
Aku sudah siap di posisiku, berbaring membelakangi pintu, Satria duduk menemaniku sambil fokus dengan laptopnya. Kami berdua menunggu sampai mata-mata itu datang kesini.
10 menit yang lalu, Puala sudah di pindahkan di kamar yang sudah di siapkan oleh Satria, dan dijaga empat orang intel.
"Jantung ini berdebar entah kenapa, apa mungkin aku ketakutan?"
Kami berdua hanya diam di posisi masing-masing sambil berpura-pura.
"Sat... Bete nih!" Ucapku berbisik.
Satria hanya melirik ke arahku dan mengangkat alisnya.
Entah kenapa kasur tipis ini terasa nyaman dan membuat mataku berat, tapi aku tidak boleh tertidur dan tetap siaga.
"Dav... Woi Dav, bangun!" Ujar Satria.
Aku membuka mata dan melihat Satria yang memasang wajah panik.
"Sorry, ketiduran gue," Ucapku sambil tersenyum.
"Ada orang mencurigakan Dav," Sahut Satria.
"Benarkah?" Tanyaku.
"Iya, sudah empat kali aku lihat dia mundar-mandir depan kamar ini," Jawab Satria.
"Terus gimana?" Tanyaku.
"Kita mulai rencananya!" Ujar Satria sambil berdiri, dan perlahan dia berjalan meninggalkan ku.
"Sat... Lo mau kemana!" Teriak ku.
"Jalanin rencana kita," Sahut Satria.
Satria pun meninggalkan ruangan, dan posisi ku masih sama terbaring membelakangi pintu. Di balik selimut sudah ku siapkan belati perak, untuk berjaga-jaga.
Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara detik jam dinding yang sangat mengganggu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka perlahan di ikuti suara langkah yang mengendap-endap. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang, dan entah kenapa aku jadi ragu menoleh ke belakang.
Suara langkah yang mengendap-endap itu pun berhenti, seolah memberiku kesempatan untuk mengambil nafas.
Sepertinya dia bukan sengaja berhenti, karena baru saja aku mendengar suara kamera ponsel yang sedang mengambil gambar. Tak lama kemudian langkah itu mulai terdengar lagi dan kali ini jaraknya sudah cukup dekat denganku.
Aku langsung menoleh dan berkata, "Kena kau!"
Ternyata yang ku lihat barusan pria plontos yang pernah ku temui, ternyata benar dia adalah mata-mata.
Saat aku menoleh dan berkata, "kena kau!" Anehnya dia tak bergerak 1cm pun. Justru aku yang menghentikan langkahku untuk mendekatinya, saat dia menodongkan pistol ke arahku.
Aku menjatuhkan belati itu, dan mengankat kedua tangan ku.
__ADS_1
"Kena kau!" Ucap oria botak itu.
Astaga, Satria kemana? Nyawaku terancam, dan aku hanya bisa mengangkat tanganku saja.
"Dimana Paula?" Tanya pria botak itu.
"Di suatu tempat yang tak akan pernah kau temukan!" Jawabku sambil tersenyum.
"Cepat katakan, atau ku lubangi kepalamu!" Ucap pria botak itu.
Keringatku sudah sebesar biji jagangun, dan aku hanya bisa menelan ludah. Dengkulku sudah terasa lemas, dan Satria belum juga datang. Entah kenapa aku jadi memikirkan saat pertama kali aku bertemu dengan Riska di bandara, hari itu dia tampak cantik meski sudah berjam-jam di pesawat.
Astaga, kenapa aku membayangkan Riska saat nyawaku terancam.
"Cepat katakan!" Ucap pria itu
Aku masih saja terdiam dan juga masih berharap Satria datang.
"1... 2..." Pria itu mulai menghitung.
"Ku hitung sampai tiga, kalau kau masih saja diam, aku tak segan-segan membolongi kepalamu!" Gerta pria botak itu.
"Bbbrrrruuuaaakkkk..."
Dua orang intel masuk sambil menodongkan senjatanya, pria botak itu terkejut dan mengangkat tangannya, dia berjalan mundur perlahan, menghampiriku.
"Jangan bergerak!" Teriak salah satu Polisi itu.
"Beri aku jalan, atau ku tembak orang ini!" Ujar si pria botak.
Para Polisi pun membuka jalan untuknya, dan pistol masih saja menempel di kepalaku. Pria botak itu berjalan perlahan dan waspada, dia menoleh ke kiri dan ke kanan agar melihat setiap pergerakan polisi yang masih menodongkan pistol ke arahnya.
