Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Selamat tinggal sahabat


__ADS_3

Mataku terus menuju ke arah Satria yang babak belur, sambil memikirkan bagaimana supaya bisa menyelamatkan Satria.


“Kamu ada ide?” bisik Paula yang sudah ada di belakangku.


Aku menggelengkan kepala tanpa menoleh ke arah Paula.


“Gue ada ide, Dav!” sahut Novi.


“Jangan di paksa Nov, lo tenang saja gua bakal cari cara buat bawa kalian ke rumah sakit,” ucapku.


“Kali ini aja Dav, tolong dengarkan gue!”


Paula memegang bahuku sambil berkata, “Coba kita dengar dulu, Dav!”


Novi pun langsung menjelaskan rencananya, dan rencananya itu adalah Novi ingin melepaskan sukmanya dan membiarkan jin penjaganya yang menyelamatkan kami. Tapi tak ada perbuatan tanpa risiko, dan kali ini risikonya jika Novi tidak bisa mengembalikan sukmanya dalam 10 menit, maka raganya akan di kuasai oleh jin penjaganya.


Aku jelas menolak, begitu pun Paula yang ikut menentang ide Novi. Tapi Novi tetap memaksa sampai ia berlutut di kakiku.


“Please Dav, gue sayang banget sama Satria ... gue sudah lama suka sama dia, tapi gue gak pernah berani menyatakan itu padanya,” ucap Novi.


“What! Lo suka sama Satria ... kenapa lo gak pernah cerita ini sebelumnya, Nov?”


“Gue takut pertemanan kita rusak,” jawab Novi yang sudah meneteskan air matanya.


Tiba-tiba saja tombak menembus perut Novi, tombak yang tertancap di pria tua itu, kini tertancap di perut Novi. Novi pun memuntahkan darah dari mulutnya, dan aku pun melihat seseorang menusukkan tombak itu, dan ternyata itu Sonya.


“Kenapa lo lakuin itu?” tanyaku.


“Karena dia membanting suamiku barusan!” jawab Sonya sambil tersenyum.


“Bagus sayang!” teriak Achong.


Ini benar-benar gila, ternyata selama ini Sonya berbohong, dan dengan cerita-cerita sedihnya ia mengelabui kami.


“Se-sejak kapan lo menikah sama Achong?” tanyaku.


“Dua bulan lalu, saat ia resmi di angkat sebagai ketua agung sekte ini,” jawab Sonya sambil tersenyum.


“Ketua sekte agung ... lo lebih lucu dari para komedian, Chonk!” teriakku kesal.

__ADS_1


“Terserah kalian semua mau bilang apa, tapi tujuan gue buat mengendalikan populasi sebentar lagi terwujud!” jawab Achong.


Novi pun tiba-tiba bangkit dan bola matanya putih semua, kemudian ia mencabut tombak itu dari perutnya dan menusukkannya berkali-kali ke perut Sonya yang sedang dalam jangkauannya.


Novi pun berhenti menusuk dan ia melihat ke atas, entah ia sedang memperhatikan apa, kami tidak tahu. Sonya pun sudah tidak bernyawa dengan bayak luka tusuk di perutnya.


Tiba-tiba Novi tersenyum, dan ia berlari ke arah Satria yang sudah terkapar. Novi berlari sangat kencang dan membawa tombak, Novi melangkahi Achong yang tidak bisa bergerak.


“Aku bantu Novi,” ucap Paula yang berlari menyusul Novi.


Gerombolan itu pun satu persatu menyerang Novi, tapi Novi bisa menghindar dan menusuk orang-orang itu satu persatu. Paula menghampiri Novi, yang sudah terkepung.


Matanya Novi putih semua, dan ia berkata, “Selamatkan Satria!”


Paula menganggukkan kepalanya dan ia segera menuju ke tempat Satria, anehnya gerombolan itu tak ada yang mengejar Paula, dan mereka semua malahan berlari ke arah Novi.


Aku masih terdiam menjaga Riska, yang sedang ketakutan. Ia pun berkata, “Kenapa semua jadi begini?”


Aku pun tak menjawab dan hanya merangkul Riska, sambil mengawasi Novi dan juga Paula.


Orang-orang yang mengenakan jubah hitam pun mulai menyerang Novi secara bersamaan dan Novi pun sudah di kerumuni oleh orang-orang itu. Sedangkan Paula sudah berhasil membopong Satria yang masih bernafas dan menuju ke arahku.


