Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Paula, Rebeca, dan Xena!


__ADS_3

"Kamu tetap dibelakangku!" Ujarku sambil memegang tangan Riska.


Suara langkah kaki itu semakin dekat dan wanita paruh baya pun muncul, dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sebelum dia jatuh.


Bruuukkkkk...


Wanita itu pun tumbang dan terlihat pisau tertancap di punggung nya.


Spontan aku pun menghampiri wanita itu, darah sudah berceceran di lantai. Aku tak melihat ada orang selain wanita tua ini, aneh sekali. Jika dia bunuh diri kenapa menusuk punggung nya, bukan di bagian perut atau dada.


"Ris tunggu sini, dan telpon Paula sekarang juga!" Ujarku, "satu lagi, jangan sentuh wanita itu!"


Riska pun menganggukan kepalanya, dan aku keluar dari kamar Paula. Aku berlari menuruni tangga, berharap masih bisa bertemu dengan pelakunya.


Benar saja, aku melihat 2 orang berjubah hitam baru saja keluar meninggalkan rumah Paula. Aku pun berusaha berlari sekencang mungkin untuk mengejar pelaku nya, saat sampai di depan pintu aku kehilangan jejaknya.


"Ini pasti perbuatan orang-orang biadab itu!" Ujarku dalam hati, sambil menendang pintu rumah Paula.


Dengan perasaan kecewa aku pun kembali ke kamar Paula untuk menemui Riska, saat aku masuk ke kamar Paula, aku melihat Riska sedang berbicara dengan Paula via telfon.


"Tttooo... Tooo-loooong..."


Wanita itu masih hidup dan baru saja meminta tolong.


"Ris, orang ini masih hidup!" Teriak ku.


Riska menoleh dan segera berlari ke arahku yang sedang berusaha mengangkat wanita itu.


"Dia masih hidup... Nanti aku hubungi lagi," Ucap Riska yang mengakhiri panggilannya dengan Paula.


Aku pun sudah berhasil mengangkat wanita tua itu, dan mempercepat langkahku menuju mobil.


"Ris, tolong kunci lagi pintunya!" Ujarku.


Aku sudah sampai di depan mobil dan Riska membantuku membukakan pintu mobil sebelum dia mengunci pintu rumah Paula. Aku merebahkan wanita tua itu di kursi tengah, Riska yang sudah selesai mengunci pintu, kemudian berlari ke arah pagar dan menunggu mobil keluar.


Setelah selesai mengunci pagar, Riska naik ke mobil dan mengisi kursi depan. Hebatnya Riska tak terlihat panik sedikit pun, sedangkan aku sudah mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.


"Ini siapanya Paula?" Tanyaku.


"Asisten rumah tangganya," Jawab Riska, "dia bekerja pulang-pergi, tidak menginap... Karena rumah nya dibelakang rumah Paula."


"Kasihan sekali, orang yang tak ada kaitannya tapi jadi korban kekejaman sekte itu!" Ujarku.


"Aku juga sudah mulai muak dengan semua ini, dan ingin segera mengakhirinya," Sahut Riska yang tiba-tiba meneteskan air mata.


"Sabar... Kita masih ada waktu 4 hari lagi untuk menyelesaikan ini, dan aku berjanji akan membubarkan ajaran sesat ini!" Ucapku.


"Aku yakin kamu bisa Dav," Sahut Riska sambil mengusap air matanya.


Aku pun melaju dengan cepat menuju rumah sakit, dan aku harap masih sempat membawa orang tua ini ke rumah sakit. Kursi belakang sudah banyak sekali darah, tak perduli Achong nanti akan memarahiku, yang penting aku bisa menyelamatkan wanita ini.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung berhenti di depan IGD dan meminta tolong pada security di sana untuk memabawakan kasur dorong untuk memindahkan wanita itu. Tak lama kemudia 2 orang perawat keluar mendorong kasur ke dekat mobil, sedangkan aku berusaha menurunkan wanita itu di bantu dengan security.


"Ini kenapa pak?" Tanya security.


