Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Enjoy the trip


__ADS_3

Hari sudah mulai malam, sekitar pukul 18:30 dan Novi jadi orang terakhir yang selesai melakukan persiapan. Entah apa yang di bawanya, tapi ia membawa tas ransel yang besar dan penuh.


“Lo mau pulang kampung, Nov?” tanya Satria.


Semua pun tersenyum mendengar celetukan Satria, dan Novi tak menghiraukannya dan ia berkata, “Ayo berangkat!”


“Sini kumpul dulu, kita berdoa!” ucap Satria.


Kami pun berkumpul dan membentuk lingkaran, dan Satria memimpin doa kali ini. Saat doa selesai Paula pun berjalan ke arah mobil.


Kali ini kita naik mobil pick up, karena mobil yang biasa kita pakai sedang di bawa oleh Achong.


Paula yang menyetir kali ini, dan di kursi depan ia bersama dengan Satria. Aku, Riska, Novi, dan Sonya berada di belakang, di bak terbuka.


“Kamu yakin mau di sini, Ris?” tanyaku.


Riska hanya menganggukkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di bahuku.


“Malam ini dingin Ris, sebaiknya kamu di depan saja bersama Satria dan Paula,” ucapku.


“Enggak mau, Dav!”


Baru kali ini aku di bentak olehnya, kemudian ia menggandeng lenganku sambil sesekali memejamkan matanya.


“Ehem ... Ehem ... enak ya bermesraan di mobil bak,” sindir Novi.


Aku hanya menggelengkan kepala dan tidak menimpalinya, dan Riska pun juga sama. Ia bahkan tak membuka matanya saat Novi berkata seperti itu.


“Kita mau ke mana sebenarnya?” tanya Sonya pada Novi.


“Aku tidak tahu Son, aku hanya ikut dan percaya sama teman-temanku saja.”


“Kita akan ke markas mereka,” sahutku.


Riska dan Sonya pun terkejut mendengar ucapanku.


“Kenapa lo gak bilang dari awal, Dav!” bentak Novi.


“Aku takut ...” sahut Sonya dengan nada pelan.


Aku pun menghela nafas dan berkata, “Kita akan akhiri ini semua, malam ini!”


“Ini namanya bunuh diri, Dav!” tegas Novi.


“Tadi lo bilang percaya sama teman-teman lo ... kenapa sekarang lo ragu, dan bilang ini sama aja bunuh diri!”


Novi pun terdiam saat aku berkata seperti itu, memang nadaku lumayan tinggi barusan dan aku sudah tidak tahu bagaimana caranya untuk meyakinkan dia.


“Maaf Dav ... gue Cuma khawatir,” ucap Novi.

__ADS_1


“Khawatir kenapa?” tanyaku.


“Aku khawatir kalau kita akan gagal.”


Aku pun tersenyum dan menggelengkan kepala, kemudian Riska pun mengangkat kepalanya dan berkata, “Tenang saja Nov, kita semua akan baik-baik saja, iya kan ya Dav?”


“Iya kita akan baik-baik saja, aku janji.”


Novi pun terdiam dan ia menaruh ransel besar yang sedari tadi di gendongnya. Kemudian ia membuka tas itu dan memberikanku pistol sungguhan. Aku pun terkejut dan bertanya, “Lo dapat ini dari mana?”


“Achong menyembunyikannya di dapur,” ucap Novi yang sibuk merogoh tasnya, “aku menemukan 3 pistol sekaligus di sana.”


“Kurang ajar!” ujarku.


“Kamu kenapa, Dav?” tanya Riska.


“Achong ... dia tidak mendengarkanku dan Satria yang menolak membeli senjata itu.”


“Mungkin tujuannya baik Dav, untuk melindungi kita,” sahut Novi.


Aku pun berpikir ada benarnya juga perkataan Novi, kemudian aku pun berkata, “Kalian pegang satu-satu untuk berjaga-jaga!”


Kemudian Novi pun memberikan pistol itu kepada Sonya dan Riska, sesuai dengan instruksiku.


“Kamu saja yang pegang ini, Dav!” ucap Riska.


“Kamu saja ... aku sudah pegang belati perak warisan keluarga Paula.”


“Jangan sampai Satria tahu kalian memegang pistol, dan gunakan itu hanya dalam keadaan terdesak saja!” ujarku.


Mereka bertiga menganggukkan kepalanya, tanda mengerti dengan ucapanku. Mataku tak bisa lepas dari tangan Sonya yang gemetar saat memegang pistol itu dan aku pun berkata, “Tenang saja Son, aku pastikan kalian tidak akan menggunakan pistol itu.”


