
Aku dan Satria sudah sampai di homestay, dan aku langsung pergi untuk mandi, Satria pergi ke kamar dan memgambil laptopnya. Dia duduk di meja makan sambil membuka laptopnya, entah apa yang akan dilakukannya.
20 menit berlalu dan aku sudah rapih dan tak bau darah lagi, aku pun menghampiri Satria yang masih berada dimeja makan.
"Lagi ngapain sih Sat?" Tanyaku.
"Gue lagi research Dav," Jawab Satria yang tatapannya masih ke layar laptop.
Sedikitnya informasi membuat kami kesusahan mencari petunjuk tentang sekte itu.
"Apa itu Sat, kok alamat webnya gak jelas gitu?" Tanyaku bingung.
"Ini deep web Dav, memang untuk URLnya tidak pernah jelas, agar sulit di lacak." Jawab Satria.
"Deep web, apaan tuh?" Tanyaku yang semakin bingung.
"Dasar masyrakat awam!" Tegas Satria, "internet dan browser yang lo pakai sekarang itu hanya permukan saja, di bawah permukaan itu ada yang namanya deep web, internet yang tidak banyak orang tahu dan sulit di akses, nah di bawah deep web masih ada lagi dark web, dan itu sangat sulit di akses, dan bisa di bilang itu adalah sarang kriminal."
"Serius ada yang seperti itu?" Tanyaku.
Satria menganggukkan kepalanya.
"Tapi apakah itu legal?" Tanyaku.
"Tentu saja ini ilegal Dav, dan kebanyakan orang menggunakan deep web untuk membeli narkoba, senjata api, dan bahkan lo bisa mencari jasa pembunuh bayaran disini!" Jawab Satria.
"Wow, terus lo lagi cari apa?" Tanyaku yang sedang terkagum-kagum.
"Gue nyari informasi tentang sekte-sekte penyembah iblis di seluruh dunia." Jawab Satria.
"Memangnya ada?" Tanyaku kaget.
"Lihat saja sendiri!" Ujar Satria.
Aku pun melihat ke monitor dan benar saja, banyak informasi tentang komunitas penyembah setan.
"Lo tau ga persamaannya dari semua sekte ini?" Tanya Satria.
"Apa?" Ucapku bingung.
"Mereka sama-sama membutuhkan tumbal, tapi alasannya berbeda-beda." Sahut Satria.
Aku jadi ikut fokus melihat Satria mencari informasi, dengan analisis yang kuat, Satria sudah membuat catatan di secarik kertas.
"Jadi selama ini, dia merencanakan sesuatu tidak asal-asalan dan ada proses yang rumit seperti ini." Ujarku dalam hati.
Sampai di halaman terakhir kami melihat foto seseorang yang menggunakan topeng tanpa ekspresi, dan mengenakan jubah hitam lengkap dengan tudung kepala.
"Bingo!" Teriak Satria.
__ADS_1
ilSat, ini beneran?" Tanyaku.
Satria menganggukkan kepalanya dan mengklik foto orang itu, kemudian hanya muncul teks yang tidak jelas. Lalu Satria mendrag kursor dan menyalin tulisan itu, kemudian dia menempelkan di bar alamat pencarian. Kemudian layar nerubah jadi hitam semua, di karenakan jaringan internet yang lambat, situsnya belum terbuka semua. Kami berdua pun menunggu dan penasaran.
Kemudian muncul tulisan "wachten op de dag van opstanding" Aku pun bingung dan bertannya pada Satria, "Itu artinya apa Sat?"
"Sepertinya itu bahasa Belanda," Jawab Satria sambil membuka tab baru untuk mentranslate tulisan itu.
Setelah di translate benar saja, artinya adalah "menunggu hari kebangkitan."
"Tidak salah lagi ini pasti mereka!" Ujar Satria.
"Tapi kenapa bahasa Belanda?" Tanyaku.
"Entahlah, mungkin sekte ini berasal dari sana dan mulai menyebar di Indonesia." Jawab Satria.
"Riska!" Ujarku.
"Kenapa Riska?" Tanya Satria.
"Dia kan tinggal di Belanda, pasti dia tahu sesuatu!" Jawabku.
"Astaga, benar juga... Kita tak perlu repot-repot mengartikan artikel ini!" Ujar Satria.
