Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Observasi


__ADS_3

Kita tiba di sebuah kontrakan tempat kediaman Regina, terlihat sudah banyak orang di sana, Satria dan Achong juga sudah ada di sana rupa nya.


Aku, Novi, dan Riska pun masuk, kemudian menemui adik nya Regina untuk mengucap kan turut berduka, adik nya mirip sekali dengan Regina hanya saja lebih kurus dan agak pendek, aku baru pertama kali melihat dan bertemu langsung dengan nya.


"Kak Davie ya?" Tanya Adik nya Regina.


"Iyaaa kok kamu tahu aku?" Tanya ku heran.


"Aku sering lihat kak foto kak Davie yang di pajang kak Gina, di kamar nya. Kenalin kak aku Regita, Panggil aja Gita," Ucap adik nya Regina memperkenal kan diri.


"Ohh oke Regita, aku Davie... Ini Riska, dan ini Novi, kami turut berduka yaa git," Ucap ku sambil mengenal kan Riska dan Novi.


"Iya kak terima kasih, kak Gina selalu cerita masa-masa indah nya bersama kak Davie loh, mungkin kak Davie itu mantan terindah buat nya, dan sampai terakhir dia hidup, dia masih belum bisa move on loh dari kak Davie," Ucap Gita sambil menetes kan air mata.


"Iya maaf Git, aku tahu itu... Dan aku akuin kalau Regina itu orang nya baik dan juga perhatian, tapi ada beberapa hal waktu itu yang buat kita harus pisah," Jawab ku.


"Iya kak aku tahu kok, kak Gina udah pernah cerita sama aku, dan aku juga berduka untuk kak Suna ya kak," Ucap Gita.


"Iya terima kasih ya Git, terus kamu gimana kuliah nya, lanjut disini atau pulang ke Manado dan kuliah di sana?" Tanya ku.


"Nanti tunggu keputusan mama sama papa kak kalau itu, tadi kak Richard juga sudah menawar kan aku pekerjaan di resto nya sambil melanjutkan kuliah ku, nanti jika di izin kan mama papa, mungkin aku akan terima tawaran itu," Jawab gita.


"Syukur lah, semoga aja di izinin ya Git, dan asal kamu tau, Richard itu orang yang paling baik di antara kami semua, jadi kamu gak perlu sungkan-sungkan sama dia," Sahut ku.


"Kalian semua orang baik kok, kakak ku beruntung punya sahabat seperti kalian, sampai akhir hayat nya kalian tetap membantu kakak ku, terima kasih banyak ya kak," Jawab Gita sambil tersenyum.


"Apapun kondisi nya Regina itu tetap sahabat kami yang paling berharga, dan kami sungguh merasa kehilangan saat ini," Ucap ku sambil menundukan kepala.


"Iya kak aku ngerti kok, oh iya kalian mau minum apa?" Tanya Gita.


"Apa aja Git gak usah repot-repot, aku izin gabung sama Satria dan Achong ya," Ucap ku.


"Iya kak silahkan, nanti minuman nya aku antar ke sana ya," Jawab Gita.


"Iya makasih ya Git, kalau butuh sesuatu bilang aja, nanti kami akan bantu," Ucap ku sambil berjalan.


Kemudian kami pun menghampiri Satria dan Achong.


Terlihat di sana Satria dan Achong sedang sibuk dengan laptop yang di pegang oleh satria, Achong pun ikut berinteraksi bukan hanya melihat saja, dan jika di lihat dari raut wajah nya mereka berdua terlihat serius sekali sampai tidak sadar kami menghampiri nya.


"Doooorrrrrr..." Novi mencoba mengejutkan Satria dan Achong.


Mereka tidak terkejut, malah menatap kami dengan sinis.


"Lagi ngapain sih bro serius banget?" Tanya ku.


"Dav sini, lihat nih!" Ucap Satria yang ingin memberitahu sesuatu.


Aku pun pindah ke sebelah Satria, dan mulai melihat apa yang sedang di cari mereka berdua.


"Apaan nih, kok aneh gambarnya?" Tanya ku heran.


"Ini dia Mictlantecuhtli" Jawab Satria.


