
Langit meletakan ponselnya, Ia tidak sanggup untuk melihat lebih jauh vidio-vidio yang dokter Lyly kirim, Hatinya begitu sakit bak tertusuk pisau melihat betapa menderitanya Nara selama ini, Langit tak habis fikir kenapa bisa ia sejahat itu kepada Nara.
Mengambil ponsel nya Langit pergi dari cafe itu beruntung pengunjung cafe tidak terlalu ramai jadi tidak ada yang melihatnya menangis namun jika ada yang melihatnya pun Langit tidak perduli.
Langit mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ia akan mencari Nara dan memeluknya dan mengatakan maaf beribu-ribu kali kepadanya, Beberapa saat kemudian Langit sampai di rumah buru-buru Langit turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah.
"SAYANG, SAYANG, NARA KAMU DIMANA" Teriak Langit memanggil Nara.
Langit berlari ke lantai dua mencari Nara di kamar nya namun tidak ada Nara di dalam, Langit mencari di kamar mandi tapi juga sama Nara tidak ada, Menutup pintu kamar mandi Langit keluar dari area walk in closet namun langkah nya terhenti melihat laci yang tidak tertutup rapat.
Langit mendekati laci itu dan membukanya, Betapa terkejutnya Langit melihat isi di dalam laci itu, Puluhan botol obat tidur berukuran besar ada di dalam laci itu dan yang lebih membuat Langit terkejut botol-botol itu sudah banyak yang kosong.
Langit limbung beruntung ia perpegangan pada pinggiran meja sehingga ia tidak jatuh, Tangan Langit mengambil satu botol yang masih penuh isinya dan membacara keterangan yang tertera di botol itu, Tulisan dosis tinggi dalam botol itu membuat Langit menjatuhkan botol itu hinggan membuat isinya berceceran.
"Kau bodoh Langit kau bodoh" Racau Langit memukulkan kepalanya di tembok dengan keras
"Bagaimana bisa kau sejahat itu kepada nya, Kau mencintainya tapi kenapa kau menyakitinya Langit" Langit terus memukulkan kelalanya sampai membuat kening nya merah.
"Maafkan aku Nara maafkan aku"
"ARHHHKKK" Teriak Langit meninju tembok sekuat tenaga sampai membuat tangannya terluka.
Langit turun kebawah "Nara kamu dimana sayang" Panggil Langit.
"Nara Nara kamu dimana?"
Bibi Yani dari dapur keluar menghampiri Langit, "Maaf Tuan Nyonya Nara dari tadi belum pulang" Ucap bi Yani.
Langit menarik nafas dan memnbuang nya kasar, "Kalau Nara pulang bibi kabarin saya ya" Pesan Langit setelah itu Langit pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Tujuan Langit kali ini ada pemakaman berharap Nara ada di sana, Sampai di pemakaman ternyata Nara tidak ada di sana juga, "Aarhhkkk" Langit meraup wajah nya.
Langit pergi meninggalkan pemakaman, Langit mengelilingi banyak tempat untuk mencari Nara namun tak juga menemukannya, Hingga sore menjelang Langit masih belum menemukan Nara, Ntah kemana Nara pergi.
Di tempat lain tepat nya di sebuah danau kecil yang ada di pinggiran kota Nara duduk di rerumputan di temani dengan kupu-kupu yang terbang kesana kemari.
Danau ini adalah danau favorit Kai dan juga dirinya, Tiga tahun yang lalu Nara dan langit tanpa sengaja menemukan danau itu saat mereka sedang berjalan-jalan tanpa Langit, Waktu itu Langit sangat di sibukan dengan pekerjaan nya, Karena merasa bosan berada dirumah Nara mengajak Kai berkeliling kota sampai pada akhirnya mereka menemukan danau ini.
Langit tidak pernah tau tentang danau ini karena memang Nara dan Kai tidak permah memberitahu Langit, Karena jika sampai Langit tau Langit akan melarang Nara dan Kai untuk datang ke danau ini lagi karena jarak yang jauh dari rumah mereka.
Pandangan Nara lurus ke danau ingatan tentang Kai yang berlari kesana kemari mengejar kupu-kupu muncul di depannya, Air mata Nara menetes namun tak ayal bibir nya juga tersenyum.
"Bunda rindu nak" Cicit Nara pelan.
"Kai apa kabar disana, Biasanya kita datang berdua ke danau ini tapi kali ini Bunda datang sendiri nak!" Air mata Nara perlahan mengalir.
