Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Kalian salah pilih lawan!


__ADS_3

Aku, Satria, dan Paula sedang asyik membahas rencana hari ini, tiba-tiba Achong masuk ke kamar membawa secangkir kopi.


"Kalian lagi bahas apa?" Tanya Achong sambil memberikan kopi itu pada ku.


"Rencana buat hari ini Chong," Jawab Satria.


"Loh bukan nya kita pakai rencana A hari ini?" Tanya Achong bingung.


"Melihat dari kejadian semalam, gue mutusin buat beralih rencana," Jawab Satria.


Kemudia mereka berempat mebahas rencana itu sambil menunggu Novi dan juga Riska sadar, Satria nampak semangat sekali menjelaskan rencana yang akan kita jalani, dengan penuh keyakinan ucapan nya pun seakan masuk akal bagi kami. Paula nampak kagum dengan Satria yang memiliki ide segila itu, Paula berfikir jika sosok seperti Satria sangat di butuhkan di dunia kepolisian, bukan hanya kemampuan menganalisa yang akurat, tapi Satria bisa langsung membuat rencana yang matang dengan berdasarkan analisa nya saja, dan yang paling penting Satria bisa meyakinkan bahwa analisa dan rencana nya akan berjalan mulus.


Bukan karena Satria terlalu percaya diri, tapi dia sudah menyiapkan segala antisapasi jika rencana nya tak sesuai dengan ekspetasi nya. Simpelnya jika orang lain punya rencana A sampai C, Satria punya rencana A sampai P.


Memang gila teman ku yang satu ini, sangat jauh berbeda dengan ku, yang justru malah selalu menghancurkan susunan rencana yang di buat nya. Tapi untuk kali ini, aku janji tidak akan mengacau dan akan mengikuti setiap perintah nya.


"Kalian sedang apa?" Tanya Riska yang sudah sadar dan berdiri tiba-tibi di depan pintu.


"Sayang kamu ngangetin aja!" Ujar ku.


"Hmmm... Maaf ya," Ucap Riska.


"Novi sudah sadar?" Tanya Paula.


"Belum, masih sama tertidur dengan posisi yang sama," Jawab Riska.


"Paula, disini aku tidak ingin melibatkan anak buah mu, tapi jika rencana ini sudah berhasil baru aku membutuhkan anak buah mu," Ucap Satria.


"Siap, serahkan pada ku!" Sahut Paula.


"Chong pesanan gue mana?" Ujar Satria.


"Ohhh iya, ada di lemari... Tunggu gue ambil dulu," Ucap Achong.


Achong pun menuju lemari dan mengeluarkan 2 tas kotak yang ukuran nya cukup besar, kemudian dia meletakan nya di kasur dan membuka nya.


Aku pun terkejut melihat isi dari tas itu, ada beberapa senjata laras panjang dan juga beberapa pistol dengan berbeda ukuran. Kemudian tas kedua pun di buka dan isi nya adalah dinamit.


"Kok lo bisa dapat senjata ini?" Tanya ku.


"Gue kan anggata PERBAKIN (Perasatuan penembak Indonesia) dan ini air soft gun kok," Jawab Achong.


"Haraga senjata ini gak ada yang murah Dav, jadi harus hati-hati pakai nya!" Ujar Satria.


"Ini ada sertifikat izin nya kan Chong?" Tanya Paula.

__ADS_1


"Ada dong, semua ini legal dan sudah bayar pajak negara," Jawab Achong sombong.


"Kalau peledak ini?" Tanya ku.


"Itu mah hal yang mudah di dapatkan di sini Dav, dan peledak itu biasa di pakai para penambang," Jawab Paula.


"Nah... Itu dia jawaban nya," Sahut Achong.


"Jadi gimana, berangkat?" Tanya Satria.


"Siapa takut!" Jawab ku sambil mengambil laras panjang yang sedari tadi menggoda pandangan ku.


"By the way, ini senjata ini jangkauan nya jauh ga Chong?" Tanya ku.


"Laras panjang, jangkauan nya bisa sampai 150m jika kena masih terasa sakit nya, tapi untuk handgun gue saranin jarak nya di bawah 50m," Jawab Achong.


"Oke, kalian pilih sesuka kalian!" Ujar Satria.


Saat semja sudah mengambil senjata Paula hanya melihat saja dan tak ikut mengambil senjata.


"Lo ga ambil ini, buat jaga-jaga," Ucap Satria.


Paula mengglengkan kepala dan berkata, "Aku udah ada, kalian tenang aja!" Sambil menunjukan pistol asli yang di masih di sarungkan di pinggang nya.


"Astaga gue lupa, kalau lo Polisi," Ucap Satria sambil tertawa.


Kami pun bubar, aku menuju ruang tamu bersama Paula dan berpisah dengan Riska yang menuju kamar untuk mengganti pakaian nya.