"Apan tuh?" Tanya ku bingung.


"Mictlantecuhtli itu salah satu nama dari 16 iblis, yang artinya Raja Mitclan, di mitologi suku Aztec, Mictlantecuhtli itu dewa kematian yang menempati bagian bawah alam kubur," Jawab Satria.


"Terus maksud nya lo kasih tahu gue ini apa?" Tanya yang semakin bingung.


"Ini adalah dewa yang di sembah sama komunitas biadab itu Dav, ini adalah tujuan mereka!" Jawab Satria.


"Ohhh I see, yang kemarin di ceritain Regina, di vidio nya itu ya?" Ucap ku yang sudah sedikit mengerti.


"Nah itu dia, gue coba observasi di sini dan ini yang gue dapetin, memang gak seberapa info nya, tapi kita jadi tahu salah satu tujuan mereka," Ucap Satria.


"Terus upacara besar mereka nanti, ada kaitan nya untuk pembangkitan Mictlan gak?" Tanya ku.


"Sepertinya begitu, dan kalau itu benar, kita harus gagalin rencana mereka!" Jawab Satria.


"Kalo urusan kaya gini, apa polisi percaya ya?" Tanya Achong yang terlihat mengeluh.


"Kemungkinan percaya Chong, asalkan ada bukti bahwa itu aliran sesat, apalagi polisi daerah sama, pasti masih percaya hal-hal kaya gitu Chong," Jawab Satria.


"Gue semakin gak sabar, Sat!" Ucap ku.


"Oia Dav ada satu hal lagi, untuk pemujaan iblis Mictlant adalah dengan memakan daging manusia atau kanibalisme, biasa nya daging manusia itu di makan, dan kepala korban nya di letakan di sebuah kuil persembahan atau altar," Ucap Satria serius.

__ADS_1


"Astaga... Serius Sat?" Tanya Novi.


"Wahh parah, jadi kepala Regina?" Tanya ku.


"Betul banget, kepala Regina pasti di buat persembahan!" Jawab Satria.


"Emang dasar binatang, komunitas biadab!" Ucap ku kesal.


"Untung nya lo bisa bawa kabur mayat Sunna utuh Dav," Sahut Riska.


"Iya Ris, gue gak akan ninggalin dia walaupun gue tau dia udah meninggal, gue mau Suna di kubur dengan layak dan utuh, tapi Regina... Kita telat, kita telat selamatkan dia, bahkan kepala nya saja tidak bisa kita selamatkan!" Ucap ku dengan nada gemetar.


Kemudian kami pun terdiam, lalu Satria memimpin doa untuk Regina.


Kami melanjutkan observasi lebih lanjut tentang komunitas itu, semakin dalam kita cari tahu informasi tentang komunitas itu, untuk bekal kita nanti di sana, tanpa kita sadari orang tua Regina pun sudah datang dengan pakaian serba hitam, membawa sapu tangan putih yang seperti nya sudah lepek karena air mata.


Kemudian kita pun bergegas untuk pergi ke proses pemakan Regina, sudah banyak juga kerabat yang datang, meskipun Regina anak rantau di sini, tapi dia itu orang baik, maka banyak yang terkejut dengan kematian nya yang sangat tragis itu. Bukan hanya tetangga saja yang datang, bahkan rekan kerja, dan juga teman kuliah nya dulu juga terlihat hadir di pemakaman Regina.


Ada satu wanita, sejak awal yang sedari tadi memperhatikan ku dengan tatapan tidak wajar, entah apa maksud nya, tapi aku pun tidak mau mengurusinya dan membiarkan nya begitu saja.


Proses pemakaman pun selesai, kita semua berpisah untuk bersiap-siap pergi nanti malam.


Riska nampak nya sudah tidak ngambek lagi pada ku, sebab aku sudah bisa melihat senyum nya dan sudah banyak komunikasi sejak tadi.


Novi juga satu mobil dengan kami, dan aku mengantar nya sampai apartemen nya tapi tidak sampai masuk ke dalam hanya sampai pinggir jalan nya saja, di tempat yang sama saat kita menjemput nya.


