Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Paula Andini


__ADS_3

Kami pun tiba di home stay, dan aku melihat mobil Achong sudah terparkir di halaman. Kami pun langsung masuk dan beristirahat di sofa, lalu mendengar suara kami berisik, Achong pun keluar dan menghampiri kami.


Achong pun terkejut melihat Paula masih hidup, dan menanyakan ia benar Paula atau bukan. Aku pun menjelaskan pada Achong kalau ia benar Paula, dan Achong pun percaya.


"Anggap saja rumah sendiri, kalau lo haus tinggal ambil saja sendiri ke dapur ya, Son!" ucap Satria pada Sonya.


Sonya menganggukan kepalanya dan tersenyum, lalu ia menatap ke sekeliling ruangan dengan wajah kagum.


"Permalam harga sewanya berapa, tempat ini?" tanya Sonya.


"Kami tidak menyewa, ini milik Achong," jawab Novi.


"Orang Jakarta hebat-hebat ya," cetus Sonya.


"Tidak semuanya, hanya Achong saja yang kaya!" Aku pun menyahuti perkataan Sonya.


"Kalian semua masih kuliah atau sudah bekerja?" tanya Sonya.


"Gue masih kuliah, lagi lanjut S2." ucap Satria sombong.


"Aku juga masih kuliah," ucap Riska sambil tersenyum.


"Nah dia lanjut kuliah S2 di Belanda," sahut Satria.


"Kalau aku baru saja berhenti kerja ..." ucap Novi dengan nada pelan.


"Loh kenapa berhenti Nov?" tanya Sonya.


"Gara-gara ikut mereka kesini, dan gak dapat jatah cuti ... ya terpaksa akhirnya berhenti kerja," jawab Novi.


"Hmmm ... sayang banget loh Nov, padahal susah loh mencari kerja," sahut Sonya, "kalau Davie?"


"Gue kerja, dan udah izin cuti dari satu bulan lalu," ucapku menyindir Novi.


"Emang ya ... semua tuh gara-gara lo Dav, gue jadi hilang pekerjaan gue!" bentak Novi.


Aku pun tertawa, dan terus meledek Novi. Riska yang berada di sampingku sudah tak bisa menahan tawanya, dan ia pun terbahak-bahak melihat tingkah konyolku.


"Kalau Achong?" tanya Sonya.

__ADS_1


"Dia punya restoran yang selalu ramai pengunjung, jadi kau tidak usah bertanya tentang dia," sahut Satria.


"Oh iya, kenapa kamu masih hidup Paula ... aku penasara," cetus Riska.


"Jadi begini ceritanya ..." ucap Paula yang kemudian menceritakan semuanya.


Pertama Paula cerita saat ia sudah di pindahkan ke kamar VVIP dan di jaga empat orang polisi. Paula mengatakan, kalau sekte itu mengetahui rencana Davie menyamar sebagai Paula. Lalu saat Paula merasa aman, ia mengatakan kalau salah satu dari polisi itu ternyata anggota dari sekte itu.


"Kemudian mereka pun berkelahi, dan polisi yang menyamar itu kabur dan di kejar oleh tiga orang polisi bodoh yang harusnya menjagaku," ucap Paula.


Kemudian Paula melanjutkan ceritanya, ia berkata saat sedang sendirian di kamar VVIP itu, tiba-tiba saja orang berjubah hitam masuk dan menghampirinya, dan orang itu adalah Andini.


"Andini bilang, kalau ia ingin keluar dari sekte itu, seperti yang aku dan Rony lakukan dulu," ucap Paula.


"Jadi benar, kau itu dulunya anggota dari sekte itu?" tanyaku.


"Benar, Rony punya ide untuk bergabung dengan sekte itu dan menyelidiki aktifitas mereka," jawab Paula serius, "tepatnya 2 minggu setelah ada berita seorang wanita tewas oleh sekte itu, Suna."


"Jadi hampir 2 bulan lebih ya, kalian ikut gabung di sekte itu," sahut Satria.


"Iya, berkat bantuan Andini yang sudah lama menjadi anggotanya," ucap Paula, "makanya kami beruntung bertemu kalian di bangunan tua dekat pasar waktu itu."


"Masuk akal ... oke lanjutkan cerita saat Andini mengahmpirimu!" ujar Satria.


"Kemudian Andini punya ide untuk bertukar denganku, karena aku adalah incaran mereka," ucap Paula.


"Kenapa mereka mengincarmu?" tanya Novi.


"Karena kabur dari aliran sesat itu, dan mereka menyebutku dan Rony sebagai kafir, dan tidak pantas untuk hidup," jawab Paula.