Sonya pun menatapku sambil tersenyum dan lalu ia menyembunyikan pistol itu di balik kemejanya. Perlahan tangannya pun berhenti bergetar.


...****************...


“Guy’s sebentar lagi kita sampai!” teriak Satria sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela.


Para wanita yang ada di belakang pun sudah memasang wajah tegang, tapi tidak berlaku untuk Riska yang bersandar di bahuku.


“Dav, ini bukannya altar?” tanya Novi.


“Ya betul sekali, kita akan menyerang langsung ke sarang mereka!”


“Sumpah ... ini hal gila yang kalian rencanakan,” ucap Novi sambil menggelengkan kepalanya.


Kemudian mobil ini keluar jalur dan masuk ke antara pepohonan, dan tidak lama kemudian mobil berhenti dan mesinnya pun di matikan oleh Paula.


Paula dan Satria pun turun dari mobil, lalu Paula berkata, “Kita sudah sampai, enjoy the trip.”

__ADS_1


“Orang gila,” sahut Satria.


Kami yang berada di bak terbuka pun turun dan aku membantu mereka satu persatu.


“Naik pada bisa ... giiliran turun menyusahi orang,” gumamku dalam hati.


Saat mereka sudah turun semua, kami pun berjalan menyusuri hutan ini dan Paula melarang kami menyalakan senter. Jadi kami hanya mengandalkan terang bulan yang sedang purnama kali ini.


Kami pun membentuk dua barisan memanjang ke belakang, paling depan ada Paula dan Satria, kemudian di tengah ada Novi dan Sonya, dan di barisan belakang aku bersama Riska.


Langkah kami pelan dan sangat hati-hati, menginjak daun kering saja sudah menimbulkan suara yang sangat berisik. Suara-suara seperti jangkrik pun mengiringi perjalanan kami, dan Paula sepertinya sudah hafal betul jalan menuju ke altar.


Kalau di ingat-ingat, sepertinya ini bukan jalan yang waktu itu kita lalui, saat ke altar pertama kali. Jalur ini berbeda, Novi terlihat baik-baik saja dan tak ada tanda-tanda kalau ia terganggu dengan makhluk halus penunggu hutan ini.


Riska masih saja santai dan tetal fokus dengan langkahnya, ia lebih waspada kali ini.


Tidak lama kemudian kami pun melihat cahaya terang seperti ada pemukiman di depan kami, Paula pun menghentikan langkahnya dan berkata, “Nov periksa apakah ada dinding gaib?”


Novi pun melangkah maju ke depan dan ia menjulurkan kedua tangannya sambil menutup matanya. Kemudian ekspresinya terlihat seperti menahan sakit, dan ia pun menarik kedua tangannya.


“Ada dinding gaib, tapi energinya tak sebesar saat kita pertama kesini!” ujar Novi.


“Itu karena malam ini sedang purnama,” sahut Paula sambil melangkahkan kakinya.


Saat melewati Novi, Paula pun berbalik arah dan melihat ke arah kami yang masih terdiam. Kemudian ia menggerakkan tangannya seperti memanggil kami.


Satria pun mulai berjalan menghampiri Paula dan di susul oleh Sonya.


“Jalan Dav ...” bisik Novi.


Aku menggandeng Riska dan berjalan menghampiri Satri dan Paula, lalu Novi pun membarengi aku dan Riska berjalan menghampiri Satria dan Paula.


Paula pun menundukkan badannya dan berjalan 3 langkah ke depan dengan tangan kiri yang di angkatnya ke belakang, seperti tanda untuk menahan kami dan menunggu di situ.


Kami pun paham dengan aba-aba Paula.


“Sat ... sini Sat ...” panggil Paula dengan nada pelan.


Satria pun berjalan perlahan menghampiri Paula, dan saat ia berada di samping Paula, Satria terkejut sambil menutup mulutnya. Tanpa di sadari Satria berjalan mundur ke belakang dengan kaki gemetar.


Aku yang penasaran pun akhirnya menghampiri Paula dan ingin melihat apa yang ada di sana.


“Anjriiitttt!” aku pun sangat terkejut saat melihat semua itu.


Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka sedang melakukan ritualnya. Bukan ritualnya yang membuatku terkejut, tapi ratusan kepala manusia yang di tumpuk melingkari gambar pentagram.


Dan di tengah gambar pentagram itu aku melihat seseorang, berdiri dengan tubuh terikat di tiang kayu.


Aku coba menegaskan kembali dan memperhatikan baik-baik siapa orang yan ada di tengah-tengah pentagram itu.

__ADS_1


Aku pun terkejut dan tak bisa berkedip, saat melihat orang yang terikat itu adalah Achong.


......................


__ADS_2