Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Perjalanan gila di tanah Kalimantan


__ADS_3

Aku membuka mata ini perlahan dan melihat langit-langit yang masih asing di pandanganku.


“Akhirnya kamu bangun juga, Dav.”


Aku pun menoleh ke sebelah kiri dan melihat Riska sedang tersenyum sambil menggenggam lenganku.


“Aku di mana, Ris?”


“Kita sedang berada di rumah sakit Dav,” jawab Riska dengan senyuman.


“Rumah sakit?”


Aku pun bingung dan mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi, tapi semakin aku mengingatnya kepala ini terasa sakit sekali.


“Wajar kalau kamu tidak ingat ... kamu itu sudah tak sadarkan diri selama tiga hari,” cetus Riska.


Aku terdiam dan mencerna apa yang barusan di katakan Riska, aku pun mulai lihat ke sekeliling dan mataku tertuju pada perutku yang di lilit perban. Aku pun merabanya perlahan, dan tiba-tiba tangan Riska menyingkap tanganku yang hampir sampai ke perutku.


“Jangan di sentuh dulu, lukamu masih belum sembuh sepenuhnya!” ujar Riska.


Aku pun baru sadar setelah Riska bilang luka, kemudian bayangan Novi dan Satria terlintas begitu saja di pikiranku.


“Novi dan Satria di mana?” tanyaku.


“Mereka sudah tenang di surga, Dav.”


Entah kenapa air mataku mulai menetes, dan perlahan aku pun mengingat semuanya. Aku memegang kepalaku, dan berharap tidak mengingat semuanya. Semua kenangan manis saat kita masih kumpul bersama pun mulai bermunculan di kepalaku dan membuat sesak dada ini.


“Pa—Paula ... di mana Paula?” tanyaku sambil menangis.


“Dia sudah di makamkan kemarin ...” jawab Riska lirih.


Tangisanku pun semakin kencang dan dada ini semakin sesak mendengar Paula sudah di makamkan.


“Setidaknya aku bisa mengantarnya ke tempat singgah terakhirnya,” ucapku sambil memukul-mukul kasur.


“Sssssstttt ... tenang sayang, doamu lebih penting buatnya dari pada tangisanmu itu.”


Aku pun menutup mataku dengan lengan kiriku dan lengan kananku belum terlepas dari genggaman Riska sedari tadi.


“Achong ... apa yang terjadi pada Achong?” tanyaku sambil mengintip dari lengan kiriku.


“Ia sudah tewas di tanganmu, dan komunitas tanpa ekspresi itu mulai kemarin sudah resmi di bubarkan.”

__ADS_1


“Ki—kita berhasil, Ris?” tanyaku sambil membasuh air mataku.


Riska menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepadaku, lalu ia berkata, “Ini semua berkat teman-teman kita juga kan, Dav?”


Tangisanku pun mulai berhenti dan mulai tergantikan oleh senyuman, rasa sesal pun masih tetap ada dan tak akan hilang begitu saja, tapi berkat mereka semua aku bisa sampai sejauh ini.


“Kemenangan ini milik Satria, Novi, Regina, Suna, dan Paula kan, Dav?” tanya Riska.


Aku menganggukkan kepala dan melepaskan genggaman tangan Riska. Aku pun mengelus kepala Riska dan berkata, “Untungnya kamu masih selamat, Ris.”


Riska pun menepis tanganku dan merapikan rambutnya.


“Aku mau menagih janji padamu!” tegas Riska.


“Janji apa?” tanyaku bingung.


“Janji, setelah masalah ini selesai kau mau menikahiku!” tegas Riska yang matanya sudah membesar dan menatapku dengan wajah tegas.


Aku pun menggaruk kepalaku sambil tersenyum.


“Aku kira kamu sudah lupa dengan janjiku yang itu,” jawabku sambil cengengesan.


Riska pun mencubit kedua pipiku tanpa memikirkan kondisiku, wajahnya terlihat sangat kesal kali ini.


Entah kenapa dia semakin manis jika sedang sewot, dan aku baru menyadarinya. Seminggu ini aku hanya melihat ia sedih, ketakutan, dan menangis saja.


“Oh iya Dav, aku lupa ... berita tentang sekte itu sedang ramai di perbincangkan loh,” ucap Riska sambil melepaskan cubitannya.