Paula mengatakan kalau Andini memaksanya untuk melakukan pertukaran, kemudain terpaksa Paula menurutinya, dan Andini menuliskan koordinat tempat yang akan ia tuju.


Sambil menghela nafas, Paula pun berkata, "Aku akhirnya berpura-pura menjadi Andini yang berhasil menangkap Paula."


"Lalu setelah itu?" tanya Novi.


"Aku membawa menyerahkan Andini yang menyamar menjadi aku, ke gerombolan mereka," jawab Paula, "gerombolan itu di pimpin oleh Yugo."


Ekspresi Paula pun berubah menajadi murung, dan ia melanjutkan ceritanya. Ia berkata Andini di gantung kemudian di hajar habis-habisan oleh Yugo. Paula mentakan kalau Andini terus tersenyum kepadanya, ia memainkan peran sebagai Paula sangatlah sempurna.

__ADS_1


Tiba-tiba air mata pun menetes dan Paula berkata, "Tapi sayang, fisik Andini tak sekuat fisik yang aku miliki ... dan ia tewas hari itu juga, tapi satu hal yang membuatku kesal adalah, perbutan kejam mereka yang menggantung jasad Andini di atas pohon."


Kami semua merasakan emosi yang di salurkan oleh Paula, jujur hati ini tersentuh mendengar cerita Paula. Pengorbanan Andini sebagai kakak amatlah berharga, dan seolah mendukung kami untuk segera membasmi sekte itu.


"Kemudian kalian semua sampai, dan mengira jasad itu adalah jasadku ..." ucap Paula lirih.


Paula menyambung ceritanya dan bilang kalau ia akhirnya punya rencana untuk membunuh Yugo, dan ia meminta maaf karena menjadikan kami umpan. Tapi rencananya berjalan dengan lancar, dan kami semua memaafkannya.


"Aku turut berduka untuk kakakmu, tapi di sisi lain aku senang sekali karena kamu masih hidup," ucap Riska sambil tersenyum.


"Aku kan sudah berjanji pada kalian untuk membubarkan sekte itu, atas nama kepolisian dan jabatan komisaris polis, aku bersumpah!" tegas Paula.


Aku pun mendorong bahu Paula sambil berkata, "Gak usah sok-sokan deh lo!"


Paula pun tertawa dan membalas mendorongku, "tidak tahu sejak kapan, kami bisa seakrab ini dengan Paula."


"Jangan-jangan yang kemarin melempar batu itu, elo ya?" tanyaku.


Paula tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya, ia pun berkata, "Maaf-maaf Dav, tapi aku tak sengaja mengarahkan tepat ke dahimu."


"Wah kurang aja ... lo tau gak rasanya kena batu sebesar itu?" tanyaku kesal.


Paula masih tertawa dan menggelengkan kepalanya, ia berkata, "Tidak, tidak tahu rasanya seperti apa ... karena aku belum pernah mengalaminya."


Paula pun sempat-sempatnya meledekku sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Rasanya gue seperti lihat bintang-bintang depan mata gue!" tegasku.


"Tapi kamu menikmati melihat bintang-bintang itu, buktanya kamu langsung duduk di lantai," ledek Paula, "sumpah Dav, aku selalu tertawa kalau mengingat kejadian kemarin malam."


Kami pun semua tertawa, tak terkecuali suster Sonya.


"Mending lanjut cerita aja Paula, dari pada gue balas lempar batu ke dahi lo," ucapku.


Paula pun berusaha menghentikan tawanya, dan lanjut bercerita. Ia beralih saat kejar-kejaran di rumah sakit, ia tahu betul postur tubuh dan model rambut Riska, maka dari itu ia menangkap Riska.


"Tapi ide kalian bagus, berlindung di balik media ... makanya aku maju agar media mengekspos komunitas itu," ucap Paula.


Kemudian Paula bilang kalau ia dapat informasi mengenai tertangkapnya Novi, maka dari itu Paula mengajak aku rumah tua barusan. Tapi aku tak menyangka, kalau Rony mati. Paula menyingkirkan soal Rony dan menunggu kesempatan untuk menembak Yugo saat ia tidak siap. Paula mengatakan kalau Yugo itu kebal senjata tajam dan senjata api, kelamahan ilmunya Yugo itu adalah menyerangnya saat ia sedang tidak siap san tidak sadar.

__ADS_1


Paula pun lanjut bercerita dan akhirnya obrolan kita pun terhenti saat handphone suster Sonya berbunyi. Semua mata menuju ke arahnya.


......................


__ADS_2