
Rony telah mati mengenaskan, lehernya tertancap anak panah. Tapi senyumnya tak akan mati, akan tetap hidup di kepalaku.
Andini celingak-celinguk mencari tahu dari mana anak panah itu berasal, tiba-tiba seseorang dengan jubah hitam dan memakai topeng tengkorak keluar membawa busur panah.
"Yugo, kenapa kau lakukan itu!" Andini teriak pada orang itu.
"Dia sudah menderita, mau sampai kapan kau membuatnya lebih menderita lagi?" tanya orang itu kepada Andini.
Andini menggelengkan kepalanya dan menurunkan jasad Rony yang masih tergantung, 2 orang anak buah Andini membantunya. Andini meletakan jasad Rony dan ia mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa.
"Mau sampai kapan nostalgianya?" tanya Yugo.
Andini menoleh ke arah Yugo, dan ia menurunkan kedua tangannya. Wajah Andini tampak kesal, ia bangun dan jalan perlahan ke arah Yugo.
Sambil berjalan ia berkata, "Kan sudah aku katakan, biar aku yang urus keluargaku yang kafir."
"Tapi nyatanya apa, kau membunuh Paula dan sekarang Rony." geram Andini.
"Sabar dulu cantik ... kau harus tau alasanya," balad Yugo sambil tersenyum.
"Apa, apa alasannya?" tanya Andini kesal.
Andini pun sudah sampai di hadapan Yugo, tangannya sudah mengepal dan bergetar. Yugo melihat Andini dari ujung kaki, naik sampai ke wajahnya. Yugo pun membuka topeng tengkoraknya, dan ia tersenyum kepada Andini.
"Hentikan senyum palsumu, dan pakai lagi topengmu!" bentak Andini.
Yugo menggelengkan kepakanya sambil tertawa, lalu ia pun berkata, "Alasan kenapa aku membunuh saudara-saudaramu, karena kau lambat ... ketua kesal dan meyuruhku untuk mengurus saudara-saudaramu."
Andini yang mendengar itu langsung mendaratkan pukulan tepat di hidung Yugo. Tapi Yugo tak bergerak sedikitpun, ia tak goyah meski di pukul sekuat itu. Darah pun keluar dari hidung Yugo, dan ia masih tak bergerak.
"Tunggu sebentar, aku ingat postur tubuhnya!" ujarku dalam hati.
Saat ia memiringkan kepalanya ke kiri dan kenan untuk merenggangkan ototnya, aku baru ingat gerakan itu mirip orang yang telah membunuh Suna.
"Hei, topeng tengkorak ... masih ingat denganku?" tanyaku dengan sedikit teriak.
Lalu Yugo menyingkap Andini, dan melihat ke arahku. Lalu ia tertawa dan, berjalan menghampiriku.
__ADS_1
"Kemari kau Yugo!" panggil Andini.
Ternyata memang benar dia orangnya, gerakannya saat ia berjalan aku ingat sekali. Tak terdengar suara langkah sama sekali saat ia berjalan, karena ia berjalan jinjit.
"Ternyata pengacau selama ini, kau orangnya?" tanya Yogu sambil tersenyum kepadaku, ia juga masih berjalan ke arahku dan semakin dekat.
"Kita bertemu lagi, pembunuh!" Aku membentaknya sambil tersenyum.
"Kau tidak lari lagi, meninggalkan kekasihmu yang baru ini?" tanya Yugo yang sudah adabdi hadapanku.
"Jadi, namamu Yugo?" tanyaku sambil tersenyum.
Yugo mengganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Warna kulit yang coklat dan rahang yang persegi, mempertegas wajahnya dengan bekas luka di dahinya.
"Aku akan mengingat nama dan wajahmu," ucapku.
"Ingat di neraka, bersama mantan kekasihmu!" ujar Yugo yang kemudian mendaratkan pukulan ke mata kiriku.
Pandanganku buram seketika, hanya hitam saja. Aku berusaha untuk tetap sadar, dan aku menggeleng-gelengkan kepala sambil berkedip-kedip. Kalau saja tanganku tak terikat, pasti aku akan membalas pukulannya itu.
"Kau akan menyesal karena sudah memukulku," ucapku sambil tersenyum.
"Agar aku tak menyesal, aku ingin lebih banyak lagi memukuli mu," ucap Yugo.
