
Satu masalah belum selesai malah tambah masalah lagi, Novi yang baru saja ambruk membuat kami panik. Sonya pun menghampiri Novi dan ia langsung mengecek keadaannya, Sonya berkata, “Sekujur badanya dingin, seperti orang mati!”
Riska pun menghampiri Novi dan ia menempelkan tangannya ke dahi Novi, Riska pun menggelengkan kepalanya. Ia mencoba menempelkan tangannya ke leher Novi kali ini, dan akhirnya ia menghela nafas.
“Benar yang di katakan Sonya,” ucap Riska.
“Tapi ia masih bernafas dan denyut nadinya Normal,” sambung Sonya.
Kemudian tubuh Novi yang awalnya tergeletak di tanah, tiba-tiba terduduk begitu saja tanpa aba-aba. Matanya masih tertutup dan ia menunjuk ke arahku.
“Ka—kamu ... nyawamu dalam bahaya!” ucap Novi dengan suara berat.
“Siapa kamu?” tanyaku.
“Kamu tak perlu tahu siapa aku ... yang harus kamu tahu adalah, kamu akan segera mati.”
“Ucapanmu tak membuatku takut ... jika aku harus mati, aku rela!” geramku, “asalkan sekte itu sudah tidak ada lagi.”
Novi tertawa mendengarku mengatakan hal itu, dan aku tahu itu pasti bukan Novi. Kemudian Novi membuka matanya dan ia menggelengkan kepalanya.
Sonya menempelkan tangannya ke dahi Novi, dan ia merasa lega karena suhu badannya sudah kembali normal. Riska pun langsung memeluk Novi sambil berkata, “Kamu buatku takut, Nov.”
Novi membalas pelukan Riska dan mengelus punggung Riska sambil berkata, “Maaf ya Ris.”
Suara ledakan ke tiga terdengar, dan kali ini suaranya terdengar seperti jauh sekali. Aku pun mulai mengkhawatirkan Satria yang seorang diri memancing sekte itu.
“Itu tanda yang terakhir Dav,” ucap Paula.
“Setelah ini kita harus apa?” tanyaku.
“Kamu lihat bangunan yang ada di arah jam 3?” jawab Paula sambil menunjuk ke bangunan itu, “harusnya kita semua ke sana ... tapi kondisi Achong tidak memungkinkan kita untuk ke sana!”
“Gue gak apa-apa,” sahut Achong yang sudah siuman.
Kami pun lega ternyata Achong tidak apa-apa, Paula pun mengubah posisi Achong menjadi duduk. Achong masih sempoyongan sambil memegang kepalanya saat di ubah posisinya menjadi duduk oleh Paula.
“Lo jangan buat kami khawatir, Chong!” ujarku.
“Maaf Dav, gue terkena perangkap mereka!” jawab Achong.
“Apakah kamu bisa berjalan, Chong?” tanya Paula.
Achong menganggukkan kepalanya dan ia mencoba berdiri, Paula pun membantunya untuk berdiri. Paula pun bertanya pada Achong, “Yakin bisa berjalan?”
“Tentu saja bisa,” jawab Achong.
“Kalau gitu ayo kita bergerak!” ucap Paula.
Kami pun menuruti Paula dan menuju bangunan yang jika di perhatikan dari luar mirip dengan bangunan tua peninggalan Belanda.
Kami pun berjalan perlahan dengan langkah yang sangat hati-hati. Paula berada di paling depan dan aku paling belakang. Bukan karena takut, tapi karena aku merasa bisa melindungi mereka semua dari belakang.
__ADS_1
Saat kami berada di depan pintu bangunan itu, Paula langsung membukanya dengan perlahan dan langsung masuk ke dalam.
Awalnya aku kagum dengan desain dan juga ornamen-ornamen bangunan peninggalan belanda ini. Tapi semakin dalam kami melangkah, ruangan pun menjadi gelap karena tidak ada pencahayaan.
Bulu kuduk mulai berdiri begitu saja, udara dingin di dalam ruangan juga membuat suasana menjadi tambah mencekam. Paula masih tetap melangkah memimpin kami, tanpa pedulikan sekitar.
