
Kita ber empat pun sampai ke TKP, kita berempat berlarian dari basement menuju lift. Tanpa pikir panjang Novi menekan angka 26.
"Lantai 26, emang lo tau tempat nya dimana?" Tanya Satria.
Kami pun menyadari nya dan bingung.
"Maaf... Maaf... Panik gue, ini 26 lantai apart gue," Jawab Novi sambil tersenyum.
Kami bertiga pun menghela nafas.
"Kita lari-lari dari basement tapi gak tau Regina ada dimana, bagus ya kalian semua!" Ujar ku sambil menggeleng kan kepala.
Terlihat semua kebingungan, dan Satria memejamkan mata, itu gayanya jika sedang berfikir keras, dan aku hanya menunggu keputusan Satria saja.
Akhir nya kita tiba di lantai 26.
"Dimana kamar lo Nov, antar kita sekarang!" Ucap Satria yang sudah membuka mata nya.
Kita pun berjelan dengan cepat, dengan Novi di depan sambil mununjukan arah.
"Ini kamar gue, mau masuk sekalian?" Ucap Novi sambil menunjuk ke ruangan nya.
"Ga perlu Nov, sekarang lo ingat-ingat lagi ke arah mana dia pergi?" Tanya Satria.
Novi pun memejamkan matanya dan mulai mengingat nya kembali, aku dan Riska hanya melihat nya saja.
"Sini ke arah sini, kalau dia lurus saja ke pertigaan sana, harus nya dia akan sampai di lift," Ucap Novi sambil menunjuk kan arah nya.
"Tunggu sebentar, di pertigaan sana ada tangga ya?" Tanya Satria.
"Iya itu memang ke arah tangga, memang kenapa Sat?" Jawab Novi dan kembali bertanya pada Satria.
"Mungkin gak jika seseorang sedang panik dan dia sedang di kejar-kejar, kemudian dia akan naik lift?" Tanya Satria.
Kita bertiga pun terdiam dan berfikir.
"Kalau gue, sih ga akan kepikiran buat naik lift, dan jika ada tangga gue pasti memilih naik atau pun turun," Jawab ku dengan sedikit analisa.
"Nah itu dia, jadi gak akan mungkin dia berfikir untuk naik lift, jadi ayo kita ke tangga!" Ucap Satria sambil bergegas dengan cepat.
Kami bertiga pun mengikutinya dengan harapan dugaan nya itu benar, tak lama kemudia kita pun tiba di tangga dan tiba-tiba Satria berhenti.
"Oke gue sama Novi ke bawah, Davi sama Riska ke atas, ingat periksa 1 lantai itu saja, cari ruangan gelap yang bisa di akses tanpa kunci atau kartu!" Ucap Satria memberikan komando.
Kita pun berpencar, aku segera bergegas naik ke lantai 27 bersama dengan Riska, terlihat langkah Riska tidak secepat langkah ku.
"Dav, gue gak mau berpencar dan gue gak mau nyari sendiri, gue takut kalau ini tuh perangkap," Ucap Riska dengan nada yang tidak stabil karna sedang mempercepat langkah nya.
"Oke tenang aja, lo aman sama gue, justru gue berharap masih sempet ketemu pembunuh nya, agar bisa gue beri pelajaran ke orang itu!" Jawab ku dengan nada kesal.
Kami pun mulai cek ruangan satu persatu, dan berusaha menemukan kamar yang tidak di kunci, kami keliling-keliling dan ini sudah 2x kita keliling.
"Dav sini Dav cepat, ada yang aneh!" Panggil riska yang sedang berdiri di satu ruangan.
"Apa Ris, apa yang aneh?" Tanya ku sambil menghampiri Riska.
"Ini, coba lihat ruangan ini!" Ucap Riska sambil menunjuk ke suatu ruangan.
"Ruangan apa ini, kok gelap gini?" Jawab ku sambil melongok ke kaca pintu ruangan tersebut.
Kami pun berhenti di suatu ruangan, dan aku mulai memantau keadan di dalam dengan hati-hati, melihat dari kaca, dan tidak terlihat apa-apa hanya gelap saja.
Aku pun penasaran dan mulai memegang gagang pintu itu, aku pun tidak hanya asal memegang, aku memegang nya dengan sapu tangan ku, agar tidak ada sidik jari ku disana, karena jika benar di dalam ada korban pembunuhan nanti pasti akan ada pengecekan disini.
__ADS_1
"Hati-hati dav!" Ucap Riska sambil memegang tangan kiri ku.
Aku pun hanya menoleh ke arah nya dan...
Kleeekkk... "Pintu nya tidak di kunci."
Aku pun buka perlahan pintu itu dan mulai memasuki nya dengan sangat hati-hati, lalu ada cahaya dari belakang ku, ternyata Riska menyalakan lampu flash handphone nya untuk di jadi kan penerangan, jujur aku terkejut dengan cahaya itu, aku kira ada seseorang di belakang ku.
Aku pun mengambil handphone ku dan mulai menyalakan flash nya juga, lalu aku sorot ke seluruh ruangan, ternyata ini adalah rungan panel listrik lantai 27.
Aku pun menghubungi Satria.
"Halooo Sat!"
"Ketemu?"
"Oke..."
"Wait!"
"Tanya Novi, ruangan panel listrik biasa nya gelap atau ada lampunya, Karena di apart gue ada lampunya."
"Oke!"
"Gimana, harus nya ada lampu nya kan, sekarang coba lo minta antar Novi ke ruangan panel itu, misalkan lampu nya hidup, lo berdua cepa naik ke panel lantai 27!"