Setelah Novi turun dari mobil, Riska mengatakan betapa seru nya si Novi, dengan pribadi baik dan sopan tapi juga pandai memberikan jokes-jokes yang lucu.


Kami berdua pun sibuk membicarakan Novi, dari hal baik sampai masalah aib nya, tujuan nya ya agar Riska juga tau kabaikan dan keburukan Novi, supaya nanti nya mereka berdua bisa tambah dekat lagi.


Kami akhir nya tiba di rumah Riska, dan kali ini Riska menawarkan ku untuk mampir terlebih dahulu, aku pun tidak menolak karena lelah juga menerobos macet nya ibu kota.


Akhirnya kita pun turun dari mobil dan mulai masuk ke rumah Riska, dan tentu saja para penjaga menyapa dengan ramah, tapi aku belum terbiasa dengan hal ini. Aku malah jadi terlihat canggung dan jadi sedikit salah tingkah, saat di sambut seperti itu.


Riska pun mempersilahkan ku masuk dan duduk, lalu aku di tinggal masuk oleh nya.


Tidak lama kemudian aku pun check grup WA untuk melihat apa saja perlengkapan yang di butuh kan nanti, jadi jika ada yang belum lengkap nanti aku bisa cari setelah ini.


Riska keluar dan menghampiri ku, dia sudah mengganti pakaian santai, dengan tank top hitam dengan celana training nya. Riska juga membawa secangkir kopi untuk ku, harum nya seperti kopi racikan profesional.


"Dav cobain nih, kopi Toraja, kesukaan nya papa, ini kopi asli dari Toraja loh!" Ujar Riska.


"Lo tuh coffee addict banget ya?" Tanya Riska.


"Gak addict lah, gue hanya sebatas penikmat aja," Jawab ku sambil tersenyum.


"Yaudah cobain tuh, itu gue sendiri yang buat, ribet banget Dav saring ampas nya, jadi mau ga mau, enak ga enak lo harus abisin tuh kopi!" Ujar Riska.


"Pemaksaan nih nama nya, by the way ini pake gula gak?" Tanya ku.


"Enggak pake, bukan nya lo ga suka pake gula?" Jawab Riska.


"Lo mau ngeracunin gue ya?" Ucapku sambil tertawa.


"Iyaa emang gue mau racunin lo, kenapa? Gak suka?" Sahut Riska sambil tertawa.


"Tega banget nih bule!" Ledek ku sambil menyenggol nya, "ambilin gula Ris, please banget, gue kan mau minum kopi bukan mau minum jamu!"


"Jamu gendong maksud lo Dav?" Ledek Riska.


"Iya, bahkan ini pasti lebih dari brotowali pahitnya! Ujar ku.


"Iyaa bawel, tunggu sebentar gue ambilin gula nya," Ucap Riska sambil bangun dari tempat duduk nya.


"Makasih ya mbak bule," Jawab ku meledek.


Riska pun masuk ke dalam untuk mengambilkan gula, aku pun mengechek lagi handphone ku, dan di grup sudah di tetapkan titik temu nya.


"Satria memutuskan berkumpul di restoran Achong, nanti jam 9 malam."


Di ujung mata kanan seperti ada bayangan hitam di sudut rumah dekat lukisan, seperti sedang memperhatikan ku sedari tadi. Entah hanya perasaan ku saja atau memang dia sedang memperhatikan ku, aku pun coba menoleh perlahan untuk memastikan nya, dan ketika ku lihat tidak ada apa-apa.


"Mungkin itu hanya perasaan ku saja!"


Riska pun tiba dan heran melihat wajah ku yang panik, Riska memberikan gula dan bingung dengan sikap ku.


"Kenapa Dav?" Tanya Riska.

__ADS_1


"Enggg... Enggak, gak apa-apa kok!" Jawab ku dengan nada gemetar.


"Yakin gak apa-apa?" Tanya Riska meyakin kan ku.


"Iyaaa, by the way boleh ngeroko gak Ris?" Tanya ku


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak," Jawab Riska tersenyum.


"Dihh kok gitu, orang cuma nanya boleh atau enggak, malah timbul larangan," Ucapku sambil tersenyum.


