
Saat di perjalanan bu Paula hanya terdiam dan mendengarkan cerita kami saja, wajah nya datar dan tak berekspresi sedikit pun. Novi banyak bercerita betapa mengerikan nya dinding itu, aura di dalam dinding itu sangat kuat, sampai-sampai tenaga nya habis terkuras.
Sedang asyik bercerita, tiba-tiba Satria berteriak, "Awas Chong!"
"Brrruuaaakkkkkk..."
Nampak nya mobil kami menabrak sesuatu.
"Apaan tuh Chong?" Tanya ku bingung.
Achong tak menjawab dan langsung turun dari mobil, Satria juga ikut turun untuk memastikan kondisi saat itu.
Aku penasaran, dan hanya bisa melihat dari dalam mobil saja. Tapi ada yang aneh, bu Paula tak terkejut sedikit pun, bahkan bergerak saja ku rasa tidak.
Terlihat dari dalam mobil Achong dan Satria berdebat, aku tak bisa mendengar perkataan nya dari dalam sini, aku yang penasaran pun turun dan menghampiri mereka berdua.
"Kenapa Chong, Sat?" Tanya ku yang sudah ada di dekat mereka.
"Ini Dav, lihat!" Seru Satria.
Aku pun terkejut saat melihat ke bawah yang sudah banyak sekali darah.
"Duh gimana nih?" Tanya Satria.
"Buang aja ke pinggir Sat," Jawab Achong dengan santai nya.
"Lo gila ya, di kubur lah..." Sahut ku.
"Siapa yang mau ngubur, malam-malam gini Dav?" Tanya Satria.
"Yaa gua gak mau sih," Jawab ku.
"Yaudah, makanya di buang aja ke pinggir, ini cuma seokar anjing liar kok!" Tegas Achong.
"Gak tega juga sih gue, tapi mau gimana lagi, dari pada repot-repot nguburin ni anjing malam-malam," Ucap Satria.
Achong pun menarik kaki belakang anjing itu dan menyeret nya ke tepi jalan, Tapi ku lihat ada yanh aneh pada anjing itu.
"Sat tolong ambil air di mobil dong!" Ujar Achong.
Satria pun masuk ke dalam mobil untuk mengambil air, dan aku menghampiri anjing itu. Ketika sudah dekat aku pun jongkok agar bisa melihat dengan jelas, lalu ku nyalakan senter dari HP.
Aku melihat anjing itu memekai kalung, kalung dengan liontin persegi yang ada tulisan nya. Aku pun berusa membaca tulisan itu dan lebih dekat lagi dengan anjing itu.
"Doooooorrrrrr..."
Satria mengaget kan ku.
"Sialan lo Sat!" Geram ku, "by the way guy's, gue rasa ini bukan anjing liar deh."
"Ohh iya, itu ada kalung nya!" Ujar Satria yang baru saja sadar.
Kemudian Achong menghampiri, dan dia pun ikut jongkok. Lalu tiba-tiba Achong menarik membuka kalung kulit itu dari anjing yang sudah mati itu, Achong pun berusaha membaca tulisan dari liontin persegi itu.
Wajah achong tiba-tiba berubah seperti shock dan menjatuh kan kalung itu, tanpa bertanya aku pun langsung mengambil kalung itu dan menyenter nya, kemudian aku membaca nya.
"Anjing penjaga neraka - hell hound."
Saria yang penasaran pun merampas kalung anjing itu, dari tangan Davie, dan langsung membaca nya.
__ADS_1
"Aaaaarrrrgghhhh..."
Teriak Satria yang belum sempat membaca tulisan itu, aku melihat lengan kanan nya terkena anak panah, dan menjatuhkan kalung itu.
Achong pun langsung menyeret Satria masuk kedalam mobil, Satria yang terkena anak panah terus memegang dan menekan lengan nya, untuk memperlambat aliran darah. Sedangkan aku yang masih menunduk di depan anjing itu pun, mengintip dari semak-semak, bertujuan mencari tahu siapa pelaku nya.
Baru saja aku mengintip, tiba-tiba anak panah melesat cepat ke arah ku, dan hampir mengenai pipi kiri ku. Aku pun kaget karena sudah ada puluhan orang berjubah hitam di balik semak-semak, mereka semua membawa senjata.
Spontan aku pun bangun, dan berlari ke mobil dan segera masuk ke dalam.
"Chong jalan Chong!" Ujar ku panik.
Achong langsung tancap gas dan pergi dari tempat itu, terlihat Satria menahan sakit di kursi depan, dan bu Paula merobek lengan baju Satria dan mengikat nya dengan kuat.
"Ada apa Dav?" Tanya Riska ketakutan.
"Kita di serang sama komunitas itu!" Jawab ku.
"Kok bisa?" Tanya Novi bingung.
"Iya tadi kita menabrak anjing peliharaan nya," Jawab Achong sambil mengemudi.
"Pas gue lihat dari balik semak-semak dia udah ada puluhan orang!" Sahut ku.
"Bu rumah sakit terdekat di mana?" Tanya Achong pada bu Paula yang sedang sibuk menahan luka Satria.
"Di depan sana, kira-kira 3km lagi dari sini ada klinik," Jawab bu Paula.
Achong pun menambah kecepatan mobil nya, dan Satria sudah mulai kesakitan. Ku lihat bibir Satria sudah membiru, dan keringat nya berceceran, padahal AC mobil terasa sangat dingin bagi ku.
"Tahan Sat, dikit lagi sampai!" Ujar Novi, mencoba menenangkan Satria.
"Kami butuh bantuan mu bu," Sahut ku.