Tiba-tiba orang -orang dari kerumunan itu pun terpental, dan Novi bangkit dengan segala macam benda tajam tertancap di tubuhnya. Aku pun mulai meneteskan air mata saat melihat Novi yang masih berjuang.


“Achong mana?” tanya Paula yang sudah sampai di dekatku.


“Ada di sana!” ucapku sambil menunjuk ke tempat Achong terkapar.


“Coba lihat lagi, dia tidak ada di situ!” ujar Paula.


Aku pun terkejut sambil mengusap air mataku saat melihat Achong tidak ada di tempatnya.


“Ga—gawat ... mereka pasti melanjutkan ritualnya!” ucap Satria.


“Ritual apa?” tanyaku kompak dengan Paula.


“Aaaaaaaaaaarggggghhhhh ...” tiba-tiba terdengar teriakan Novi.


Novi pun sudah terikat dengan luka di sekujur tubuhnya, ia berteriak saat semua senjata tajam di cabut dari tubuhnya.

__ADS_1


Satria dengan langkah tertatih-tatih menghampiri Novi dan gerombolan itu sudah siap menunggu Satria. Satria pun tidak gentar dan ia tetap berjalan ke arah Novi.


Saat Satria sudah ada di hadapan Novi, Satria pun langsung memeluk Novi sambil menangis.


“Cukup Nov, cukup ... gue sayang sama lo, Nov!” ucap Satria.


“Gue juga memendam rasa sayang yang sama kaya lo selama ini,” sambung Satria.


Gerombolan itu tak bergerak dan membiarkan Satria dan Novi berpelukan. Paula sudah siap menodongkan pistolnya ke arah mereka, untuk berjaga-jaga kalau ada yang berani mendekat ke arah mereka berdua.


Novi pun mulai sadar dan bola matanya kembali normal, Novi pun tersenyum dan memuntahkan darah di bahu Satria.


“I Love you, Sat ...” ucap Novi lirih.


Satria menganggukkan kepalanya sambil mengelus kepala Novi.


“Aaaaaahhhhkkkkk ....”


Mereka berdua teriak bersamaan saat tombak tembus dari punggung Novi sampai ke punggung Satria. Novi yang menghadap ke arak kami pun tersenyum dan menatap kami. Lalu bibir Novi bergerak sperti mengucapkan “selamat tinggal guy’s.”


“Arrrrggghhh ...” terdengar suara teriakan Satria saat orang berjubah hitam itu mencabut tombaknya.


Novi dan Satria pun ambruk begitu saja tanpa melepaskan pelukan mereka berdua.


“KUARANG AJAR!” teriakku kesal.


Aku ingin berlari ke arah mereka, tapi Riska menarikku. Ia pun memelukku yang sudah menangis sedari tadi. Riska pun mendorong kepalaku ke pundaknya dan membiarkanku menangis di pundak yang tepat untuk meluapkan perasaanku.


Paula pun jatuh duduk melihat Novi dan Satria tewas begitu saja dan air matanya pun mulai menetes.


“Baru saja aku akrab dengan kalian ... kenapa kalian satu persatu meninggalkanku,” ucap Paula sambil menangis.


Semua kenangan-kenangan tentang Novi yang selalu menjadi penengah di antara pertemanan kami pun mulai terngiang-ngiang di kepalaku. Tawanya, candanya, dan juga curhatannya masih saja tersimpan di otakku. Bahkan aku masih ingat sebelum kami berangkat kesini, di jalan tol menuju bandara, ia melihat hantu satu keluarga yang meninggal karena kecelakaan, dan setelah ini selesai ia ingin mendoakannya. Itu baru saja kemarin, belum ada seminggu ia mengucapkan itu.


Sedangkan canda Satria masih terngiang di ingatan ini, dia yang selalu punya solusi untuk masalah kami, dia yang selalu merencanakan hal-hal berkesan untuk pertemanan kita pun sudah tinggal kenangan. Jujur aku akan rindu dengan gayanya berpikir, ekspresi wajah fokusnya akan terus ter-gambarkan di ingatanku. Satria yang tahun depan lulus dari S2nya pun kini harus menggantungkan cita-citanya itu dan harus pergi ke surga, karena tuhan lebih cinta dengannya.


Selamat jalan sahabatku, kalian berdua hebat. Cinta kalian berdua juga sudah tersampaikan di ujung maut kalian.


“Aku tak akan pernah menyesal, mengenal kalian berdua ... jika ada kesempatan aku ingin tertawa bersama lagi seperti dulu.”

__ADS_1


......................


__ADS_2