“Kau cari apa, Paula?” tanyaku.
“Pemimpin sekte itu.”
“Kamu yakin, Paula?”
“Tenang saja dia sudah tua,” jawab Paula.
Paula pun menuju ke suatu ruangan yang pintunya lebar sekali dan ada ukiran-ukiran khas Eropa abad pertengahan. Lalu Paula berhenti di depan pintu itu dan menoleh ke belakang, dan ia berkata “Di mana Achong?”
Mendengar perkataan Paula barusan, aku pun menoleh ke belakang dan melihat tidak ada Achong di belakang kami. Kami pun mulai panik.
“Ada yang lihat dia pergi ke mana?” tanya Paula.
Kami semua menggelengkan kepala dan tak menyadari kalau Achonk tiba-tiba hilang begitu saja. Paula mengangkat pundaknya dan ia pun langsung mendorong pintu yang penuh ukiran itu.
Saat pintu itu terbuka, ada karpet merah ukuran 1 meter, membentang panjang seperti menunjukkan jalan. Kami berjalan di atas karpet itu mengikuti Paula yang sudah bersiap dengan Pistolnya.
Saat kami sampai di ujung karpet itu, kami melihat kursi berwarna emas mewah yang sudah di duduki seseorang. Aku pun menyorotnya dengan flash HPku.
Kami pun terkejut ada pria tua memakai jubah hitam dan tertusuk tombak tepat di dadanya. Darahnya masih basah, itu menandakan jika ia baru saja di bunuh oleh seseorang. Riska dan Sonya teriak histeris melihat orang tua itu, ia takut karena orang setua itu di bunuh dengan sadis.
Aku pun menurunkan flashku ke bawah dan aku melihat ada jejak kaki yang tertinggal karena lumpur, dan jejak kaki itu menuju ke suatu lemari besar yang ada di sudut ruangan yang jaraknya tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang.
Paula pun mengikuti jejak itu dan menghampiri lemari besar itu, aku terus menyorot ke arah lemari itu untuk membantu penerangan. Paula seperti menarik nafasnya dalam-dalam dan setelah di hembuskannya, ia pun langsung menarik lemari itu.
Betapa terkejutnya Paula setelah melihat isi dari lemari itu.
Aku pun menghampirinya untuk memastikan sendiri apa isi dari lemari itu. Saat aku sampai di depan lemari, aku pun terkejut sampai menganga dan HPku terjatuh karena saking terkejutnya.
“Eng—enggak mungkin!” ucapku.
Isi dari lemari itu hanya sebuah bingkai foto saja. Bingkai foto yang terdapat foto Achong dan orang tua yang terbunuh itu sedang bersalaman sambil memegang kepala orang.
“Ja—jadi ucapanmu tadi sore benar, kalau Achong adalah penghianatnya,” ucapku pada Paula.
Paula hanya menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba terdengar suara teriakan Novi, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”
“Aaaaaaaaaaaaahhhhkkkkkkk ... lepaskan!” di susul dengan suara teriakan Riska.
Aku pun memungut HPku dan menyorot ke arah mereka, dan aku melihat seorang pria dengan jubah hitam sudah menangkap Novi sambil menodongkan pisau ke leher Novi.
Aku dan Paula lari ke arah mereka, dan tiba-tiba aku melihat Riska mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke orang itu, Sonya pun ikut mengeluarkan pistolnya.
“Kalian bergerak satu langkah saja, akan aku tusuk leher wanita ini!” ucap orang berjubah hitam itu.
__ADS_1
Tangan Riska pun terlihat gemetaran dan Sonya tak berani menodongkan pistolnya. Orang itu pun mundur perlahan membawa Novi, dan pisau itu masih tertempel di leher Novi. Aku dan Pula pun sampai di tempat Riska dan Sonya.
“Diam di situ! Kalian bergerak satu langkah saja, wanita ini akan kehilangan kepalanya!” ancam orang itu.
Sementara aku pun menurutinya sambil berpikir, dan tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah belakangku.
