
Malam semakin larut, tapi Riska masih saja membuka matanya, wajahnya penuh kegelisahan. Satria sudah mulai menguap berkali-kali, tapi masih saja memaksakan diri untuk tetap terjaga dan memikirkan langkah selanjutnya.
“Kamu istirahat sayang, jangan bergadang,” ucapku sambil mengusap kepala Riska.
“Luka ini semakin terasa sakit Dav,” ucap Riska sambil mengelus luka di bahunya.
“Mungkin efek biusnya sudah hilang, jadi baru terasa sakit.” Balasku.
“Ngaco lo Dav, gak mungkin selama itu lah efek bius!” Sahut Satria sambil tertawa.
“Terus kenapa dong?” Tanya Riska.
“Mana gue tahu Ris, emangnya gue dokter.” Jawab Satria.
Satria menutup laptopnya dan bangun dari duduknya, lalu dia berjalan ke toilet yang ada di dalam ruangan ini.
Treeekkk...
Terdengar seperti suara kaca yang di lempar kerikil.
Aku dan Riska menoleh ke jendela dan tak melihat apa-apa, Riska mulai menggenggam tanganku dan berkata, “Apa itu Dav?”
Aku mengangkat kedua bahuku, dan melepaskan genggaman tangan Riska. Kemudian aku berdiri dan berjalan ke arah jendela untuk memastikan apa yang terjadi. Entah kenapa saat ingin sampai di jendela, dengkulku terasa lemas seolah menolak untuk mendekat ke arah jendela.
Aku akhirnya memberanikan diri dan melangkahkan kaki, menghampiri jendela yang sudah tidak jauh lagi dari jarakku berdiri sekarang.
Praaaaaannnkkkk...
Batu sebesar kepalan tangan tepat mengenai dahiku.
Aku terjatuh dan pandanganku mulai kabur, seperti ada banyak kunang-kunang di mataku. Satria pun berlari keluar dari toilet dan menghampiriku, suara teriakan Riska juga terdengar memanggil namaku.
Aku masih sadar, dan memegang dahiku yang mulai meneteskan darah.
“Gue baik-baik aja Sat!” Ujarku.
Satria melepaskan tanganku yang menutupi luka di dahiku, dan dia mulai mengeceknya.
“Cuma lecet aja kok, Dav.” Ucap Satria sambil membantuku berdiri.
Satria memapahku ke toilet, untuk membersihkan lukaku. Saat kami menuju toilet, dua orang suster masuk dengan panik dan menanyakan apa yang terjadi. Kemudian salah satu suster itu menghampiri kami, dan memeriksa lukaku.
“Ada apa ini sebenarnya?” Tanya suster yang sedang memeriksa lukaku.
“Enggak tahu sus, tiba-tiba ada batu melayang dan mengenai dahiku.” Jawabku.
“Nia ambilkan alkohol, obat luka tetes, dan perban beserta plesternya!” Ujar suster yang sedang memeriksaku.
__ADS_1
Suster yang di perintahkan langsung berlari keluar ruangan untuk mengambil alat-alat yang di minta oleh suster yang memeriksaku.
“Sat, coba lihat batu itu!” Ujar Riska.
Satria melihat ke arah batu dan dia pun menghampiri batu itu. Dia mengambil batu yang di bungkus dengan kertas, lalu Satria mengambil kertas itu dan membaca pesan yang tertulis di kertas itu.
Kemudian Satria membacakan pesan itu dengan lantang, “Teman kalian, Rony masih hidup dan kami merasa terhibur sekali saat menyiksanya.”
“Kurang ajar!” Ujar Satria setelah membaca pesan itu.
“Ini jebakan, atau memang mereka menantang kita?” Tanyaku.
“Jelas ini tantangan Dav,” jawab Satria sambil meremas kertas itu, dan membantingnya ke lantai.
“Jangan, ini jebakan... Ingat pesan suster tadi, tidak semua polisi berpihak kepada kita.” Sahut Riska.
Keadaan semakin rumit, Satria tampak gelisah dan mondar-mandir sambil memegang dagunya. Para suster sudah selesai menutup lukaku, dan aku pun menghampiri Satria.
“Gue nunggu keputusan lo kali ini,” ucapku sambil menepuk pundak Satria.
Satria akhirnya berhenti mondar-mandir dan ia pun duduk di kursi, lalu Satria memejamkan mata dan bersandar di kursi itu. Kedua suster itu berpamitan dan meninggalkan ruangan.
“Sayang, coba sini lihat lukamu.” Ucap Riska.
Aku menghampiri Riska dan duduk di atas ranjangnya, Riska yang sudah duduk sedari tadi pun melihat dengan dekat lukaku yang sudah tertutp perban.
“Ini Cuma luka ringan, kamu gak usah khawatir,” ucapku sambil tersenyum.
Aku melihat bibir Riska bergerak-gerak tapi aku tak mendengar apa yang di katakannya. Mataku perlahan tertutup dan pandanganku mulai gelap.
