Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Kisah cinta Riska


__ADS_3

"Dav bangun Dav... Sudah Pagi!"


Aku mendengar suara Riska membangunkan ku, ku rasa itu hanya mimpi, dan tak mungkin terjadi. Tapi suaranya semakin keras dan aku merasakan elusan di pipiku.


Aku coba membuka mata perlahan, dan melihat ke langit-langit terlebih dahulu untuk memastikan apakah ini di homestay atau bukan. Kemudian aku melihag ke sekitar dan dada ku terasa ada yang menindih, aku pun langsung mengarahkan pandanganku ke dada dan ada Riska yang menaruh kepalanya di dadaku, dengan tangan kiri sambil memelukku.


"Kamu kenapa ada disini?" Tanyaku.


"Harusnya yang bertanya itu, aku!" Jawab Riska.


Akupun bingung dan memegang kepalaku, aku memperhatikan kembali sekeliling dan terkejut ternyata aku salah kamar.


"Dari jam berapa aku disini? Novi mana?" Tanyaku bingung.


"Kamu disini dari semalam, dan Novi mengalah tidur di kamar cowok," Jawab Riska.


"Astagaaa... Maaf ya Ris," Ucapku sambil mengelus kepalanya yang masih berada di dadaku.


"Maaf untuk apa?" Tanya Riska sambil menatap ku.


"Maaf karena lancang masuk ke kamarmu," Jawabku.


"Apa-apaan sih kamu, justru aku senang bisa tidur di sampingmu, menjagamu saat kamu terlelap, melihatmu sedang istirahat membuatku menghayal jauh ke pernikahan," Ucap Riska.


"Kadang aku merasa tak pantas denganmu, karena kamu seorang anak konglomerat... Tapi entah kenapa perasaan cintaku kepadamu lebih kuat dari pada rasa tak percaya diriku," Jawabku.


Riska tersenyum dan mengelus dadaku, dan aku baru sadar kalau aku tak memakai baju.


"Kamu sangat pantas untuk ku, walaupun keluargaku menentang, aku akan tetap memilihmu, dan membuat keluarga baru dengan mu," Ucap Riska.


Aku merasa lega mendengarnya dan mulai membayangkan keluarga kecil yang akan kita bangun, ucapan Riska meberikan motivasi kepadaku untuk tetap hidup, dan ucapan Riska juga telah membuat tujuan baru untuk hidupku.


"Aku tau kenapa Suna, sangat suka travel berdua saja denganmu!" Ujar Riska.


"Kenapa?" Tanyaku bingung.


"Karena dia merasa nyaman sekali dengan mu, bahkan sedang tidur sekalipun," Jawab Riska.


"Apa yang ku lakukan semalam?" Tanyaku.

__ADS_1


"Menurutmu apa, jika kita berdua tanpa busana!" Jawab Riska.


Riska mengangkat kepalanya dan mendekatkannya ke wajahku, saat dia bergerak selimut yang sedari tadi menutupi badannya pun tersingkap dan benar dia hanya menggunakan pakaian dalam saja. Riska memegang kepalaku, memastikan aku tak mengelak, karena dia mengincar bibirku.


Pagi ini terasa panas padahal suhu AC 18°C, Riska tetap menciumku dengan tangan yang masih memegang kepalaku, aku sudah membalas ciumannya sedari tadi. Berbeda rasanya saat bersama Paula, ternyata lebih mendebarkan dengan orang yang ku cintai. Riska melepaskan ciuman nya dan sekarang dia mencium kedua pipiku.


"Kita lanjutkan yang semalam?" Tanya Riska sambil tersenyum.


"Semalam, memangnya ada apa semalam?" Jawabku bingung.


"Jangan pura-pura tak tahu, setelah kamu membuatku tak berdaya!" Ujar Riska.


"Apa maksudnya?" Tanyaku masih bingung.


"Aku ingin merasakan itu lagi, di buat tak berdaya oleh mu," Jawab Riska.


Dia pun langsung mencium bibirku dan turun ke leherku, Riska terus turun dan sudah hampir sampai di perutku. Dia kembali turun dan masuk ke dalam selimut, aku hanya bisa merasakan dan tak berani melihat ke dalam selimut. Riska pun mulai bekerja, dan aku mulai terbang ke awan di buatnya. Aku hanya bisa melihat kepala Riska yang ada di bawah selimut, dan menurutku posisinya ada di antara kedua kakiku.


Riska sangat pandai menjaga ritmenya, dia membuatku semakin terbang tinggi, sampai menembus dimensi liarku. Tanpa sadar aku pun menggeram dan Riska menaikan temponya, dia melakukan nya dengan sempurna sampai membuatku memejamkan mata 5 detik untuk merasakan kenikmatannya.


