
Malam telah datang seluruh keluarga sudah berkumpul di rumah orangtua Langit termasuk kedua sahabatnya dan juga Rumi sahabat Nara, Semua merasa terhibur dengan lelucon yang Bara lakukan, Tawa bahagia menghiasi ruang keluarga.
Mereka belum tau alasan mereka di kumpulkan di rumah keluarga Langit, Yang mereka tau mereka hanya di undang untuk makan malam bersama, Kedua besan saling bercengkrama membicarakan bisnis dan kehidupan sehari-hari mereka.
Langit terus mengelus perut Nara tanpa di sadari orang-orang yang ada di ruang keluarga itu, Sampai pada akhirnya Bara menanyakan alasan Langit mengumpulkan mereka.
"Langit" Panggil Bara mengalihkan fokus semuanya kepada Langit dan Nara.
"Apa" Jawab Langit singkat.
"Sebenar nya Lu nyuruh Gue sama Evan kesini mau ngapain sih?" Tanya Bara yang merasa penasaran karena tuba-tiba Langit membatalkan acara makan siang mereka dan malah meminta dirinya dan Evan untuk dateng ke rumah orangtuanya.
Semua diam ingin mendengarkan jawaban dari Langit, Mereka juga cukup penasaran kenapa Langit mengumpulkan semuanya di rumah orangtua Langit, Langit dan Nara tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Bara.
"Kami mau ngasih kabar bahagia untuk kalian semua" Ucap Langit membuat semua yang ada di ruangan itu penasaran.
"Kabar apa Nak?"
"Iya Nak kabar apa" Nyonya Anggie dan Nyonya Lingga sangat penasaran dengan kabar baik dari anak-anak nya.
"Nara HAMIL" Ucap Langit bahagia, Ia sengaja menekankan kata hamil.
Diam semua diam mencerna ucapan Langit, Mereka takut salah mendengar, Sampai pada akhirnya mereka percaya dengan ucapan Langit saat melihat raut bahagia dari Langit dan Nara.
"Alhamdulillah" Ucap syukur semuanya bersamaan.
Nyonya Anggire dan Nyonya Lingga memeluk Nara bersamaan, Mereka sampai meneteskan air mata karena sangking bahagianya, Nyonya Anggie menciumi seluruh wajah putri kesayangannya.
__ADS_1
"Selamat ya sayang, Akhirnya doa-doa kamu di jawab oleh Tuhan" Ucap Nyonya Lingga mengelus rambut menantunya.
"Terimakasih Mami" Jawab Nara senang.
"Mama seneng banget, Akhirnya putri Mama akan memiliki malaikat kecil, Selamat ya sayang" Nyonya Anggie tak kuasa menahan air matanya, Ia benar-benar bersyukur dan bahagia karena setelah ini anak nya tidak akan pernah menyalahkan dirinya sendiri.
"Terimakasih Mama" Nara memeluk Mama dan Mami mertuanya.
Langit mendapat ucapan selamat dari kedua sahabatnya, Bahkan Bara dan Evan sampai mengangkat tubuh Langit, Mereka turut bahagia dengan kabar kehamilan Nara, Bara dan Evan memeluk Langit bergantian dan mengucapkan selamat.
"Selamat Lang bentar lagi Lu akan jadi Ayah" Ucap Evan menepuk pundak dan menjabat tangan Langit.
"Terimakasih Van" Langit membalas jabatan tangan Evan.
"Terimakasih Lang karena sebentar lagi gue bakal di panggil Uncle" Lelucon Bara yang mendapat toyoran dari Evan setelah itu mereka tertawa bersama.
Langit juga mendapat ucapan selamat dari Papi dan Papa mertuanya, Papi dan Papa mertuanya berpesan kepada Langit agar menjaga Nara lebih hati-hati karena Nara tidak sendiri lagi, Mereka takut kerjadian beberapa hari lalu di Mall terulang lagi dan membahayakan Nara dan juga calon bayinya.
"Eh si Rum Rum ngapain Lu diem doang dari tadi, Ga seneng Lu sama kabar bahagia ini" Tuduh Bara yang mana membuat Rumi menangis kencang membuat semua orang bingung.
"Eh Rum Rum Lu kenapa malah nangis?" Ucap Bara yang kini sudah duduk di sebelah Rumi.
Bukan menjawab pertanyaan Bara Rumi malah memukul tubuh Bara secara brutal karena merasa kesal dengan Bara, Nara mendekati Rumi yang duduk di karpet di bantu dengan Mamah dan Mertuanya.