“Maksudnya?” tanyaku bingung sambil mengusap-usap pipiku.


“Segala macam media meliput berita itu, bahkan TV nasional pun ikut membahas tentang sekte itu,” ucap Riska menjelaskan.


“Bagus dong ... kalau begitu kan masyarakat jadi bisa tahu, jika ada aktivitas yang menyimpang di negara ini!”


“Iya aku tahu ... tapi bukan itu masalahnya!” bentak Riska, “masalahnya pihak TV nasional sudah menunggumu sadar untuk di wawancara.”


“Aku menolak!” tegasku.


“Nah itu yang jadi permasalahannya sekarang ... kamu harus bisa kabur dari incaran wartawan!” balas Riska sambil tertawa.


“Menceritakan itu semua ke publik, sama saja aku menceritakan luka sahabatku,” sahutku.


“Tapi Dav ... ada satu yang tak bisa kamu tolak,” ucap Riska dengan nada serius.

__ADS_1


“Apa itu?”


“Presiden mengundang kita makan siang di istana, sebagai bentuk ucapan terima kasih telah mengungkap kasus ini,” jawab Riska sambil tersenyum.


Aku pun ikut tersenyum dan menganggukkan kepalaku sambil berkata, “Kalau ini aku mau.”


Riska pun tertawa dan sudah lupa dengan janjiku yang di tagihnya barusan, kemudian ia pun menceritakan padaku kejadian setelah aku tumbang.


Ia mengatakan kalau semua anggota sekte itu sudah di tangkap tanpa sisa, kemudian tim medis membawa Paula pergi ke rumah sakit untuk di tangani lebih lanjut. Tapi Naas, Paula hanya mampu bertahan di kondisi komanya selama satu hari.


“Lalu Achong?” tanyaku penasaran.


“Ada yang aneh dengannya, Dav!” ujar Riska, “sebelum ia tewas di tempat, ia sempat meminta tolong dan memanggil-manggil namamu.”


Aku pun berpikir sama dengan yang Riska pikirkan, bahwa yang meminta tolong itu adalah Achong yang sudah tidak terpengaruh oleh iblis itu. Apa daya, aku tak bisa menolongnya karena aku sudah lebih dulu tumbang sebelum ia meminta tolong.


Riska pun lanjut bercerita, dan kali ini ia bercerita padaku kalau jasad Novi dan Satria sudah di kirim ke Jakarta dua hari yang lalu sebelum Paula meninggal. Aku pun merasa tenang karena jasad sahabatku sudah di kembalikan ke keluarga mereka masing-masing.


Tapi penyesalan baru pun datang, karena aku tak bisa hadir ke pemakaman sahabatku itu.


“Aku sudah mengemas barang-barang kita yang berada di home stay dan membawanya ke sini,” ucap Riska.


“Ehmm ... anak pintar,” ledekku.


“Jangan meledekku, sebelum kamu tepati janjimu, Dav!” bentak Riska.


Aku pun tertawa saat melihat Riska yang sedang kesal. Janjiku tak akan pernah berubah untuk menjadikan Riska sebagai istriku, hanya saja tiba-tiba aku senang saat meledeknya dan membuatnya kesal. Wajahnya yang manis itu tambah manis saat ia kesal, dan aku ingin melihat itu terus ketimbang melihatnya menangis lagi.


“Kamu sudah pesan tiket pulang belum?” tanyaku.


Riska menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Belum aku pesan Dav, kan aku tidak tahu kalau kamu akan sadar secepat ini.”


“Baiklah ... nanti setalah sampai Jakarta antar aku untuk bertemu dengan papa dan mamamu,” ucapku.


“Untuk apa, Dav?”


“Untuk meminta izin meminang anaknya,” jawabku sambil tersenyum.


Riska pun mulai tersenyum lebar dan menggenggam tanganku.


Semua telah berakhir, perjalanan gilaku di tanah Kalimantan. Menyisakan bekas luka di perut ini dan juga di hati ini, luka hati karena sahabatku satu persatu telah mati. Rasanya baru kemarin kami kumpul bersama, bercanda tawa dan saling mengejek. Kini hanya menyisakan sepi dan juga memori, memori tentang hal indah saat bersama mereka, sahabatku.


......................

__ADS_1


__ADS_2