"Teman-teman mu orang hebat semua ya!" Ujar Paula.


"Jelas lah, semua hebat termasuk gue juga..." Sahut ku sambil tersenyum.


"Kamu cuma menang tampang aja Dav, gak ada kehebatan sama sekali jika ku lihat!" Ledek Paula.


"Wait, secara gak langsing lo bilang kalau gue ganteng!" Ujar ku.


"Sedikit," Ucap Paula sambil tersenyum.


Aku pun menarik nya dan berbisik tepat di telinganya, "Semalam benar kan kita gak ngapa-ngapain?"


Senyum Paula pun semakin melebar dan berkata, "Aku baru ingat, kehebatan mu sekarang!"


Aku pun menoleh ke arah nya, dan menatap mata nya.


"Maksud nya apa?" Tanya ku.

__ADS_1


"Kamu hebat, bisa membuat ku merasa puas," Jawab Paula.


"Jangan mengada-ada, lo halu kan?" Ujar ku.


"Jika di beri kesempatan semalam lagi, aku gak akan kalah dengan cepat oleh mu," Ucap Paula sambil tersenyum.


"Gak mungkin... Lo pasti bohong!" Ujar ku yang masih tak percaya.


"Tenang aja, Riska gak akan tahu rahasia kita," Ucap Paula yang berbisi tepat di telinga ku.


Aku pun pasrah saat Paula menunjukan foto ku bersamanya, lalu aku pun berkata, "Ini rahasia kita, dan jangan sampai Riska tahu, kalau sampai dia tahu hubungan ku yang menjadi taruhan nya!"


"Kalau kamu berpisah dengan nya, aku siap menerima mu apa ada nya," Jawab Paula.


"Itu semua gak akan terjadi kalau lo diam dan tetap merahasiakan itu," Jawab ku.


Paula tersenyum dan duduk di sofa ruang tamu, posisi duduk nya tepat di sebelah ku. Dari gestur tubuh nya seakan-akan dia sedang menggoda ku, tapi aku tak akan tergoda dan tak mau masalah ini jadi panjang nanti nya.


Aku pun mengacuhkan nya dan tan melihatbke arah nya, aku menyalakan rokok dan asyik dengan rokok ku. Tanpa di duga tangan Paula sudah ada di atas paha ku, kemudian dia menjalankan perlahan tangan nya sampai aku merinding di buat nya. Aku langsung menyingkirkan tangan nya yang sudah hampir sampai pangkal paha ku, saat ku singkirkan, Paula malah tersenyum dengan lebar.


"Jangan macam-macam, banyak teman ku di sini!" Ujar ku.


"Berarti, kalau tidak ada teman mu, tidak masalah?" Ucap Paula.


"Ya gak masalah kalau lo bisa jaga rahasia!" Tegas ku.


"Aku paling bisa di andalkan untuk menjaga rahasia," Jawab Paula.


"Bagus, kalau gitu... Gue mohon lo jaga rahasia kita berdua!" Ujar ku.


"Dengan senang hati," Ucap Paula sambil tersenyum.


"Orang ini sudah gila, mungkin dia terlalu fokus dengan karir nya sampai tak ada waktu untuk menjalin hubungan." Gumam ku dalam hati.


Tak lama kemudian Achong pun datang bersama Satria, dan Satria terlihat baik-baik saja tidak seperti orang yang sedang terluka. Kemudian di belakang nya di susul oleh Riska dan juga Novi yang sudah sadar dan sudah siap untuk berangkat. Riska sudah menjelaskan pada Novi jika rencana nya kali ini di ubah, kami semua akhirnya lengkap dan berkumpul di ruang tamu.


Seperti biasa, sebelum melakukan aktifitas Satria selalu mengumpulkan kami dan membentuk lingkaran.


"Guy's rencana kita berbubah, dan kali ini gue janji, kita semua akan memukul mundur komunitas itu, dan menyampaikan pesan pada mereka, kalau mereka salah pilih lawan!" Ujar Satria dengan lantang


"Kita awali dengan doa agar rencana ini berjalan dengan semestinya, berdoa menurut kepercayaan masing, mulai!" Sambung Satria memimpin doa.


Kami pun berdoa dalam hati, dan terdengar suara Satria mengucapkan "Selesai."


Langkah kami terasa ringan di iringi senyum percaya diri dari masing-masing kami, kami menuju mobil dan menuju bangunan tua dekat pasar. Di dalam mobil Satria menerangkan kembali rencana kita kali ini, kami pun tak ada yang membantah dan menuruti rencana yang bisa di bilang hampir sempurna.

__ADS_1


"Benar kata Satria, komunitas itu salah pilih lawan dan ku harap mereka siap dengan pembalasan kami yang berkali-kali lipat!"


......................


__ADS_2