"Yaudah terserah lo deh Dav," Jawab Riska acuh.


"Baca grup deh Ris, perlengkapan lo udah ada semua?" Tanya ku.


"Oke sebentar, gue baca dulu," Jawab Riska.


"Sama bawah nya juga baca, titik kumpul nya Ris jangan ngaret," Ledek ku.


"Iya bawel... Senter, batre cadangan, sarung tangan, pisau kamping. Barang-barang ini gue gak ada Dav," Jawab Riska yang masih menatap handphone nya.


"Sama, gue juga gak ada yang itu, abis ngopi mau cari dulu gak?" Tanya ku.


"Tumben banget nawarin, ada apa?" Tanya Riska heran.


"Biar sekalian aja Ris, tapi kalau gak mau juga gak masalah, biar gue cari sendiri aja!" Jawab ku sambil mencicipi kopi.


"Yaudah iya bareng, tapi nanti anterin pulang lagi jangan di tinggal!" Ucap Riska.


"Emang gue pernah ninggalin lo?" Tanya ku bingung.


"Ya belum pernah, dan jangan sampai lo ninggalin gue!" Jawab Riska.


"Cieee yang gak mau di tinggalin," Ledek ku sambil menyenggol nya.


"Berisik... Cepet habisin kopi nya, gue mau mandi dulu abis itu kita jalan!" Seru Riska.


"Loh kok, jadi anda yang ngatur, yang ngajak kan saya!" Sahut ku sambil tertawa.


"Berisik!" Teriak Riska sambil berjalan naik ke atas tangga.


Aku melanjutkan menikmati kopi Toraja buatan Riska, sambil browsing di handphone tentang iblis Mictlant, berharap menemukan suatu petunjuk baru.


Setengah jam berlalu, aku pun belum dapat informasi tambahan.


Kopi sudah habis dan Riska pun sudah rapih, seperti biasa dandanan natural dengan lipstik yang tidak terlalu merah membuat diri nya cantik seperti biasa nya.


"Udah selesai ngopi nya Dav, ayo berangkat!" Ujar Riska.


"Udah dari tadi selesai nya, by the way cantik banget mau kemana sih?" Ledek ku.


"Gak usah berisik ayo kita jalan Davie!" Ucap Riska tersipuh malu


"Oke siap bos, kita berangkat!" Jawabku.


Kita pun pergi ke suatu mall di daerah Jakarta Selatan untuk membeli perlengkapan yang kurang, hampir 2 jam kita mencari perlengkapan dan sekarang sudah lengkap semua, kemudian aku mengantarkan Riska pulang dan aku pun ingin segera sampai rumah untuk mempersiapkan semuanya.


"Nanti ke titik kumpul naik apa Dav?" Tanya Riska.


"Naik ojek online palingan Ris" Jawab ku


"Gimana kalau lo naik ojek online, tujuan nya ke rumah gue aja, nanti kita berangkat ke tempat Achong nya bareng, nanti kita di antar supir gue," Ucap Riska.


"Enggg boleh juga tuh, lumayan deket kok dari apart gue kerumah lo, ketimbang dari apart ke tempat nya Achong" Jawabku.


"Yaudah nanti gue tunggu ya!" Ucap Riska.


"Nanti WA aja alamat lengkap nya ya Ris" Sahut ku.


Akhirnya kita sampai di rumah Riska, aku pun mempersilahkan Riska turun dan mengucapkan sampai bertemu lagi nanti malam, kemudian Riska mendekat ke arah ku dan "mencium" pipi ku.


"Thaks buat hari ini ya Dav, sampai ketemu nanti malam!" Ucap Riska sambil tersenyum.


Aku pun bingung dan tidak percaya, aku juga hampir tak bisa bergerak di buat nya, dengan gugup aku pun menjawa, "Aaaaa... Enggh.... Iya Ris."


Riska keluar dari mobil dan menutup pintu nya, terlihat dia tidak langsung masuk tapi menunggu ku pergi, dengan kondisi setengah panik dan bingung aku pun jalan perlahan dan meninggal kan nya.


"Apa maksud nya ini, kenapa Riska..."

__ADS_1


•••


__ADS_2