
Aku dan Paula tiba di pasar tradisional dan langsung bergegas menuju TKP.
Saat perjalanan tadi tak banyak obrolan di antara kita berdua, Paula terlalu fokus dan wajah nya terlihat serius, jadi aku tak ingin mengganggu nya.
Di depan pasar memang banyak sekali mobil polisi terparkir dan juga ada mobil ambulan dari tim forensik.
Langkah Paula begitu cepat menuntun ku ke TKP, sosok cantik dan lembut nya berubah ketika dia bertugas menjadi Polisi. Aura dan wibawa nya terasa sekali, padahal dia tidak mengenakan seragam Polisi nya.
Kami pun akhirnya tiba di TKP, sudah banyak sekali Polisi di sana. Aku melihat ke sekeliling tak ada warga yang berkerumun untuk melihat di TKP, tumben sekali. Kalau di Jakarta, kejadian seperti ini pasti sudah ramai di kerubungi oleh warga yang penasaran dan ingin menjadi wartawan dadakan, dengan modal kamera ponsel mereka.
Aku mengikuti Paula dari belakang berusaha mengimbangi langkah nya, kemudian terlihat dia melewati garis polisi, dan aku pun mengikuti nya masuk ke garis polisi itu.
"Stop, selain petugas dilarang masuk!" Ujar salah satu Polisi menahan ku.
Paula yang mendengar suara itu pun menoleh dan berkata, "Biarkan dia masuk, biar aku yang tanggung jawab."
Kemudian Polisi itu melepaskan ku, dan membiarkan ku masuk. Aku pun berlari menyusul Paula yang sudah berjalan mendekati mayat itu. Aku melihat Polisi menghampiri nya dan menunjukan sebuah kertas dengan papan jalan, lalu Paula mengambil nya kemudian membaca nya sambil menganggukan kepala nya.
Lalu ada Polwan menghampiri nya dan memberikan sarung tangan karet, Paula mengembalikan kertas itu dan dia memakai sarung tangan nya, kemudia Paula pun menghampiri ku sambil memakai sarung tangan karet itu.
"Berikan dia sarung tangan juga!" Ujar Paula pada Polwan itu.
Polwan itu menghampiri ku, kemudian memberikan sarung tangan karet kepada ku.
"Tolong bantu aku, temukan petunjuk ya Dav," Ucap Paula.
Aku pun menganggukan kepala sambil memakai sarung tangan karet.
"Paula, tidak ada wartawan yang datang?" Tanya ku.
"Mungkin mereka sedang di jalan, memang nya kenapa?" Jawab Paula.
"Aneh saja, kalau di Jakarta pasti sudah banyak wartawan dan warga yang mengelilingi TKP," Ucap ku.
Paula hanya tersenyum dan kemudian menghampiri mayat itu, aku pun mengikuti nya dari belakang. Aku terkejut saat aku tiba di dekat 9 mayat tanpa kepala itu, posisi nya menurut ku sangat aneh sekali, mayat itu tergeletak di tanah dan di susun seperti piramid. Urutan nya 4 mayat di bawah, selanjutnya 3 mayat di atas nya, lalu 2 mayat, dan terakhir 1 mayat di bagian atas.
"Menurut mu posisi mayat itu di sengaja atau tidak?" Tanya ku pada Paula.
Pauala menggelengkan kepala, kemudian dia mendekati mayat itu dan jongkok tepat di sebelah mayat yang paling atas.
__ADS_1
Aku pun melihat ke sekeliling, dan ternyata mayat itu tepat di sebelah barat bangunan tua. Aku pun mulai melihat ke bawah dan mencari petunjuk, aku menyisir TKP itu di bantu pencahayaan dengan flash handphone ku, aku berjala sampai radius 100 meter dari tubuh mayat itu, dan "binggo" aku menemukan sesuatu di semak-semak.
"Paulaaa... Sini!" Panggil ku.
Paula pun datang mengahmpiri ku dengan langkah yang cepat.
"Ada apa?" Tanya Paula yang sudah ada di dekat ku.
"Kita dapat ikan besar kali ini!" Jawab ku sambil tersenyum.
Aku menemukan pisau lipat berlumuran darah tergeletak di semak-semak.
"Hebat Dav, ini benar-benar tangakapan yang besar!" Ujar Paula sambil tersenyum.
