Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Pertempuran terakhir


__ADS_3

Air mata di pipi ini sudah mulai mengering, dan sudah 5 menit juga kami berada di sini, memperhatikan gerombolan itu mengangkat tangannya seperti sedang memanjatkan doa, sambil mengitari mayat Novi dan Satria.


Aku masih saja terpaku dan tak bisa bergerak, bukan karena Riska yang sedari tadi memelukku. Tapi karena memang aku masih tak percaya ini semua bisa terjadi. Jujur rasa sesal ini menggangguku, aku menyesal mengajak mereka semua ke sini.


“Harusnya dari awal, aku saja yang menyelesaikan dendamku sendiri,” gumamku dalam hati.


Aku melihat Paula yang sedang menggigit bibirnya hingga berdarah, tangannya tak juga turun dan tetap dengan posisi menodongkan pistolnya ke arah gerombolan itu. Air mata Paula terus mengalir, dan setiap kali ia berkedip maskaranya yang luntur membuat jalur hitam dari kantung mata hingga ke pipinya.


Sedangkan Riska masih menangis di pelukanku sambil berkata, “Ayo pulang Dav, aku takut ...”


Ia menyebutkan itu berulang-ulang kali sambil menangis, tapi aku tak peduli dengan ucapan Riska dan masih terpaku. Sampai akhirnya Achong muncul, dan berjalan dengan senyuman yang lebar. Ia bertepuk tangan sambil berkata, “Akhirnya orang yang merepotkan mati juga!”


“Apa maksud lo merepotkan, Chong?” geramku.


“Rencana Satria selalu membuat kami kerepotan ... andai saja dia jadi bagian dari kami, pasti kami sudah lama menguasai tanah Kalimantan ini.”


Achong menjawab pertanyaanku tanpa ada ekspresi sedih sedikit pun, entah karena memang dia sudah di rasuki sesuatu atau memang dari awal dia tak menganggap kami sebagai teman. Intinya Achong yang sekarang, adalah musuh bagi kami.


“Gue ada penawaran bagus buat lo, Dav!” ujar Achong, “bagaimana kalau kalian bertiga gabung dengan kami dan kita akan menyelamatkan tanah Kalimantan.”


“Menyelamatkan katamu?” sahut Paula kesal.


“Gue lebih baik menyusul Satria, daripada harus gabung dengan aliran sesat lo itu,” balasku.


“Itu hanya penawaran, Dav ...” ucapnya lirih, “lo mau terima syukur, gak terima yaa ... lo berarti harus mati di sini!”


“Gue sudah sangat siap untuk hal itu, Chong!”


Achong pun berlari kencang ke arahku sambil tersenyum, Paula pun tak tinggal diam, ia menembaki Achong tapi tidak ada satu pun peluru yang mengenai tubuh Achong.


Achong semakin dekat denganku dan ia pun langsung menendang dadaku, sempat tertangkis dengan tangan kiriku yang memegang bahu Riska. Tapi dorongannya terlalu kuat hingga membuat aku dan Riska terpental karena tendangan itu.

__ADS_1


“Davie, Riska!” teriak Paula yang melihatku dan Riska terguling.


Paula pun langsung berlari ke arahku dan Riska, lalu ia membantuku dan juga Riska untuk berdiri.


“Kalian baik-baik saja?” tanya Paula.


Riska pun menganggukkan kepalanya sambil menatapku.


“Terima kasih Paula ... lo tolong jaga Riska ya, Achong biar gue yang hadapi,” ucapku pada Paula.


Paula menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Hati-hati Dav, perasaanku tidak enak!”


Aku pun menoleh dan tersenyum melihat Riska yang ketakutan, spontan aku pun berkata, “I love you, Ris.”


Riska pun menggelengkan kepalanya sambil menangis, dan tangannya menjulur seolah ingin menarikku, dan menghentikanku. Tapi percuma, aku harus selesaikan ini semua.


Kemudian aku pun berlari ke arah Achong yang sudah menungguku, dan ketika sudah dekat dengannya, aku pun membalas Achong dengan menendangnya. Tendanganku pun telak mengenai dadanya, tapi ia hanya mundur 3 langkah saja.


