
"Sayang anak Mama" Tangis Nyonya Anggie berjalan mendekati Nara.
Nara juga tak dapat membendung air matanya "Mama"
Nyonya Anggie memeluk Nara erat seoalah takut jika ini hanya mimpi, Baik Nyonya Anggie maupun Nara sama-sama menangis, Melepas pelukannya Nyonya Anggie menatap wajah putrinya sayang.
"Anak Mama sudah kembali" Ucap Nyonya Anggie menghapus air mata Nara.
"Nara kangen Mamah" Nyonya Anggie memeluk Nara kembali.
Nyonya Lingga mendekat membawa baby boy dalam gendongannya, Tangan Nara terulur untuk menggendong bayi mungil itu, Nyonya Lingga menyerahkan bayi dalam gendongan nya ke dalam gendongan Ibu nya.
Nara menangis melihat wajah tampan anak nya, Ini benar-benar seperti mimpi dapat menggendong anak nya, Nara menciumi pipi bayi mungil itu ia menangis terharu.
Nyonya Lingga mengelus kepala Nara membuat Nara mendongakan kepalanya menatap Nyonya Lingga, "Mami"
"Ya sayang" Nyonya Lingga memeluk Nara, "Terimakasih karena sudah kembali" Ucap Nyonya Lingga.
Langit yang sedari tadi berdiri di samping Nara memeluknya dari samping, Langit benar-benar bersyukur keluarga nya kembali utuh, Langit dan Nara menatap anak mereka.
"Siapa nama anak kita Mas?" Tanya Nara.
"Mas belum memberikan nama untuk anak kita" Jawab Langit seketika Nara menatap Langit.
"Kenapa Mas?" Bingung Nara.
"Karena Mas mau ngasih nama anak kita bareng sama Kamu" Langit mencium kepala Nara sayang.
Nara merasa terharu dengan jawaban Langit, Ia tidak menyangka Langit akan menunggunya sadar untuk memberi nama anak mereka.
"Jadi apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian" Tanya Nyonya Lingga yang di juga di angguki Nyonya Anggie.
Langit dan Nara tersenyum, Mereka berdua memang sudah menyiapkan beberapa nama untuk anak mereka dari jauh-jauh hari sebelum anak mereka lahir.
"Jadi siapa nama cucu Mama ini" Nyonya Anggie tak sabar ingin mengetahui nama cucu nya.
"KAI ATALARIC SAMUDRA" Jawab Langit menyebutkan nama anak mereka, Membuat Nara terkejut pasalnya nama itu adalah nama yang Nara siapkan sendiri dan seingat Nara ia tidak memberitahukan Langit tentang nama itu.
__ADS_1
"Mas" Nara menatap Langit tak percaya.
"Mas suka nama itu, Artinya juga bagus kenapa kamu ga ngasih tau Mas?" Jelas Langit yang juga penasaran dengan alasana Nara tak memberitakun nama sebagus itu kepadanya.
Nara diam tak langsung menjawab pertanyaan Langit "Aku takut Mas ga suka sama nama itu"
"Mas suka sayang, Nama nya bagus apalagi artinya"
"Memang apa artinya Langit?" Tanya Nyonya Lingga yang sama penasaran nya dengan Nyonya Anggie.
"Anak laki-laki berharga yang berbau harum seluas samudra" Dalam membuat nama itu Nara berharap anak nya akan selalu menghargai dan di hargai semua orang, Yang mengharumkan nama keluarga dan orang-orang di sekitar nya dan memiliki hati yang luas seluas samudra.
Kedua nenek Kai merasa bahagia dengan arti nama cucu mereka, "Kai cucu nenek" Mereka semua tersenyum bahagia.
...Brakk.... Mereka semua yang ada di ruangan Nara keget mendengar suara pintu yang di buka secara kasar, Tuan Damara pelakunya yang datang bersama Tuan Kana, Ia sudah tidak sabar untuk melihat putrinya....
"Papa" Panggil Nara, Air matanya kembali mengalir melihat Papa nya.
"Anak ku" Tuan Damara langsung memeluk putri kesayangannya.
"Anak ku kembali" Tuan Damara menciumi wajah putrinya.
