Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Cerita Riska mendapatkan lukanya


__ADS_3

Sehari sebelum kematian suaminya, Sonya bilang kalau suaminya itu sudah lama bergabung dengan komunitas topeng tanpa ekspresi. Suaminya berkata kalau ia ingin pergi ke surga, dan sudah meninggalkan warisan yang di titipkan pada komunitas itu.


Wajah Sonya tampak murung saat bercerita, sebenarnya kami tak ingin melanjutkannya, tapi Sonya tak mau berhenti. Dia seperti sedang mencurahkan isi hatinya, yang sudah lama terpendam.


Sonya terus bercerita, dia mengatakan kalau suaminya di jemput 2 orang berpakaian serba hitam, menggunakan mobil jeep. Suaminya tak henti-henti tersenyum saat di jemput, itu lah yang memebuat Sonya sedih.


"Tapi apakah kamu melihat sendiri mayat suamimu?" Tanya Satria.


Sonya menganggukkan kepalanya, dan berkata, "Aku lihat sendiri, suamiku terkapar tak bernyawa di atas gambar seperti bintang."


"Pentagram!" ujarku.


"Sama seperti Regina?" sambung Novi.


"Setelah itu kau mengurus jasadnya?" tanya Satria.


Sonya menggelengkan kepalanya, "Aku lari ketakutan, dan langsung melaporkan kejadian itu ke kantor polisi."


Suaminya di otopsi oleh polisi, kemudian setelah satu minggu polisi mengatakan bahwa suaminya mati bunuh diri, dan jasadnya baru di serahkan kepada Sonya. Kemudian kasus di tutup, rasa kesal yang mendalam bukan hanya pada komunitas itu, tapi pada oknum polisi yang menyamar juga tak bisa di maafkannya.


"Informasi yang kamu berikan sangat berharga bagi kami, kami jadi tambah waspada pada anggota polisi," ucap Satria.


"Lalu apa tujuanmu pergi ke tempat itu?" tanya suster Sonya.


"Tadinya aku ingin menyelamatkan teman polisiku, tapi aku berubah pikiran, dan hanya ingin survei lokasi saja," ucap Satria.


Aku sebenarnya ingin sekali ikut dengan Satria, tapi sangat berisiko jika harus meninggalkan Riska bersama Novi.


"Apa kita berangkat sekarang aja?" cetus Novi.


"Baru jam 11 Nov," ucap Satria.


"Lebih cepat, lebih baik ..." ucap Sonya dengan nada rendah.


Satria pun bangun dan memasukan laptopnya ke dalam tas, lalu dia pergi ke toilet untuk mencuci mukanya.


"Ayo siap-siap, kita berangkat setelah ini!" ujar Satria sebelum masuk ke toiler.


Novi dan Sonya sudah siap untuk berangkat, Novi mengikat rambutnya, pertanda kalau dia mulai serius.


"Kalian hati-hati ya, wanita hebat," ucap Riska.


Novi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian Satria keluar dari toilet, lalu ia mengajak Sonya dan Novi untuk segera bergegas. Mereka pun berpamitan, dan doaku menyertai mereka.


Saat mereka bertiga keluar dari ruangan, Riska bertanya, "Kamu percaya dengan Sonya?"


"Tidak terlalu," jawabku.


"Aku justru tidak percaya sama sekali dengannya," ucap Novi sambil melih ke arah jendela.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu tidak percaya dengannya?" tanyaku.


"Semua sangat kebetulan, dan seperti sudah di rencanakan," jawab Riska.


"Memang benar, tapi tenang saja ada satria di sana," ucapku.


Riska menganggukan kepala, dan tak lama kemudian petugas pengantar makanan masuk dan menyiapkan makanan untuk Riska. Melihat menunya saja, membuatku tak berselera.


"Ini makan siangnya, di habiskan agar cepat sembuh ya Bu," ucap petugas pengantar makanan itu.


"Terima kasih Bu," balas Riska kepada wanita pengantar makanan, yang sudah lumayan berumur.


"Aku tak nafsu makan ..." bisik Riska kepadaku.


Aku tertawa, dan mengedipkan mataku. Memberikan tanda supaya Riska tak mengucapkan itu. Riska pun tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.


Wanita pengantar makanan itu pun keluar, dan saat ia sudah menutup pintu, Riska pun tertawa.


"Memangnya tadi aku mengucapkan itu dengan keras ya, Dav?" tanya Riska.


"Lumayan terdengar untuk telinga normal ... kamu berdoa saja supaya wanita itu tak mendengarnya," aku pun meledek Riska.


Riska menepuk bahuku, sambil tertawa. Ia juga mengatakan tak ingin memakan, makanan itu. Lalu aku pun bertanya, "Terus kamu mau makan apa?"


"Bubur ... aku mau bubur!" jawab Riska.


Kemudian aku pun menghubungi Achong dan langsung di angkat olehnya.


"Halo, Chong."


"Lo masih lama?"