Leherku terasa sakit dan aku pun membuka mataku perlahan, yang pertama terlihat adalah Satria yang sedang tertidur dengan posisi duduk di kursi. Lalu aku merasakan ada telapak tangan di kepalaku, lalu aku menyingkapnya dan mengangkat kepalaku.
Aku melihat Riska yang tertidur pulas, wajahnya cantik saat tertidur dengan mulut sedikit terbuka dan kepalanya miring ke arahku. Aku mengusap kepalanya sambil tersenyum, di dalam hati aku sangat bersyukur bisa memilikinya.
Riska pun meluruskan kepalanya dan mulutnya sudah tertutup, kemudian ia membuka mata perlahan dan tersenyum.
“Selamat pagi sayang,” ucapnya sambil meraih tanganku yang mengusap kepalanya, dan menaruh tanganku di pipinya.
Riska pun menutup lagi matanya dan aku melihat senyuman kecil dari bibirnya, yang membuat hatiku meleleh saat melihatnya.
Aku melihat ke arah jam dinding, dan ternyata sudah jam 6 pagi.
“Kamu kalau masih mengantuk, tidur lagi aja,” ucap Riska yang masih memejamkan matanya.
Aku tak menjawab ucapan Riska, dan terus memandangi wajahnya. Saat aku memandang wajah Riska, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dari luar. Suaranya semakin dekat, dan aku menatap ke arah pintu. Berharap bukan musuh yang datang kali ini.
Tokkkk... Tokkkk... Tokkkk...
__ADS_1
Suara pintu ruangan ini yang di ketuk dari luar.
Aku sengaja tak bersuara, dan menjawab. Aku menunggu ia masuk ke dalam, dan mataku terus tertuju pada pintu itu.
Tokkkk... Tokkkk... Tokkk
Suara pintu di ketuk terdengar lagi, dan kali ini suara ketukannya agak sedikit keras.
Aku masih saja diam tak menjawab, dan Riska membuka matanya kemudian terlihat jelas dari wajahnya kalau dia ketakutan. Aku berusaha menenangkannya, sambil menggenggam tangannya.
Tiba-tiba pintu di buka dari depan, kemudian aku melihat seperti tangan wanita yang membuka pintunya. Aku menunggu dan sudah memasang kuda-kuda untuk menyerang, lalu masuklah suster yang kemarin sore memberi kami informasi.
Aku pun menghela nafas sambil mengusap dadaku, suster itu menutup pintu dan berjalan menghampiriku. Lalu dia berkata, “Tadi malam kalian di serang?”
Aku menganggukkan kepala dengan menaruh tatapan curiga, Satria pun terbangun dan terkejut melihat suster itu ada dalam.
“Ada apa ini?” Tanya Satria.
“Aku hanya ingin memberi tahu kalian, kalau ini semua jebakan,” jawab suster itu dengan wajah ketakutan.
“Apa pun yang terjadi, kalian jangan sampai terpancing untuk mendatangi mereka.” Sambung suster itu.
“Kami paham itu, dan kami tidak akan gegabah kali ini.” Ucap Satria.
“Bagus, aku beri tahu kalian tempat-tempat persembunyian mereka!” Ujar suster itu.
“Cepat katakan saja, jangan bertele-tele.” Ucap Satria.
Kemudian suster itu meminjam laptop Satria dan mencatat semua tempat persembunyian mereka, suster itu memberi tahu kami 6 tempat persembunyiannya. Dan yang tiga itu sudah kami kunjungi, yang tak lain adalah bangunan tua dekat pasar, altar, dan gubuk tua di tengah kebun.
Satria bangun dan mencari secarik kertas yang di bantingnya semalam, saat satria menemukannya ia lalu membaca lagi pesannya.
“Di sini tidak di beri tahu, lokasi di mana Rony berada,” ucap Satria sambil terus membolak-balikan kertas.
Kemudian Satria terdiam dan mengambil handphone di kantongnya, lalu ia menyalakan senter dan mulai menyorot bagian bawah kertas itu. Satria terkejut, karena ada peta yang bertuliskan “di sini.”
“Ini... Coba lihat ini, ini di mana lokasinya?” Tanya Satria pada suster itu.
Suster itu menunjuk ke laptop dan ia tepat menunjukkan di tempat yang sudah di catatnya, sambil berkata “bekas pabrik furnitur, yang letaknya tak jauh dari sini!”
“Apakah kamu bisa menolong kami, mengantarkan ke sana?” Tanya Satria.
Suster itu menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan kami. Ia menuju pintu dan sepertinya ingin keluar dari ruangan.
“Tunggu, kamu mau ke mana?” Tanya Satria.
Suster itu menoleh dan tersenyum, lalu ia berkata “Nanti jam 12 siang kalian harus sudah rapi!”
__ADS_1
Suster itu kemudian pergi meninggalkan ruangan, dan menyisakan tanda tanya besar di kepala. Sebenarnya tujuan dia apa, jika hanya memanfaatkan kami untuk membalas dendam kematian suaminya, tak masalah. Tapi yang kami takutkan dia ada di pihak komunitas itu.
......................