"Pak Teo, tolong bawakan kantong plastik klip bening, untuk barang bukti!" Perintah Paula.
Mata ku masih belum bisa diam, aku masih mencari petunjuk lain di sekitaran pisau itu di temukan. Aku melihat banyak sekali jejak sepatu mengarah ke jalan, dan hilang begitu saja. Aku menghampiri ujung dari jejak kaki itu, Paula juga berjalan mengikuti ku dari belakang.
"Paula, apa kamu memikirkan nya juga?" Tanya ku.
"Iya, ada yang aneh Dav!" Jawab Paula.
"Apa kamu tidak memperhatikan nya? Jejak ini seperti di buat-buat, terlihat dari jarak satu langkah ke langkah lain nya," Sahut Paula.
"Aku juga menyadari itu, tapi apa maksud nya ini?" Tanya ku.
Paula mengangkat kedua bahu nya, dan kemudian dia jongkok, lalu memotret jejak kaki itu dengan kamera ponsel nya, sedangkan aku masih memikirkan apa maksud nya ini, semua terlihat janggal dan tak masuk akal.
"Gawat... Jelas-jelas ini adalah pengalihan!" Ujar ku.
Aku dan Paula pun berlari kembali ke tempat mayat itu tergeletak.
"Semuanya, menjauh dari mayat itu!" Teriak Paula sambil berlari.
Semua Polisi pun melihat ke arah Paula, dengan ekspresi bingung.
Tiba-tiba dari balik bayangan gedung tua itu muncul gerombolan orang-orang dengan jubah hitam dan semua nya memegang senjata.
"Lari... Semua nya lari!" Teriak Paula sambil berlari.
__ADS_1
Beberapa Polisi langsung berlari, dan Polisi yang memegang pistol pun menodong ke arah gerombolan itu, sambil berteriak "diam jangan bergerak!"
Gerombolan yang kira-kira ada 30 orang lebih itu pun diam mendengar perintah polisi yang menodong kan pistol ke arah nya. Tapi percuma, dari sisi yang lain, muncul gerombolan berjubah hitam dan lebih banyak lagi jumlah nya dengan senjata tajam lengkap.
Polisi itu sudah terjepit, saat ini yang bisa di lakukan nya hanya kabur, tapi ke 6 Polisi bersenjata itu tetap menodongkan pistol ke arah gerombolan itu.
"Lari... Keselamatan kalian lebih penting!" Teriak Paula yang tangan nya sudah ku genggam sedari tadi, karena berusaha menyusul ke tempat 6 Polisi itu.
"Kita harus pergi!" Ucap ku.
"Gak bisa Dav, anak buah ku terjebak di sana!" Ujar Paula.
"Maaf, tapi mereka tidak akan selamat!" Sahut ku lirih.
"Lari... Kalian dengar tidak?" Teriak Paula.
"Lari... Dasar bodoh, apa yang kalian fikirkan!" Sambung Paula.
"Lari... Lari... Ku mohon Lariiii..." Ucap Paula sambil menangis.
Tiba-tiba dari atap muncul 4 orang dengan jubah hitam dan mengenakan topeng tanpa ekspresi, mereka semua membawa panah, dan sudah siap dengan posisi nya yang menargetkan ke arah 6 Polisi itu.
"Doooorrrr... Doooorrrr..."
Suara tembakan peringatan pun terdengar.
"Crrrreeeeepppptttt..."
Polisi yang memberikan tembakan peringatan itu pun terkena panah tepat di dada nya, dan tumbang begitu saja.
Ke lima Polisi itu pun langsung menembak ke arah atap, dan tak mengenai salah satu dari pemanah itu, karena mereka menunduk, tapi gerombolan yang sudah siap dengan senjata itu pun menghampiri ke 5 Polisi itu dengan cepat.
Seketika Polisi itu tertutup oleh gerombolan itu dan teriakan minta tolong pun terdengar sampai ke telinga ku.
Aku dan Paula, hanya bisa menyaksikan para Polisi itu di bantai dengan sadis oleh kelompok itu, dadaku terasa sakit sekali melihat itu, dan air mata ku hampir saja jatuh. Aku menyesal karena tidak bisa melakukan apa-apa, dan aku juga merasa bersalah karena terlambat menyadari bahwa itu adalah perangkap.
"Selamat jalan pahlawan berseragam yang pemberani, akan ku teruskan perjuangan mu setelah ini."
......................
__ADS_1