Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Astral Projection


__ADS_3

Di perjalanan menuju home stay, aku hanya terdiam dan memikirkan apa yang sedang terjadi pada otak ku yang membayangkan hal-hal yang negatif. Paula menyetir mobil dan seakan mengerti kalau aku sedang memikirkan sesuatu, dia pun ikut terdiam.


Bukan hanya malam yang membuat sepi jalanan, tapi di pagi hari sekitar jam 08:30 WITA pun masih sangat sepi, suara musik lirih dari radio yang di setel Paula jadi pengiring perjalanan kali ini.


Kemudian saat kami tiba di home stay, pintu pagar depan terbuka lebar, dan tanpa ragu Paula langsung masuk dan parkir tepat di halaman depan. Aku pun turun dan berlari masuk ke dalam, untuk memastikan kondisi teman-teman ku.


"Ris... Riskaaa..." Teriak ku saat masuk ke dalam.


Aku langsung menuju kamar wanita, saat ku lihat di ruang tamu tidak ada orang. Tanpa mengetuk pintu, aku pun langsung masuk ke kamar wanita, dan ternyata benar semua nya ada di sini.


"Kamu lama banget sih yang..." Sambut Riska saat melihat ku yang baru saja masuk.


"Novi... Novi kenapa?" Tanya ku panik.


"Tenang Dav, tenang!" Ujar Achong.


Mata ku tertuju ke kasur dimana Novi sedang berbaring tak sadarkan diri, aku melangkah perlahan menghampiri Novi, jujur saat ini aku khawatir pada sahabat ku yang satu ini.


Saat ku hampir mendekati Novi, tiba-tiba Riska menahan ku, lalu memeluk ku sambil menangis.


"Sabar ya Dav..." Ucap Riska sambil menangis.


"Hey, ada apa ini sebenar nya?" Tanya ku.


"Novi sudah pingsan selama 1 jam Dav," Jawab Achong.


"Loh kok bisa?" Tanya ku.


"Sebelum pingsan, Novi kerasukan Mbah Cipto (Jin pelindung Novi) dan Mbah Cipto bilang, ada yang mengirim serangan ghain kepada nya," Jawab Achong.


"Santet?" Tanya ku bingung.


"Ya seperti itu lah, jadi sebelum serangan itu datang, Mbah Cipto merasuk ke tubuh Novi dan mencoba menahan serangan itu, tapi nampak nya tidak berhasil dan Novi pingsan sampai sekarang." Jawab Achong.


Paula masuk ke kamar dan memasang wajah bingung.


"Itu yang lagi tiduran siapa?" Tanya Paula bingung.


"Novi... Kita terlambat!" Jawab ku.


"Novi? Jelas-jelas Novi duduk di samping Riska... Yang tiduran itu, pria tua menggunakan belangkon," Ucap Paula.


Kami pun melihat ke arah Riska dan memang tidak ada siapa-siapa, yang sedang terbaring itu adalah Novi.


"Kamu kelelahan ya?" Tanya Riska pada Paula.

__ADS_1


"Tidak, istirahat ku cukup kok." Jawab Paula, "kalian berpfikir kalau aku sedang berhalusinasi?"


Kami semua menganggukan kepala dan terus menatap nya, lalu Paula berjalan ke arah Riska dan berhenti di sebelah Riska yang kosong tidak ada apa-apa. Paula berdiam diri di sana dan beberapa kali ku lihat dia menganggukan kepala nya, dan pandangan nya tetap ke arah sisi yang kosong itu.


"Ris, tolong ambil kertas dan pulpen!" Ujar Paula.


Riska yang bingung pun spontan bergerak mencari kertas dan pulpen, lalu menyerahkan ke Paula. Paula meletakan pulpen di kasur dan dia merentakangkan kertas kosong itu, sambil berkata, "Ayo Nov!"


Tiba-tiba pulpen yang di letakan di kasur itu pun melayang dengan sendiri nya, kemudian tutup pulpen nya terbuka dan pulpen itu bergerak mendekati kertas yang di rentangkan Paula. Kami pun terkejut dan tak bisa berkata-kata, Riska menutup wajah nya di bahu ku. Mata ini tak mampu berkedip, melihat dengan jelas pulpen itu melayang dan bergerak sendiri menuliskan sesuatu di kertas kosong yang di rentangkan Paula.


"Guy's gue baik-baik aja, Novi." Tulisan di kertas itu.


Brrrrruuuuaaaakkkkkk...


Achong pun jatuh duduk setelah melihat tulisan itu, wajah nya pucat dan mulut nya menganga, seperti tak percaya dengan apa yang di lihat.


