
Baru 20 menit berlalu setelah Achong dan Paula pergi membeli perlengkapan pesta nanti malam, tiba-tiba mereka kembali lagi dengan wajah pucat.
“Hey ada apa?” Tanyaku.
“Aku mendapatkan laporan bahwa bawahanku di culik oleh komunitas itu!” Jawab Paula tergesa-gesa.
“Benarkah? Lalu apakah lo tahu di mana tempatnya?” Tanya Satria.
“Yaaa... Salah satu anak buahku mengirimkan alamatnya!” Jawab Paula.
“Ayo kita berangkat, tunggu apa lagi?” Ujarku.
“Tunggu Dav, biar aku urus ini semua dengan tim kecilku,” Sahut Paula.
“Gak bisa gitu dong, kita juga harus ikut!” Ujarku ngotot.
Riska menghampiriku dan mengelus dadaku, dan berkata, “Kamu istirahat Dav, biar Polisi yang mengurus ini.”
Aku pun terdiam dan menuruti perkataan Riska, entah mengapa perasaanku yang menggebu-gebu barusan, padam begitu saja di buat nya. Satria pun juga setuju dengan Riska dan membiarkan Paula dan Polisi menangani bagian ini.
“Kalian mulai saja pestanya, nanti aku akan menyusul!” Ujar Paula sambil tersenyum.
“Gue tunggu kedatangan lo, apapun yang terjadi jangan mati Paula,” Ucapku.
Paula menghampiriku sambil tersenyum lebar, dan dia mengatakan, “Kamu meragukan aku Dav?”
Aku pun menggelengkan kepala dan mengajaknya tos, dia menyambut ajakan tos ku dan berpamitan. Teman-temanku pun menyampaikan hal yang sama dengan ku dan menantikan Paula hadir di pesta nanti malam. Novi dan Riska pun memeluk Paula dan menyuruhnya cepat kembali, Paula pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
Paula melangkahkan kaki keluar dan sudah ada mobil patroli yang menunggu di luar, sekali lagi dia melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku merasa itu lambaian tangan terakhirnya, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Achong pun pergi membeli perlengkapan pesta sendiri, karena di antara kami tak ada yang mau menemaninya.
Sore pun berganti malam, dan Achonk pun kembali bersama Om Eddie, paman nya yang asli orang sini. Achong berteriak meminta bantuan menurunkan perlengkapan pesta, Aku dan Satria berlari menghampirinya dan membantu menurunkan belanjaannya dan meletakannya di dapur.
Novi dan Riska pergi ke dapur untuk menyiangi ayam yang baru saja di beli Achong, sedangkan aku dan Satria langsung membuat bara untuk bakar ayam yang sedang di siangi oleh Novi dan Riska.
__ADS_1
Menit berlalu jam pun berganti, ayam sudah siap dan bara sudah jadi sedari tadi. Kami mulai pesta kecil-kecilan di halaman rumah, dengan duduk melingkar dan saling bercerita kenangan di masa lalu, membuat waktu tak terasa.
“Sudah ada kabar dari Paula?” Tanya Satria.
“Memangnya dia mau mengabari kemana?” Tanyaku.
“Memangnya kalian gak ada yang punya kontaknya Paula?” Jawab Paula.
Kami semua kompak menggelengkan kepala, dan Satria pun menghembuskan nafasnya lewat mulut sambil berkata, “Kalian tahu gak, kalau Paula itu kunci keberhasilan setiap rencana kita! Karena dia seorang Polisi dan jabatan nya tinggi.”
Kami semua menunduk dan mendengarkan ocehan Satria, mendadak suasana pun menjadi dingin di barengi dengan wajah Satria yang terlihat marah. Novi pun bangun dan mencoba menenangkan Satria, tapi percuma Satria sudah terlanjur kesal. Yang di inginkannya saat ini adalah sosok Paula yang sangat berperan penting dalam semua rencananya.
Pesta pun berakhir dengan sangat buruk, Satria mendadak masuk ke dalam tanpa berkata apapun. Kami yang diluar hanya bisa melihat raut wajah kesalnya saja, dan tak berani berkata apa-apa. Tak lama Satria masuk, kami pun membereskan sisa pesta dan setelah itu duduk di ruang tamu. Hanya tatap-tatapan saja, dan tak ada suara sama sekali yang keluar dari mulut kita.
