
Sonya terlihat gelisah ketika ia melihat ke layar ponselnya, kami pun berusaha untuk tidak curiga kepadanya.
“Siapa yang menghubungimu?” tanya Paula.
“I—ini ... kepala perawat rumah sakit,” jawab Sonya gugup, sambil menujukan ke kami layar ponselnya.
Ternyata benar, kepala perawat yang menghubunginya. Tapi kenapa ia gelisah seperti itu, aku pun menyuruhnya segera menjawabnya dan mengaktifkan mode loud speaker. Sonya pun menuruti kami, dan menjawabnya.
“Halo Bu Bertha,” ucap Sonya setelah mengangkat panggilannya.
“Kau di mana Sonya?” tanya Bu Bertha.
“Aku sedang mengunjungi rumah kerabatku, Bu.” Sonya pun menjawab dan melirik ke arah kami.
“Gawat ... ini gawat!” ujar Bu Bertha.
“Gawat kenapa, Bu?” tanya Sonya.
“Orang-orang dengan jubah hitam sedang mencarimu, dan ia juga berkata ingin membunuhmu,” ucap Bu Bertha dengan nada gemetar.
Kami pun terkejut mendengar ucapan Bu Bertha, aku pun melirik ke arah Satria dan ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Paula juga terlihat serius mendengar percakapan itu, sambil memegang dagunya.
“Berapa banyak orang yang mencariku?” tanya Sonya.
“Tiga orang ... salah satu dari mereka menitipkan salam untukmu, dia bilang titip salam untuk Sonya dari Henri.”
Sonya pun terkejut, dan ia terlihat sangat ketakutan. Tangannya yang memegang ponsel pun bergetar hebat, dan mulutnya terbuka lebar.
“Halo ... Halo ... Sonya apa kau masih di sana?” tanya Bu Bertha.
Sonya tak menjawab, dan masih terdiam kaku.
“Halo Sonya, apa kau baik-baik saj—“ teleponnya pun akhirnya terputus, bersamaan dengan itu Sonya meneteskan air matanya.
“Lo kenapa menangis?” tanya Satria.
Sonya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Henri ... Henri itu adikku!”
Kami pun terkejut mendengar pernyataan Sonya. Lalu melihat ekspresinya Sonya, membuat kami bertanya-tanya kenapa dengan adiknya. Aku pun beranikan diri dan bertanya, “Adikmu memangnya kenapa?”
“Aku tidak menyangka kalau dia gabung ke sekte itu,” jawab Sonya.
“Wajarlah jika ia gabung dan kamu baru tahu itu sekarang, secara sekte itu baru mulai aktif 2 bulan ini,” sahut Satria.
“Itu dia masalahnya ... 2 bulan lalu dia masuk penjara karena membunuh seseorang,” ucap Sonya.
“Mungkin sekte itu menebusnya, dengan gantinya ia di suruh untuk bergabung ke sekte itu,” sahut Satria.
“Masuk akal sih,” sahut Paula, “dan sepertinya aku pernah mendengar nama Henri.”
“Nama lengkapnya I Gusti Henri Putra,” ucap Sonya.
__ADS_1
“Kamu orang Bali?” Tanya Novi.
Sonya menganggukkan kepalanya dan memberi tahu nama lengkapnya, “Kalau nama lengkapku I Made Sonya Putri.”
“Aku baru ingat sekarang kasusnya, dia yang membunuh dua pemuda dengan menusukkan gunting ke mata korbannya, kan?” tanya Paula.
“Iya betul sekali,” jawab Sonya.
“Kejam sekali ...” ucap Riska dengan nada pelan.
Pantas saja jika sekte itu merekrut Henri, ia bisa melakukan hal gila seperti itu. Aku sendiri heran dan bertanya-tanya dalam hati “apakah para pembunuh itu tidak memiliki perasaan sedikit pun?”
“Guy’s waktu kita tinggal dua hari lagi sebelum hari minggu, dan minggu malam kita sudah harus balik ke Jakarta,” ucap Achong, “apakah kalian masih yakin bisa menyelesaikan ini?”
Kami pun terdiam, dan Satria menggelengkan kepalanya. Aku melihat ke arah yang lain juga sama, mereka menunjukkan wajah-wajah pesimis.
“Aku punya rencana super gila, dan aku yakin bisa menghentikan mereka dalam dua hari ini!” cetus Paula.
“Rencana apa?” tanyaku.
“Rahasia, aku harus berbicara kepada Satria untuk menyempurnakan rencana ini,” jawab Paula.
“Sepertinya kita punya tambahan otak, guy’s.” Senyum Satria mengiringi ucapannya dan membuat kami jadi semangat lagi.
Suster Sonya pun mengelap air matanya dan meminta perlindungan dengan kami, karena ia ketakutan dengan adiknya sendiri.
Riska pun menyandarkan kepalanya ke bahuku dan ia memegang dadaku, kemudian ia bertanya, “Jantungmu tidak berdetak cepat, Dav?”
Riska melirik ke arahku dan aku pun menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak ada yang aku takuti, saat bersama teman-temanku.”
Riska tersenyum dan menggenggam tanganku erat, aku pun mengelus kepalanya dan mulai terbiasa dengan rambut halusnya.
“Setelah balik ke Jakarta, kau jadi melamarku kan, Dav?” tanya Riska.
“Tentu saja jadi ... saat melamarmu nanti, aku juga ingin menetapkan tanggal pernikahan kita,” jawabku.
