melihat tubuh beberapa anggota sekte itu terpental.


“Kurang ajar ... berani-beraninya kalian melakukan itu di tempat suci seperti ini!” teriak Achong yang terlihat marah.


Doooorrr ... Dooooorrr ...


Paula pun menembak Achonk tepat di dadanya, dan Achong pun tumbang begitu saja. Kemudian para anggota sekte yang tersisa itu berlarian menghampiri Achong.


Saat mereka mengerubungi Achong tiba-tiba saja hawa di sini semakin tidak enak. Andai saja Novi masih hidup, pasti ia tahu apa yang terjadi sekarang. Tiba-tiba ruangan ini dingin seketika, tanpa sebab.


Gerombolan sekte itu pun mengelilingi Achong yang terkapar, lalu masing-masing dari mereka melukai telunjuk kanan mereka, dan meneteskan darah itu ke tubuh Achong. Suasana di sini pun tiba-tiba mulai aneh, mulai dari angin kencang yang tiba-tiba ada di dalam ruangan, sampai berdatangannya burung hitam seperti gagak.


Aku pun berlari menuju tempat Riska dan Paula, selagi masih sempat. Riska pun langsung memelukku dan berkata, “Jangan pernah tinggalkan aku seperti itu lagi, Dav!”


Aku pun hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang mereka lakukan?” tanya Paula.


“Mungkin mereka sedang berdoa untuk Achong, karena ia sudah meninggal,” jawab Riska.


Paula pun mengeluarkan ponselnya dan ia meminta bantuan pada rekan-rekan polisinya. Ia juga mengatakan sudah berhasil melumpuhkan pemimpin sekte itu. Polisi pun langsung bergerak setelah Paula menutup panggilannya, dan kami masih berjaga-jaga dan menunggu apa yang akan di lakukan oleh gerombolan orang berpakaian hitam itu.


“Dav, apakah ini sudah selesai?” tanya Riska sambil mengusap air matanya.


“Sepertinya sudah.”


“Setelah ini kamu akan tepati janjimu, kan?” tanya Riska yang sudah bisa tersenyum.


“Janji apa ya?” tanyaku yang berpura-pura tidak tahu tentang janji itu.


“Ih ... Janji kalau kamu mau melamar aku!” bentak Riska.


Paula pun tersenyum dan mendorongku sambil berkata, “Selamat ya.”


“Sama-sama Paula, kami beruntung bisa bertemu dan kenal denganmu,” jawabku sambil tersenyum.


Paula menganggukkan kepalanya dan ia tersenyum, matanya berkaca-kaca seolah tak rela harus berpisah dengan kami. Tapi ia ada tugas lebih penting di sini, memimpin kepolisian agar wilayahnya tetap aman setelah kejadian ini.


“Kalau kalian menikah, aku usahakan akan datang ke Jakarta,” cetus Paula.


“Kalau masalah itu, kamu bilang sama Davie ... ia mau menikahiku atau tidak ...” bisik Riska pada Paula.


Paula menutup mulutnya dan ia tertawa terkekeh-kekeh, mendengar bisikan Riska. Aku pun menatap sinis mereka berdua dan berkata, “Kalian lagi pasti merencanakan hal gila, kan?”


Risak dan Paula pun tertawa mendengar perkataan Davie.


Tak terasa 6 hari kami di Kalimantan, banyak suka dan duka di sini. Banyak juga pengalaman yang tak bisa aku lupakan di sini, apa lagi kehilangan 2 orang sahabatku di tanah ini. Tapi di balik itu semua aku belajar satu hal, bahwa sahabat itu saling melindungi, bukannya lari saat mereka sedang susah.


Suna, aku menemukan penggantimu. Bukan berarti ia lebih baik darimu, tapi karena ia mau menerimaku apa adanya. Semoga kamu merelakan hubungan ini dan tenang di alam sana, Suna.


“Kita harus pesan tiket pesawat untuk besok pagi,” cetus Riska.


“Semua tiket pulang sudah ada, tapi Achong yang menyimpannya,” jawabku.

__ADS_1


“Ya makanya kita harus pesan lagi, Dav!” tegas Riska sambil mencubit pipiku.


“Bukan itu ... aku hanya sedang membayangkan kita berlima pulang ke Jakarta, dengan jutaan cerita yang sudah kita siapkan untuk di perjalanan nanti.”


Riska yang mendengar jawabanku pun langsung memelukku dan mengelus punggungku.


“Aku—aku hanya sedih saja meninggalkan mereka di sini!” ujarku.


“Tenang saja, jasad Novi dan Satria akan aku urus sampai ada pihak keluarga yang menjemputnya,” sahut Paula.


“Terima kasih Paula,” ucap Riska.


Saat kami sedang asyik mengobrol dan menunggu polisi datang, tiba-tiba saja suara geraman terdengar dari arah kerumunan jasad Achong. Kami semua pun menoleh dan penasaran dengan suara barusan.


Suara geraman tadi pun terdengar lagi, dan kali ini kerumunan itu bergemuruh seperti sedang menyoraki sesuatu. Kami pun masih menunggu apa yang sebenarnya terjadi, dan tegap mengawasi gerombolan itu.


Aaaaaaaaaarrrrrgggggghhhh ...


Terdengar suara teriakan yang berasal dari kerumunan itu.


Graaaaaaawwwllllll ....


Suara geraman semakin keras, dan gerombolan itu pun bubar begitu saja.


Saat kerumunan itu sepi, terlihat Achong berdiri tegak sambil menenteng kepala yang masih memakai topeng tanpa ekspresi. Lalu Achong mengangkat kepala korbannya sampai sejajar dengan mulutnya, dan ia meminum tetesan darah segar dari kepala korbannya.


Kami pun terkejut melihat Achong masih berdiri tegak, dan merasa mual saat melihat ia meneteskan darah segar ke mulutnya, yang kemudian di minumnya. Matanya sudah putih semua dan ia berulang kali mengucapkan kata-kata yang tidak kami mengerti artinya.


Saat tetesan darah dari kepala korbannya itu berhenti menetes, ia pun langsung melihat ke sekeliling seperti mencari sesuatu. Kemudian ia melihat anggotanya yang sedang berada di dekatnya, dan Achong pun menghampirinya. Langkahnya pelan tapi tidak ada keraguan di setiap langkahnya, tapi saat jaraknya tinggal 100m lagi menuju anggotanya, tiba-tiba Achong berlari kencang sekali dan langsung menebas kepala anggotanya sendiri tepat di lehernya.


Graaaaaaawwwllllll ....


Ia pun menggeram saat kepala anggotanya itu tidak putus, dan ia pun berulang-ulang kali membacok leher anggotanya yang sudah terjatuh hingga kepalanya putus.


Achong langsung meneteskan darah segar itu lagi ke mulutnya dan meminum darahnya lagi, sambil menoleh ke arah kami bertiga.


......................

__ADS_1


__ADS_2