
Setelah memuntahkan darah hitam pekat, Achong pun memegangi perutnya dan perlahan ia pun berlutut. Wajahnya terlihat seperti kesakitan.
“Ini kesempatanku untuk mengakhiri semuanya,” ucapku dalam hati.
Aku pun berlari kencang, kali ini aku arahkan dengkulku ke rahang Achong, dan Achong pun terkena telak dengkulku ini. Ia pun langsung terguling setelah menerima seranganku.
“Ha-ha-ha ... jadi ... ini rasanya ... sakit,” ucap Achong yang mencoba berdiri.
Aku pun hanya menggelengkan kepala, dan berharap semua ini cepat selesai. Tapi harapanku pun sirna saat Achong dengan mudahnya bangkit kembali, dan berdiri tegak sambil membusungkan dadanya.
Ia pun tersenyum saat melihatku dan tiba-tiba saja Achong berlari ke arah Riska. Sebelum ia berlari ke arah Riska, Achong yang kerasukan iblis itu mengambil parang yang tergeletak di lantai dan kemudian menentengnya sambil mengarah ke arah Riska.
Tentu saja aku tidak tinggal diam melihat Achong berlari ke arah Riska. Aku menyusulnya sambil berteriak, “Hei iblis, lawan lo itu gue!”
Achong tak menghiraukanku dan terus berlari sambil membuka mulutnya seperti sedang tertawa tapi tanpa suara.
Riska hanya terpaku menatap ekspresi Achong yang seperti ingin menerkam buruannya. Riska pun bergerak mundur perlahan sambil menodongkan pistolnya ke arah Achong.
“Sial, larinya cepat sekali!” gumamku dalam hati, sambil terus berusaha mengejar Achong.
Saat ia sudah dekat dengan Riska, tiba-tiba saja Achong berhenti dan menoleh ke arahku. Spontan aku pun kaget dan ikut berhenti berlari, lalu Achong pun mulai berjalan perlahan ke arahku sambil berkata, “Pengganggu!”
Aku panik saat melihat Achong menodongkan parangnya ke arahku, dan aku langsung celingak-celinguk, melihat sekitar untuk mencari benda yang bisa di pakai untuk melawan Achong. Aku pun baru ingat, kalau aku membawa belati perak warisan keluarga Paula yang konon katanya pernah di pakai untuk membunuh kuyang.
Saat aku mengeluarkan belati itu , tiba-tiba saja Achong menghilang dari pandanganku. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, tapi ia tetap tidak ada. Kemudian saat aku memindahkan pandanganku ke arah Riska, tiba-tiba saja ada yang mencekikku dari belakan.
Cekikkannya pun sangat kuat sampai-sampai aku menjatuhkan belatiku dan memukul-mukul tangan Achong agar ia mau melepaskannya. Usahaku pun sia-sia dan aku sudah mulai kehabisan napas, pandanganku mulai kabur dan dada ini sudah mulai sesak.
Aku pun hanya bisa pasrah, jika aku harus mati di sini.
Saat aku mulai tak sadarkan diri, tiba-tiba ada suara perempuan berteriak keras sekali menghampiriku. Ia berulang-ulang kali memanggil namaku dan suaranya terdengar semakin dekat. Aku pun berusaha membuka mata ini meskipun hanya sebentar, untuk memastikan siapa yang memanggil-manggil namaku.
“Davie ....” Ternyata Riska yang datang menghampiriku, dan berteriak-teriak memanggil namaku.
__ADS_1
Saat ia berjarak kurang lebih 20m, ia pun langsung menembak ke arahku.
Doooooorrrrr ... Doooooooorrrrrr ....
Dua kali tembakan pun di lepaskan ke arahku yang masih tercekik.
Tembakan pertama Riska meleset dan tembakan keduanya hanya menyerempet telinga Achong dan itu membuat cekikkannya melemah. Aku pun dengan sigap langsung menyikut perutnya berkali-kali dan ia pun melepaskan cekikkannya padaku.
Aku pun jatuh duduk, dan Riska langsung lari ke arahku untuk membantuku berdiri.
“Kamu ngapain?” tanyaku saat menggenggam tangan Riska.
“Kita selesaikan ini berdua, Dav!” tegas Riska.