Riska pun tersenyum dan menutup matanya, aku pun mencubit pipinya sambil berkata, “Kalau mau tidur di kamar sana!”
“Aku tidak tidur,” jawab Riska, “aku sedang membayangkan diriku memakai gaun putih di atas pelaminan.”
“Apakah aku boleh ikut bergabung, membayangkannya?” tanyaku.
Riska menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Pejamkan matamu dan cepat gabung, acara pernikahannya sudah mau di mulai tapi mempelai prianya belum hadir.”
Aku pun tertawa dan mencubit pipi Riska, Riska membuka matanya dan tersenyum. Senyuman manisnya itu membuatku meleleh dan tak berdaya. Jika ia tersenyum seperti itu, dan menyuruhku mati, maka pasti akan aku turuti.
Kemudian Satria dan Paula pun pergi meninggalkan home stay, ia mengatakan ingin ke suatu tempat untuk membahas rencananya. Kemudian Novi pun mengajak Sonya untuk pergi ke kamar untuk istirahat, Sonya pun menyetujuinya dan mereka pergi ke kamar. Riska pun bangun dan menyusul Novi dan Sonya.
Setelah Riska pergi, aku pun merebahkan diri di atas sofa ini. Kemudian Achong yang sudah duduk di hadapanku sedari tadi, sibuk memainkan ponselnya. Aku tak pedulikannya dan aku hanya ingin meregangkan otot-ototku saja.
Berharap Satria dan Paula punya rencana bagus untuk sisa 2 hari ini, mataku pun mulai mengantuk dan tak lama kemudian aku pun masuk ke alam bawah sadarku.
__ADS_1
...****************...
“Dav bangun Dav ...”
Aku mendengar suara Riska tapi pelan sekali.
Aku berusaha membuka kedua mata ini dan saat aku buka, tidak ada siapa-siapa di dekatku. Aku pun bangun dari sofa dan menuju kamar para gadis. Belum sampai sana aku pun terpeleset dan jatuh ke lantai, aku seperti menginjak lantai yang basah.
Aku pun berusaha bangun, tapi terjatuh lagi. Aku pun heran, air apa ini sebenarnya. Aku pun mengangkat tangan kananku, dan melihat telapak tanganku.
“Darah?” aku pun terkejut dan langsung melihat ke sekitar.
Lantai sudah di basahi oleh darah di mana-mana, bau anyir tercium di ruangan ini. Aku pun berpegangan pada tembok, dan berusaha untuk bangun.
Kemudian aku berjalan perlahan, dan saat aku sampai di kamar para gadis, aku melihat Sonya tergeletak tak bernyawa dengan kondisi leher yang hampir putus dan di matanya masih tertancap pisau dapur.
Aku pun menutup mulutku, dan menggigit lidahku. Berusaha untuk tidak muntah melihat jasad Sonya, aku berusaha tetap tenang dan kepalaku sudah mulai berputar. Rasa mual sudah sampai di tenggorokanku, dan aku masih mencoba menahannya.
Saat aku melangkahkan mayat Sonya, aku menuju ke toilet yang ada di pojok kamar ini. Belum sampai ke toilet, baru melewati kasur, aku melihat Novi tergeletak dengan perut di penuhi darah. Seperti habis di tikam beberapa kali oleh seseorang, dan matanya masih melotot.
Rasa mualku sudah berkurang dan kini air mataku sudah menetes, aku menangis tanpa suara. Aku berteriak tapi tak keluar suara, aku hanya menganga dan mengucurkan air mata di sebelah Novi sambil mengusap wajahnya, agar matanya bisa tertutup.
Setelah selesai mengusap wajahnya, aku berjalan perlahan ke arah toilet. Perasaanku mulai tidak enak, dengkul ini gemetar. Langkah kakiku semakin berat, seolah menahan untuk pergi ke sana. Aku pun sampai di depan pintu toilet yang sudah terbuka, lalu aku beranikan diri untuk masuk ke dalam.
“Riskaaaaaaa!” spontan aku pun teriak.
Riska yang sedang berdiri di bethup menoleh ke arahku, saat aku berteriak. Di tangannya ada pisau yang berlumuran darah, dan kedua tangannya juga di penuhi darah.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku sambil berteriak.
“Maafkan aku Dav ...” ucapnya lirih, “aku sudah tidak tahan dengan ini semua.”
“Tunggu dulu, apa maksudmu dengan tidak tahan?” tanyaku.
Ia tak menjawab dan hanya meneteskan air mata, sambil tersenyum.
“Jawab Ris, jawab!” aku pun berteriak.
Riska pun menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Maafkan aku, Dav!”
“Ap—apa ya—yang ingin—“ ucapanku yang gagap, terpotong saat melihat Riska menancapkan pisau itu ke perutnya.
“Riskaaaaaaaaaa!” aku pun teriak memanggil namanya, dan ia terjatuh dengan kepala membentur pinggiran bethup.
Aku pun berlari menghampirinya, dan memeriksa ke kondisinya. Ternyata ia masih hidup, denyut nadinya masih ada.
“I love you,” ucapnya sambil tersenyum dan akhirnya ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku menangis sekencang-kencangnya, sambil memukul-mukul pinggiran bethup. Tapi percuma, semua percuma. Dia sudah tak bernafas dengan senyuman manisnya yang selalu membuatku meleleh.
......................
__ADS_1