Tiba-tiba ada mobil berhenti di depan, dan Novi langsung berlari untuk melihatnya. Lalu dia mengintip dari jendela, kemudian dia memutar badannya menghadap kami sambil tersenyum.
“Paula datang!” Teriaknya.
Aku pun langsung berlari ke kamar dan mengetuk pintu yang di kunci Satria.
“Sat... Buka Sat, Paula datang!” Ucapku menegaskan.
Kleeeeeckk...
Suara pintu yang terbuka kuncinya.
Satria pun membuka pintu dan memelukku, kemudian dia berkata, “Gue terlalu meremehkan Paula Dav.”
Aku tersenyum dan menyeretnya ke ruang tamu untuk bertemu Paula. Tapi saat sampai di ruang tamu, aku terkejut melihat banyak darah keluar bahunya. Aku berlari menghampirinya dan menekan lukanya, sambil berteriak, “Telpon ambulans!”
Mereka pun panik dan Achong langsung menghubungi ambulans, Novi mengambil perban yang ada di kotak P3K dan membawanya ke ruang tamu. Polisi yang datang bersama Paula tak henti-hentinya meneteskan air matanya sambil menahan punggung Paula agar tetap duduk dengan tegak. Wajah cantik Paula mendadak pucat, dan aku khawatir dia akan kehabisan darah sebelum sampai rumah sakit.
“Apa yang terjadi?” Tanya Satria pada Polisi yang sedang menangis itu.
__ADS_1
“Dia terkena panah, dan mencabut anak panah nya itu,” Jawab Polisi itu sambil menangis.
“Kenapa lo bodoh banget sih!” Geramku, “kenapa lo cabut anak panahnya, Paula!”
Paula hanya tersenyum, dan berkata, “Rasanya seperti ada yang mengganjal di tulang di bahuku, dan itu rasanya tidak enak!”
“Bicara sepanjang itu lagi, gue sumpel mulut lo!” Ujar ku.
Novi pun mulai melilitkan perban di bahu kiri Paula sambil meneteskan air mata, sedangkan Riska mengambil lagi perban dari kotak P3K yang di rasanya kurang jika hanya 1 gulung saja.
“Rebahkan dia!” Ucap Satria, “kalau posisi duduk seperti itu, darah cepat mengalir ke bawah!”
Polisi yang menahan Paula pun akhirnya menuruti perintah Satria, Novi juga sudah selesai melilitkan perbannya. Tak lama kemudian terdengar suara sirine dan berhenti tepat di depan rumah. Pihak medis menurunkan kasur beroda dan menaikkan Paula ke kasur itu, kemudian mendorong nya.
Satria dan Achong ikut mengantar Paula dengan ambulans, dan aku tetap di home stay menjaga Novi dan Riska.
Jujur perasaan kesal ada saat teman-temanku terluka di buatnya, aku hanya bisa berdoa supaya teman-temanku di berikan kekuatan untuk menghadapi ini semua.
Novi dan Riska pun membersihkan darah yang bercecran di lantai, sedangkan aku menanyakan kejadian pasti kepada Polisi yang membawa Paula ke sini.
"Saya heran, kenapa bu Paula lebih memilih di bawa ke sini dari pada ke rumah sakit!" Ujarnya.
"Kenapa Bapak tidak lawan saja keinginannya untuk ke sini dan pergi ke rumah sakit," Sahutku.
"Saya gak bisa menolak perintah atasan mas," Ucap Polisi itu sambil menundukan kepalanya.
"Ya, memang sudah prosedurnya seperti itu... Tapi kan Bapak bisa memprioritaskan keselamatan atasan Bapak, dari pada menjalankan prosedur!" Ujarku.
"Maaf mas, saya panik..." Ucap Polisi itu.
"Terus Polisi yang di sandra bagaimana?" Tanyaku.
"Ternyata itu laporan palsu, dan cuma jebakan saja," Jawabnya.
__ADS_1
"Astaga, kita sudah berulang kali di permainkan oleh komunitas biadab itu!" Geramku.
Pasti ada sesuatu yang tak beres, sampai-sampai mereka memburu Paula, dan anehnya lagi kenapa Paula nekat kesini dengan luka separah itu. Aku yakin pasti ada yang ingin di sampaikannya.