Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Pembantaian


__ADS_3

"Uhhuuuukkk... Uhhuuuukkk..."


Rony pun batuk sambil memegang dadanya.


Aku mendorong badan Rony sampai dia terjatu, dia tesenyum sambil memegang dadanya. Rony melepaskan jaketnya dan ternyata dia memakai rompi anti peluru.


"Aku kira kau mati!" Ujar Satria.


"Kalau aku mati, siapa yang akan membalaskan dendam Paula," Sahut Rony.


"Jangan meremehkan kami!" Tegasku.


"Aku tidak meremehkan kalian, hanya saja aku belum bisa percaya dengan senjata mainanmu itu," Balas Rony.


Rony pun mengubah posisinya, dan dia duduk bersandar di dinding terowongan itu sambil memegang dadanya. Aku melihat darah tembus ke rompi anti pelurunya, dan Rony masih menutupinya.


"Dada mu berdarah Ron," Ucapku.


"Hanya luka gores, pelurunya tak akan menembus rompi ini," Sahut Rony.


"Jadi gimana Sat, mau lanjut atau balik lagi?" Tanya Achong.


"lanjut..." Ucapku.


"Aku ikut!" Sahut Rony.


Satria terdiam seperti memikirkan sesuatu, dia beberapa kali menoleh ke belakang, seperti ragu ingin melanjutkan. Tapi aku dan Rony sudah berdiri siap, tinggal menunggu aba-aba saja.


"Gue sih inginnya lanjut Chong, tapi gue ragu." Ucap Satria.


"Ragu kenapa?" Tanya Achong.


"Gue ragu kalau mereka sudah pergi dari sana, gue takutnya itu cuma perangkap," Jawab Satria.


"Tenang aja, aku akan jadi tameng!" Sahut Rony.


"Kau sudah gila!" Tegas Satria.


Rony tersenyum dan bertanya, "Siapa disini yang mempunyai akurasi menembak paling bagus?"


"Gue!" Jawab Achong.


"Iya, si Achong masuk dalam komunitas PERBAKIN," Sahutku.


"Kamu pegang ini!" Ucap Rony sambil memberikan pistol yang baru saja di keluarkan di balik jaketnya.


"Lo meminta gue, melindungi lo?" Tanya Achong.


Rony menganggukan kepala, kemudian dia mulai menaiki anak tangga satu persatu dengan perlahan. Langkah Rony hampir tak terdengar, padahal dia memakai sepatu boots. Achong menunggu di bawahnya mengambil sikap siaga, dengan menodongkan pistol ke arah papan yang tertutup itu.

__ADS_1


Aku dan Satria hanya bisa memperhatikan dan berdoa, semoga saja tak terjadi apa-apa dengan Rony.


Rony sudah hampir sampai, dan dia sudah menodongkan pistolnya ke arah papan. kemudian tangan kirinya perlahan menyentuh papan dan mulai mendorongnya perlahan.


Perlahan cahaya sudah mulai terlihat, dan belum ada tanda-tanda dari anggota sekte itu. Kemudian Rony mendorong papan itu dan langsung memenjat naik ke permukaan. Achong pun berlari menaiki tangga dan menyusul naik ke permukaan.


Rony dan Achong berdiri tegak di atas, sambil menodongkan pistol. Mereka berdua berputar sambil menodongkan pistol, tiba-tiba saja Rony menjatuhkan pistolnya dang mengangkat tangannya, kemudian Achong juga menjatuhkan pistolnya dan iku mengangkat tangan.


"Ada yang gak beres Dav!" Ujar Satria.


Aku pun mencoba naik ke atas, tapi Satria menarik tanganku. Aku menoleh ke arah Satria dan menarik tanganku, tapi Satria tak mau melepaskan tanganku. Satria menggelengkan kepalanya dan menondongkan air soft gun ke arah ku.


"Apa-apaan nih Sat?" Tanyaku.


"Kalo lo gak mau nurut, gue ga segan-segan tembak kepala lo Dav!" Jawab Satria.


"Tapi Achong!" Bentakku.


"Kita panggil bantuan, dan menyelamatkan mereka," Ucap Satria.


"Gak akan sempet Sat, mereka itu sadis!" Ujarku.


"Dav, percaya sama gue..." Ucap Satria yang sudah mulai menurunkan pistol yang sebelumnya menempel di dahiku.


"Pokoknya kalau Achong sampai mati gara-gara lo, gue gak akan pernah menganggap lo teman lagi Sat!" Balasku sambil menarik tanganku.


Aku pun kembali melihat ke atas dan melihat jelas Rony mendorong Achong dengan badan nya, sampai Achong terjatuh kembali ke dalam terowongan. Rony pun menutup papannya, dan sebelum dia menutup papannya, dia tersenyum kepadaku.