Aku pun sudah tak bisa berkata-kata lagi, aku bingung ingin bangga atau ingin marah. Tapi saat ini aku tak boleh lengah dan tidak akan melepaskan Achong dari pengawasanku.
“Baiklah jika kamu ingin membantuku,” ucapku sambil menunduk mengambil belati perak yang terjatuh, “aku akan menyerang langsung dan kamu hanya perlu melindungiku saja!”
Entah kenapa Riska malah tersenyum saat mendengar itu, dan ia pun menganggukkan kepalanya.
Aku tak menyadari kalau Achong sudah mengayunkan parang itu ke arahku, refleks aku pun menarik badanku ke belakang. Tapi itu semua percuma, karena jarakku sangat dekat dengan Achong.
“Ha-ha-ha ....” Achong pun tertawa setelah menebasku.
Aaaaaaaaaaahhhhhhhkkkkkkk ....
Aku pun teriak saat merasakan sabetan parang yang menggores perutku.
“Davie!” Teriak Riska sambil berlari ke arahku.
Perutku terasa seperti terbakar dan darah pun sangat cepat keluar dan sudah merembes ke bajuku. Kepalaku sudah mulai berputar dan tanpa aku sadari, aku sudah berlutut.
Aku mencoba merangkak ke arah Riska dengan hanya menggunakan tangan kiri saja, tangan kanan aku gunakan untuk memegang perutku yang hampir mati rasa.
__ADS_1
Baru beberapa langkah aku meninggalkan Achong, aku merasa kakiku seperti ada yang memegang, dan menariknya. Tangan kanan yang aku pakai untuk memegang perut, sekarang aku julurkan ke arah Riska dan berharap Riska bisa meraihnya dan menarikku.
Tapi Achong lebih dulu menarikku dan badanku pun terseret ke dekatnya. Kini aku hanya bisa telungkup dan menjulurkan tanganku, perutku yang menganga lukanya pun sudah tidak aku hiraukan. Aku hanya ingin selamat.
“Ris, tolong Ris ...” ucapku lirih.
Riska pun datang dan meraih tanganku, aku pun tersenyum dan menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang sedang di lakukan Achong.
Achong sudah mengangkat parangnya dan sudah siap menusukku dengan parangnya. Senyuman gilanya, membuatku takut dan gemeteran.
Dooooooooorrrrrr ....
Suara tembakan terdengar, dan aku melihat dengan jelas, darah hitam muncrat dari pelipis Achong.
Aku pun menoleh ke samping dan melihat Paula yang sudah sadar, dengan posisi tiduran dan sedikit mengangkat badannya, ia bisa menembak dengan akurat.
“Lari, Dav!” teriak Paula sambil membetulkan posisinya, dan segera bangun.
Aku pun memutar badanku dan menendang si Achong yang sedang memegang kepalanya. Lalu aku merangkak mundur dan Riska pun membantuku untuk berdiri.
Suara sirene pun sudah terdengar ramai di luar, dan para anggota sekte yang lainnya pun panik dan mencoba melarikan diri. Tapi percuma, karena ruangan ini hanya punya satu pintu masuk dan keluar.
“Kembalilah ke alammu, iblis!” teriak Paula sambil menembak Achong.
Kali ini peluru Paula bersarang tepat di dada sebelah kanan Achong, dan lagi-lagi ia hanya berdarah saja dan tidak ada efek lainnya.
Polisi pun dengan sigap masuk ke dalam ruangan dan mulai mengepung ruangan ini, satu persatu anggota sekte yang berlarian pun di tangkap oleh polisi dan langsung di masukan ke dalam mobil.
“Kalian jangan ada yang mendekat, sebelum ada aba-aba dariku!” teriak Paula memberikan komando kepada rekan-rekan polisinya dan para polisi itu pun menuruti Paula dan sudah siap membidik Achong.
Achong yang sudah bukan lagi manusia pun tak memedulikan bidikan para polisi, dan ia malah berjalan ke arahku yang sedang bersama Riska.
Sepertinya luka tebasan ini semakin melebar, walaupun begitu aku tak akan menyerahkan Riska begitu saja. Aku masih bisa melindunginya dengan nyawaku taruhannya.
__ADS_1
......................