
Aku melihat jelas para anggota komunitas itu berlari menuju ke arah jendela, sambil menungacung-acungkan senjata tajam. Tak ada satu pun orang yang berani mendekat, bahkan security pun tak terlihat menghadangnya.
"Chong mana teman-teman media!" Aku teriak tanpa menoleh ke arah Achong.
Achong tak menjawab, ia masih sibuk dengan telponnya. Tanganku sudah gemetar saat mengambil gambar, entah mengapa kaki ini bergerak mundur tanpa ada perintah dari otakku.
"Dav, ayo kita lari dari sini!" ucap Riska yang sudah mulai ketakutan.
Aku menoleh ke arahnya, dan benar saja air matanya sudah menetes. Tanpa pikir panjang pun aku berjalan ke arah Riska, dan aku langsung memeluknya sambil berkata, "I love you."
Tangisan mulai terdengar jelas di telingaku, Riska menangis di bahuku sambil memukul-mukul punggungku. Mataku juga mulai berkaca-kaca, dan jika aku berkedip air mataku pasti menetes.
Tiba-tiba empat orang suster berlari masuk ke dalam, dan langsung menuju ke arah Riska. Nampaknya mereka sudah tahu, kalau kami sedang di serang.
Satu orang suster mencabut alat medis yang menempel di tubuh Riska, kemudian satu orang lagi sudah siap memegang tiang untuk menggantung cairan infus. Lalu yang dua orang lagi sibuk mengangkat kunci roda ranjang itu.
Saat semua sudah siap ke dua suster itu mendorong ranjang Riska, dan suster yang tadi melepas alat medis, berlari ke arah pintu dan membukannya lebar-lebar. Aku pun ikut membatu para suster untuk mendorong Riska, aku juga mengajak Achong untuk pergi dari kamar ini.
Orang-orang berpakaian serba hitam itu sudah dekat dengan jendela, dan kami sudah sampai di bibir pintu ruangan itu.
"Dav cepat kabur duluan, biar gue tutup pintu ini!" tegas Achong.
Aku menganggukkan kepala dan berterima kasih kepada Achong, lalu kami berhasil keluar dari kamar itu. Orang-orang berpakaian serba hitam itu juga sudah sampai di jendela, mereka memecahkan jendela dengan gagang sanjata tajamnya, membuat jendela kaca itu menganga dan satu persatu orang-orang berpakaian hitam itu memanjat jendela itu.
Achong yang sedang menelpon akhirnya menaruh HPnya di kantong, dan ia mulai menutup pintu kamar itu. Tapi orang-orang berpakaian hitam itu berlari sangat kencang dan menahan pintu itu.
__ADS_1
Achong pun terlihat tarik menarik pintu itu dengan salah satu anggota dari komunitas itu. Kemudian anggota komunitas itu kesal dan mulai mengayunkan parang ke arah Achong, Achong berhasil menghindar tapi pintunya berhasil terbuka.
"Dav lari!" teriak Achong.
Aku melihat Achong menendang salah satu anggota komunitas itu sampai terjatuh, kemudian Achong mengambil senjata tajam itu dan menodongkannya ke arah anggota komunitas yang lainya.
Perlahan Achong bergerak mundur tanpa membalikan badannya, dan saat jaraknya sudah agak jauh dari orang-orang berpakaian serba hitam itu, Achong pun berlari meninggalkan orang-orang itu.
Aku tersenyum lega, melihat Achong masih bisa selamat. Kami pun tiba di persimpangan lorong, dan suster mengarahkan kami untuk belok ke kanan. Kemudian suster membawa kami ke sebuah ruangan, yang ternyata itu adalah kamar mayat.
Suster pun menunggu Achong yang sedang berlari ke kamar mayat, dan saat Achong tiba, suster itu langsung menutup pintu dan mengunci dari dalam.
"Aku ada ide ...."
