
Tiga hari berlalu, dan kini kondisiku sudah pulih dan sudah boleh keluar dari rumah sakit. Riska sudah menyiapkan semua, mulai dari tiket pesawat ke Jakarta, sampai rencana bertemu dan makan siang dengan pak Presiden.
“Sayang ayo cepat, taksinya sudah menunggu di depan!” Teriak Riska memanggilku, dan aku pun tersadar dari lamunanku.
Aku berlari menyusul Riska sambil menyeret koperku, Riska pun sudah masuk ke dalam taksi dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun masuk ke dalam taksi dan duduk di sebelah Riska.
Baru saja aku duduk dan sedang merapikan pakaianku yang acak-acakan, tiba-tiba Riska menggandengku dan merebahkan kepalanya di bahuku.
“Jangan bilang kalau kamu mau tidur?” ucapku sambil melirik ke arahnya.
“Hoam ... hampir seminggu aku merawatmu di rumah sakit, sekarang giliranmu merawatku di perjalanan,” ucap Riska yang sudah menutup matanya.
Aku hanya bisa menghela nafas dan mengusap kepalanya.
Perjalanan pulang pun terasa sepi, ketika Riska mulai terlelap di bahuku. Lamunanku berlanjut, dan entah kenapa aku malah memikirkan Achong. Sebenarnya apa motifnya sampai ia menyimpang seperti itu, apakah karena kekayaannya selama ini?
Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku, pemikiran liar tentang motifnya pun muncul satu persatu di kepalaku.
Aku masih memikirkan tentang apa sebenarnya motif Achong melakukan ini sampai akhirnya kami pun tiba di bandara.
...****************...
“Ris bangun, Ris ... kita sudah sampai,” ucapku sambil mengelus pipi Riska.
Riska pun langsung membuka matanya dan mengangkat kepalanya, ia pun langsung merapikan rambutnya sambil tersenyum kepadaku.
“Kamu mimpi jorok ya?” tanyaku dengan nada meledek, “kok baru bangun langsung senyum-senyum gitu.”
Riska pun mendorongku sambil berkata, “Ih apa sih kamu, Dav!”
Kami pun tertawa sambil turun dari taksi, aku langsung menuju bagasi untuk menurunkan koperku dan juga koper Riska. Kemudian kami pun masuk ke bandara.
Masih ada waktu 20 menit sebelum pesawat take off, dan waktu 20 menit itu aku rasa cukup untuk melihat wajah Riska yang sedang bahagia.
“Setelah ini kamu akan kembali ke Belanda?” tanyaku.
“Jika kamu mau ikut denganku,” jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Kenapa aku harus ikut?”
“Kamu bodoh ya? Setelah ini kan kita menikah dan kalaupun orang tuaku menyuruhku balik ke Belanda, aku ingin suamiku ikut ke sana!” ujar Riska.
“Sejujurnya, jika kamu ingin mengejar cita-citamu, aku rela menunggu.”
“Kamu itu kenapa sih, Dav!” geram Riska, “saat kamu berjanji akan menikahiku setelah ini, aku sudah menggantungkan cita-citaku dan berharap kepadamu.”
“Baiklah kalau kamu sudah memutuskan seperti itu, aku akan menepati janjiku,” jawabku sambil tersenyum.
Tiba-tiba Riska memelukku dan menyandarkan kepalanya di dadaku, sambil berkata, “Jantungmu berdebar cepat, Dav ... kamu sedang tidak berbohong, kan?”
“Justru karena kamu memelukku di tempat umum, jantungku jadi berdegup cepat seperti ini!”
Riska pun tertawa dan melepaskan pelukannya. Kami pun lanjut mengobrol hal-hal yang sama sekali tidak penting sampai naik ke pesawat.
“Kira-kira keburu sampai istana presiden atau tidak ya?” tanyaku saat duduk di dalam pesawat.
“Semuanya sudah aku atur, kamu tenang saja ... Sekarang pukul 10:20 WITA dan perjalanan ke bandara Soekarno Hatta 1 jam 45 menit, kemudian perjalanan dari bandara sampai ke istana presiden sekitar 40 menit ... jadi kita masih sempat untuk menerima jamuan makan siang pak Presiden.”