"Terimakasih Tuhan sudah menjawab doa-doa kami" Tuan Dama amat merasa bersyukur Tuhan mengabulkan doa nya.
Tuan Kana berdiri di samping brankar Nara ia mengelus kepala Nara, "Papi senang kamu sudah sadar Nak"
"Terimakasih Papi" Nara tersenyum bahagia.
Mereka mengobrol bersama Tuan Kana dan Tuan Damara juga merasa senang cucunya sudah memiliki nama, Selang benerapa saat pintu ruangan nara kembali di buka secara kasar pelakukan adalah Bara, Evan dan Rumi.
Bara masuk dan langsung ingin memeluk Nara namun Langit mengahalanginya membuat Bara mendengus kesal.
"Nara Gue kangen" Rumi memeluk Nara sambil menangis.
"Gue juga kangen" Nara membalas pelukan Rumi.
"Geu juga kangen Ra" Beo Bara di samping Langit dan Evan.
__ADS_1
"Selamat ya Ra" Ucap Evan tulus.
Nara tersenyum "Terimakasih ya buat kalian semua"
"Ponakan Gue udah punya nama belum Ra?" Tanya Bara.
"Udah" Langit yang menjawab pertanyaan Bara.
"Siapa namanya?"
"Kai Atalaric Samudra" Lagi-lagi Langit yang menjawab pertanyaan Bara.
Mereka semua senang dengan nama anak Langit dan Nara, Mereka semua tertawa bersama raut bahagia terpancar dari wajah mereka semua, Langit mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto dan akan Langit ingat seumur hidupnya.
Karena rasa bahagia nya Nara sudah sadar, Langit sejenak melupakan seseorang yang menyebabkan semua ini, Namun tanpa Langit ketahui Zayan dan Ziyan sudah melaksanakan rencana mereka
Ntah apa yang di lakukan Zayan dan Ziyan kepada Sevanya yang jelas Sevanya sudah merasakan hal yang lebih menyakitkan dan mengerikan di banding apa yang Nara rasakan.
Rendy datang ke pelabuhan tepat setelah Zayan dan Ziyan selesai melakukan rencana mereka, Rendy menatap sebuah kapal yang membawa tubuh Sevanya pergi ntah kemana.
Mereka bertiga kembali ke kota, Rendy juga memberi tahu Zayan dan Ziyan jika Nara sudah sadar, Zayan dan Ziyan turut senang mendengar kabar itu, Mereka berencana akan menemui Nara besok pagi.
Malam telah datang semua anggota keluarga dan juga teman-teman Langit dan Nara sudah pulang, Kai di tinggal di Rumah Sakit karena permintaan Nara dan Langit tidak bisa menolak hal itu.
Nara sempat merasa sedih dan merasa bersalah kepada Kai karena air susu nya tidak keluar dan ia tidak bisa menyusui Kai secara langsung.
Langit sebisa mungkin menguatkan istrinya, Mengatakan kepada Nara jika itu bukan salah nya dan Kai pasti akan memaafkan nya, Nara menggendong Kai dalam pelukan nya memberikan Kai susu dari botol.
Langit senantiasa duduk di samping Nara memperhatikan anak dan istrinya, Melihat betapa kecewa dan sedih nya Nara saat tidak bisa memberikan Kai asi tadi seketika Langit memikirkan betapa hancurnya Nara saat ia tau bahwa ia tidak bisa lagi memiliki anak.
Memikirkan hal itu membuat Langit sedikit pusing, Ia bingung bagaiman cara memberi tahu Nara agar tidak terlalu membuat nya hancur.
"Maafin Bunda ya sayang karena Bunda ga bisa ngasih kamu asi" Ucap Nara di kuping Kai.
"Walau bunda ga bisa ngasih kamu asi tapi kamu harus tau kalau Bunda sayang banget sama kamu nak" Lanjut Nara mencium pipi Kai.
Hati Langit terenyuh mendengar ucapan Nara namun sebisa mungkin Langit tersenyum agar Nara tidak merasa curiga dengannya, Langit memeluk Nara dari samping "Ayah mencintai Bunda dan Kai" Ucap Langit mencium Nara dan Kai bergantian.
__ADS_1