
Suasana di dalam ruangan menajadi tegang, aku tak habis pikir kalau Satria akan terpancing dengan surat itu.
"Apa lo yakin, Sat?" tanyaku.
Satria diam dan tetap fokus dengan buku catatannya, kemudian Riska menarikku sambil berkata, "Biarkan saja, dia mungking sedang merencanakan sesuatu."
"Nanti saat aku pergi, kamu tunggu di sini ya bersama Novi," ucapku.
"Aku sebenarnya ingin sekali melarang kamu, untuk ikut dengan Satria ... tapi aku yakin kamu pasti tak akan mendengarkanku," balas Riska sambil tersenyum.
"Lo tetap di sini, Dav!" sahut Satria.
"Loh, kenapa?" tanyaku heran.
"Gue cuma mau survei lokasi aja, gak akan menyerang mereka," jawab Satria.
"Lo yakin?" tanyaku.
"Biar nanti gue sama Achong aja yang berangkat, lo tunggu di sini dan tetap di sisi Riska," jawab Satria.
"Gue ngerti sekarang!" ujarku.
Riska pun menggenggam tanganku sambil menggelengkan kepalanya, lalu dia berkata lirih, "Aku takut...."
Aku sungguh tidak tega melihat wajahnya, dan aku pun memutuskan untuk tetap di sini untuk menjaganya.
Kemudian Achong dan Novi pun sampai, Novi langsung menghapiri Riska dan menyakan ke adaannya. Lalu Novi melihat perban di dahiku dan ia pun bertanya, "Dahi lo kenapa?"
"Semalam ada yang melempar batu dari luar jendela, dan tepat mengenai dahi gue Nov," jawabku.
"Chong nanti jam 12, lo ikut gue survei lokasi!" ujar Satria.
"Gak bisa Sat, gue harus balik ke kantor polisi," sahut Achong.
"Memangnya lokasi apa Sat?" tanya Novi.
"Kita dapat beberapa informasi baru tempat persembunyian komunitas itu," jawab Satria.
"Kalau gitu sama gue aja, Sat!" ujar Novi.
"Lo yakin mau ikut, Nov?" tanya Satria.
__ADS_1
Novi menganggukkan kepalanya, bersamaan dengan itu firasatku tumbah buruk. Mengapa Satria membiarkan Novi ikut dengannya, semoga saja firasatku salah kali ini.
"Gue ke kantor polisi dulu ya," ucap Achong.
Kami semua mengizinkan Achong pergi dan dia langsung meninggalkan ruangan ini, kemudian Novi mulai mengupas kulit buah jeruk yang ia bawa untuk Riska. Padahal mereka berdua belum lama kenal, tetapi sikap Novi ke Riska seperti seorang sahabat yang sudah puluhan tahun bersama.
Tookkk... Tokkkk... Tokkk...
Suara pintu terketuk dari luar.
"Masuk!" Ujarku.
Kami pun terkejut saat seseorang membuka pintu, dan ternyata itu adalah suster yang telah banyak memberikan informasi kepada kita.
"Loh, katanya jam 12?" tanya Satria bingung.
Suster itu berjalan menghampiri kami dan berkata, "Aku khawatir dengan kondisi kalian."
"Sebelumnya terima kasih telah mengkhawatirkanku, tapi aku bersama teman-temanku baik-baik saja," sahut Riska.
"Syukurlah kalau begitu ... perkenalkan namaku Sonya," ucap Suster itu memperkenalkan diri.
Kami pun balas memperkenalkan diri satu persatu, wajah Sonya tampak bahagia saat berkumpul bersama kami. Beberapa kali ia melirik ke arah Satria yang sedang fokus dengan buku catatannya, Sonya seperti ingin bertanya tapi terlihat sungkan.
Sonya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, Sonya terlihat masih tampak muda, untuk seorang janda. Wajahnya pun masih sangat cantik dengan rambut pendek sebahunya, tubuhnya pun hampir di bilang sempurna.
"Sonya, apakah kamu sudah punya anak?" tanya Novi.
"Belum, bahkan suamiku meninggal sebelum ia menyentuhku ..." jawabnya lirih.
"Kok bisa?" tanya Novi penasaran.
"Sehari setelah menikah, aku datang bulan dan sebelum datang bulanki berakhir, suamiku sudah meninggal..." jawab Sonya dengan nada pelan.