Papan pun tertutup dan lagi-lagi kami kehilangan cahaya.


"LARIIIIII...." Teriak Rony dari atas.


"Dooorrrrr... Doooorrrrr... Dooooorrrr..."


Suara tembakan berkali-kali terdengar.


"Ayo Dav, kita panggil bantuan!" Tegas Satria.


Aku masih terpaku di bawah tangga, dengkul ku terasa lemas. Lagi-lagi mereka tak bisa ku hentikan.


Achong pun merangkak dan berusaha, bangkit. Aku pun tersadar dan membatu Achong berdiri dan memapahnya. Kemudian kami bertiga kembali ke gubuk tua itu, tanpa penerangan kami berlari mengikuti lorong itu.


"Mereka banyak sekali Dav," Ucap Achong sambil mengatur nafasnya.


"Berapa banyak?" Tanyaku.


"Satu ruang penuh, di setiap sisinya ada anggota sekte itu," Jawab Achong.


"Benarkan dugaan gue," Sahut Satria yang berlari paling depan.

__ADS_1


"Bukan saatnya pamer insting lo Sat," Geramku, "kalau aja tadi kita meninggalkan Achong, pasti dia gak akan selamat Sat!"


"Maaf Dav, gue gak berfikir panjang!" Ujar Satria.


"Intinya, sekarang kita harus cepat mencari bantuan," Sahut Achong.


Kami pun terus berlari sampai akhirnya melihat tangga gubuk tua itu. Satria pun menaiki tangga itu, saat sampai di atas Satria terkejut sampai jatuh duduk.


"Ada apa Sat?" Tanyaku.


Satria tak menjawab, dan masih terdiam dengan tatapan kosong.


Aku membantu Achong, untuk menaiki tangga, Achong pun mulai naik dengan langkah hati-hati.


"Sialaaaannnn..." Teriak Achong setelah sampai di atas.


Aku pun bertanya-tanya dalam hati, ada apa sebenarnya. Dengan penasaran, aku pun akhirnya menaiki tangga, dan saat kepalaku sampai ke permukaan aku melihat mayat Polisi bergeletakan dimana-mana. Aku pun mempercepat langkahku untuk sampai ke permukaan, dan memeriksa satu persatu mayat itu.


"Risaka, Novi!" Ujar Satria.


"Astaga!" Aku pun terkejut dan berlari meninggalkan gubuk tua itu.


Sesampainya di luar aku tak meliah satu orang pun disana, hanya ada mayat bergeletakan di depan gubuk. Aku melihat ke arah mayat Paula, dan ternyata mayatnya sudah tidak ada, dengan panik pun aku berlari sekuat tenaga ke tempat mayat Paula berada tadi.


Achong dan Satria ikut berlari menyusulku yang hampir sampai ke tempat mayat Paula. Garis pembatas Polisi sudah Rusak, dan ada juga mayat tim medis di sana.


"Mobil... Cek di mobil!" Ujar Satria sambil terengah-engah.


Kita bertiga akhirnya lari ke arah mobil, air mataku sudah hampir jatuh, rasanya sudah penuh di bola mata ini dan sebentar lagi akan tumpah air mataku. Aku melihat jejak di tanah, seperti ada yang menarik sesuatu ke arah mobil. Jejaknya hanya lurus saja, dan menyingkirkan dedaunan.


"Mereka di mobil... Gue yakin mereka di mobil!" Ujar Satria sambil berlari.


Aku menambah kecepatan berlariku untuk memastikan sendiri, apakah benar mereka berdua di dalam mobil.


Mobil pun sudah terlihat, dan aku melihat Novi mengeluarkan kepalanya dari jendela kemudi dan memanggil kami.


"Cepat naik!" Teriak Novi.


Aku sudah bisa tersenyum melihat Novi baik-baik saja, dan aku sampai di mobil kemudian membuka pintu bagian tengah. Aku terkejut ternyata mayat Paula sudah terbaring di kursi tengah.


"Kalian duduk di belakang!" Ujar Novi.


Aku pun menutup kembali pintu tengah dan lari ke belakang, dan langsung membukanya. Aku terkejut melihat Riska yang sudah penuh darah di bahu kanannya.


"Nov Riska kenapa?" Tanya ku sambil teriak.


"Nanti saja ceritanya, kita harus segera ke rumah sakit!" Jawab Novi.


Kemudian Satria dan Achong pun naik ke mobil, Novi langsung menjalankan mobilnya dengan cepat, menuju rumah sakit.

__ADS_1


Aku pun bersandar dan menarik tubuh Riska, dan menyandarkan nya ke badanku. Aku menekan lukanya untuk menghambat laju darahnya, tapi percuma. Sepertinya luka ini terlalu dalam, dan air mataku sudah mulai menetes perlahan dan membasahi pipiku.


......................


__ADS_2