Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Pertempuran terakhir III


__ADS_3

Senyum Achong berbeda, sangat berbeda dari biasanya. Ia tersenyum seperti sedang melihat mangsanya. Paula pun langsung menodongkan pistolnya dan berteriak, “Jangan bergerak!”


Tapi Achong tak mendengarkan, bahkan ia tetap berjalan dengan langkah yang berat, perlahan tapi pasti menuju ke arah kami.


“Dav maaf, aku harus menembaknya,” ucap Paula.


“Jangan dulu ... Gue yakin itu bukan Achong.”


Paula pun menatapku bingung, dan ia pun mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja langkah pelan Achong berubah menjadi cepat, ia berlari ke arah Paula yang sedang menodongkan pistolnya.


“Andini!” geram Achong.


Dengan cepat Achong pun sampai di hadapan Paula, dan ia langsung mencekik Paula.


Paula tidak tinggal diam, ia melawan dengan cara memukul-mukul tangan Achong dengan gagang pistol, tapi percuma. Acchong sepertinya sudah mati rasa alias kebal, buktinya di pukul sekeras itu dia tidak bereaksi apa-apa.


Aku pun tanpa pikir panjang, langsung berlari ke arah Achong dan menghantam bahu kiri Achong, dengan bahu kananku. Aku pun merasa bodoh, saat aku yang terpental ketika menghantam bahu kiri Achong.


“Andini ... jangan ... Sakiti ... Andini!” ucap Achong mengucapkan kata per kata dari mulutnya, dan cara bicaranya sungguh aneh sekali, seperti bayi yang baru belajar berbicara.


Aku pun segera bangkit dan berkata, “Dia bukan Andini ... dia itu Paula, saudara kembar Andini.”


Achong pun terlihat bingung dengan kata-kataku. Seperti sedang mencerna sesuatu di kepalanya, membuatnya melamun sambil mencekik Paula.


“Jika kamu beri aba-aba tembak, aku akan menembaknya tepat di kepalanya!” ucap Paula sambil menahan sesak nafasnya.


“Lakukan sesuka lo ... karena dia sudah bukan lagi Achong yang aku kenal,” jawabku.


Dooooooorrrr ... Dooooooorrrr ...


Grrrrrraaawwwwllhhh ...


Dua peluru di kerahkan Paula ke kepala Achoong.


Ada yang aneh saat salah satu peluru bersarang di dahinya. Darah Achong berwarna merah tua sampai mendekati warna hitam pikat.


“Astaga padahal dahinya terkena tembakan, kenapa dia tidak mati?” tanya Riska dengan nada gemetar.


“Di—dia iblis!” sahut Paula yang masih berusaha melepaskan tangan Achong yang mencekiknya.


Graaaaaaaaaawwwhhhh ....

__ADS_1


Geraman Achong semakin keras dan ia mengangkat Paula hanya dengan satu tangan yang menempel di lehernya. Paula pun berontak, memukuli tangan Achong berkali-kali, tapi Achong tak bergeming.


Aku yang sudah berdiri pun berlari ke arah mereka berdua, dan terlambat. Achong tanpa aba-aba langsung membanting Paula dengan sekuat tenaga.


Bruuuuuuuuuukkkkk!


Terdengar suara benturan keras antara lantai dan punggung Paula.


Paula langsung tak sadarkan diri sekitika, sebelum ia pingsan, ia memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Achong pun menatap Paula yang sedang pingsan dengan banyak bercak darah di mulutnya. Achong tiba-tiba saja jongkok dan mengendus-endus darah yang berada di sekitar bibir Paula. Setelah puas mengendus, Achong menjulurkan lidahnya dan mencicipi darah yang ada di sekitar mulut Paula.


Ia pun mengecap, dan tiba-tiba bangun kemudian membuang ludah. Achong pun langsung mengelap lidahnya dan wajahnya pun berubah menjadi sangat marah.


“Dia ... bukan ... Andini!” ucap Achong.


Aku pun sudah berada di samping Achong dan tersenyum. Lalu aku arahkan bogem mentah ini tepat ke bagian rahangnya, yang di mana kalau orang normal yang tidak siap rahangnya terpukul akan pingsan seketika, itu adalah teknik dasar dalam olah raga tinju.


Achong yang terkena pukulan kerasku itu, hanya bergerak dua langkah saja ke belakang, tanpa jatuh dan tidak pingsan. Aku pun terkejut dan sempat terdiam, melongo, menatap Achong yang sedang memegang pipinya.


“Riska, lari Ris ... aku mohon kali ini kau harus lari dan cari bantuan!” ujarku panik.