Mataku akhirnya terbuka dan memegang kepala Riska dari atas selimut dan mendorong nya mengikuti tempo yang ku inginkan, Riska melemaskan kepalanya dan pasrah mengikuti pergerakan tanganku.


Riska keluar dari kamar mandi dan aku baru sadar tubuhnya yang putih dengan mengenakan pakaian dalam saja, membuatku memikirkan hal yang tidak-tidak. Kemudian dia berjalan menghampiriku dan naik lagi ke atas kasur.


"Apa kamu sudah gila!" Tegas Riska, "aku hampir kehabisan nafas."


Aku hanya tersenyum dan menarik nya yang sedang duduk di sebelahku, aku menariknya dan dia pun meletakan kepalanya di lengan kiri ku. Aku menghadap ke arah nya dan memeluk nya, wajahku tepat di telinganya, dan aku sengaja mendekatkan nya sampai menempel dengan mulutku, dan aku berbisik, "I love you."


"Jangan senang dulu, masih ada babak ke 2!" Ujar Riska.


"Aku siap kapanpun kamu mau!" Balasku.


Riska menatapku dengan tatapan sinis dan berkata, "Kamu meremehkan ku, hanya karena baru menang satu kali!"


Aku pun tertawa dan berguling ke arah nya, sekarang posisi ku sudah ada di atas nya dan menatap wajah nya yang sedang menggit-gigit bibirnya. Riska pun mendorong ku dan aku pun merebahkan badanku lagi, Riska mulai mengelus pipiku, dan berkata, "Sabar sayang, biar aku saja mengendalikan semua... Kamu hanya perlu merasakan nya saja, dan bertahan sampai aku kehilangan arah!"


Aku tertawa dan menggegam tangan Riska yang sedang mengelus pipiku.


"Kamu orang pertama yang ku berikan segalanya!" Ujar Riska, "kamu sudah jadi candu buatku, karena perlakuaan mu tadi malam."

__ADS_1


"Benarkah itu?" Tanyaku.


Riska menganggukan kepala nya dan mengunjukan bercak darah yang sudah mengering di atas kasur.


"Astaga, maafkan aku Ris... Maafkan aku karena sudah lancang melakukan itu!" Ujarku sambil menggam tangan Riska dengan kedua tanganku.


"Kamu kenapa sih? Aku sudah susah payah menjaganya selama ini, hanya untuk mu!" Sahut Riska, "kamu tahu berapa banyak laki-laki diluar sana yang merayuku dan menginginkannya? Banyak Dav, dan aku menjaganya hanya untuk mu!"


"Jadi ini yang pertama untuk mu?" Tanyaku.


Riska menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis sekali.


"Maaf, tapi kamu bukan yang pertama buat ku!" Ujarku.


"Aku tahu, karena Suna banyak cerita padaku," Sahut Riska, "Aku sudah menyukai mu sejak pertama Suna mengenalkan ku padamu."


Aku hanya terdiam mendengar cerita Riska.


"Kamu tahu betapa sakit nya, saat Suna menceritakan pengalaman pertamanya bersama mu?" Ujar Riska, "Rasanya hatiku seperti tertusuk-tusuk jarum, sakitnya tak seberapa tapi perihnya tak bisa ku lupakan!"


"Maaf, aku tidak tahu kalau kau menyukaiku sejak lama," Sahut ku.


"Itu semua salahku, aku terlalu bodoh karena menyukai kekasaih sahabat ku sendiri." Ucap Riska.


"Tapi kini, aku milik mu seutuhnya," Ucapku sambil mencium pipinya.


"Aku tak akan menyia-nyiakan mu, dan akan menjadi yang terbaik untuk mu Dav," Ujar Riska, "aku jadi merasa punya tanggung jawab untuk menjagamu, karena Suna."


"Tapi jujur, aku mencintaimu bukan karena Suna... Tapi karena memang feeling ku berkata kalau kau adalah yang terakhir untukku," Jawabku.


Riska pun tersenyum dan menggulingkan badan nya ke arahku, dan dia mulai menciumku.


"Sudah cukup istirahatnya, urusan kita belum selesai!" Ujar Riska.


"Berikan aku yang terbaik, sayang..." Sahutku sambil memeluk nya erat dan membalas ciumannya.


Riska semakin gila, setiap tindakan nya membuat jantungku berdebar kecang, adrenalin terpacu disini, aku rasa kalori ku banyak terbakar karena tindakan panas Riska.


Riska mulai melepaskan semuanya, dan...

__ADS_1


......................


__ADS_2