
Pukul 20:30 WIB aku tiba di rumah Riska, seperti biasa aku menunggu nya yang sedang bersolek. Sudah hampir 20 menit aku menunggu Riska di sofa ini lagi, dengan koper yang tidak terlalu besar dan tas hiking yang ikut menemani ku ikut ke Kalimantan.
Grup Whatsapp sudah mulai ramai, Achonk dan Satria sudah menunggu. Hanya tinggal Novi, aku, dan Riska yang belum datang. Aku pun bilang, kalau aku sedang menunggu Riska berdandan, lalu ledekan pun ramai di grup itu.
Tidak lama kemudian Riska turun dan seperti biasa, "cantik!" hanya kata itu yang bisa menggambarkan nya setiap kali bertemu.
"Dav tolongin dong, koper nya berat nih!" Ujar Riska.
"Yaelah, lagian bawa apan aja sih, koper segede ini, sampe bawa dua?" Jawab ku sambil mengeluh.
"Biasa, kalo cewe kan banyak bawaan nya. Lihat aja nanti Novi juga pasti banyak bawaan nya," Ucap Riska sambil memberikan koper nya.
"Yaudah cepet turun, mereka udah pada sampai tuh, tinggal kita aja yang belum sampai," Jawab ku yang tengah sibuk membawa dua koper.
Supir pribadi Riska pun sudah menunggu dan membantu menaikan koper kami ke bagasi, aku ikut merapihkan barang di bagasi, dan benar sekali koper Riska sangat berat.
Setelah rapih aku segera naik ke mobil dan kami pun kemudian berangkat.
Di dalam mobil aku masih curi-curi pandang ke Riska, karena aku masih penasaran di bagian wajah yang mana, yang membuat nya selalu cantik.
Aku ingin sekali mengetahui itu.
Sesekali kita ngobrol, obrolan nya juga ya sekedar basa-basi, perasaan ini masih canggung karena kejadian tadi sore, saat dia mencium pipi ku. Tapi ketika berbicara aku bisa melihat mata nya, mata nya berwarna biru, terlihat tampak indah sekaligus punya banyak rahasia di balik mata nya.
Aku juga masih bingung dan masih memikir kan nya, kenapa Riska bisa mencium ku tadi sore ketika kita berpisah. Jujur hal itu membuat ku canggung sampai sekarang, tapi dia biasa saja tidak terlihat canggung.
Apakah mungkin karena dia sudah terbiasa dengan budaya barat?
Sweater putih ukuran L dan terlihat sedikit over size dan juga riped jeans biru yang ketat dengan di alasi sepatu adidas putih, hanya itu yang di kenakan nya malam ini, tapi tetap cantik dan terlihat sangat modis.
Jalanan seperti biasa nya, macet dan lagi-lagi macet, apa lagi ini sekarang bentrok dengan jam pulang kerja, yanh membuat jalanan otomatis menjadi macet.
"Yahh macet Dav!" Ujar Riska.
"Yahhh udah biasa itu mah, dari dulu juga Jakarta macet Ris," Jawab ku sambil melihat ke arah jalan.
"Ngantuk..." Ucap riska sambil menyandarkan kepala nya ke pundak ku.
"Enggg... Yaudah tidur aja, nanti gue bangunin kalau udah sampai," Jawab ku gugup.
Tidak ada jawaban, dan terlihat Riska sudah memejamkan matanya, mungkin dia ke lelahan karena hari ini kita hampir pergi seharian.
__ADS_1
Kemudian Riska bergerak membenar kan posisi tidur nya, dan menyilangkan lengan nya ke lengan ku, lalu di pun menggenggam tangan ku. Mata nya tetap terpejam, aku pun tanpa sengaja mengusap kepalanya.
Aneh memang, tapi entah kenapa tangan ini bergerak dengan sendirinya, Riska pun nampak nya tidak masalah dan justru terlihat sangat nyaman.
***
Akhirnya kita tiba di titik kumpul, di restoran Achonk, aku dan Riska tiba pukul 21:23 WIB. Agak ngaret memang, tapi mereka juga pasti paham dengan kondisi jalan di Jakarta.
Terlihat di sana sudah lengkap semua, ada Satria, Novi, dan Achonk.
Riska pun jalan dengan sempoyongan karena baru saja bangun dari tidur nya, dan menyapa mereka semua dengan suara yang terdengar malas.
"Ini dia pasangan baru, mau nya berdua terus." Ucap Novi meledek.
"Dih apan sih Nov, kita cuma kebetulan bareng aja kok," Jawab ku gugup.
"Ohhh kebetulan... Tapi kok sering ya kebetulan nya" Sahut Satria yang ikut meledek.
"Iya kebetulan Sat," Jawab ku singkat.
Kemudian Achong mengajak masuk untuk briefing sebentar, dan berdoa sebelum kita berangkat.
"Oke guys, pesawat kita berangkat nanti malam jam 11 an kalau gak ada kendala, jadi disini kita berdoa dulu sambil ada yang mau gue omongin," Ucap Satria.