Aku pun hanya melongo mendengar Riska nyerocos seperti petasan yang menyambut jemaah haji pulang dari tanah suci. Tanpa menjawab ucapannya aku langsung menyandarkan kepalaku di pundak Riska.
“Ih curang ... jelas-jelas lebih lama perjalanan ke bandar Soekarno Hatta dari pada perjalanan dari rumah sakit, ke bandara Syamsudin Noor,” gumam Riska.
Aku hanya tersenyum tanpa membuka mataku, dan aku mulai terbiasa dengan Riska yang super bawel ini. Mataku mulai terasa berat, dan aku pun terlelap.
...****************...
“Dav, bangun ... kita mau landing!” ucap Riska sambil mencubit-cubit tanganku yang tanpa aku sadari sudah berada di perut Riska.
Aku pun terkejut dan langsung menarik tanganku, dan Riska pun tertawa.
“Kamu mimpi apa, Dav?” ledeknya.
Aku menggelengkan kepala dan membetulkan posisi dudukku. Kemudian Riska mendekatkan wajahnya sambil berkata, “Sepertinya ada yang tak sabar ingin punya bayi.”
“Ngomong apa sih kamu,” balasku sambil mencubit pipinya.
__ADS_1
“Jelas-jelas tadi kamu mengusap-usap perutku sambil berkata, tumbuh besar ya anakku,” ledek Riska.
“Mana mungkin ... mana mungkin aku bermimpi seperti itu!”
Riska tertawa sambil menarik tanganku, dan ia pun menggenggam erat telapak tanganku. Guncangan saat landing pun tak terasa saat karena genggaman tangan Riska yang begitu kuat.
“Akhirnya kita sampai juga,” ucapku sambil menggeliat saat sudah turun dari pesawat.
“Ayo cepat sayang, kita tidak waktu ... orang nomor 1 di negeri ini sedang menunggu kita!” ujar Riska.
“Iya-iya ... aku hanya rindu dengan polusi di kota ini,” jawabku sambil lari menyusul Riska.
Saat kami berjalan ke luar bandara, tiba-tiba ada 3 orang berpakaian rapi menyambut kami, dan mereka menuntun kami berjalan menuju mobil mewah yang sudah siap berangkat.
“Kamu kok enggak bilang, kalau kita di jemput pengawal presiden ...” bisikku pada Riska, dan Riska pun hanya tersenyum dan tak menjawab ucapanku.
Kami berdua pun masuk ke dalam mobil, dan langsung berjalan ke istana negara dengan iring-iringan yang membuat jalan terasa lapang.
“Pantas saja tadi kamu bilang 40 menit perjalanan dari bandara ke istana negara,” ucapku sambil menyenggol Riska.
“Kita harus mengucapkan banyak terima kasih pada pak Presiden untuk jamuan makan siang paling berharga ini, Dav!”
“Iya aku mengerti, sayang.”
Tak butuh waktu 40 menit agar sampai di istana negara dengan iring-iringan, hanya 30 menit saja kami pun tiba di istana negara dan para pengawal presiden itu pun langsung menuntun kami masuk ke dalam istana, dan jujur aku belum pernah segugup ini sebelumnya. Apa karena yang akan aku temui ini adalah orang nomor 1 di negeri ini, jadinya aku segugup ini.
Kami pun masuk ke dalam dengan rasa kagum atas kemegahan bangunan istana negara ini, saat aku sedang menatap ke sekeliling tiba-tiba satu pengawal menghampiri kami dan berkata, “Kalian berdua di tunggu di ruangan pak Presiden.”
Aku dan Riska pun mengikuti pengawal itu dan rasa gugup ini pun semakin menjadi-jadi, tapi Riska malah tak terlihat gugup sama sekali dan justru ia malah senyum-senyum sendiri saat menuju ke ruangan presiden.
Kami pun tiba di suatu ruangan dan pengawal yang memandu jalan kami pun mengetuk pintu itu. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka dan kami melihat ada pengawal dari dalam yang membuka pintu ruangan itu.
“Silakan masuk,” ucap pengawal yang membukakan pintu itu.
Kami berdua pun masuk dan melihat pak Presiden dengan santainya duduk dan menyambut kami.
Tapi, langkahku terhenti setelah melihat lukisan besar yang berada tepat di belakang presiden, dan lukisan itu adalah gambar topeng tanpa ekspresi.
__ADS_1
......................
...Tamat...