"Ennnngggghhh... Su--sumpah ini gak lucu!" Ucap ku gagap.


Riska memberanikan diri dan menoleh ke arah Paula yang sedang merentangkan kertas itu, dan tubuh Riska mulai oleng kemudian dia pingsan tepat di pelukan ku.


"Dav, kata Novi gak perlu khawatir... Setelah Mbah Cipto pulih, Novi pasti akan balik lagi ke tubuh nya," Ucap Paula yang menyampaikan perkataan Novi.


"Kok bisa?" Tanya ku bingung.


"Maksud nya?" Tanya ku yang semakin bingung.


"Simple nya gini, orang yang melakukan Astral Projection itu roh nya keluar dari jasad nya dan dia berada di dunia Astral." Ucap Paula menjelaskan.


"Jadi, tubuh Novi sekarang ini tidak ada roh nya?" Tanya ku.


"Ada, saat ini tubuh Novi di isi dengan roh penjaganya," Jawab Paula.


"Ohh... Jadi roh novi keluar, kemudian di ganti dengan Mbah Cipto yang ingin melindungi Novi dari serangan ghaib," Ucap ku yang sudah sedikit paham.


Paula menganggukan kepala nya dan membantu ku menggotong Riska dan merebahkan nya ke kasur di sebelah tubuh Novi.


"Sakti kan temen gue?" Ucap ku.


Paula tertawa dan berkata, "Novi bilang dia tak suka di bilang sakti."


Aku pun tertawa, dan Achong juga sudah cukup tenang sudah bisa tersenyum.


"Gue percaya sama lo Paula, karena memang Novi paling benci kalau di bilang sakti," Ucap ku.


"Gini-gini aku mantan anak indigo loh," Sahut Paula membanggakan dirinya.

__ADS_1


"Aneh, mana ada mantan indigo!" Ledek ku sambil tertawa.


Paula pun tertawa dan kita bertiga keluar dari kamar, membiarkan Novi dan Riska beristirahat. Sekarang aku ingin melihat kondisi Satria, apakah dia baik-baik saja.


"Lo mau ngopi gak Dav?" Tanya Achong.


"Mau lah, kalau di bikinin," Jawab ku sambil tertawa.


"Nyusahin terus bisa nya!" Tegas Achong yang berpencar menuju dapur.


Aku dan Paula menuju kamar Satria, untuk melihat kondisi nya. Seperti biasa aku langsung membuka pintu, tanpa mengetuk nya terlebih dahulu, dan kita berdua melihat Satria yang sedang duduk memangku laptop dengan wajah yang serius.


"Tadi malam ada apa?" Tanya Satria tanpa menoleh ke arah kita.


"Enghhh... Gak ada apa-apa," Jawab ku.


"Gue tau, lo itu gak jago bohong Dav!" Tegas Satria, "34 Polisi meninggal di bantai oleh komunitas sesat itu kan?"


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Paula.


"Sudah banyak berita nya, tapi tidak di sebutkan pelaku nya. Disini di katakan kalau pembantaian misterius yang menewaskan 34 Polisi, dan mayat nya jelas berada di dekat bangunan tua yang ada di pasar," Jawab Satria.


"Iya Sat, berita itu benar dan gue gak bisa apa-apa!" Sahut ku.


"Lo berdua itu bodoh atau gimana, hah?" Geram Satria, "dengan mudah nya masuk ke perangkap musug!"


"Itu lah beda nya gue sama lo... Gue selalu bertindak dulu baru berfikir, beda sama lo yang berfikir dulu baru bertindak," Ucap ku.


"Yang bodoh itu aku dan yang harus nya di salah kan itu aku, karena meninggalkan anak buah ku mati begitu saja!" Sahut Paula.


"Rencana A kita batalkan untuk hari ini," Ucap Satria.


"Loh kenapa di cancel?" Tanya ku.


Satria tersenyum dan berkata, "Kalian berdua prepare sana!"


"Kita kibarkan bendera perang kepada mereka!" Sambung Satria.


"Sumpah, gue gak suka lihat senyum sok manis lo itu... Tapi gue selalu suka sama ide-ide gila lo!" Ujar ku.


Paula yang berdiri dengan melipat tangan nya di perut pun, tersenyum lebar melihat percakapan aku dan Satria barusan.


"Aku penasaran dengan rencana dadakan ini, apakah akan berhasil atau tidak, itu tidak penting. Yang terpenting, kita akan tunjukan kalau kita tidak takut dengan para budak iblis itu!"


......................

__ADS_1


__ADS_2