"Di tusuk orang tak dikenal," Jawabku.


Wanita tua itu berhasil di pindahkan dan para perawat dan security mendorongnya masuk ke dalam IGD, Riska sedang menelfon Paula, mengabarkan kalau kita berdua baru saja sampai.


"Keluarga pasien?" Tanya salah satu perawat kepadaku.


"Bukan, tapi aku yang bertanggung jawab," Jawabku.


"Silahkan ikut saya, untuk mengurus administrasinya," Ucap perawat itu.


"Biar aku aja Dav," Ucap Riska yang mengikuti perawat itu.


Aku pun menunggu di sini, dan tak lama kemudian Satria dan Novi mengahmpiriku.

__ADS_1


"Gimana keadan mbok Desi?" Tanya Novi.


"Masih tak sadarkan diri, tapi sudah di tangani barusan," Jawabku.


"Riska mana Dav?" Tanya Satria.


"Dia lagi mengurus administrasi," Jawabku singkat.


Novi pun berlari menyusul Riska.


"Dia kenapa?" Tanyaku.


"Dia di minta tolong untuk membayarkan administrasi, pakai uang sisa pesta tadi malam," Jawab Satria.


"Sat, lo pernah mikir komunitas itu akan balas dendam gak?" Tanyaku.


"Iya, dan aku sudah memikirkan cara mengantisipasinya..." Jawab Satria.


"Terus apa rencana lo setelah ini Sat, gue udah gak tahan lagi!" Ucapku.


"Gini Dav, kita pancing orang yang memata-matai kita!" Ujar Satria.


"Caranya?" Tanyaku.


"Gue yakin, Paula jadi target mereka saat ini... Caranya kita pindahkan Paula ke kamar lain tanpa ada yang tahu selain lo sama gue!" Jawab Satria.


"Terus?" Tanyaku penasaran.


"Terus, lo berpura-pura jadi Paula dan berbaring di kasur, dan gue berpura-pura sedang menemani lo Dav," Jawab Satria.


"Terus Novi, Achong, Riska?" Tanyaku.


"Mereka bertiga nanti gue suruh buat jaga mbok Desi, terus lo sama gue pura-pura jaga Paula, padahal kita berdua sedang menyamar," Jawab Satria.


"Nah terus yang jaga Paula siapa?" Tanyaku.


"Polisi, kita panggil polisi untuk menyamar dan menjaga Paula... Kemudian kita juga butuh Polisi berjaga di depan pintu kamar kita, jadi nanti ketika mata-mata iu tertangkap, bisa langsung di bawa ke kantor Polisi," Jawab Satria.


Novi dan Riska pun akhirnya kembali setelah mengurus administrasi, aku dan Satria pun pergi ke kamar Paula.


"Kalian berdua tunggu disini ya!" Ujar Satria.


Kami pun mempercepat langkah menuju kamar Paula.


Saat kami tiba, Paula langsung bertanya keaadaan mbok Desi, dan Satria menjelesakan keadaannya.


"Chong, tolong jaga mbok Desi sama Novi dan Riska... Gue sama Sama Davie menjaga disini!" Ujar Satria.


Achong menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ruang UGD, saat Achong pergi, Satria menjelaskan rencananya pada Paula.


"Gue butuh 4 atau 5 anggota Polisi," Ucap Satria.


"Oke, aku akan menghubungi anak buahku, untuk segera kesini!" Sahut Paula.


"Ingat, pakai baju bebas saja!" Ujarku.


"Tenang saja, aku kirim intel bersenjata kesini!" Tegas Paula.


"Kalau gitu, kalian tunggu di sini... Gue mau urus perpindahan kamar Paula," Ucap Satria yang mulai berjalan pergi meninggalkan kami berdua.


Satria pun sudah keluar dan menutup kembali pintunya, dan tiba-tiba saja Paula tersenyum kepadaku.


"Kau membuatku takut Puala!" Ujarku.


"Takut kenapa? Bukannya kamu pernah menikmatinya!" Sahut Paula.