"Oh, enggak apa-apa sih, cuma mau titip bubur aja buat Riska."


"Oke, di tunggu ya Chong."


"Makasih loh."


Achong dengan senang hati mau membantu aku, untuk membelikan bubur untuk Riska. Kemudian Riska menyingkirkan makanan rumah sakit, yang ada di pangkuannya.


"Si Achong masih lama?" tanya Riska.


"Dia baru saja selesai memberi kesaksian pada polisi," jawabku.


"Aku bingung ... kenapa bukan Novi atau aku yang jadi saksi, padahal kita berdua melihat dengan jelas pembantaian para polisi itu," ucap Riska.


"Mungkin saja polisi ingin tahu kejadian saat Rony tertangkap," balasku.


"Berarti, setelah ini aku atau Novi yang menjadi saksi?" tanya Riska.

__ADS_1


Aku menganggukan kepala sambil tersenyum pada Riska, dan aku pun tersadar bahwa aku belum tahu cerita, kenapa Riska bisa mendapatkan luka itu.


Kemudian aku bertanya kepada Riska, dan Riska pun menceritakan semuanya. Di mulai dari dinamit yang sudah meledak, kemudian semua masuk ke gubuk tua itu untuk menyergap komunitas itu.


Lalu laporan pun terdengar sampai luar, kalau di dalam tidak ada siapa-siapa.


"Aku dan Novi juga mendengar kalau kalian dan satu orang polisi, masuk ke ruangan bawah tanah itu," ucap Riska.


"Kemudian?" sahutku.


Riska melanjutkan ceritanya, dia berkata kalau 10 menit kemudian, sekelompok orang berpakain serba hitam muncul dari kebun, dan mereka semua sudah membidik para polisi yang berada di luar dengan panah.


"Aku melihat jelas, satu per satu polis tumbang terkena panah," ucap Riska.


"Kemudian dari timur, segerombolan orang berpakain hitam datang lagi ... kali ini mereka membawa senjata tajam dan mulai membabi buta, para polisi yang terkapar dan masih hidup langsung di tebas begitu saja," sambung Riska.


"Kejamnya ... terus?" tanyaku penasaran.


Riska mengatakan, semua polisi yang ada di luar sudah tak ada yang bisa di selamatkan. Kemudian mereka masuk ke dalam, dan kami hanya bisa mendengar suara tembakan dan juga suara teriakan.


"Novi ... Novi langsung menarik aku," ucap Riska, "dan kami berdua berlari, tapi langkahku terhenti dan karena tersadar ada jasad Paula di sana."


"Aku memanggil Novi, dan ia pun menyetujui ideku untuk membawa jasad Paula," sambung Riska.


"Terus?" tanyaku.


Cerita Riska masih berlanjut, ia mengatakan saat mereka membopong jasad Paula, tiba-tiba mereka di hadang oleh tiga orang berpakaian serba hitam, yang tanpa aba-aba langsung menyerang Novi. Novi berhasil menghindar, tapi dia terkena tendangan tepat di punggungnya. Kemudian Novi terjatuh, dan jasad Paula pun ikut terlepas.


"Saat Novi terjatuh, aku melihat salah satu orang berpakaian serba hitam menghampiri Novi dan sudah mengangkat parangnya ... lalu tanpa sadar aku berlari ke arah orang itu dan mendorongnya sekuat tenaga, tapi orang itu memegang tanganku dan akhirnya kita berdua jatuh," ucap Riska.


"Astaga ... kemudian apa yang terjadi?" tanyaku yang semakin penasaran.


"Lalu saat aku terjatuh, Novi datang dan membantu aku untuk bangun ... tapi ada yang aneh dengan Novi, matanya putih semua dan telapak tangannya dingin seperti mayat," ucap Riska.


"Mungkin dia sedang kerasukan penjaganya," sahutku.


"Mungkin saja, soalnya ia berhasil menumbangkan dua orang yang hendak menyerangnya," ujar Riska.


"Terus lukamu itu?" tanyaku.


Riska berkata, saat Novi ingin menghabisi satu orang lagi, tiba-tiba orang berpakaian serba hitam itu menangis dan meminta ampun. Novi pub tersadar, dan mengusir orang itu, lalu kami berdua menuju ke jasad Paula untuk membopongnya lagi.


Tiba-tiba saja orang yang menangis tadi berlari ke arah Novi sambi mengangkat tangannya, dan bersiap untuk menebas Novi yang membelakangi orang itu.


"Aku yang melihat itu pun langsung berlari ke arah Novi, dan mendorongnya ... saat aku membuka mata bahu ini sudah menganga dengan darah dimana-mana," ucap Riska sambil memegang bahunya.


Kemudian Riska mengatakan, kalau orang yang menebasnya itu sudah terkapar saat ia membuka mata, dengan luka bacok di lehernya. Riska bertanya pada Novi, tapi Novi tak menjawab. Kemudian Novi memapah Riska sambil menyeret jasad Paula ke mobil.


......................

__ADS_1


__ADS_2