
Hari berganti hari sudah hampir dua minggu Langit dan orangtua Nara berada di Riga, Tuan Kana dan Nyonya Lingga sudah kembali ke Indinesia dua hari yang lalu karena harus mengurus perusahaan menggantikan Langit semenetara.
Sebelum pulang Nyonya Lingga menemui Nara dan berpesan kepada Nara agar segera kembali ke Indonesia, Nara hanya tersenyum menanggapi keinginan Nyonya Lingga, Ia masih berat untuk meninggalkam kota Riga, Namun sejujurnya yang membuatnya berat adalah Julian dan Vallerie.
Selama hampir dua minggu Langit terus berusaha untuk menemui Nara tak jarang Langit seperti seorang penguntit hanya untuk mendapatkan foto Nara, Sampai saat ini pun Nara masih tidak mau untuk menemui Langit barang sedetik pun.
Namun Langin tidak putus asa, Langit terus mencoba sampai kesempatan itu datang saat ini, Ya saat ini Langit sedang duduk berdua dengan Nara di sebuah Cafe tidak jauh dari sekolah Julian.
Tadi Langit sengaja mengikuti Nara dan bertekat akan menunjukan wajahnya di depan Nara dan mengajaknya berbicara apapun caranya, Tadi saat Julian sudah masuk ke dalam sekolahan nya Langit turun dari mobil untuk menghadang Nara, Nara sedikit terkejut melihat Langit ada di depannya.
Langit memohon kepada Nara agar mau berbicara kepadanya walau hanya sebentar, Nara sempat diam untuk berfikir haruskah ia menemui Langit, namun setelah di fikir-fikir Nara tidak bisa menghindari Langit terus, Nara harus berbicara kepada Langit agar Langit berhenti mengikutinya.
"Sayang kamu ga mau pesen minum?" Tanya Langit karena Nara tidak memesan minum sama sekali.
Kata sayang yang kelaur dari mulut Langit sekarang tidak lagi terdengar menyenangkan di telinga Nara, Dimana kata sayang itu dulu selalu membuat Nara berbunga-bungan setiap kali Langit mengucapkan nya namun kini terdengar sangat asing di pendengarannya.
Tidak mendapat jawaban dari Nara Langit hanya mampu menarik nafasnya dalam, Kini Nara benar-benar berubah tidak ada lagi Nara yang selalu tersenyum hangat kepadanya, Tidak ada lagi Nara yang bingung memilih minuman saat mereka berada di luar, Yang ada sekarang hanya Nara yang diam menatap nya dengan tatapan kekecewaan.
"Apa yang mau Mas bicarakan, Karena aku tidak punya banyak waktu" Ucap Nara datar.
"Mas mau minta maaf untuk yang kesekian kalinya atas semua kesalahan Mas" Jawab Langit menatap Nara.
__ADS_1
"Mas mohon maafin Mas ya Ra" Lanjut Langit Lagi.
"Jika boleh jujur aku belum bisa memafkan Mas sampai detik ini, Aku selalu ingat bagaimana Mas menyakitiku dengan kata-kata mas dan juga tangan Mas, Aku selalu bertanya-tanya dimana letak kesalahan ku sampai Mas sebegitu membenciku" Jeda Nara satu tetes air matanya menetes saat harus menceritakan masalalu yang ingin ia lupakan.
"Dan yang lebih menyakitkan bagaimana bisa Mas menuduhku sebagai pembunuh anak ku dan tidak menyayangi anak ku, Aku ibu nya Mas aku yang melahirkannya, Aku juga yang melihatnya tewas di depan mataku, Mas tau bagaimana hancurnya dunia ku saat melihat tragedi itu di depan mataku, Aku benar-benar hancur Mas saat itu, Aku berharap Mas bisa menjadi sandaran ku di kala dunia ku hancur bersama kepergian anak ku, Tapi apa yang aku dapat Mas, Mas menyalahkanku, Mas membenciku dan Mas menuduhku sebagai pembunuh" Lanjut Nara ia tidak bisa lagi menahan tangisnya mengingat memori kelam dalam hidupnya.
Tragedi Kai adalah memori kelam dalam hidup Nara yang selamanya tidak akan pernah bisa Nara lupakan Bahkan sampai detik ini Nara masih menyalahkan dirinya sendiri atas tragedi yang merenggut nyawa Kai.
Langit bungkam dia tidak bisa berkata apapun, Untuk menenangkan Nara agar tidak menagis dan mengiklaskan Kai pun rasanya percuma karena semua sudah terlambat, Seharusnya Langit lakukan hal itu dulu saat Nara benar-benar membutuhkan itu darinya.