Riska yang mendengarkan itu hanya menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya. Matanya sudah memerah karena banyaknya air mata yang keluar sedari tadi.


Riska masih tak bergerak dari tempatnya, ia hanya bisa menangis tanpa suara karena mulutnya ia tutup dengan telapak tangannya.


Aku sudah kehabisan akal untuk menghadapi Achong yang sedang kerasukan. Bukan, sepertinya ia bukan kerasukan. Karena Achong sudah mati saat di tembak Paula tepat di dadanya. Lalu itu apa?


Otak ini aku paksa berpikir lebih keras lagi, dan seandainya saja Satria masih ada, ia pasti tahu harus berbuat apa sekarang.


Aku melihat sekeliling untuk mencari cara agar bisa selamat dari sini, tapi yang aku lihat hanya anggota sekte itu yang sedang ketakutan melihat Achong.


“Hai siapa pun, tolong jawab aku ... siapa dia sebenarnya?” tanyaku dengan nada tinggi, sambil menunjuk ke arah Achong.


Mereka pun tak mau menjawab, malah menundukkan kepalanya.


“Kalian tuli, atau tidak bisa bahasa Indonesia?” tegasku.


Lagi-lagi aku hanya berteriak-teriak sendiri, seperti pedagang obat di kaki lima. Suasana pun hening, dan Achong masih saja berdiri tegak memegang pipinya.


“Ka—kami telah mem—memanggil, iblis Mitchlan,” terdengar suara wanita, dengan gagap memecah keheningan.

__ADS_1


Aku pun langsung menoleh ke sumber suara itu yang berada tepat di arah jam 9.


“Ta—tapi itu ma—masih belum sempurna, ka—karena kami kekurangan tumbal,” lanjut wanita itu.


“Lalu bagaimana cara menghentikannya?” tanyaku.


Wanita berjubah hitam yang masih mengenakan topeng itu pun menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Ti—tidak tahu.”


Aku pun spontan menepuk dahi dengan keras, dan kemudian berkata, “Makanya lain kali, jika ingin bertindak pikirkan dulu apa konsekuensinya!”


“Tolong kami ....” terdengar suara lirih dari laki-laki yang berada di samping wanita gagap itu.


“Setalah kalian bunuh kedua temanku, sekarang dengan mudahnya kalian meminta pertolongan dariku?” tanyaku kesal, “jangan harap!”


“Maafkan kami ...” balasnya lirih.


Aku pun menggelengkan kepala, dan berjalan perlahan mendekati Paula yang sedang tak sadarkan diri. Setelah berada di dekat Paula, aku pun mencoba mengangkatnya dan tiba-tiba Achong pun berlari ke arahku yang sedang membungkukkan badan.


Achong berlari cepat sekali dan ia pun langsung mengarahkan pukulannya ke rahangku, tapi aki telah menyadari itu dan langsung menahan pukulannya dengan kedua tanganku. Aku yang sedang membungkukkan badan pun terpental sekitar 5m dari tempatku berdiri.


“Jangan ... ganggu ... Andini ....” ucap Achong.


Aku pun menghela nafas dan mencoba untuk bangkit, tapi kedua tangan ini pun nyeri rasanya terkena pukulan barusan. Kalau saja itu tepat mengenai rahangku, mungkin aku akan K.O seketika.


“Aku tidak akan mengganggu Andini, asalkan kau pergi dari tubuh itu!” tegasku.


“Ha-ha-ha ... dasar manusia ... bodoh!” balas Achong dengan tawa yang mengerikan.


“Siapa yang kau sebut bodoh ... dasar iblis,” geramku sambil berjalan menghampirinya.


“Ha-ha-ha.” Achong pun hanya tertawa mendengar perkataanku.


Emosiku pun sudah berada di level paling tinggi, darahku sudah penuh mengisi otak ini dengan amarah. Sedangkan emosiku sudah seperti bendungan yang sudah tak bisa lagi menampung banyaknya air. Aku pun berlari ke arah Achong dan ingin meluapkan itu semua kepadanya.


Tiba-tiba Riska pun histeris dan berteriak, “Davie jangan!”


Aku pun menoleh ke arah Riska, dan melihat Riska yang sedang menodongkan pistol ke Arah Achong dan ....


Doooooooorrrr ... Dooooooorrrrr ... Doooooooorrrr ...


Tiga tembakan di lepaskan oleh Riska dan ketiganya tepat mengenai perut dan dada Achong, Achong pun memuntahkan darah berwarna hitam pekat dari mulutnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2