"Jangan mulai lagi Paula!" Ujarku.


"Entah kenapa aku selalu bergairah jika kita hanya berdua saja Dav," Ucap Paula sambil memegang tanganku.

__ADS_1


"Lo siapa? Lo bukan Paula!" Ujarku sambil menarik tanganku.


Dia tersenyum dan perlahan tawanya membesar, dan dia menarik tanganku.


"Aku Rebeca!" Ujar Paula.


Aku berusaha menarik tanganku dan Paula menahannya, lalu dia berkata, "Kamu tidak bisa lolos dariku tampan!"


"Paula... Sadar Paula!" Tegasku.


"Paula si baik hati sedang tidur, dan sekarang aku menguasai tubuh ini... Ayolah Davie, puaskan hasratku, aku sangat bergairah kali ini!" Ucap Paula.


"Jangan macam-macam!" Ujarku.


Aku mengambil belati perak yang ku sembunyikan di belakang badanku dan menodong ke arahnya, dia pun melepaskan tanganku dan mengangkat tangangnya.


"Kenapa warisan keluargaku ada di tangan mu?" Ucap Paula.


"Cepat sembunyikan benda itu, si pemarah akan mengambil alih tubuh ini... Cepat Dav, sembunyikan!" Ujar Paula.


Aku pun semakin bingung di buatnya, dan aku tetap tak menuruti kehendaknya. Tiba-tiba kedua tangan Paula yang terangkat memukul tangan kiriku yang menodongkan belati itu, dan belati itu pun terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai.


"Kenapa belati yang ku pakai untuk membunuh Papaku ada di kamu?" Geram Paula.


"Siapa kamu?" Tanyaku sambil menahan sakit karena di pukul olehnya tadi.


"Aku Xena!" Ujarnya dengan nada tinggi, "aku ingat kamu sekarang, kamu yang kemarin ada di tempat aku menusuk 4 orang mesum itu kan!"


"Ohhh... Jadi kamu yang membantai orang-orang itu? Ada yang ingin aku sampaikan padamu," Ucapku.


"Apa?" Tanya Paula tegas.


"Aku tidak takut sama sekali denganmu!" Ujarku.


Paula tertawa, dan tawanya sangat berbeda dari tawa Paula yang ku kenal. Tawa nya semakin keras dan tiba-tiba kepala nya menunduk, dan berkata, "Jangan membuat kami marah Dav!"


"Sekarang siapa lagi?" Tanyaku.


"Aku... Paula!" Jawab Paula.


"Apa maksudnya kami?" Tanyaku.


"YAAA KARENA KAMI ADA TIGA!" Ucap Paula


"Ini pasti Xena?" Sahutku.


"Yaa benar... Hey Paula sudah berani kau menyelak ku yang sedang menggunakan tubuh ini!" Ujar Paula.


"Seperti nya kau salah masuk rumah sakit, harusnya kamu masuk rumah sakit jiwa!" Ujarku.


Pauala pun mencekikku keras sekali, dan aku hanya bisa memukul-mukul lengan nya saja agar dia melepaskannya.


"Stoopppp!" Teriak Satria, "kalian berdua apa-apaan sih?"


"Maaf aku gak sengaja!" Ucap Paula.


"Paula?" Tanyaku sambil memegang leherku.


"Ada apa ini sebenernya?" Tanya Satria.


Baru saja ingin menjelaskan, Paula memegang tanganku dan menggelengkan kepalanya.


"Gak apa-apa kok Sat, cuma lagi bercanda aja," Jawabku.


Sial kenapa, aku tak jujur saja pada Satria kalau Paula ini aneh. Aku harus cerita ke Novi, mungkin dia punya solusinya. Aku pun mengambil belati perak yang tergeletak di lantai.


"Kamarnya sudah siap, intelnya gimana?" Tanya Satria.


"Sedang dalam perjalanan!" Ujar Paula.

__ADS_1


Kami bertiga menunggu sampai para intel datang, dan baru memulai rencananya.


......................


__ADS_2