Nara menghapus air matamya kasar kemudian menatap Langit lagi "Aku hancur aku sakit aku terluka sampai-sampai aku ingin mengakhiri hidupku dan menyusul anak ku"
Sakit...hati Langit sangat sakit mengetahui apa yang terjadi kepada Nara selama ini, Bahkan lebih sakit daripada saat ia kehilangan Kai, Langit adalah laki-laki paling bodoh di dunia ini yang tidak tau apa-apa tentang istrinya.
"Apa aku salah jika aku membenci Mas?, Apa aku salah jika samapai saat ini aku belum bisa memaafkan Mas?, Dan apa aku salah jika suatu saat nanti aku memilih mengakhiri hubungan kita?" Tanya Nara lirih setelah menumpahkan semua sesak yang ia pendam selama ini.
Langit kaget ia menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan pertanyaan Nara tang terakhir, "Tidak Ra tidak, Kamu tidak salah jika membenci Mas dan kamu juga tidak salah jika belum bisa memaafkan Mas, Tapi Mas mohon jangan pernah berfikir untuk mengakhiri hubungan kita" Mohon Langit dengan menggenggam tangan Nara yang ada di atas meja.
"Mas akan berikan waktu sebanyak yang kamu mau untuk bisa memaafkan Mas, Mas juga akan menunggumu untuk menyembuhkan semua luka-luka mu, Mas akan menunggu mu selama apapun itu asal jangan pernah berfikir untuk mengakhiri hubungan kita karena Mas ga akan sanggup jika harus kehilangan mu lagi, Mas janji akan menebus semua kesalahan Mas, Mas juga akan menerima semua konsekuensi nya apapun itu asal kamu tetap menjadi istri Mas, Mas mohon Ra Mas Mohon" Lanjut Langit memohon kepada Nara.
Langit benar-benar takut kehilangan Nara untuk yang kedua kalinya, Langit tidak akan sanggup jika itu terjadi, Hidupnya akan lebih hancur dari sebelumnya jika Nara benar-benar pergi dari hidupnya dan tidak lagi menjadi istrinya, Apalagi jika Langit melihat Nara bersanding dengan laki-laki lain tidak Langit tidak akan sanggup.
__ADS_1
Nara menarik nafasnya dalam-dalam, Jika boleh jujur Nara tidak tega melihat Langit yang memohon-mohon sedemikian rupa kepadanya namun Nara juga tidak bisa melupakan sakitnya begitu saja.
Nara menarik tangannya dari genggaman Langit, "Aku tidak berjanji untuk bisa memaafkan Mas, Kau juga tidak bisa berjanji untuk tidak memilih mengakhiri hubungan kita, Tapi aku akan mencoba untuk memaafkan kan namun aku membutuhkan waktu yang mungkin cukup lama"
"Ya ambil lah waktu selama yang kamu mau, Mas janji akan menunggumu" Suara Langit terdengar bahagia karena Nara mau memberinya kesempatan.
"Tapi aku ingin Mas jangan sering datang mnemui ku, Apa Mas bisa?" Ucap Nara, Seketika senyum Langit meredup.
"Kenapa Ra?, Kenapa Mas tidak boleh sering menemui kamu?"
"Itu keputusan ku Mas, Jika Mas tidak bisa aku ti....."
"Bisa Ra bisa Mas janji tidak akan sering menemui mu" Potong Langit karena Langit tau apa yang akan Nara ucapkan, Lebih baik Langit tidak sering menemui Nara dari pada Nara merubah keputusannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu Mas" Pamit Nara berdiri dari duduk nya.
"Mau Mas anter Ra" Beo Langit alasan, Padahal Langit tau jika Nara membawa mobil sendiri, Alibi Langit supaya bisa dekat dengan Nara terus.
"Tidak usah Mas, Aku bawa mobil sendiri" Jawab Nara setelah itu Nara keluar di ikuti Langit di belakangnya.
Setelah mereka pergi tanpa mereka tau seseorang masih menangis mendengar semua apa yang Nara ucapkan tadi, Seseorang itu adalah Vallerie, Vallerie ada di cafe itu sebelum Nara datang bersama Langit, Vallerie duduk tepat di belakang Nara berhadapan punggung dan mendengar semua nya, Hati Vallerie begitu sakit mengetahui kisah kehidupan Nara yang sebenarnya.
__ADS_1