Aku mengangkat kepalaku, dan melihatnya sedang memainkan lidahnya. Aku pun merasa risi dan spontan aku meludahinya dan hanya mengenai dadanya saja, karena posisiku sedang berlutut di hadapannya.
Kemudian aku melihat Andini berlari sambil membawa balok kayu besar, dan sudah siap untuk menghantam Yugo.
Yugo pun menoleh ke belakang, tapi terlambat. Andini sudah mengayunkan balok itu dan tepat mengenai kepala Yugo. Yugo pun tak bergerak padahal sudah terkena pukulan telak di kepalanya, Andini pun terkujut dan ingin menyerangnya lagi.
Andini mengayunkan balok kayu itu untuk kedua kalinya, dan mengarah ke kepala Yugo. Tapi Yugo menangkis balok itu dengan tangan kirinya, sampai balok itu patah.
Wajah panik Andini pun terlihat, dan ia melangkah mundur perlahan. Yugo pun berjalan mendekati Andini yang terus berjalan mundur sambil menggelengkan kepalanya. Saat aku melihat wajah Andini, aku teringat dengan Paula.
Aku pun bangun dan berlari ke arah Yugo, lalu aku melompat dan mendorong Yugo dengan bahuku. Kami berdua terjatuh dan aku terguling ke arah Andini. Kemudian Andini menjatuhkan balok kayu yang sudah patah itu, dan membantuku untuk berdiri.
"Ikatan ku ... lepaskan ikatanku!" ucapku meminta tolong pada Andini.
__ADS_1
Awalnya ia ragu tapi saat melihat Yugo bangun, Andini langsung membukakan tali pengikat tanganku. Yugo tak membiarkan itu dan ia berlari ke arah kami, ketika sudah dekat Yugo langsung menendang ke arah kami tanpa aba-aba.
Aku menyadarinya dan langsung mendorong Andini dengan bahuku.
Aaaarrrrrgggghhhhh ....
Aku teriak karena sudah menahan tendangan itu dengan dadaku. Aku sampai terlempar kira-kira 2m dari tempatku berdiri tadi, Andini tak tinggal diam dan ia langsung berlari ke arahku dan membantuku untuk bangun.
Saat aku sudah terduduk, Andini melanjutkan membuka tali yang mengikatku. Dan talinya pun terlepas, aku langsung mengerak-gerakan pergelangan tanganku seolah sedang melakukan pemanasan.
"Kan sudah aku katakan, kau akan menyesal karena sudah memukulku!" ucapku.
Yugo tertawa mendengar perkataanku, dan ia berjalan menghampiriku.
"Aku akan selsaikan ini dalam dua menit," ucap Yugo.
"Yang benar saja, masa selama itu ... kalau gitu, akan aku selesaikan ini kurang dari satu menit," balasku.
Aku berlari ke arah Yugo, dan sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul. Yugo yang tadinya berjalan, ia pun berhenti dan menungguku mengahmpirinya. Saat sudah dekat, aku pun menambah kecepatan lariku dan melewatinya begitu saja.
Aku terus berlari ke arah Riska yang sudah ada di dekatku, Riska masih di kawal dengan 2 orang berjubah hitam.
Saat hampir sampai untuk menghampiri Riska, aku pun berteriak, "Awas!"
Kedua orang berjubah itu tertegun dan menyingkirkan tangannya dari bahu Riska. Aku langsung menarik Riska, dan Riska pun ikut berlari bersamaku dengan tangan terikat.
Aku bukannya takut menhadapi Yugo, tapi Yugo tipe orang yang licik. Saat ia terdesak, ia pasti akan menyerang orang yang tak berdaya seperti Riska.
Saat aku sampai di depan pintu, dan ingin melangkah keluar, tiba-tiba saja aku mendengar suara Novi memanggilku, "Davie!"
Aku pun menoleh ke belakang dan melihat Novi sedang di jambak rambutnya oleh Yugo. Lalu Andini juga sudah terkapar di lantai bersama kedua orang yang tadi menjaga Riska.
"Dav, tolong Dav!" teriak Novi.
Aku melihat pilipis Novi sudah berdarah, dan Yugo hanya tersenyum sambul menjambak Novi. Kemudian Yugo memasukan tangan kirinya ke dalam jubah, dan ia mengeluarkan parang dari punggunggungnya. Yugo langsung menodongkan parang itu ke leher Novi sambil tersenyum dan memainkan lidahnya.
"Jangaaaaaaaaaannnnnnn!" teriak Riska.
__ADS_1
......................