"Okr take care bro, jaga Novi!"
"Yooo."
Aku pun menyalakan flash ku lagi, dan aku senter ke wajah Riska, nampak jelas sekali wajah ketakutan dan panik nya yang tersorot lampu flasg.
"Apaan sih Dav, silau tau!" Ucap Riska yang terlihat risih wajah nya ku sorot dengan flash kamera.
Aku pun menurun kan senter ku dan mulai mencari petunjuk lain nya, lalu aku mulai mengangkat kaki perlahan dan berjalan dengan hati-hati.
Satria menghubungi ku.
"Yaaa halo Sat kenapa?"
"What, ada lampu nya?"
"Oke"
"Cepat ya..."
"Yooo"
"Kenapa Dav?" Tanya Riska.
"Mereka berdua sedang menuju ke sini, seperti nya ini betul TKP nya," Jawab ku.
"Hah, yaudah kita tunggu dulu meraka berdua ya, kamu jangan gegabah Dav, dan jika ini benar tempatnya aku takut masih ada pelaku nya!" Ucap Riska.
"Aku?" Tanya ku bingung.
"Enggghhh maksud nya gue!" Jawab Riska.
"Cieee... Aku akuan sama aku," Ledek ku sambil tersenyum.
"Dav gak lucu, ini bukan saat nya bercanda!" Ucap Riska kesal
Novi dan Satria pun tiba.
__ADS_1
"Dav, are you ok?" Tanya Novi.
"I'm fine,a yo cepat kita cari Sat, Nov!" Jawab ku.
Kita pun mulai menelusuri tempat itu dengan hanya membawa handphone untuk penerangan, dan tidak membawa senjata sama sekali.
Tiba-tiba Novi terpleset, dan jatuh.
Kemudian kita semua menyenter nya, dan Novi berlumuran darah, Riska pun terlihat menutup mulut nya.
"Ahhhh... Tolong dong Dav, Sat!" Ucap Novi.
Kami pun membantu nya berdiri dan menyenter ke arah darah itu berasal.
Aaaaaagggghhhhhh...
Dan Riska pun menjerit.
Riska pun menunjuk dan menyenter kan sesuatu, kita pun spontan melihat mayat Regina tanpa kepala dan berlumuran darah.
"Ini, benar ini Regina, gue masih ingat jaket levis yang dia kenakan ini!" Ucap Novi sambil meneteskan air mata nya.
"Mana kepala nya, cepat cari kepala nya!" Ujar ku panik yang melihat hanya tubuh Regina saja.
Kita pun mencari kepala Regina dan tidak menemukan kepala nya, kita hanya menemukan badan nya saja.
Kita pun terus mancari nya hingga ke sudut ruangan, tapi tetap tidak di menemukan nya juga, mungkin pembunuh nya membawa potongan kepala itu, entah untuk apa.
"Guy's sini guy's coba lihat ini!" Novi memanggil kami.
"Kenapa Nov?" Riska lebih dulu menghampiri Novi.
"Ini Ris coba lihat Ada gambar apa ini?" Ucap Novi sambil menunjuk.
"Wait, itu pentagram... Betul tidak salah lagi!" Cetus Satria.
"Anjrit gue kira logo apa gitu," Sahut ku sambil terkejut.
Kemudian terlihat Satria mengambil gambar itu berkali-kali dengan kamera handphone nya dari setiap sudut.
"Guy's sekarang kita cari Handphone nya Regina, gue yakin ini bukan modus perampokan!" Ucap Satria yang sambil mem-foto gambar itu.
"Hahh handphone Regina, buat apa?" Tanya ku bingung.
"Cepat cari, sebelum polisi datang dan menemukan handphonya, nanti kita juga yang repot karena ada chat kita beberapa menit yang lalu, Otomatis kita akan di jadikan saksi dan keberangkatan kita pasti gagal jika sampai itu terjadi,"
Jawab Satria.
"Iya benar juga yang di katakan Satria Dav, ayo cepat kita cari Dav!" Sahut Riska.
Kita pun mulai mencari handphone Regina ke setiap sudut ruangan, dan benar saja dugaan Satria!
Aku menemukan handphone nya di balik kaki kiri Regina, dan Satria pun langsung mengambil handphone tersebut dan mengantongi nya.
Dan aku menghubungi Achong untuk menanyakan dia sudah sampai dimana, Achong mengatakan baru saja selesai membuat laporan, dan ini dia baru mau bergegas ke lokasi.
Aku pun menjelaskan keadan, dan menyebutkan bahwa Regina sudah kami temukan dan sayang nya kami tidak dapat menemukan pelakunya, sebelum menutup telpon aku menjelaskan bahwa kami sudah mengaman kan handphone milik Regina, Achong pun paham.
Kami pun mulai mencari bukti lain nya di sekitar ruangan tersebut sambil menunggu kedatangan Achong, tapi hasil nya nihil kami tidak dapat menemukan apapun lagi, hanya handphone itu saja yang menjadi bukti kami.
Kemudian tidak lama kemudian Achong tiba di lokasi dengan 6 anggota polisi, kemudian kami di aman kan dan kemudian kami di tanya satu persatu untuk kesaksian kami dan kenapa kami bisa sampai terlebih dahulu di banding pihak berwajib.
Akhirnya kami semua selesai di introgasi tapi aku melihat Satria yang paling lama di tanya, entah karna sebab apa atau memang dia yang menceritakan detail kejadian nya, aku tidak tahu.
__ADS_1
Akhirnya kami di persilahkan pergi oleh polisi, dan kami berlima mampir ke tempat nya Novi untuk memeriksa handphone milik Regina.
•••