"Ayo kita kerumah sakit sekarang!" Sahutku.
Aku pun menununggu diluar sambilng menghisap sebatang Rokok, jujur aku tidak bisa tenang, dan sedari tadi aku mondar-mandir di depan pintu.
Tidak lama kemudian Satria selesai mengganti pakaian dan kami langsung menuju ke rumah sakit. Di perjalanan Satria masih sibuk dengan laptopnya dan terus memandangi artikel itu.
Sesampainya di rumah sakit, kami langsung berlari ke kamar Riska, dan saat sampai di sana tidak ada orang sama sekali. Hanya ada Riska yang masih tak sadarkan diri, sendiri di ruangan itu.
"Astaga, Riska di tinggal sendiri gini!" Ujar Satria.
"Kemana sih, Novi dan Achong!" Sambungku.
Aku pun menghampiri Riska dan mengusap kepalanya, tiba-tiba alis Riska mengerut dan perlahan matanya terbuka.
"Da... Davie?" Ucap Riska lirih.
"Iya, aku disini... Kamu istirahat, jangan terlalu memaksakan diri!" Ujarku.
Riska tersnyum dan menggenggam tanganku, dan berakat, "Terima kasih untuk semuanya."
"Sudah, jangan bicara lagi," Ucapku sambil mengusap kepala Riska.
Riska tersenyum dan menutup matanya, dia berkata, "Sentuhan tanganmu di kepalaku, membuatku tenang dan nyaman Dav."
"Itu sebagian kecil dari tugasku Ris," Sahut Diaz sambil tersenyum dan perlahan meneteskan air mata.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kami melihat Novi, berjalan dengan suster.
"Kalian kapan sampai?" Tanya Novi.
"Lo gila ya Nov, ninggalin Riska sendirian!" Ujarku.
"Tadi Riska kejang-kejang Dav, gue panik terus gue panggil suster." Ucap Novi.
"Ini kan ada tombol darurat, yang terhubung ke ruangan suster Nov!" Tegasku.
"Tapi itu gak berfungsi Dav, makanya gue samperin sendiri susternya!" Sahut Novi.
"Achong mana?" Tanya Satria.
"Dia bilang mau ke kantor polisi untuk memberikan laporan!" Jawab Novi.
"Laporan apa?" Tanyaku.
"Laporan korban jiwa yang ada di gubuk tua itu!" Jawab Novi.
"Kalian semua berisik banget sih..." Ucap Riska sambil tersenyum.
Novi pun terkejut, dan langsung memeluk Riska sambil berkata, "Akhirnya kamu sadar juga Ris."
"Maaf ya Nov, udah buat kamu khawatir," Ucap Riska sambil tersenyum.
Suster pun lalu memeriksa tombol darurat yang berada di atas meja sebelah tempat tidur Riska. Suster itu memeriksa kabelnya dan ia terkejut ternyata ada kabel yang putus.
"Pantas saja gak bunyi, orang kabelnya putus!" Ujarku.
"Maaf ya, kami akan segera membetulkannya." Sahut suster itu.
Kemudian suster itu meminta izin untuk memanggil tekhnisi, agar segera di betulkan. Suster itu pun meninggalkan ruangan, dan Riska terlihat baik-baik saja dan senyumanya telah kembali.
"Kita minta artiin sekarang aja ya?" Bisik Satria kepadaku.
"Jangan, besok pagi saja Sat!" Ujarku.
Satria menganggukan kepalanya dan sekarang dia kembali fokus dengan laptopnya, aku pun duduk di samping Riska sambil menggenggam tangannya. Rasanya tak ingin ku lepas walaupun hanya 1 menit, aku tak ingin kehilang dia.
"Dav, cepat selesaikan ini semua!" Ujar Riska, "aku sudah lelah dan muak dengan semua ini!"
"Iya Ris, aku janji akan selesaikan ini secepatnya, dan kita bisa kembali lagi ke Jakarta ya." Sahutku.
Riska tersenyum dan menarik tanganku yang sedari tadi menggenggam tangannya, kemudian mencium tanganku kemudian dia mengelus tanganku dengan pipinya. Air mataku tak sanggup lagi ku bendung, dan menetes begitu saja membasahi pipiku.
"Sebentar lagi, sebentar lagi... Aku janji padamu akan selesaikan ini, sebentar lagi!"
......................
__ADS_1