"Rum Lu kenapa nangis?" Tanya Nara pelan, Nara takut Rumi tak suka dengan berita kehamilan nya seperti yang di katakan Bara tadi.
"Rum Lu beneran ga suka kalau Gue hamil?" Tanya Nara lagi dengan ragu-ragu.
__ADS_1
Tidak menjawab pertanyaan Nara Rumi langsung memeluk Nara dan menangis dalam pelukan Nara, "Gue seneng Ra, Gue seneng sahabat Gue bisa hamil, Gue seneng akhirnya sahabat Gue ga akan ngerasa sedih dan menyalahkan dirinya sendiri lagi, Setiap Lu cerita kalau Lu belum juga hamil dan Lu menyalahkan diri Lu sendiri Gue takut itu akan benar-benar terjadi Ra, Gue selalu berdoa semoga hal itu ga terjadi sama Lu Ra dan sekarang gue seneng Tuhan menjawab doa Gue Ra" Aku Rumi panjang lebar dalam pelukan Nara.
Nara membalas pelukan Rumi, Nara menangis mendengar semua ucapan Rumi, Nara Tak menyangka sahabatnya begitu memikirkan dirinya selama ini, Nara memang menceritakan semua keluh kesahnya kepada Rumi yang belum juga hamil dan menyalahkan dirinya sendiri, Nara sungguh tidak menyangka jika sahabat satu-satunya itu sebegitu perduli kepadanya bahkan sampai mendoakan hal baik untuk dirinya.
Semua yang mendengar ucapkan Rumi merasa terharu, Terutama Nyonya Anggie, Nyonya Anggie tau bagaimana pertemanan Nara selama ini yang kebanyakan teman-temannya hanya memandang Nara dari status keluarganya saja dan hanya Rumi lah satu-satu nya sahabat Nara yang benar-benar menyayangi Nara tanpa tujuan tertentu.
"Terimakasih ya Rum, Gue ga bisa berkata apa-apa lagi selain terimakasih sama Lu" Jujur Nara masih memeluk Rumi.
"Cukup Lu bahagia sama anak dan suami Lu Ra itu udah cukup buat Gue" Balas Rumi tulus dari hatinya.
Tanpa merka sadari Bara sudah menangis memeluk bantal sofa, Bara merasa terharu dengan pertemanan Nara dan Rumi, Langit yang pertama kali menyadari jika Bara menangis tertawa pasalnya baru pertama kali Bara menangis, Semua juga ikut tertawa melihat Bara menangis sambil memeluk bantal seperti anak kecil.
Selesai dengan acara yang mengharukan itu mereka semua makan malam bersama, Makan malam terasa hangat karena di iringi canda tawa dari Bara dan Rumi dan tentu saja karena kabar bahagia dari Langit dan Nara Juga.
Malam sudah semakin Larut, Semua sudah pulang ke rumah masing-masing setelah menyelesaikan makan malam tadi dan sedikit mengobrol, Di kamar Langit sedang mengelus-elus perut Nara dan mengajak ngobrol calon anak mereka hal itu akan menjadi kebiasaan Langit mulai saat ini.
Nara merasa bahagia melihat pemandangan di depannya, Dimana Langit memperkenalkan dirinya kepada calon anak mereka jika dia adalah Ayah nya, Langit tak henti-hentinya menciumi perut Nara yang masih terlihat rata itu.
Langit menutup perut Nara kemudian membaringkan tubuhnya di samping Nara, Langit membawa Nara dalam pelukannya menjadikan tangannya sebagai bantal, "Terimaksih sayang, Terimakasih sudah menjadi istri dan Ibu dari anak ku" Ucap Langit menatap wajah Nara sayang.
"Iya Mas, Aku juga mau berterimakasih sama Mas karena sudah sabar menanti kehamilan aku" Jawab Nara mengelus pipi Langit.
"Mas janji akan menjaga kalian dengan segenap jiwa Mas, Mas juga janji akan membahagiakan kalian berdua seumur hidup Mas" Janji Langit bersungguh-sungguh, Ia tak tau apa yang akan terjadi kedepan nya dan ia tak tau ujian apa yang akan Tuhan beri untuk kehidupannya kelak.
"I Love You Mas Langit"
" I Love You Too My Wife"
__ADS_1
Langit menecup bibir Nara lama setelah itu mereka berdua terlelap dalam gelapanya malam membawa kebahagiaan yang mereka sendiri tak tahu akan bertahan seberapa lama.
NOTE : Jangan berjalan hanya mengikuti arus, Terkadang kamu perlu melawan arus agar kamu jauh lebih kuat lagi.