Para suster dan Achong pun berkumpul untuk mendengarkan ideku. Kemudian aku menjelaskan ideku, mereka mendengarkan dan suster juga setuju dengan ideku.
Riska melepaskan baju pasien yang di gunakan, dan ia mengambil jas milik dokter yang tergantung dekat pintu.
"Itu pakai untuk dokter yang bertugas, silahkan pakai saja!" ujar salah satu suster.
Saat Riska sudah selsai mengganti pakaiannya, Para suster mendorong mayat yang tak beridentitas itu keluar, kemudian Riska mengenakan Masker dan mereka berjalan bersamaan membawa mayat itu.
Jadi seolah-olah para suster dan Riska yang menyamar menjadi dokter, baru selesai mengoprasi mayat yang kami samarkan menjadi pasien, lengkap dengan baju pasien yang tadi di kenakan Riska dan juga tertancap infus milik Riska tadi.
"Kalian berjalan melawan arah orang-orang berpakaian hitam itu, dan menuju ke kamar seolah ingin mengantar pasien ... Aku dan Achong akan memancing mereka keluar, dan menggiring mereka ke teman-teman pers," ucapku.
__ADS_1
Riska pun mengerti, dan para suster juga mau membantu kami. Kami pun akhirnya keluar dari kamar mayat dan berjalan ke lorong tadi. Saat di persimpangan aku melihat gerombolan itu sedang mencari-cari kami, aku pun memberi aba-aba untuk Riska dan para dokter untuk lewat.
Kemudian aku berteriak, "Woi, budak iblis ... gue di sini!"
Gerombolan orang berpakaian serba hitam pun fokus kepadaku dan Achong dan mereka berlari ke arahku, dan mengabaikan Riska dan para suster yang sedang mendorong mayat. Penuh amarah orang-orang itu berlari ke arahku, sambil mengangkat senjatanya.
Saat Riska dan para suster berhasil melewati gerombolan itu, aku dan Achong pun tersenyum dan kami berlari ke halaman depan rumah sakit.
Aku beberapa kali menoleh ke belakang memastikan mereka semua mengejar kami, langkah mereka sangat cepat dan pintu keluar sudah mukai terlihat.
Akhirnya kami berdua sudah sampai di pintu keluar, lalu Achong membuka pintu dan cahaya matahari siang membuat mataku silau. Kami melanjutkan berlari, dan benar saja di depan sudah banyak wartawan dan juga warga sekitar yang ingin melihat langsung para anggota komunitas itu.
Aku merasa lega dan berhenti di kerumunan para wartawan.
"Kamera semuanya siap, sebentar lagi kelompok yang meresahkan masyarakat akan keluar!" teriakku.
Para kamerawan sudah siap menyorot ke arah pintu, dan warga sekitar sudah siap dengan ponsel mereka masing-masing. Benar saja dalan hitungan ke tiga, tiba-tiba pintu terbuka dan gerombolan itu pun keluar dari rumah sakit.
Mereka terlihat terkejut saat melihat banyak pers di luar, tapi mereka tetap melangkah ke arah kami dan tiba-tiba saja aku melihat 4 orang suster yang tadi membantu kami sudah terikat tangannya, dan sedang di dorong untuk berjalan ke luar.
Lalu hal yang tak ku inginkan pun terjadi, aku melihat Riska sedang di todong parang tepat di lehernya. Orang yang menodongkan parang itu mendorong-dorong Riska dengan kasar, air mata Riska sudah membasahi pipinya.
Para pers tetap menyorot ke arah gerombolan itu, dan beberapa wartawan TV membuat breaking news dari kejadian ini.
Gerombolan orang-orang berpakaian serba hitam itu berjalan perlahan ke arah pers, dia tak takut sama sekali dan seperti ingin menunjukan kalau mereka itu sangat mengerikan.
__ADS_1
Aku sudah mengepalkan kedua tanganku, dan menggit bibir bagian bawahku. Aku sudah tak tahan melihat tingkah laku mereka yang semakin menjadi-jadi.
......................