"Seperti nya komunitas mereka sudah benar-benar menyebar luas di pulau ini," Ucap Riska.
"Iya, bagaimana cara nya kita bisa menangkap mereka semua?" Tanya Novi.
"Te... Tenang aja, gue udah pu-ppunya rencana!" Ucap Satria yang sedang menahan rasa sakit nya.
"Gue percaya sama lo Sat," Sahut ku sambil tersenyum.
"Beri tahu aku cara nya, agar aku bisa membantu kalian," Ucap bu Paula.
Satria menganggukan kepala dan berusaha tersenyum, bu Paula juga menginformasi kan bahwa sedikit lagi kita akan sampai ke klinik nya. Satria yang sedang menahan rasa sakit nya pun, tiba-tiba pingsan membuat kita yang ada di dalam mobil merasa khawatir akan kondisi nya.
Terlihat Achong menggoyang-goyangkan bahu Satria, berusaha untuk membangun kan nya, tapi tidak berhasil, Satria tetap pingsan dan darah sudah mulai tembus ke kain pengikat nya tadi.
Kami pun akhir nya sampai ke klinik, dan langsung membopong Satria keluar dari mobil. Tapi nampak nya, klinik itu sudah tutup, dan bu Paula mencoba mengetuk pintu nya dengan keras. Berkali-kali dia mencoba mengetuk pintu nya, tapi tetap tidak ada jawaban, dan ku lihat tangan bu Paula sampai merah karena terlalu keras menggedor pintu itu.
Aku pun tak tinggal diam, aku mulai membantu mengetuk pintu nya dengan keras. Tak lama kemudian sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu.
Ceklekkkk...
Pintu pun terbuka dan seorang pria paruh baya dengan rambut penuh uban pun menyapa kami dengan nada tinggi, "Mau apa kalian?"
"Pak tolong, teman kami terluka," Ucap Novi.
Lalu pria paruh baya itu melihat ke arah Achong yang sedang memapah Satria.
__ADS_1
"Astaga, cepat masuk... Kenapa diam saja!" Tegas Pria itu.
Aneh sekali orang ini, jelas-jelas dia tidak menyuruh kita masuk dan malah menanyakan mau apa kami kesini. Aku pun membantu Achong memapah Satria masuk ke dalam, dan melatakan nya ke kasur.
Pria itu masuk ke dalam, dan tak lama dia keluar dengan menggunakan baju dokter, lengkap dengan penutup kepala dan juga sarung tangan karet.
Dia menyorot kedua mata Satria dengan senter kecil, kemudian menganggukan kepala nya. Lalu pria itu menggunting kain yang melilit di lengan Satria. Pria itu mengambil Ethanol Alkohol 95% dan menyiram nya ke lengan Satria dan membersih kan darah di sekitar anak panah yang masih tertancap.
Pria itu menyenterkan cahaya ke luka Satria, dia menganggukan kepala dan mematikan cahaya itu. Lalu Pria itu pun memegang anak panah itu dan tanpa ragu dia pun mencabut nya dengan sekuat tenaga.
"Arrrrrrrrrgggggghhhhhhhh..."
Satria menjerit dan tersadar.
"Tahan ya, aku akan menjahit luka mu," Ucap Pria itu.
"Gak di bius aja dok?" Tanya Novi.
"Tidak perlu..." Jawab pria itu santai sambil tersenyum.
"Dia lebih mirip sikopat dari pada dokter Dav," Bisik Riska kepada ku.
Pria itu kemudian menyiram luka satria yang sudah menganga itu dengan Ethanol Alkohol 95% lagi, dan menekan nya dengan kapas.
"Aaaaarrrrggghhhhh.... Sakittttt..."
Jerit Satria yang semakin keras.
Kami pun tak tega dan meninggal kan ruangan itu, entah merasa bertanggung jawab atau apa, bu Paula masih menemani Satria di dalam.
"Setelah sampai sini, kenapa aku jadi terpikirkan tentang kematian ya!" Ujar Novi.
"Heh kamu jangan ngawur Nov, ngomong nya!" Sahut Riska.
"Gue ngerasa nyawa manusia di sini gak ada arti nya!" Tegas Novi.
"Kan Regina udah berpesan sama kita, kalau komunitas mereka itu gak segan-segan buat membunuh seseorang," Sahut Achong.
"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah cepat mendapatkan bukti, agar bisa membuktikan kesalah mereka!" Ujar ku.
"Apakah kita bisa?" Tanya Riska lirih.
"Pasti bisa!" Jawab Ku tegas.
Kami semua pun tersenyum dan tetap optimis dengan rencana kami, tapi di dalam sana salah satu teman ku sedang berjuang melawan rasa sakit nya. Jeritan nya terdengar sampai luar, dan rintihan nya terdengar lirih membuat ku juga ikut merasakan sakit nya.
Dua puluh menit berlalu suara teriakan sudah tidak ada lagi, bu Paula dan pria itu pun keluar menghampiri kami.
"Syukur lah kalian tidak terlambat membawa teman kalian," Ucap pria itu, "sebab anak panah itu mengandung racun yang bisa mempercepat pembusukan pada luka."
"Tapi apakah teman saya baik-baik aja dok?" Tanya ku.
"Iya, dia hanya perlu istirahat 30 menit saja dan kita bisa membawa nya pulang," Ucap bu Paula.
Kami pun menunggu Satria beristirahat, malam juga semakin larut dan Novi sudah tertidur di kursi sambil menyandarkan kepala nya. Sedangkan Riska masih saja menyandarkan kepala nya di bahu ku.
"Malam ini terasa sangat sepi setelah jeritan Satria berhenti."
......................
__ADS_1