Setelah selesai membersihkan jejak sepatuku di jubah hitamnya, ia pun berjalan menghampiriku dengan senyuman yang membuat hati ini sakit. Sakit, karena terlalu banyak kenangan yang kita lalui dengan senyuman itu.


Achong pun merenggangkan otot-otot lehernya dan menekuk jemarinya hingga berbunyi. Kemudian tanpa aku sadari ia sudah mengarahkan pukulan ke wajahku, dan aku pun tak punya waktu untuk menghindarinya.


Kepalaku pun terdorong ke belakang setelah pukulan Achong mendarat tepat di hidungku. Mataku pun kunang-kunang saat terkena pukulan itu, dan tak terasa darah pun keluar dari hidungku.


Dari jauh aku pun mendengar suara teriakan Riska, “Stop Chong ... stop!”


“Lihat, cewek bule lo teriak-teriak minta ampun sama gue!” ledek Achonk sambil tersenyum.


“Dia gak ada urusannya sama ini semua Chong, lawan lo itu gue!” geramku.


Achong tertawa terbahak-bahak dan ia melirik ke arah Paula dan Riska, lalu ia berkata, “Kalau cewek-cewek dulu yang mati ... mungkin seru kali ya, Dav?”

__ADS_1


“Jangan macam-macam Chong, lawan lo itu gue!” tegasku.


“LO PAYAH!” balas Achong sambil tersenyum.


Ia pun berlari ke arah Paula dan Riska, kemudian ia melewatiku begitu saja. Aku pun tak tinggal diam dan langsung segera mengejarnya, aku mengulurkan tanganku mencoba meraih jubah Achong. Sampai akhinya tanganku pun meraih jubah Achong dan aku langsung menariknya sampai ia jatuh terguling. Aku pun menghampiri Achong yang sudah tergeletak, dan memukuli wajahnya berkali-kali.


Anehnya Achong tidak menangkis dan juga tidak menghindari setiap pukulan yang aku lancarkan ke wajahnya. Bahkan Achong menerimanya dengan tersenyum seperti meremehkan pukulanku.


Aku yang melihat senyum itu pun murka dan menambah kekuatan untuk memukulinya lagi, bibir dan pelipisnya sudah sobek karena pukulanku. Aku terus menghajar ke arah lukanya itu berkali-kali tapi ia tetap saja tersenyum, dan membuatku naik pitam.


Dooooorrrrrr ... Doooooorrrrrr ....


Tiba-tiba terdengar suara tembakan dua kali dari arah Paula dan Riska.


Saat aku melihat Paula dan Riska, aku pun terkejut karena gerombolan yang tadi mengelilingi Novi dan Satria, sekarang berlarian ke arah Paula dan Riska. Wajah mereka terlihat panik, apalagi Riska yang sudah pucat karena ketakutan.


Spontan aku pun memberikan pukulan terakhirku ke mata kanan Achong dengan keras, dan meninggalkannya. Aku berlari ke arah gerombolan yang sedang berlari menuju ke tempat Paula dan Riska berdiri.


Aku terus berlari dengan kencang, dan aku pun melihat parang tergeletak di lantai, kemudian aku pun mengambil dua buah parang yang tergeletak di lantai itu dan mengayun-ngayunkannya sambil teriak, “Woi ... lawan lo itu gue!”


Kemudian gerombolan itu menghentikan langkahnya dan mereka menoleh ke arahku, dan aku melihat dengan jelas mereka semua memakai topeng tanpa ekspresi.


Mereka menunjuk ke arahku sebelum mengganti arah tujuan mereka, dan mulai berlari ke arahku, aku pun tersenyum dan sepintas aku terbayang wajah Suna, Regina, Satria, dan juga Novi di waktu bersamaan. Mereka tersenyum, seolah menyambutku dengan hangat.


“Davie jangan!” teriak Riska.


“Maafkan aku, Riska.”


Aku berlari tanpa ragu dan juga tanpa ada rasa takut ke arah kerumunan mereka. Begitu pun mereka, mereka semua berlari ke arahku sambil mengacung-ngacungkan senjata tajam mereka ke arahku.


......................

__ADS_1


__ADS_2