Doooooooorrrrr ....
Aku pun langsung menoleh dan melihat Paula yang sudah menodongkan pistolnya ke arah orang itu. Pistol Paula masih mengeluarkan asap, dan ia tersenyum. Lalu aku menoleh ke arah orang yang menyekap Novi, dan orang yang mengenakan jubah hitam itu terkena tembakan tepat di bahunya dan ia pun jatuh sambil memegang bahunya.
Spontan aku berlari ke arah Novi yang sedang ketakutan sambil menutup telinganya, tapi orang itu masih sanggup bergerak dan ia langsung mengambil pisau yang terjatuh di lantai.
Ia pun merangkak ke arah Novi dan ia pun berdiri tepat di belakang Novi, kali ini Novi di jadikan tameng olehnya dan ia pun langsung menusuk Novi tepat di punggungnya.
“Aaaaarrrrggghhhh!” teriak Novi kesakitan.
Aku terlambat datang menolongnya, tapi setelah tertusuk Novi masih sanggup berdiri dengan tegak. Setelah teriakannya tadi, mata Novi menjadi putih semua dan ia menoleh ke arah orang yang menusuknya. Saat aku ingin menarik Novi, tiba-tiba Novi merentangkan tangannya ke arahku dan aku merasakan seperti ada angin kencang yang menabrak dadaku hingga aku terpental.
Aku terguling lumayan jauh, dan aku masih berusaha mengangkat kepalaku untuk memperhatikan Novi. Novi pun tanpa aba-aba langsung mencekik orang itu dan mengangkatnya. Sungguh bukan hal yang bisa di lakukan oleh seorang wanita.
Kemudian Novi membanting orang itu ke lantai sampai suara jatuhnya keras sekali terdengar. Kemudian tudung dari pria itu terbuka dan Novi yang sedang tak sadar itu membuka topeng orang itu.
Betapa terkejutnya kami saat melihat orang yang bertopeng itu adalah Achong.
Novi pun tersadar dan bola matanya sudah kembali normal saat melihat Achong.
“Kenapa lo lakuin ini semua!” teriak Novi.
Achong hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan Novi.
Novi pun mulai kesakitan dan ia pun berlutut menahan sakitnya, Paula dan Sonya menghampiri Novi. Kemudian Riska membantuku untuk berdiri.
Achong masih terkapar di lantai, mungkin tulang punggungnya patah karena di banting oleh Novi barusan. Paula dan Sonya pun sudah ada di dekat Novi. Paula langsung menginjak dada Achong dan menodongkan pistolnya ke arah Achong, sedangkan Sonya memeriksa luka Novi.
“Gawat ... Ini harus di bawa ke rumah sakit, untuk penanganan lebih lanjut sebelum ia kehabisan darah,” ucap Sonya.
“Tunggu Satria, dia yang akan mengantar Novi,” sahut Paula.
“Satria tidak akan datang, dia sudah tertangkap dan sekarang mungkin sedang di siksa!” ujar Achong.
“Jangan meremehkan Satria!” balas Paula.
Aku pun menghampiri Novi yang sedang di periksa, kemudian Riska pun berkata, “Biar aku aja yang bawa Novi ke rumah sakit.”
“TIDAK AKAN KU BIARKAN!” Teriak Achong.
Setelah Achong berteriak, tiba-tiba gerombolan orang-orang bertopeng itu masuk dan mengepung kami. Paula yang melihat itu pun langsung membangunkan Achong dan menodongkan pistol ke kepala Achong, dan menyuruh gerombolan itu agar tidak mendekat.
Gerombolan yang mengepung kami pun sudah membentuk lingkaran, dan tiba-tiba di arah jam 12 tepatnya dekat pintu, barisan orang-orang bertopeng itu terbuka. Aku pun terkejut melihat Satria di seret-seret dengan luka di sekujur tabunya. Kemudian orang yang menyeret Satria menggeletakkan tubuh Satria begitu saja di tengah-tengah.
“Gue gak akan pernah maafin lo, Chong!”
__ADS_1
......................