"Jadi kira-kira pagi ini kita akan sampai ke bandara Syamsudin Noor perjalanan kita 1 jam, 45 menit. Kemudian nanti pas udah sampai bandara, kita di jemput sama kenalan nya Achong," Ucap Satria.
"Iya nanti ada kenalan gue, orang Banjarmasin yang jemput kita dan antar kita ke home stay," Sahut Achonk.
"Oke, jadi malam ini kita fokus istirahat aja dulu, besok hari pertama kita mulai cari beberapa informasi, gue juga udah siapin beberapa rencana, jadi semoga aja ini bisa cepet selesai," Ucap satria.
Kemudian Satria memipmpin doa, dan suasana hening sejenak.
"AMIN" doa pun sudah selesai.
Kemudian kita di antar ke bandara oleh supir pribadi nya Achonk, dan di dalam mobil suasananya sudah agak mencair. Kita semua sudah bisa bercanda dan tertawa lagi, aku pun juga sudah tidak merasa canggung lagi pada Riska.
"Gue inget masa-masa kuliah nih kalau kaya gini," Ucap Novi.
"Iya sama, gue juga kangen masa-masa itu Nov, masa di mana kita masih free nongkrong kesana kesini, nge trip selalu dadakan, Sumpah gue kangen bgt!" Sahut Satria dengan mata yang berkaca-kaca.
Kemudian Achonk mulai membongkar aib kami masing-masing selama masa kuliah dulu, dan itu menjadi suatu candaan yang menarik sekarang.
__ADS_1
Di tengah perjalanan ketika masuk tol, dan Novi memejamkan mata nya, terlihat seperti ketakutan, kami tidak begitu heran dan sudah menduga kalah dia melihay sesuatu.
"Kamu kenapa Nov?" Tanya Riska sambil memeluk Novi.
"Itu Ris, di bahu jalan tadi..." Jawab Novi.
"Ada apa di bahu jalan Nov?" Tanya Riska bingung.
"Hmmm... Novie mulai lagi nih," Sahut Satria.
"Itu tadi ada keluarga... Suami, istri, dan juga anak nya, semua berlumuran darah. Tapi istri nya yang paling tragis, kepalanya hampir putus dan lidah nya menjulur ke luar!" Jawab Novi sambil menangis.
"Nah kan, dia udah mulai lihat yang begituan," Sahut ku.
"Serius Nov, aku kok gak lihat apa-apa ya?" Tanya Riska.
"Lo kan bukan anak indigo Ris, jadi wajar lah gak lihat apa-apa," Ucap Satria sambil tertawa.
"Sumpah kasian banget deh itu, nanti kalau masalah ini udah selesai, kita datang lagi kesini untuk sekedar baca doa, biar mereka bisa tenang ya guys!" Ujar Novi.
"Oke, gue setuju!" Sahut ku.
"Minggu lalu memang ada kecelakan di sina neng, kejadian nya kan masuk berita, jadi ada kecelakan tunggal, mobil nya keluar jalur dan terbalik. Di kabar kan kalu mereka sekeluarga meninggal di tempat," Ucap supir Achonk memotong pembicaraan.
"Wah masih baru ya, pantesan aja belum begitu ganggu ya Nov?" Tanya ku.
"Iya maka nya nanti setelah ini, kita doain mereka supaya gak ganggu pengguna jalan lain," Jawab Novi.
Kami meng-iya kan dan berjanji akan kesana lagi, kemudian kami pun sudah hampir sampai ke bandara, dan kita pun berdoa kembali untuk keselamatan perjalanan kita.
Setiba nya di bandara, pesawat kami akan take off, jadi kita pun berlari-lari. Lumayan lah ya, hitung-hitung olah raga malam, dan pada akhirnya kita pun di dalam pesawat, dan Riska minta duduk di sebelah ku, tentu saja hal itu pasti akan jadi bahan ejekan oleh mereka semua.
Tapi aku tidak bisa menolak, karena jujur aku juga ingin duduk di samping Riska.
Pesawat pun mulai berangkat, dan kali ini aku yang mulai mengantuk, aku menyandarkan kepala di kursi pesawat, dan mulai memejamkan mata.
Tiba-tiba aku merasa ada tangan yang menarik kepala ku, tangan nya sangat lembut dan juga halus.
Ternyata itu tangan Riska yang menarik kepala ku dan mejatuhkan kepala ku di bahu nya, rasa nya nyaman sekali, di tambah wangi parfum nya pun khas sekali, diriku seperti sedang di hipnotis oleh nya supaya cepat terlelap.
Lalu tangan ku merasa tangan Riska menggenggam tangan ku, dan kepala nya bersandar di kepala ku, mata ku sudah tak bisa di tahan lagi, akhir nya aku pun tertidur di bahu Riska.
__ADS_1
"Selamat tinggal Jakarta, akan ku bawakan kabar kemenangan ku nanti, untuk mu!"
•••