Nara hanyut dalam tangisnya beruntung danau itu masih jarang di jamah orang-orang, Jadi tidak ada satu orangpun yang melihat Nara menangis.
Malam telah datang Langit sudah putus asa untuk mencari Nara, Ia sudah mengelilingi kota berjam-jam mencari Nara namun tetap tidak menemukan Nara, Sehingga membuat Langit berakhir di sebuah Club yang dulu sering ia datangi bersama Bara dan Evan.
Langit sudah menghabiskan beberapa botol minuman berakohol, Pintu ruangan VIP terbuka Bara dan Evan masuk kedalam, Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keadaan Langit.
"Kenapa lagi temen Lu yang satu ini Bar?" Tanya Evan setelah masuk.
"Mana Gue tau kan Gue baru dateng bareng Lu!" Jawab Bara mengedikan bahunya.
Tadi Bara di telvon salah satu bartender yang sudah akrab denganya, Bartender itu memberitahu jika Langit datang dan menghabiskan beberapa botol alkohol, Awalnya Bara kaget karena sudah lama Langit tidak datang kesana semenjak menikah, Tau ada yang tidak beres dengan Langit, Bara menghubungi Evan dan mengajaknya untuk menemui Langit.
"Lang Lu kenapa malah minum-minum kaya gini sih!, Lu ada masalah?" Bara duduk di samping Langit.
__ADS_1
Langit diam tidak menjawab pertanyaan Bara, Langit terus menenggak minuman yang ada di botolnya hingga habis, Dan saat Langit akan mengambil botol lagi tangan nya di tahan Bara.
"Lang udah Lang Lu udah mabuk" Bara merebut botol di tangan Langit dan menjauhkannya.
"Lu kalau ada masalah tu cerita jangan lari ke minuman kaya gini" Nasehat Bara, Sedangkan Evan hanya diam memperhatikan.
"Selama ini Gue jahat banget sama Nara" Racau Langit.
"Baru sadar Lu" Sela Evan yang mendapat pelototan dari Bara.
"Gue udah nuduh Nara pembunuh padahal itu bukan kesalahan dia, Gue suaminya tapi kenapa Gue ga tau apa-apa sama komdisi istri Gue" Langit terus meracau menceritakan penyesalan nya.
"Gue bahkan ga tau kalau Nara sehancur itu kehilangan Kai sampai membuat dia trauma selama ini, Dan lebih kejam nya lagi Gue dan keluarga Gue dan juga orangtua nya membenci dia dan menuduhnya pembunuh"
"Brengsek banget Gue jadi suami, Gue ga pantes jadi suami Nara, Tapi Gue sayang sama Nara" Lanjut Langit.
"Kalau Lu sayang sama Nara Lu ga akan sebodoh itu menuduh Nara pembunuh" Kesal Evan penuh emosi
"Van Lu apa-apain sih, Lu diem dulu jangan kebawa emosi" Tegur Bara.
"Hari ini Gue sengaja mengikuti kemana pun Nara pergi karena Gue penasaran karena Nara selalu pulang malam, Dan Lu tau apa yang gue dapat" Langit menjeda ucapannya ia menangis.
"Gua liat Nara datang ke psikolog, Awal nya Gue bingung untuk apa Nara datang ke psikolog dan saat Gue tanya dokternya nya ternyata Nara mengidap PTSD dan saat itu gue merasa sakit dan gagal menjadi suami" Lanjut Langit dengan air mata mengalir.
Evan mendekat ke arah Langit dan menarik kerah baju Langit, "Sialan, Lu laki-laki paling brengsek yang pernah gue temui Lang, Lu bukan hanya gagal menjadi manusia tapi Lu juga gagal menjadi seorang Suami"
Langit hanya diam ia tidak melawan ataupun marah karena ia pantas mendapatkan ini semua, Bara menarik Evan mundur untuk melerai mereka berdua, "Van udah dong Van, Apa yang Lu lakukan ga akan membuat keadaan membaik yang ada Lu semakin membuat keadan memburuk" Ucap Bara setelah berhasil memisahkan Evan dari Langit.
"Bilangin tu sama manusia bodoh itu, Selamat menikmati kebodohanya" Setelah mengatakan itu Evan pergi, Tapi ia tidak benar-benar pergi meninggalkan kan tempat itu, Evan menunggu di mobil.
__ADS_1