Novi pun meminta maaf karena sudah bertanya mengenai hal yang sensitif, tapi Sonya malah tersenyum dan ia mulai bercerita tentang suaminya yang sudah meninggal itu.
Sonya bilang, kalau sebelumnya tidak pernah pacaran dengan suaminya. Dia kenal dengan suaminya 3 hari sebelum pernikahan, jadi dia belum tahu banyak tentang latar belakang suaminya.
"Lalu kenapa kamu menerima lamaranya?" tanya Riska.
"Entah kenapa, sampai sekarang aku juga masih bingung sampai sekarang ..." jawabnya lirih.
__ADS_1
Sonya pun melanjutkan ceritanya, dia mengatakan persiapan penikahan yang dadakan itu sengatlah di permudah, mulai dari penghulu yang jadwalnya mendadak kosong, sampai persiapan pesta yang di pesan dua hari sebelum acar. Sonya bilang memang tidak masuk akal, tapi itu semua terjadi padanya dan ia sangat bahagia saat itu.
"Sayang ... aku mau nikah dadakan seperti itu," ucap Riska iri.
"Gak segampang itu, Ris...."
Semua tertawa mendengar percakapanku dengan Riska barusan, dan Sonya pun ikut tertawa saat itu.
Sonya pun melanjutkan ceritanya, dia mengatakan kalau acaranya berjalan dengan lancar, saat akad nikah maupun saat pesta berlangsung. Saat pesta memang kebanyakan undangan dari suaminya, Sonya yang waktu itu tidak tahu apa-apa, tak menaruh curiga sama sekali.
Sampai acara selasai semua baik-baik saja, kemudian suaminya sudah memesan hotel mewah untuk mereka menghabiskan malam pertamanya, tapi apa boleh buat, Sonya mengatakan kalau saat acara selesai, tiba-tiba saja ia datang bulan. Hotel yang sudah di pesan untuk dua malam pun akhirnya hanya di pakai untuk semalam saja, Sonya berkata saat itu suaminya tak menunjukan wajah kecewa sama sekali, justru ia terlihat bahagia.
"Itu kelihatannya saja bahagia, padahal di dalam hatinya menangis karena tak mendapatkan jatah malam pertama," ledekku sambil tertawa.
Riska pun mencubit pinggangku keras sekali, saat aki melihay wajahnya, bibirnya bergerak dengan cepat seperti sedang memarahiku.
"Jujur aku jadi merasa bersalah, jika ingat kejadian itu ... tapi sekarang aku malah bersyukur, karena belum tersentuh oleh anggota pemuja setan," ucap Sonya dengan ekspresi kesalnya.
"Lanjutkan ceritamu!" ujar Satria.
"Ternyata lo nyimak juga, Sat?" tanyaku.
Satria menganggukan kepalanya, dan Sonya melanjutkan ceritanya. Sonya bercerita sepulangnya dari hotel, ia langsung di bawa ke rumah suaminya. Dan di sana lah Sonya baru merasakan ada hal yang ganjil dari suaminya, yang pertama suaminya tak punya pekerjaan tetap, tapi rumahnya besar dan punya dua mobil. Yang kedua, di rumah besarnya itu ada suatu ruangan yang selalu terkunci, Sonya pun beberapa kali di peringatkan agar tidak mendekati ruangan itu.
"Tunggu sebentar, di rumah Paula juga ada ruangan kosong yang tak pernah di gunakan," ucapku sambil mengingat-ingat kembali.
"Gue tahu, yang waktu itu lo tunjukin saat kita mengambil belati perak itu, kan?" sahut Satria.
"Nah itu dia Sat!" Sambungku.
"Apakah mungkin Paula salah satu anggota komunitas itu?" tanya Novi.
"Belum bisa di pastikan, sampai kita tahu sendiri jawabannya," ucap Satria.
"Jangan bilang kalau, lo mau geledah rumah Paula!" ujarku.
Satria tersenyum dan berkata, "Kita akan cari tahu siapa Paula itu sebenarnya."
"Aku setuju," sahut Riska sambil beberapa kalu menganggukan kepalanya.
"Oke kita bahas itu nanti, sekarang tolong lanjutkan ceritamu, Sonya!" ujarku.
__ADS_1
Sonya kembali cerita dan sekarang ia bercerita sehari sebelum suaminya di temukan tewas, setelah mengorbankan dirinya.