Pria botak itu sudah hamlir sampai di bibir pintu, dan masih dengan sikap siaganya yang menoleh ke kanan dan ke kiri.
Tiba-tiba Satria muncul dan menendang pria botak itu sampai terjatuh, saat si botak terjatuh para Polisi itu menindihnya dan memborgol kedua tangannya.
"Halo botak, sehat-sehat ya di penjara!" Ledek Satria.
Aku menghampiri Satria dan memukul dadanya.
"Lo mao bikin gue mati?" Ucapku.
"Cemen banget, gitu aja panik!" Ujar Satria sambil tertawa.
"Gue gak mau lagi jadi umpan, apa lagi lo yang nyuruh!" Sahutku.
Satria tertawa, dan para Polisi membangunkan pria botak itu dan membawanya keluar.
"Kalian semua akan mati!" Ucap pria botak itu saat berpapasan dengan ku dan Satria.
Kami berdua pun menertawai si botak yang tangannya terborgol.
__ADS_1
"Paula gimana?" Tanyaku.
"Biar dia disana, jauh lebih aman," Jawab Satria, "feeling gue, mata-matanya bukan cuma satu!"
Aku setuju kali ini dengan Satria, dan kami berdua pun mengikuti Polisi itu sampai ke mobil patroli, di perjalanan semua pengunjung rumah sakit menaruh perhatian kepada si botak itu, pandangan mereka tak pernah lepas dan tertuju pada tangannya yang terborgol.
Kami pun sudah berada di luar rumah sakit, kemudian si botak menoleh ke arah kami dan tersenyum.
Aku dan Satri pun mengerutkan dahi, dan memandangnya aneh.
"Dooooorrrrr...."
Terdengar suara tembakan yang membuat ku terkejut dan menutup telinga sampai membalikan badanku. Suaranya jelas sekali dan sepertinya si penembak itu tidak jauh dari sini.
Saat aku memutar kembali badanku, aku melihat si botak sudah tersungkur dan berlumuran darah di dahinya. Satria berlari ke arah Polisi itu dan menarik Polisi itu sampai kedua Polisi itu jatuh duduk.
"Dav, tiarap!" Teriak Satria.
Aku tak mendengarkan Satria, malah berlari ke arah mereka dan menunduk di samping nya.
"Target dia hanya si botak!" Ujarku.
"Jangan pernah berfikiran seperti itu, saat terjadi penembakan," Ucap Satria, "bisa saja itu peluru nyasar."
Semua orang pun berlarian keluar untuk melihat apa yang terjadi, kemudian salah satu polisi itu berdiri dan teriak, "Semuanya kembali ke dalam!"
Mereka semua menuruti perintah Polisi itu dan lari berhamburan masuk ke dalam.
"Dooooorrrrr... Dooooorrrrrr..."
Dua tembakan terlepas, entah dari mana.
"Bruuuuugkkkk...."
Polisi itu tumbang dengan 2 peluru bersarang di dadanya.
Salah satu Polisi pun berjalan menunduk dan menghampiri Polisi yang terkena tembakan itu.
"Tolooonggg!!! Dia masih bernafas..." Teriak Polisi itu.
Tanpa fikir panjang aku membuka pintu mobil polisi yang sedari tadi kami buat berlindung, lalu aku masuk ke dalam dan memegang kemudi.
"Cepat angkat dia!" Ujarku.
Aku menjalankan mobil dan mendekat ke arah mereka, Satria ikut membantu membopong Polisi itu dan merebahkan nya di kursi belakang. Mereka berdua sudah naik, dan aku langsung menjalankan mobil dan menuju pintu masuk UGD.
Saat sampai di sana mereka berdua langsung menurunkan pria itu, dan Polisi yang tidak terluka mengangkat temannya dan membawanya berlari masuk ke dalam. Spontan kami pun mengejarnya, dan ku lihat dia sudah merebahkan temannya di kasur kosong.
Para perawat berlarian menghampiri mereka, dan salah satu dokter menanganinya dan memeriksanya. Kemudian menyuruh para perawat untuk mendorong nya ke ruang oprasi.
"Mereka sudah berani menyerang kami dan polisi di depan umum. Tindakannya setara dengan para penjahat dan pasti pemerintah tidak akan diam dengan kejadian ini!"
__ADS_1